Tuesday, October 29, 2013

Benedictus Hari Juliawan SJ dan Panggilan untuk Buruh Migran



Tamat menempuh pendidikan Doktor di Oxford University, UK, Romo Jesuit yang masih berstatus dosen di Sanata Dharma, sekarang berkarya melayani buruh migran se-Asia Pasifik.

Lahir di Ambarawa, 38 tahun silam, romo yang akrab disapa Romo Benny EsJe ini sudah lama tertarik pada persoalan buruh sejak dia menempuh pendidikan S1 di STF Driyarkara. Ketika diminta untuk memilih kegiatan ekstrakuriler, romo yang hobi bersepeda dan berlari itu, memilih menjadi volunteer di Institut Sosial Jesuit (ISJ). Selama dua tahun dari 1996—1998, Romo Benny bertugas di biro anak jalanan. Namun, awal mula ketertarikannya timbul karena dia melihat biro buruh di sana. Sebelumnya, Romo Benny melihat aksi buruh memiliki sisi keheroikan, penuh petualangan, dan berbahaya. Lambat laun motivasi tersebut berubah menjadi semakin matang seiring zaman.

“Yang menarik bagi saya melihat perburuhan adalah, buruh sebagai kategori masyarakat yang masih terpinggirkan dan jumlahnya banyak. Itu menjadi minat saya dan hidup lagi dengan motivasi berbeda. Bukan lagi karena heroisme, melainkan keberpihakan gereja terhadap orang miskin,” ujar Romo Benny menjelaskan.

Perjumpaan dengan buruh selanjutnya pada tahun 2005 saat Romo Benny berkesempatan bekerja di Lembaga Daya Darma (LDD) KAJ. Ketika belajar ke Inggris, topik yang muncul pertama kali di benaknya untuk thesisnya adalah mengenai buruh. Kurang lebih lima tahun lamanya, Romo Benny mengenyam pendidikan di Inggris. Sekembalinya dari sana, kemudian dia mengajar di Fakultas Ilmu Religi dan Budaya, Pascasarjana Sanata Dharma tahun 2011. Selama dua tahun, Romo Benny mengajar Marxisme, Kapitalisme, dan Metodologi Penelitian. Romo yang selalu ceria tersebut, kini ditugaskan oleh Pater Provinsial untuk bekerja bagi buruh migran se-Asia Pasifik.

Keprihatinan Romo Benny ini sejalan dengan keprihatinan Paus Fransiskus dalam pertemuan Dewan Kepausan untuk Migran dan Perantau, 24 Mei 2013, “...give voice to those not able to make their cries of pain and oppression heard.” Ketimpangan ekonomi antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin memicu orang-orang dari negara miskin untuk bermigrasi untuk meningkatkan kehidupan. Apalagi sekarang ini, kemajuan bidang komunikasi dan transportasi telah mempersingkat jarak kita. Dalam banyak kasus, imigran ini mengisi kekosongan berbagai sektor dan wilayah yang tenaga kerja lokalnya tidak memadai jumlahnya atau tidak sudi bekerja untuk jenis pekerjaan bersangkutan. Banyaknya tenaga kerja Indonesia di luar negeri pun diiringi dengan meningkatnya berbagai kasus eksploitasi yang melingkupinya. Misalnya, dalam sektor domestik, permasalahan pekerja rumah tangga di luar negeri terjadi dari prakeberangkatan, keberangkatan, sampai kepulangan. Persoalan besar ini erat kaitannya dengan perdagangan manusia. 

Berdasarkan data International Labour Organization (ILO) 2012 diperkirakan jumlah tenaga kerja Indonesia yang resmi sebanyak 4,3 juta orang, sedangkan yang tidak resmi 1, 5 juta orang, sekitar 79% adalah perempuan. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) di awal 2013 melaporkan bahwa selama tahun 2012 terdapat 31.528 pekerja migran Indonesia yang terjerat kasus hukum atau bermasalah.

Menurut Romo Benny, salah satu sebab mengapa Gereja Katholik perlu punya perhatian khusus terhadap fenomena migrasi karena saat ini kita hidup di tengah masyarakat dunia yang ditandai dengan pergerakan manusia. Maksudnya, perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain terjadi dengan sangat mudah dan melibatkan miliaran manusia. Maka migrasi harus jadi perhatian Gereja Katholik karena di sana terjadi banyak masalah kemanusiaan. Di sana ada jatuh bangun seseorang, keberhasilan terjadi, begitu juga pembunuhan atau perdagangan manusia/trafficking. Jadi, dalam fenomena migrasi, ada tragedi, ada juga kebahagiaan dan kesuksesan. 

Salah satu aksi nyata yang Romo Benny lakukan adalah mengumpulkan dana dengan berlari. Dia mengikuti half marathon sepanjang 21 km dalam “Jakarta Marathon 2013” pada 27 Oktober 2013. Ini adalah kali kedua Romo Benny run for charity. Melalui gerakan ini, Romo Benny hendak mengajak kita untuk ikut peduli terhadap berbagai masalah yang dialami oleh para buruh migran. Uang yang nantinya terkumpul akan digunakan untuk mendukung pelayanannya bagi buruh migran se-Asia Pasifik selama tiga tahun mendatang.

Ketika ditanya perihal harapan, Romo Benny menyampaikan bahwa gereja dapat menjadi motor penggerak dalam masyarakat untuk gerakan menghargai dan menghormati orang yang melakukan migrasi. Seperti zaman dulu orang menghargai orang yang melakukan ziarah. Maka, kita dapat ikut ambil bagian dengan melindungi dan menjaga mereka.