Wednesday, March 4, 2009

PENGADAAN MOBILE CLINIC

Pada saat gawat darurat terjadi, tidak sedikit penderma meminjamkan kendaraannya untuk membantu korban. Tetapi tidak lama kemudian  kendaraan itu harus di-kembalikan. Untuk memenuhi kebutuhan mengangkut kebutuhan pokok, memang cara seperti itu cukup membantu, tetapi tidak demikian untuk kebutuhan orang-orang sakit yang masa pemulihannya lebih panjang dan kadang-kadang kebutuh-annya mendesak. Untuk itu didiskusikanlah adanya sebuah ambulance untuk menunjang mobile clinic.

Bersama Ciliwung Merdeka, PKR-KWI menyusun program pengadaan ambulance, yang berfungsi sebagai penunjang mobile clinic, agar dapat melayani masyarakat yang memerlukan bantuan kesehatan di berbagai daerah yang tidak terjangkau dan mendadak.

Ambulance ini mulai dioperasikan sebagai sebagai penunjang mobile clinic mulai bulan Maret 2007. Dalam pelaksanaannya, secara rutin (1-2 kali sebulan) mobile klinik ini beroperasi di daerah Kampung Nagrak (Cilincing), Kolong Tol Kalijodo (Penjaringan), Kampung Pulo (Bukit Duri), Kolong Tol Teluk Gong (Penjaringan), Kolong Jembatan Kampung Melayu, TPA Gunung Balong, dan Bukit Duri RT 06 – 08. Pada setiap kunjungan, pasien yang dilayani berjumlah sekitar 70 orang, yang dilayani oleh 4-5 orang dokter umum. Selain secara rutin mengunjungi lokasi-lokasi di atas, mobil ini juga difungsikan untuk membantu kegiatan usaha untuk mensejahterakan anak-anak pinggiran di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

    

Dana untuk membeli ambulance ini sebesar Rp. 122.500.000,00. Sedangkan untuk biaya operasional diserahkan kepada Ciliwung Merdeka sebagai pelaksana.

PEMBERSIHAN LINGKUNGAN DAN PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT PASCA BANJIR 2007

A.                     TENTANG PROGRAM

Salah satu daerah di Jakarta yang paling parah terkena dampak banjir Jakarta 2007 adalah Tanjung Lengkong, Bidaracina. Hal ini disebabkan karena letak wilayah mereka yang berada di pinggir kali Ciliwung. Diawali dengan hujan yang turun selama dua hari berturut-turut, wilayah ini akhirnya terendam air dengan ketinggian 3 – 7 meter. Sebagian besar penduduk diungsikan di tenda pengungsian lapangan Urip Sumoharjo, Jatinegara, Jakarta Timur.  Selama tiga pekan, puluhan warga belum juga bisa kembali ke tempat tinggalnya, karena rumah mereka sudah ambruk diterjang banjir.

PKR-KWI diminta oleh relawan setempat untuk memberikan pertolongan secara langsung.  Setelah memberi informasi kepada lembaga-lembaga terkait, seperti LDD dan Paroki di mana tempat itu terletak, maka dibuatlah sebuah pembicaraan dan perencanaan bersama orang-orang setempat. Dengan demi-kian pertolongan ini tidak hanya diberikan kepada korban, tetapi sedapat mungkin melibatkan masyarakat korban atau lebih tepatnya masyarakat yang bertahan (survivors) untuk membantu diri sendiri.

Dari seluruh wilayah Tanjung Lengkong, kerusakan terbesar dialami oleh RW 007. Kawasan ini diapit oleh sungai Ciliwung dan Citarum, sehingga pada sa-at banjir datang, air dari kedua sungai tersebut meluap ke kawasan itu. Kea-daan ini diperparah dengan adanya tumpukan sampah setinggi 1,5 meter, se-hingga pada saat air masuk dengan kekuatan arus yang kuat, sampah tersebut roboh menimpa rumah penduduk yang ada disitu. Daftar kerusakan yang ada di wilayah RW 007 adalah sebagai berikut:

1.   Rumah warga, sebanyak 977 rumah dipenuhi lumpur dengan volume mencapai 34.000 m3.

2.   Jalan yang dipenuhi dengan timbunan sampah dan lumpur serta puing-puing rumah. Volume lumpur yang memenuhi jalan mencapai 17.820.000 m3.

3.   Got atau saluran sepanjang 40 m tertutup sampah sehingga air tidak dapat mengalir

4.   Daerah pinggir sungai tertimbun sampah, sehingga air sungai tidak dapat mengalir

5.   Puskesmas, Posyandu dan Poslansia tidak dapat difungsikan karena ge-dung dan peralatan rusak, sementara banyak warga yang butuh per-tolongan

6.   Lapangan parkir tertimbun sampah, yang menyebabkan beberapa orang warga kehilangan mata pencahariannya.

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, dilakukan kegiatan pembersihan lingkungan, perbaikan got, dan pengadaan sarana kegiatan. Untuk mendukung  kegiatan-kegiatan diatas, maka PKR KWI memberikan bantuan dana untuk meningkatkan kualitas hidup warga RW 007 Bidaracina pasca bencana banjir, agar dapat hidup lebih layak, memulihkan sarana dan prasarana umum yang telah rusak dan hilang akibat banjir, agar kawasan dapat dimukimi kembali secara pantas, memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat dan memulihkan kembali aktifitas warga dalam kehidupan bermasyarakat

 

B.        PENERIMA MANFAAT

Penerima manfaat dari kegiatan ini adalah warga RW 007 Bidaracina, yang berada di daerah pinggir sungai, di sekitar saluran got, dan yang rumahnya terkena lumpur. Jumlah total penerima manfaat ini adalah sekitar 1000 KK atau 4000 jiwa.

 

C.        JANGKA WAKTU

Proyek ini dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu mulai tanggal 23 Februari – 25 Mei 2007. Ketiga kegiatan dilaksanakan secara pararel dibawah koordinasi Bapak Jacob Kedang.

 

D.        PELAKSANAAN

Pelaksanaan kegiatan ini difokuskan untuk:

a)          Mempercepat surutnya genangan air banjir

b)          Membersihkan lingkungan dari sampah dan lumpur secara cepat, efektif dan efisien

c)          Memperlancar aliran air di got agar dapat membawa air dari rumah warga ke Sungai Ciliwung

d)          Mengaktifkan kembali kegiatan pelayanan kesehatan, baik di Puskesmas, Posyandu mau pun Poslansia, sehingga dapat dilaksanakan seperti terjadwal sebelumnya.

Program dilaksanakan secara terus menerus pada bulan Februari – Juni 2007 dengan mengerahkan tim dari Bidaracina dan dibantu oleh aparat setempat (ketua RT/RW dan Kepala Puskesmas). Selama kurang lebih tiga bulan, tim tersebut membersihkan lumpur dan sampah yang ada di rumah penduduk dan di jalan, memperbaiki got dan melakukan pengadaan barang-barang kesehatan. Selain dibentuk tim, juga dibentuk mekanisme kerja, sehingga secara tidak langsung kegiatan ini merupakan Capacity Building bagi warga setempat se-hingga mereka cukup terlatih untuk menangani akibat banjir di masa mendatang. 

 

E.         JUMLAH DANA

Jumlah dana yang diberikan PKR KWI untuk program ini adalah Rp.75.587.700. Dana tersebut dipergunakan untuk membeli perlengkapan pem-bersihan lingkungan, material-material untuk perbaikan saluran, dan pengadaan alat-alat kesehatan. Khusus untuk alat-alat kesehatan, diterima juga bantuan dari Perdhaki Pusat.

 

F.         RENCANA KE DEPAN

Setelah program ini selesai, maka warga setempat sekarang memiliki seperang-kat alat pembersihan lingkungan, dan telah terbentuk sebuah kelompok kerja yang diberi nama Kelompok Bersih Lingkungan (KBL). Ke depan, direncana-kan untuk membuat sistem yang lebih terstruktur dan terorganisasi, sehingga jika bencana datang, warga dapat secara mandiri bergerak dengan cepat. Secara ringkas, rencana kedepan KBL ialah melakukan Program Kerja Budaya Ling-kungan (PKBL) dengan kegiatan :

1.      Pos Siaga Bencana

2.      Tempat Pengelolaan Sampah di dua  titik

3.      Memampukan warga membuat pedoman/kontrak sosial lingkungan

4.      Penghijauan daerah pinggiran sungai

Untuk menunjang Program Kerja Budaya Lingkungan dibutuhkan pendukung antara lain Biaya Program dan Biaya pendukung seperti management/ capacity building KBL, biaya operasional dan sarana pendukung.                         

 

 

PENGADAAN PERANGKAT DAN PERALATAN HIDUP (BANJIR JAKARTA 2007)

Pada bulan Januari 2007, Jakarta dilanda bencana tahunan yaitu bencana banjir. Banjir tahun ini begitu besar. Para relawan meminta agar PKR-KWI melibatkan diri untuk menolong.  Untuk memberikan pertolongan kepada para korban dan mereka yang bertahan, PKR-KWI, seperti pada waktu terjadi gempa di Yogyakarta dan tsunami di Pangandaran, menjalankan tugas  tanggap bencana (disaster response), khususnya dalam menjalankan peran sebagai koordinator.

Adapun langkah-langkah yang diambil adalah sebagai berikut:

a.   Memungkinkan anggota-anggota  Caritas yang berada di Indonesia serta para mitra Karina-KWI yang berdomisili di Jakarta yaitu Lembaga Daya Dharma – Keuskupan Agung Jakarta (LDD-KAJ) dan Ciliwung Merdeka (CM) untuk berkomunikasi, mengorganisasikan diri untuk memusatkan perhatian kepada korban. Yang berada dalam koordinasi ini  adalah: CRS, Caritas Jerman (DCV), Trocaire, Cordaid, LDD-KAJ, dan Ciliwung Merdeka. Dalam rapat koordinasi, para anggota Caritas, LDD-KAJ, dan CM, serta Karina-KWI telah memutuskan untuk tidak membentuk Special Operation Appeal (SOA) untuk musibah bencana banjir Jakarta. Tetapi karena Caritas Internationalis (CI) mempunyai pendapat yang berbeda dan beranggapan bahwa SOA merupakan Funding Mechanism yang dianggap efektif dalam upaya mencari dana bantuan bagi para korban banjir Jakarta, terjadilah SOA untuk banjir Jakarta yang terregristrasi di CI dengan Nomor: 04/2007.

b.   Mengamati masuknya sumbangan dan penggunaannya: Setelah Urgent Appeal dikirimkan oleh Support Unit Karina-KWI, maka sumbangan mulai diterima dan disalurkan kepada yang membutuhkan.

c.   Memfasilitasi kebutuhan para anggota Caritas dan para mitra Karina-KWI.

d.   Membuat laporan kegiatan tanggap bencana banjir kepada para donator.

 

Kegiatan pada masa tanggap bencana ini yang meliputi penyelidikan awal kebutuhan para korban banjir di beberapa tempat yang dilanda banjir untuk mengetahui kebutuhan nyata, mendesak, dan sangat dibutuhkan oleh para korban, pencatatan daftar kebutuhan yang mendesak dan sangat dibutuhkan oleh para korban, menulis proposal tanggap bencana kepada para anggota Caritas, melakukan proses tender dan memutuskan bersama dengan LDD, CM, dan Support Units Karina-KWI, perencanaan kegiatan, pendistribusian barang bantuan kepada para korban, pencatatan daftar penerima bantuan, merekapitulasi catatan daftar penerima bantuan, dan melaporkan kegiatan tersebut kepada para donatur. Seluruh kegiatan tersebut dilakukan selama 6 bulan yang dimulai pada awal bulan Februari 2007 sampai dengan bulan Agustus 2007.

 

Pelaksanaan Kegiatan

Untuk kegiatan bantuan banjir ini, Karina KWI mendapatkan bantuan dana dari beberapa lembaga donor asing yang juga anggota Caritas Internasional untuk pengadaan barang-barang bantuan. Sebelumnya diadakan proses tender dengan 3 perusahaan penyedia barang yang kemudian akan diputuskan oleh manajemen Karina KWI. Pihak yang diputuskan untuk menyediakan barang selanjutnya akan mengirimkan barang-barang tersebut ke gedung KWI untuk diperiksa dan keperluan administrasi. Selanjutnya barang-barang bantuan tersebut akan dikirimkan kepada atau diambil oleh 3 organisasi setempat yang menjadi rekan pelaksana (implementing partners)  yaitu Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (LDD-KAJ), Ciliwung Merdeka (CM) dan Nahdliyin Disaster Response (NDR).

                                                                                                     

1.     Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (LDD-KAJ)

        Bersama mereka, Karina KWI membantu para korban dalam bentuk pengadaan bantuan tersebut di atas. Karina KWI bekerja sama dengan LDD-KAJ, yang dipimpin oleh Romo Ignatius Swasono, SJ, dalam memberikan bantuan kepada para korban melalui paroki-paroki yang ada di Jakarta yang juga terkena banjir. Selain melalui paroki-paroki, bantuan juga disalurkan melalui komunitas-komunitas LDD-KAJ yang sudah didampingi sejak lama.  

  

2.     Ciliwung Merdeka (CM)

        Organisasi yang berbasis masyarakat pinggiran Jakarta ini juga bekerja sama dengan Karina KWI dalam menyalurkan bantuan kepada masyarakat korban banjir. Daerah yang menjadi basis mereka adalah Bukit Duri, yang penduduk-nya tinggal di pinggiran sungai Ciliwung. Daerah ini memang rawan ketika terjadi banjir dan memang sudah menjadi daerah dampingan CM sejak dulu. Dalam penyaluran bantuan, CM bekerja sama dengan para tokoh masyarakat setempat. Selain Bukit Duri, CM juga menyalurkan bantuan ke wilayah-wilayah: Kampung Pulo,  Cakung, Cilincing, Kolong Tol Kali Jodo,  Jl. Arus - Cawang, Kampung Nagrak – Cilincing, Kampung Sepatan, Puninar, dan Kolong Fly Over Kampung Melayu.

 

        Memasuki masa rehabilitasi, CM juga menjalin kerjasama dengan Caritas Spain untuk pemberdayaan masyarakat dan Trocaire (Caritas Irlandia) untuk masalah pengolahan sampah. Program-program ini mulai dilaksanakan tahun ini sampai dengan tahun 2008.  

 

3.     NDR – Nahdliyyin Disaster Response

        Organisasi tanggap bencana yang tumbuh di kalangan komunitas  Nahdlatul Ulama (NU) ini juga dengan sigap membantu para korban banjir. Sehari-harinya Karina KWI berhubungan dengan NDR melalui Sdr. Muhammad Fadlilah (Fadil) dan Sdri. Nuril Hilaliyah (Nuril). Bersama mereka, Karina KWI membantu para korban banjir dalam bentuk beras, peralatan sekolah dan susu. Bantuan ini disalurkan dengan bantuan relawan-relawan mereka, tokoh masyarakat dan alim ulama di daerah setempat yang juga menjadi korban banjir. Wilayah pelayanan mereka meliputi Plumpang – Kalipasir – Matraman – Kramat Jati – Petogogan – Tebet – Pejambon.

 

Radio Komunitas SORSENGON : “USAHA PENYELAMATAN DINI TERHADAP BAHAYA LAHAR DINGIN”

Pada hari Minggu, tanggal 24 Agustus 2008 telah diresmikan sebuah radio komunitas FM di desa Umbulharjo kecamatan Cakringan, Sleman DIY yang bernama Sorsengon FM 107,8. Radio ini disebut ‘Sorsengon' karena terletak di bawah pohon sengon (pohon lamtoro) dan berdiri atas kerjasama masyarakat setempat, Universitas Sanata Dharma (USD) Jogjakarta dan PKR - KWI (Pelayanan Krisis dan Rekonsiliasi KWI).

 

Pembangunan Radio Komunitas (Rakom) ini dimulai setelah DPPM - Sadhar mengajukan proposal kepada PKR KWI, dan PKR KWI menyetujui rencana tersebut.  Target penerima manfaatnya adalah 75 orang kader yang akan melanjutkan program pelatihan ini kepada para warga disekitar tempat tinggalnya sebanyak 375 orang, dan para penerima yang tidak langsung atau indirect beneficiaries sebanyak 3000 – 4000 warga di Cangkringan.

 

 

Bangunan Pos Radio Komunitas terdiri atas bangunan yang akan digunakan untuk tempat ruang siaran dan ruang pertemuan. Bangunan tersebut didirikan di atas tanah milik Kas Desa. Selama ini tanah tersebut disewa oleh Bpk. Bambang Sugeng yaitu seorang tokoh masyarakat penggagas radio komunitas untuk jangka waktu 6 tahun. Dalam rencana selanjutnya, status tanah akan dibicarakan dengan aparat pemerintahan Desa atau Kelurahan untuk mendapatkan status hukum yang jelas.

 

Pengelolaan Rakom ini diadakan bekerja sama dengan Stasiun Radio Mazda Universitas Sanata Dharma. Sedangkan untuk penyusunan program dilaksanakan oleh tenaga pengelola rakom bekerja sama dengan DPPM - Sadhar. Program yang direncanakan antara lain: Perkembangan Informasi tentang Merapi, Tanggap Bencana,  Pengembangan Pertanian,   Pendampingan Pendidikan Anak, dan  Kebudayaan dan Sosial.

 

PELATIHAN TANGGAP BENCANA DI LERENG GUNUNG MERAPI, DI DESA UMBULHARJO, CANGKRINGAN, SLEMAN, YOGYAKARTA: “PENYELAMATAN DINI TERHADAP BAHAYA LAHAR DINGIN”.

Pada tanggal 26 Maret 2007, PKR-KWI bertemu dengan Lembaga Pengem-bangan dan Pelayanan kepada Masyarakat Universitas Sanata Dharma serta Komunitas di Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, untuk membi-carakan rencana kerjasama dalam mengadakan pelatihan tanggap bencana. Rencana kerjasama tersebut dirumuskan didalam:

a.         Pengantar:

Pasca Letusan Gunung Merapi yang terjadi tahun lalu, masih membutuh-kan perhatian dan pemikiran terkait dengan usaha penyelamatan warga se-kitar lereng Gunung Merapi. Hal ini menjadi penting lebih-lebih terkait dengan bencana lahar dingin. Pada satu sisi, bahaya lahar dingin dapat terjadi sewaktu-waktu karena guguran lava yang masih bertumpuk di pun-cak Merapi seiring dengan besarnya curah hujan di puncak Merapi yang terjadi pada musim penghujan ini. Di sisi lain, pasir kiriman yang datang dari puncak Merapi telah menjadi salah satu sumber penghasilan bagi para penambang pasir. Kenyataan lapangan memperlihatkan bahwa sering ter-jadi masyarakat lereng Merapi begitu antusias memanfaatkan kekayaan pasir Gunung Merapi tersebut. Ini dapat dilihat pada banyaknya kelom-pok-kelompok penambang pasir di wilayah aliran lahar. Kelompok-ke-lompok penambang tersebut seakan-akan kurang memperhitungkan faktor keselamatan jiwa. Untuk itulah menjadi sebuah kebutuhan mendesak un-tuk menumbuhkan kesadaran masyarakat sekitar Lereng Merapi sehu-bungan  dengan peringatan dini terhadap bahaya lahar dingin.

Untuk Pusat Kuliah Kerja Nyata Universitas Sanata Dharma di bawah ko-ordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Univer-sitas Sanata Dharma, Yogyakarta bekerjasama dengan PKR-KWI dan be-berapa pihak terkait bermaksud menyelenggarakan penyuluhan terhadap potensi bahaya yang mungkin dapat timbul akibat aktivitas vulkanik: ba-gaimana dapat dikembangkan usaha penyelamatan para warga terhadap bahaya lahar dingin dan bahaya gas vulkanik (Gas H2S) di Gunung Merapi.

b.     Lokasi Warga Gunung Merapi:  Sasaran Para Penerima Program Tanggap Bencana:

        Kelurahan Umbulhardjo, Kecamatan: Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta serta Kecamatan Turi, dan Kecamatan Pakem.

c.     Para Penerima Program Tanggap Bencana

        75 orang: para kader yang akan melanjutkan program pelatihan ini kepada para warga disekitar tempat tinggalnya sebanyak 375 orang, para peneri-ma yang tidak langsung atau indirect beneficiaries sebanyak 3000 – 4000 warga di Cangkringan. 

d.     Tema Acara:

        “Sarasehan dan Penyuluhan warga Lereng Merapi untuk Penyelamatan Dini terhadap Bencana Lahar Dingin bahaya gas vulkanik (Gas H2S) Merapi.”

e.     Tujuan:

1.   memberikan pemahaman dasar terhadap kemungkinan bahaya lahar dingin Gunung Merapi;

2.   memberikan pengetahuan langkah-langkah penyelamatan pertama jika sewaktu-waktu bencana lahar dingin datang;

3.   membangun koordinasi antar warga dalam mempersiapkan diri meng-hadapi bahaya lahar dingin Gunung Merapi

4.   Membangun langkah awal untuk membentuk jaringan antar warga da-lam pendistribusian informasi terkait dengan  aktivitas Gunung Merapi.

f.      Bentuk Acara:

1.   Sarasehan untuk tokoh dan penggerak masyarakat di Sekitar Lereng Merapi

2.   Penyuluhan Umum untuk warga Lereng Merapi

Ad 1. Sarasehan:

Acara sarasehan mengundang beberapa ahli di bidang vulkano-logi, meteorologi dan geofisika, serta penggerak masyarakat bi-dang komunikasi.

-     DR. Radmono Purbo (Ka Bidang Pengawas Vulkonologi Gu-nung Merapi)

-     Lesto A. Kusumo (Pengamat Cuaca untuk Gunung Merapi dan Sekitarnya)

-     Piet (Perintis Sistim Penyiaran Cuaca Merapi)

 

Peserta sarasehan adalah tokoh dan penggerak masyarakat, serta perwakilan ibu dan anak dari masyarakat di Kecamatan Turi, Cangkringan, dan Pakem. Sejumlah: 75 orang.

Ad 2. Penyuluhan:

Acara Penyuluhan menghadirkan kelompok penyuluh masyara-kat tradisional Yogyakarta, yang menggunakan metode pentas tradisional. Kelompok penyaji materi Tanggap Bencana adalah warga setempat yang mempunyai keahlian dibidang vulkanolo-gi, pengamat cuaca untuk Gunung Merapi, perintis sistem penyi-aran cuaca Merapi dan kelompok kesenian tradisional. Grup ini terdari 3-4 orang. Peserta penyuluhan adalah warga desa di wila-yah Kecamatan Turi, Cangkringan, dan Pakem.

 

g.     Waktu dan Tempat Penyelenggaraan:

Sarasehan diselenggarakan pada:

Hari- Tanggal       : Jum’at, 20 April 2007

J a m                    : 15.00 – 19.00

Pembicara            : DR. Radmono Purbo, Bpk. Lesto A. Kusumo, Bpk  Piet.

Tempat            :  Bumi Perkembahan Wono Gondang, Desa Umbulharjo, Kec.    Cangkringan- Sleman

 

Penyuluhan diselenggarakan pada,

Hari-Tanggal        : Sabtu, 21 April 2007

J a m                    : 19.00 – 21.00

Pembicara            : Den Baguse Ngarso dengan komunitasnya

Tempat          : Bumi Perkemahan Wono Gondang, Desa Umbulharjo, Kec. Cangkringan – Pakem.

 

h.     Susunan Panitia:

1.     Penasehat                 : Dr. G. Budi Subanar

2.     Penanggung Jawab   : Drs. H. Purwanta, M.A.

3.     Koordinator Lap.     : Bpk. Bambang Sugeng

Catatan: Fasilitas tempat dan tenaga merupakan partisipasi dan subsidi masyarakat.

Untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut di atas, diperlukan semacam pemanasan dalam bentuk kegiatan yang lebih pendek, yang diselengga-rakan selama 2 hari dimulai pada tanggal 20 Maret 2007 jam 17.00 s/d 22.00 dan tanggal 21 Maret 2007 jam 17.30 s/d 24.00 WIB. Materi pela-tihan pada tanggal 20 Maret 2007 disampaikan oleh Bapak Subandrio dari Badan Geologi, Dep. Energi dan Sumberdaya Mineral tentang Ancaman Bahaya Lahar Gunung Merapi Paska Erupsi 2006 adalah:

1.     Penjelasan tetang apa itu lahar dan lahar panas? Dan bagaimana lahar dan lahar panas itu dihasilkan? Serta syarat terbentuknya lahar.

2.     Intensitas lahar sebagai penyebab terjadinya lahar.

3.     Sejarah lahar di Kali Gendol dari tahun 1846 sampai tahun 1969.

4.     Peta guguran lahar ke beberapa lereng Gunung Merapi.

Kesimpulan dari pemateri tentang potensi bahaya lahar adalah kemungkinan ancaman lahar terhadap pemukiman penduduk relatif kecil. Bahaya lahar akan lebih mengancam pada para penambang pasir yang bekerja di badan sungai. Ancaman bagi masyarakat di sekitar lereng Gu-nung Merapi adalah meletusnya Gunung Merapi.

Pemateri yang kedua adalah Bapak Piet dari Masyarakat Pemantau Gu-nung Merapi. Pemateri bertugas untuk memantau seluruh aktifitas Gunung Merapi dan kemudian menyampaikan hasil pantauannya kepada masya-rakat yang tinggal di lerang Gunung Merapi. hal tersebut dilakukan oleh Pak Piet agar masyarakat di lereng Gunung Merapi dapat terhindar dari bahaya yang disebabkan karena aktifitas Gunung Merapi yang berbahaya seperti guguran lahar panas, lahar dingin, dan goncangan akibat aktifitas di kawah Gunung Merapi.

Sedangkan pemateri terakhir adalah Bapak Lesto. Pak Lesto menyam-paikan tentang bagaimana cara menyampaikan berita-berita yang beliau dapat dari para komunitas pemantau Gunung Merapi kepada masyarakat luas melalui sarana radio handy talky dan radio komunitas.

Kegiatan tersebut di atas membawa para peserta kepada  kebutuhan baru, yaitu diperlukannya sebuah alat komunikasi yang memiliki jangkauan yang lebih luas. Mereka akan dapat berkembang secara lebih berdaya gu-na kalau tersedia radio komunitas. Untuk itu Departemen Pengembangan dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sanata Dharma (DPPM-Sadhar) bersama masyarakat menyusun sebuah proposal.