Monday, May 25, 2026

LAUDATO SI’ DAN “JEZU, UFAM TOBIE” DI DALAM FILM PESTA BABI

 

          Kehadiran banner Laudato Si’ pada menit 01:20:00 dalam film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dapat diterangkan sebagai simbol yang sangat penting secara ekologis, teologis, dan politis. Film ini sendiri memang berfokus pada konflik agraria, deforestasi, penghancuran ruang hidup masyarakat adat Papua, dan kritik terhadap proyek-proyek ekstraktif negara maupun korporasi.

Laudato Si’ adalah ensiklik Paus Fransiskus tahun 2015 tentang “perawatan rumah bersama” (care for our common home). Dalam dokumen itu, Paus menegaskan bahwa krisis lingkungan tidak bisa dipisahkan dari penderitaan orang miskin, masyarakat adat, dan korban ketidakadilan ekonomi. Maka ketika banner Laudato Si’ muncul di dalam film, itu dapat dibaca sebagai:

  1. Simbol perlawanan ekologis
    Banner itu menandakan bahwa perjuangan masyarakat adat Papua bukan hanya soal tanah, tetapi juga soal menjaga ciptaan. Hutan dipahami bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan ruang hidup yang sakral.
  2. Kritik terhadap “kolonialisme modern”
    Judul film sendiri memakai istilah “Kolonialisme di Zaman Kita.” Banner Laudato Si’ memperkuat kritik bahwa eksploitasi besar-besaran atas tanah Papua merupakan bentuk kolonialisme baru: alam dihancurkan demi keuntungan segelintir elite ekonomi-politik. Ini sejalan dengan kritik Paus Fransiskus terhadap “paradigma teknokratis” dan ekonomi yang mengorbankan manusia dan alam.
  3. Solidaritas Gereja dengan masyarakat adat
    Dalam tradisi Gereja Katolik modern, terutama sejak Laudato Si’ dan Querida Amazonia, masyarakat adat dipandang memiliki kebijaksanaan ekologis yang penting bagi dunia. Banner itu bisa dibaca sebagai tanda bahwa sebagian komunitas Gereja berdiri bersama rakyat yang mempertahankan tanah leluhur mereka.
  4. Penghubung antara spiritualitas dan aktivisme sosial
    Film ini bukan hanya dokumenter politik, tetapi juga memiliki dimensi moral dan spiritual. Banner Laudato Si’ menunjukkan bahwa perjuangan ekologis dipahami sebagai panggilan etis dan iman, bukan sekadar aktivisme lingkungan biasa.
  5. Penanda jejaring gerakan global
    Karena Laudato Si’ telah menjadi inspirasi banyak gerakan lingkungan internasional, kemunculan banner tersebut juga menghubungkan perjuangan lokal Papua dengan gerakan ekologis global: hak masyarakat adat, keadilan iklim, dan kritik terhadap kapitalisme ekstraktif.

Secara sinematik, detail seperti banner itu juga berfungsi sebagai “kode ideologis.” Sutradara tidak perlu menjelaskan panjang lebar; cukup dengan menghadirkan simbol Laudato Si’, penonton yang memahami konteks langsung menangkap bahwa film ini memosisikan kerusakan ekologis Papua sebagai persoalan moral, spiritual, dan kemanusiaan universal, bukan sekadar konflik pembangunan biasa. Nomor-nomor Laudato Si’ yang terkait adalah: LS No. 48, LS No. 67, LS No. 82, LS No. 91, LS No. 101, LS No. 106, LS No. 109, LS No. 117, LS No. 146, LS No. 216, LS No. 217.

Film Pesta Babi sendiri memang banyak dibahas sebagai dokumenter investigatif tentang deforestasi, proyek pangan skala besar, dan perjuangan masyarakat adat Papua Selatan menghadapi ekspansi industri.

 Di sisi yang lain juga nampak gambar Yesus dengan tulisan “Jezu, ufam Tobie”

     

Tulisan yang terdapat pada ikon Santa Faustina Kowalska berbunyi “Jezu, ufam Tobie” dalam bahasa Polandia. “Yesus, Engkaulah andalanku” atau lebih harfiah: “Yesus, aku percaya kepada-Mu.”

Kalimat ini merupakan inti dari devosi Kerahiman Ilahi yang diterima Santa Faustina melalui penglihatannya akan Yesus yang penuh belas kasih. Dalam ikon Kerahiman Ilahi, Yesus digambarkan dengan dua sinar keluar dari hati-Nya: sinar merah melambangkan darah, sinar pucat melambangkan air, yang mengingatkan pada darah dan air yang mengalir dari lambung Kristus di salib (Yohanes 19:34). Pesan utama dari tulisan “Jezu, ufam Tobie” adalah ajakan untuk: mempercayakan diri sepenuhnya kepada belas kasih Tuhan, berharap pada kasih Allah di tengah dosa dan penderitaan, serta hidup dalam iman dan pengampunan.

Ada beberapa persamaan yang dapat dilihat antara situasi dunia ketika Saint Faustina Kowalska hidup dan keadaan yang dialami banyak rakyat di Tanah Papua saat ini. Tentu konteks sejarahnya berbeda, tetapi ada kesamaan dalam pengalaman manusiawi dan sosial.

 1. Hidup dalam suasana ketakutan dan ketidakpastian

Santa Faustina hidup pada masa Eropa diliputi kecemasan akibat perang, kemiskinan, konflik ideologi, dan ancaman kekerasan. Banyak orang merasa masa depan tidak jelas.

Di Papua, banyak anggota masyarakat juga hidup dalam suasana ketidakpastian karena konflik berkepanjangan, kekerasan bersenjata, pengungsian, dan ketegangan politik. Sebagian warga mengalami rasa takut, kehilangan rasa aman, dan trauma sosial.

 2. Penderitaan rakyat kecil

Faustina berasal dari keluarga miskin petani Polandia. Ia hidup dekat dengan penderitaan rakyat sederhana: kemiskinan, sakit penyakit, dan keterbatasan hidup. Demikian pula, banyak masyarakat Papua masih menghadapi kemiskinan, akses pendidikan dan kesehatan yang terbatas, serta kesenjangan pembangunan.

3. Kerinduan akan belas kasih dan perdamaian

Pesan utama Faustina adalah kerahiman Allah: bahwa di tengah dunia yang keras, manusia tetap dipanggil untuk percaya, mengampuni, dan membawa harapan. Dalam konteks Papua, masyarakat juga sangat membutuhkan pendekatan yang berlandaskan martabat manusia, dialog, rekonsiliasi, dan belas kasih, bukan hanya pendekatan kekuasaan atau kekerasan.

4. Peran iman sebagai sumber kekuatan

Di Polandia masa Faustina, Gereja Katolik menjadi tempat rakyat menemukan penghiburan dan identitas di tengah krisis. Di Papua, Gereja-gereja juga sering menjadi tempat perlindungan moral, pendampingan kemanusiaan, pendidikan, dan suara bagi mereka yang menderita.

5. Jeritan manusia yang ingin didengar

Dunia masa Faustina dipenuhi orang-orang yang merasa terluka dan tidak didengar akibat perang dan perubahan sosial besar. Begitu pula di Papua hari ini, banyak masyarakat ingin agar penderitaan, aspirasi, dan martabat mereka sungguh didengarkan dengan hati terbuka dan penghormatan terhadap kemanusiaan.

 Jakarta, 19 Mei 2026

Ignatius Ismartono, SJ














Wednesday, April 1, 2026

RUN4U 2026

 


Ayo jaga bumi sambil berbagi kebaikan 🌍💚 setiap langkah kita bisa menjadi harapan bagi sesama melalui Sahabat Insan Run 2026. Donasi sekarang dan jadilah bagian dari gerakan kecil yang berdampak besar! https://run4u.cause.id/pejuangdonasi/SahabatInsanRun


#Run4U2026 #SahabatInsan #AyoJagaBumi #DonasiSekarang #PeduliLingkungan #LaudatoSi #GerakanKebaikan #CharityRun #IndonesiaPeduli #EcoMovement

Thursday, March 5, 2026

JCAP–MRN Meeting on Migrant Situation of East Timor and Climate Displacement

 

Dr. Rufina Astuti Sitanggang, S.H., M.H. mengikuti kegiatan pertemuan internasional yang membahas situasi migran dan dampak perubahan iklim di Timor-Leste. Kegiatan ini merupakan JCAP–MRN Meeting on “Migrant Situation of East Timor and Climate Displacement” yang diselenggarakan oleh Jesuit Social Service - Timor Leste (JSS). Pertemuan tersebut berlangsung pada 3–6 Maret 2026 di Novo Turismo Resort and Spa, Dili, Timor-Leste.

Friday, February 20, 2026

Suara dari Balik Layar: Urgensi Perlindungan Pekerja Migran dalam Pusaran "Forced Criminality" di Asia Tenggara

 


JAKARTA
– Organisasi masyarakat sipil (CSO) lintas negara yang dipelopori oleh Migrant CARE bersama IJMI Foundation dan Center for Migrant Advocacy (CMA) menggelar pertemuan reguler bertajuk "Memastikan ASEAN Vision 2045 Berpihak pada Pekerja Migran" di Jakarta, Jumat (20/2/2026). Diskusi ini menyoroti ancaman serius forced criminality atau kerja paksa untuk melakukan tindak pidana seperti penipuan daring (online scamming) yang kini menjadi fenomena krisis kemanusiaan baru di Asia Tenggara. Agenda ini mendesak agar keketuaan ASEAN mendatang memberikan perlindungan nyata bagi pekerja migran yang kerap terjebak dalam eksploitasi di wilayah-wilayah konflik dan zona perbatasan yang lemah pengawasan hukumnya.

Wednesday, February 18, 2026

Di Hari Valentine 2026: Uskup Tanjung Karang terjun ke Laut

 


PESAWARAN – Menyambut Hari Kasih Sayang dengan cara yang berbeda, Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo, memimpin aksi ekologis penanaman 2.000 bibit mangrove di pesisir Desa Sidodadi, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, pada Sabtu (14/2/2026). Aksi ini menjadi simbol kepedulian konkret Gereja Katolik terhadap perlindungan lingkungan hidup dan pemulihan ekosistem pantai.