Friday, February 20, 2026

Suara dari Balik Layar: Urgensi Perlindungan Pekerja Migran dalam Pusaran "Forced Criminality" di Asia Tenggara

 


JAKARTA
– Organisasi masyarakat sipil (CSO) lintas negara yang dipelopori oleh Migrant CARE bersama IJMI Foundation dan Center for Migrant Advocacy (CMA) menggelar pertemuan reguler bertajuk "Memastikan ASEAN Vision 2045 Berpihak pada Pekerja Migran" di Jakarta, Jumat (20/2/2026). Diskusi ini menyoroti ancaman serius forced criminality atau kerja paksa untuk melakukan tindak pidana seperti penipuan daring (online scamming) yang kini menjadi fenomena krisis kemanusiaan baru di Asia Tenggara. Agenda ini mendesak agar keketuaan ASEAN mendatang memberikan perlindungan nyata bagi pekerja migran yang kerap terjebak dalam eksploitasi di wilayah-wilayah konflik dan zona perbatasan yang lemah pengawasan hukumnya.

Wednesday, February 18, 2026

Di Hari Valentine 2026: Uskup Tanjung Karang terjun ke Laut

 


PESAWARAN – Menyambut Hari Kasih Sayang dengan cara yang berbeda, Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo, memimpin aksi ekologis penanaman 2.000 bibit mangrove di pesisir Desa Sidodadi, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, pada Sabtu (14/2/2026). Aksi ini menjadi simbol kepedulian konkret Gereja Katolik terhadap perlindungan lingkungan hidup dan pemulihan ekosistem pantai.

Sunday, February 8, 2026

Damai Dimulai dengan Martabat: Gereja Bersatu Mencegah Perdagangan Manusia

 


Pada Minggu, 8 Februari 2026, Kapel Kolese Kanisius, Jakarta, menjadi ruang doa sekaligus kesaksian solidaritas global dalam Perayaan Ekaristi Hari Doa Internasional dan Penyadaran Melawan Perdagangan Manusia. Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan Gereja universal yang digerakkan oleh jaringan Talitha Kum untuk melawan salah satu kejahatan paling serius terhadap kemanusiaan: perdagangan manusia.

Monday, January 5, 2026

PULANG DALAM PETI MATI KRISIS KEMANUSIAAN PEKERJA MIGRAN INDONESIA 2020–2025

 Sepanjang 2020–2025, sekitar 670 jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) dipulangkan melalui Bandara Internasional El Tari Kupang. Rata-rata lebih dari 110 jenazah per tahun. Mayoritas korban adalah PMI non-prosedural yang bekerja di sektor berisiko tinggi, terutama di Malaysia.

Fenomena ini bukan sekadar masalah ketenagakerjaan lintas negara, tetapi juga krisis kemanusiaan nasional yang mencerminkan:

1)     Migrasi paksa akibat kemiskinan struktural

2)     Perdagangan manusia yang berlangsung sistemik

3)     Kegagalan negara dalam perlindungan warga

Bandara El Tari telah berubah menjadi gerbang duka nasional. Tanpa intervensi kebijakan struktural, pola kematian ini akan terus berulang.