Tuesday, March 26, 2013

Langkah Besar untuk Pekerja Migran Indonesia

Human progress is neither automatic nor inevitable... 
Every step toward the goal of justice requires sacrifice, suffering, and struggle; 
the tireless exertions and passionate concern of dedicated individuals.  
(Martin Luther King, Jr.)


The Electric Brain by Ahermin
ahermin.deviantart.com




Tidak pernah ada kata selesai bagi mereka yang memperjuangkan keadilan untuk sesama yang termarginalkan, sekalipun perjuangan itu membutuhkan pengorbanan dan mengalami penderitaan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Martin Luther di atas.

Berdasarkan data dari Laporan Perdagangan Orang (2011), Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat memperkirakan 69% dari 6,5—9 juta pekerja migran Indonesia (PMI) adalah perempuan dan hampir setengahnya (3—4,5 juta) diindikasi sebagai korban perdagangan orang dan mayoritas bekerja di sektor domestik (pekerja rumah tangga). Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja di Indonesia (BNP2TKI) pada tahun 2013, melaporkan bahwa selama tahun 2012 terdapat 31.528 PMI yang bermasalah atau terjerat kasus hukum. Dari data itu dapat dikatakan bahwa permasalahan yang menimpa PMI sampai detik ini, tidak ada habisnya dan kebanyakan di antaranya tidak berujung pada penyelesaian berkeadilan bagi mereka.

Tentu sudah menjadi rahasia umum bahwa begitu banyak persoalan yang dihadapi PMI mulai dari pra-keberangkatan, keberangkatan, dan kepulangan. Oleh karena itu, sekarang ini, sebuah undang-undang sedang digodok oleh DPR RI (Komisi IX), yaitu Rancangan Undang-undang Penempatan Pekerja Indonesia di Luar Negeri (UU PPILN) sebagai pengganti UU. No. 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (UU PPTKILN).  Maka, dirumuskanlah pengaturan mengenai sistem pemberian bantuan hukum yang aksesibel dan berkualitas bagi para pekerja migran.

Dengan demikian, para pengacara publik, pendamping, masyarakat sipil di berbagai negara kawasan ASEAN, khususnya Indonesia dan Malaysia—mengingat banyak kasus perihal pekerja migran Indonesia di sana—perlu bersinergi dalam melengkapi dan membangun sistem pemenuhan hak atas bantuan hukum bagi para pekerja migran Indonesia.

Oleh karena itu, pada tanggal 22—23 Maret 2013,  Jaringan Advokasi Revisi Undang-Undang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (JARI PPTKILN), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, American Bar Association Rule of Law Initiative (ABA ROLI), yang didukung oleh TIFA Foundation, menyelenggarakan lokakarya bertema ”Early Access to Legal Aid for Indonesia Migrant Workers”. Sekitar 20 orang dari beberapa NGO yang fokus pada persoalan buruh migran dan tergabung dalam JARI ikut hadir dan menyumbangkan pikirannya terkait RUU PPILN tersebut.

Pada hari pertama (22 Maret 2013) peserta fokus membicarakan bantuan hukum untuk PMI di negara tujuan. Awalnya, peserta diajak untuk mengerucutkan segala permasalahan yang dialami oleh PMI. Kemudian sampai pada rekomendasi dan langkah konkret yang dapat dilakukan lembaga di kemudian hari untuk mengurangi penderitaan mereka. Ada enam solusi yang akhirnya dirumuskan oleh peserta, antara lain:

  1. Pemberian informasi
    1. Aturan/ketentuan hukum (misalnya terkait dengan PMI yang tidak memiliki dokumen lengkap, tidak melapor, sehingga kewarganegaraannya menjadi hilang)
    2. SOP/aturan internal
    3. Sumber daya tersedia
  2. Substansi pembelaan
    1. Terkait ketidakjelasan aturan/ketentuan pidana di luar negeri, sedangkan di Indonesia tidak (sehingga tidak dapat di-ekstradisi), inkonsisten ke bawah, diskriminatif
    2. Proses klaim asuransi, larangan menikah
  3. Kerangka hukum
    1. Negara
    2. ASEAN (Asean Committee for Migrant Workers)
    3. Diplomasi
  4. Bentuk bantuan hukum
    1. Target kasus, pilihan BMI
    2. Mediasi
    3. Konsiliasi
    4. Pendampingan
  5. Tindakan hukum
    1. Mengadu/melapor
    2. Menggugat ganti kerugian
    3. Menggugat restitusi
  6. Merujuk kebutuhan lain
    1. Medis
    2. Konseling
    3. Pemberdayaan

Hari berikutnya (23 Maret 2013), para peserta diajak untuk mengkaji RUU PPILN dan memberikan beberapa catatan terhadap isi undang-undang yang dianggap kurang tepat.  

Pada akhirnya, semoga dengan adanya pembahasan mendalam tersebut, maka nantinya kebijakan yang ada, terutama melalui UU PPILN dapat membangun sebuah sistem serta mekanisme bantuan hukum yang aksesibel dan berkualitas bagi PMI. Tentunya peran aktif dari berbagai pihak, khususnya dari Pemerintah sangat diperlukan.

Semoga jalan ini dapat mewujudkan keadilan untuk PMI yang merupakan sebuah langkah besar yang membawa titik terang pada mendungnya cakrawala kehidupan mereka.


Sunday, March 24, 2013

Mendampingi Kelahiran Bayi Orang Terbuang

Hari Sabtu 23 Maret 2013, Sahabat Insan kembali menyambut kelahiran seorang makhluk mungil di RS Sint Carolus, Jakarta Pusat.

Sang Ibu, seorang buruh migran asal Qatar yang sudah beberapa bulan ini tinggal di Rumah Singgah Sahabat Insan (sebut saja namanya Wasti), mulai merasakan gejala akan melahirkan sejak hari Jumat siang pukul 11.00 WIB. Oleh penjaga rumah singgah (Iis) dan seorang relawan (Ika), ia pun diantar ke RS Carolus. Di sana ia langsung dimasukkan ke Ruang Bersalin Immanuel untuk dipantau keadaannya. Karena sampai pukul 18.00 tidak ada perkembangan, akhirnya dokter kandungan memutuskan untuk melakukan induksi untuk memperlancar proses persalinannya.

Sementara itu, pada pukul 18.00 juga, salah satu staf Sahabat Insan tiba di RS Carolus dan memberikan kesempatan kepada Iis dan Ika yang telah menjaga Wasti sejak pukul 11.00 siang untuk pulang ke rumah mereka sejenak untuk beristirahat. Dalam perjalanan pulang, mereka berdua menyempatkan diri untuk membeli barang-barang yang diperlukan Wasti untuk bersalin, antara lain kain panjang, sarung, pembalut, dan baju hamil. Sementara perlengkapan untuk bayi (baju, selimut, topi, handuk kecil dan kaos kaki)  telah disumbang oleh salah satu penderma Sahabat Insan yang tinggal di Bali.


Pada pukul 22.30,  Iis dan Ika sampai kembali di Carolus dalam kondisi yang lebih segar dan siap untuk menjaga Wasti. Karena mereka telah datang, staf Sahabat Insan pun kemudian pulang ke rumah pada pukul 23.30.


Sementara itu, kondisi Wasti sendiri setelah dilakukan induksi langsung mengalami perkembangan yang cukup berarti. Semakin lama kontraksi yang dirasakannya semakin kuat dan akhirnya, pada Sabtu dini hari pukul 01.10 WIB, ia pun melahirkan seorang bayi laki-laki secara normal, dengan berat 2.796 kg dan panjang 47 cm.



Salah seorang relawan Sahabat Insan Bpk A. Bambang W dibantu oleh istrinya beberapa minggu sebelumnya telah berkoordinasi dengan teman-temannya untuk membantu Wasti dengan mengumpulkan perlengkapan bersalin, antara lain: gurita, daster, pakaian dalam, kain panjang dan sarung. Bantuan tersebut diserahkan kepada Sahabat Insan pada hari Sabtu siang 23 Maret 2013 dan pada hari itu juga langsung diserahkan kepada Wasti yang masih berada di RS Carolus. Terima kasih kepada para penderma yang telah rela memberikan perhatiannya untuk saudari kita yang sedang membutuhkan.

Karena kondisi Ibu dan anak pasca persalinan cukup bagus, Wasti dan juga bayinya diperbolehkan pulang pada hari itu juga oleh dokter yang merawatnya. Mereka pun meninggalkan RS Carolus pada pukul 15.00 WIB. Semoga sang ibu segera pulih dan semoga bayinya kelak menjadi manusia yang peduli terhadap sesamanya.

Friday, March 22, 2013

The World I Choose That Chooses In Return



Steal Your Pain Away by wentzizzlesizzle
http://wentzizzlesizzle.deviantart.com/art/Steal-Your-Pain-Away-169468261


During the day's visits to the shelter and the hospital, I felt a sense of Christmas again. Not the usual Christmas symbols of presents and warm family gatherings, but that of the difficulties Mary faced as a woman. As a single woman in a patriachal land, Mary was already with child before marriage. The father of the child was later introduced to her. Then there was a need to travel during her pregnancy, culminating with her giving birth in a lowly place, not usually fit for human habitation. And later on, she would have to face separation and experiences of this child of hers that is unlike any other child.
These challenges, and other more challenging circumstances, have to be faced by an ordinary single mother - let's call her Alina. She's poor, afraid, ashamed, and feeling very broken over the fate life dealt her. This was unplanned. Alina had hoped to work to make a living, and instead, she has been attacked, molested, and now, pregnant with a child that she can't explain for. She has not added anything to her name except being a mother to a child which she does not want to care for. Alina has not added any fortune for her own gain, except a loss of face, and a heavy burden of shame and misplaced guilt.
A few weeks back, I was invited to attend a talk by an NGO on how to address the troubles relating to persons like Alina. While I was not able to attend, I managed to get my hands on one of the hand-outs. Sadly, the issues addressed by the NGO were mostly about the symptoms. In my limited experience, I felt that there was a core issue which seemed to be above everyone's grasp, which was how to pre-empt the drive that persons like Alina face, which lead to their taking risks in foreign lands in uncertain or outright illegal situations. Quite simply, rather than working out detailed technical solutions, I would like to point to the quality of the attempts taken so far. Quite simply, I would say the core problem is about taking responsibility in one, big, way.
Alina took the decision to be an illegal migrant worker mainly to improve her standard of living. She is not living on Java Island, which already puts her at a disadvantage. To improve the economic conditions of a geographical location away from Jakarta, needs a form of responsibility taking which is very risky, I would say. It's about improving one hundred and one things simultaneously, and ensuring that those improvements really do stick in order to let their positive effects trickle down to the people.
The problem is that these one hundred and one things are probably not easily identifiable, and are probably already supposedly handled by a clutch, if not as many departments, committees, grassroots leaders, as there are problems and solutions. And at the end of the day, in giving out such responsibility in piecemeal fashion, eventually no one takes charge of the problem, the overall negative effect that is supposed to be eliminated. It's as if everyone knows that there is an elephant which they want to get rid off from the room they are in, but with so many other people in the room assigned to different parts of the elephant, everybody ends up assuming that someone else holds the key to finally getting rid of the elephant. What is really needed is someone to take charge and organize everybody (as well as facing the consequences of telling people what they can or cannot do) so that the one objective is finally achieved.
Simply said, without sweating the details, I would say that there is a lack of effective direction, and control, that focuses on the person in need. Everyone can name the problem in general. But no one wants to be responsible, in this one, big, way - no one wants to sacrifice their time and efforts for returns and recognition which might not come their way. No one wants to make sacrifices in such difficult times, as the media tells us daily. No one wants to be the one to take on this responsibility which carries no fame, no gain, not even a guarantee that one can walk away from it peacefully.
But are those really all the choices and scenarios we have at hand, in such a situation?
Sometimes, our horizons are very much narrower than they could have been, had we been looking for solutions which involved other people. Very often, we tend to try to solve problems on our own. It's a hassle working with others, and not everyone is strong enough to let others know that they are weak because they had to call for help. We often don't want to admit that we want to have someone on our side, to share in our problems. But that is what makes a difference. And having one more person accompanying us during our troubles does make a difference. Horizons open up a little larger, the troubles seem lighter, and the possibility of success seems to grow larger.
While such ideas are seemingly lofty and romantic, the stuff of movies and dramas, nevertheless we do encounter them in our lifetimes. It's just that we can never trust that it would happen again, because essentially, we had to trust another person with our deepest fears, our most vulnerable parts. But you never know until you've tried - and it's always different every time. If today I accompanied a person in need with tenderness and compassion, I am quite sure that my own life too will be changed. I've gotten to know someone, and I'm helping that someone to be better.
And there lies a reflection of the difficulties of helping someone else - there is a gnawing feeling that we should not ourselves be shortchanged, be taken advantage of, be a fall guy to an elaborate emotional scam. All I can say is, so what if that happens? Does my world come crashing around my ears? Am I scarred for the rest of my life? Or is there instead a growing awareness of the depths of brokenness out there in the world - and that makes me more grateful for all the little miracles of my life? You might wonder, but I think I will give it a try. I choose, not because I see something I want, but because I see something someone needs. I choose life, and life, in a way, chooses me in return – for all I am, warts and all, hero and villain, strong and weak. It’s about the choice made – it’s never about the profit or loss.

Monday, February 18, 2013

The Money On The Ground, The Stars In The Sky



State of Mind ID by DpressedSoul
http://dpressedsoul.deviantart.com/

 In the course of running the shelter for migrant workers, a lot of uncertainties occur. The initial assumption that one month is enough to prepare them to return to their families turns out to be the minimum amount of time. The longest period so far is three months. Clearly, persons with troubles are in need of the most help. Yet this is not how society seems to react. In this  country of the red and white, the scale of social ills seem to be larger than life, threatening to overwhelm any heart or fund or resolve. Hence, no one attempts to solve these problems. We normally assume that this is different from the case of someone that comes along, and wields the power that is given unto to them to carry out their duty. Like how the new governor and vice-governor of Jakarta seem to be making visible and tangible changes to Jakarta, until our everyday lives are touched.
Can this explanation be true? Do we always give up on problems that we are not given clear authority, given clear guidelines as to what we can or cannot do?
The question strikes at our hearts, for it questions whether we care or not, whether we stand for values and morals over and above our own convenience, leisure, pleasure, or even the box which society and ourselves collude to put in place. If a person lives, breathes, and remains a member of society, to care for what is happening around them is a consequence of being alive in this manner. However, when someone decides to use sunglasses, darken the glass of their windscreens and windows, and live in gated enclaves, their actions do not seem say so. They live for themselves, and not for society. But is that really possible? Are they really able to live in their own bubbles, excluded from the problems of the world around them?
The answer, from the less fortunate side of life, is that they tend not to. So, the others who are less fortunate soldier on, one day, one meal, one moment at a time. There's no space or time for remorse, for regrets, for all that could have been - because it is not going to be, as it has already passed. When one is down and out, laden with burdens that bow the head down, then all one can do is to count the money you can find on the ground. If you are laid low, flat on your back with the troubles and illnesses that afflict the less fortunate, you could perhaps count the stars in the sky. Everything else is a miracle.
But, if we don't see miracles at work in the streets and in the slums, among the poor and oppressed, don't be surprised if at one time life changes dramatically, and no one cares either. What's at stake is not the money, the handouts, or the help given to the less fortunate, but the creation of, and engagement in, a civil society comprised of the rich and the poor that allows everyone to live justly, in peace, according to their own motivations. If society means anything, it should be more than just a group of classes, a numeral label that has no value to everyone in it.
One of the implications is that if people want to work abroad in order to change their fortunes, and such means do exist legally, then by all means, let them work hard to achieve their dreams - and let their efforts be supported by proper legal and social supports and mechanisms. This applies as much as to the aspiring engineer as well as to the hard-working domestic helper.
In reality, it is the monetarily poor who are further marginalized and neglected, which shows that there really isn't a just and peaceful civil society at work here, from the government to the ordinary people on the streets. When there isn't a civil society at all, no one is safe from becoming prey for someone else stronger, richer, or hell-bent on victimising others. At that time there would no longer be any miracles, only just curses, no longer any happiness or joy, but neuroses and misery. There is no one for anyone else, and all one has is loneliness and suffering.
This is not how our society looks like at the moment. But for those who have fallen between the cracks, who have been less fortunate in how life has dealt with them, this is their reality. The hope and miracle which we are all waiting for in society is perhaps one that is waiting to happen within us, and not on the outside. Perhaps it is all due to our misunderstanding what we are, who we are, and who we are called to be. Unfortunately, just like how life looks unjust for the marginalized, if we do not care enough, so it would be as well for us.

Tuesday, January 22, 2013

Orang Terbuang di Rumah Singgah Sahabat Insan Selama Tahun 2012

Berikut orang-orang terbuang yang dibantu di Rumah Singgah Sahabat Insan selama tahun 2012:

No.
Nama
Alamat
Asal Negara Penempatan
Keterangan
1
Suyati
Kendari
Qatar
Pemberangkatannya tidak sesuai dengan prosedur. Ia mengurus kasusnya sampai di Mabes POLRI dan tinggal di rumah singgah selama 45 hari
2
Suryati
Semarang
Dubai
Kondisi depresi sempat dirawat di ruang jiwa Rumah Sakit POLRI Kramat Jati selama 3 bulan dan tinggal di rumah singgah selama 3 bulan. Setelah asal usulnya terlacak, maka dikembalikan ke keluarga di Semarang
3
Munawaroh
Mojokerto
Arab Saudi
Proses pemulihan pasca operasi kanker rahim (selama 2 bulan tinggal di rumah singgah untuk kontrol)
4
Suhada
Sumbawa
Arab Saudi
Operasi teroit (selama 2 bulan tinggal di rumah singgah untuk proses pemulihan)
5
Nurlela
Bima
Arab Saudi
Operasi kanker payudara. Proses pemulihan pasca operasi dan tinggal di rumah singgah selama 30 hari.
6
Sukeri
Solo
Taiwan
Kecelakaan kerja dan mengalami patah tulang belakang, Pemulihan pasca rawat inap di Rumah Sakit POLRI, tinggal di rumah singgah selama 2 bulan.
7
Hasna
Kendari
Arab Saudi
Korban perkosaan dan penganiayaan, kondisi fisik luka di bagian tubuh,  telinga hilang, dan jari tangan juga hilang akibat dibakar majikan. Proses pemulihan tinggal di rumah singgah selama 4 bulan
8
Tuti
Indramayu
Qatar
Patah tulang kaki (tempurung kakinya) tidak dapat ditekuk dan proses pemulihan pasca rawat inap di Rumah Sakit POLRI. Tinggal di rumah singgah selama 47 hari.
9
Fatimah
Kerawang
Timur Tengah
Depresi dan sempat dirawat selama 15 hari di rumah sakit. Tinggal di rumah singgah selama 3 hari untuk proses pemulihan.
10
Uum
Majalengka
Timur Tengah
Menderita kanker payudara, Tinggal di rumah singgah untuk pemulihan pasca operasi dan sampai saat ini masih kontrol dan menjalani terapi,
11
Suparni
Madiun
Malaysia
Menderita patah tulang belakang. Tinggal di rumah singgah selama 2 bulan untuk  proses pemulihan pasca dirawat di Rumah Sakit POLRI Kramatjati.
12
Susilowati
Indramayu
Timur Tengah
Menderita kanker payudara. Dan selama proses pemulihan pasca operasi ia tinggal di rumah singgah selama 21 hari.
13
Wariah
Cilacap
Malaysia
Patah kaki, menjalani proses pemulihan dan tinggal selama 1 bulan di Rumah Singgah Sahabat Insan.
14
Yati
Cirebon
Timur Tengah
Menderita kanker payudara dan tinggal di rumah singgah selama 1 bulan untuk proses pemulihan pasca operasi.
15
Nearwati
Palembang
Timur Tengah
Proses pemulihan kesehatan (korban pemerkosaan oleh majikan) dan sampai bulan Desember 2012 masih tinggal di rumah singgah
16
Khoirul
Kendal
Timur Tengah
Proses pemulihan setelah menjalani perawatan di ruang jiwa RS Polri dan tinggal di rumah singgah selama 5 hari
17
Triwahyuni
Klaten
Taiwan
Proses pemulihan setelah menjalani perawatan di ruang jiwa dan tinggal di rumah singgah selama 6 hari
16
Fatma
Cilacap
Singapura
Kanker payudara, proses pemulihan pasca operasi dan tinggal di rumah singgah selama 30 hari
17
Elis
Bandung
Yordan
Proses pemulihan pasca rawat di rumah sakit akibat kaki kirinya patah dan tinggal di rumah singgah selama 17 hari
18
Mujiatun
Surabaya
Malaysia
Proses pemulihan pasca operasi kaki/patah dan tinggal di rumah singgah selama 39 hari
19
Mariana
Lombok
Timur Tengah
Operasi teroit. Proses pemulihan pasca operasi dan tinggal di rumah singgah selama 35 hari.
20
Lia
Pandeglang
Timur Tengah
Operasi teroit, Proses pemulihan pasca operasi dan tinggal di rumah singgah selama 35 hari
21
Mastini Pasaribu
Medan
Malaysia
Korban perkosaan ( proses melahirkan sampai pemulihan) tinggal di rumah singgah selama 2 bulan
22
Ida Zubaidah
Cianjur
Timur Tengah
Operasi payudara ( kanker) dan tinggal di rumah singgah selama 49 hari untuk proses pemulihan
24
Cucu cahyani
Cirebon
Timur Tengah
Operasi kanker di gusi (proses pemulihan pasca operasi dan tinggal di rumah singgah selama 52 hari.
25
Ika
Sumedang
Malaysia
Proses pemulihan pasca perawatan di rumah sakit karena kaki kirinya patah akibat kecelakaan kerja dan tinggal di rumah singgah selama 18 hari.
26
Mery
NTT
Timur Tengah
Proses pemulihan pasca rawat di ruang jiwa (depresi) tinggal di rumah singgah selama 35 hari
28
Parmi
Purwokerto
Malaysia
Kanker tulang, dipulangkan paksa oleh majikannya dan terdampar di Tanjung Pinang di Titiwa. Ia ke rumah singgah dan tinggal selama 17 hari.
29
Mila
Bandung
Timur Tengah
Korban perkosaan dan tinggal di rumah singgah selama 23 hari untuk proses pemulihan.
30
Heny
Kendal
Taiwan
Proses pemulihan dan menunggu obat lanjutan (kanker usus besar), tinggal di rumah singgah selama 32 hari.
32
Mastikoh
Cirebon
Timur Tengah
Kanker Payudara ( proses pemulihan pasca operasi pengangkatan payudara) dan tinggal di rumah singgah selama 32 hari
33
Ikoh
Cilacap
Timur Tengah
Proses pemulihan pasca operasi teroit, dan tinggal di rumah singgah selama 23 hari
34
Mastuti
Malang
Taiwan
Operasi tumor, proses pemulihan pasca operasi dan tinggal di rumah singgah selama 13 hari
35
Reni
Cianjur
Timur Tengah
Patah kaki, proses pemulihan pasca operasi pencabutan pen, tinggal di rumah singgah selama 12 hari
36
Mimi
Majalengka
Timur Tengah
Operasi kanker payudara, proses pemulihan pasca operasi dan tinggal di rumah singgah selama 21 hari
37
Suhimah
Purwakarta
Malaysia
Depresi (proses pemulihan pasca di rawat di ruang jiwa) tinggal di rumah singgah selama 24 hari
38
Cicih
Bandung
Timur Tengah
Pemulihan pasca operasi kanker payudara dan tinggal selama 35 hari di rumah singgah.
39
Yayat
Kerawang
Timur Tengah
Proses pemulihan pasca operasi kanker payudara dan tinggal di rumah singgah selama 16 hari
40
Siti
Tuban
Timur Tengah
Proses pemulihan pasca rawat inap di rumah sakit (kanker rahim) dan tinggal di rumah singgah selama 34 hari.
41
Rinawati
Sukabumi
Timur Tengah
Pasca operasi teroit, dan ada tumor di ketiak. Kemudian menjalani proses pemulihan dan tinggal di rumah singgah selama 16 hari
42
Minanti
Serang
Timur Tengah
Depresi dan dirawat di ruang jiwa selama 1 bulan, kemudian menjalani proses poemulihan dan tinggal di rumah singgah selama 12 hari
43
Siti Aminah
Lampung
Qatar
Korban penipuan dan proses mengurus kasusnya, tinggal di rumah singgah selama 4 hari.
46
Murti
Lampung
Malaysia
Proses pemulihan pasca rawat dari rumah sakit, kakinya patah akibat kecelakaan kerja dan tinggal di rumah singgah selama 12 hari
47
Nur
Blitar
Taiwan
Proses pemulihan pasca operasi mata akibat kecelakaan kerja dan tinggal di rumah singgah selama 12 hari
48
Tatik
Kerawang
Syiria
Proses pemulihan pasca rawat di rumah sakit, patah kaki dua-duanya akibat penganiayaan majikan dan tinggal di rumah singgah selama 26 hari.
49
Aisyah
Sumabwa
Jordan
Operasi kanker payudara, Proses pemulihan pasca operasi dan tinggal di rumah singgah selama 28 hari
50
Iis Maja
Sukabumi
Oman
Kecelakaan kerja, terbakar lengan kiri sampai leher. Selain itu juga korban trafficking karena pengiriman yang tidak sesuai dengan perjanjian kerja dan tinggal di rumah singgah dalam proses pemulihan pasca operasi selama 2 bulan.
52
Wanidah
Subang
Timur Tengah
Kecelakaan kerja yang mengakibatkan  seluruh tubuhnya terbakar. Dalam kondisi luka parah ia dipulangkan majikannya ke Indonesia dan tinggal di rumah singgah pasca operasi pemisahan kulit lengan selama 3 bulan.
53
Neneng
Cianjur Selatan
Timur Tengah
Korban pelecehan seksual. Dalam kondisi trauma ia menjalani proses pemulihan pasca rawat di ruang jiwa dan tinggal di rumah singgah selama 25 hari.
54
Rani
Ponorogo
Singapura
Korban penipuan yang akan diselundupkan ke Singapura lewat Batan dan berhasil dipulangkan di perbatasan. Ia lalu dikirimkan ke Jakarta dan singgah di rumah singgah untuk mengurus laporan kasusnya, selama 16 hari.
55
Sriwanti
Lumajang
Malaysia
Korban penipuan di Malaysia, yang kemudian dideportasi, mengalami trauma  dan dirawat di ruang jiwa. Ia tinggal di rumah singgah selama 21 hari selama proses pemulihan.
56
Hariyani
Jember
Timur Tengah
Dalam kondisi stroke dipulangkan oleh majikan, dirawat di rumah sakit selama 2 minggu dan saat sudah diperbolehkan pulang, ia tinggal selama 14 hari di rumah singgah untuk memulihkan keadaannya.
57
Mujiati
Tulungagung
Malaysia
Karena stroke ia dipulangkan oleh Dinsos Tanjung Pinang dan dirawat di RS Koja selama 2 minggu, lalu dipulangkan ke rumah singgah dan tinggal di sana selama 13 hari
58
Rohaya
Madura
Timur Tengah
Dipulangkan oleh majikan karena menderita tumor di paha lalu menjalani operasi di Rumah Sakit Polri. Pasca operasi ia menjalani proses pemulihan di rumah singgah selama 17 hari.
59
Titik
Semarang
Timur Tengah
Tingga di rumah singgah selama 10 hari untuk proses pemulihan pasca dirawat di ruang jiwa,
60
Fitri
Lombok
Taiwan
Tinggal di rumah singgah selama 17 hari untuk proses pemulihan pasca operasi tumor payudara,