Thursday, March 31, 2016

Melupakan Halaman Lama, Memulai Lembaran Baru


"Gak usah lah dengerin orang ngomong di depan itu. Mereka itu pura-pura saja jadi pendeta padahal mereka itu polisi dan akan menangkap kita." 

Celetukan itu datang dari salah seorang dari 20-an TKI yang baru saja dideportasi dari Malaysia karena tidak berdokumen, dan singgah di RPTC untuk menunggu jadwal kedatangan kapal laut yang akan membawa mereka pulang ke kampung halaman. Tidak hanya sekali itu saja ia menyeletuk. Hampir sepanjang acara dia mengeluarkan kata-kata yang penuh dengan kecurigaan dan ketakutan. Namun begitu, teman-temannya tidak ada yang menghiraukannya, bahkan kadang menasehatinya untuk diam. Ya, dia sepertinya mengalami depresi ringan akibat penderitaannya selama mencari nafkah di negeri orang, sehingga tingkahnya agak aneh dan berbicara melantur ke sana sini. 

Hari itu, Selasa 22 Maret 2016, Sahabat Insan kembali mengunjungi RPTC Bambu Apus, untuk bertemu dengan para mantan TKI asal Flores, Sumba dan Timor yang sedang singgah di sana. Kunjungan kali ini dimaksudkan untuk mengadakan Misa untuk mereka yang beragama Nasrani, sebelum pulang naik kapal laut. Karena hari itu sudah memasuki Pekan Suci, maka sebelum misa, para suster dan seorang frater OFM yang sudah terlebih dahulu hadir, memimpin Ibadat Jalan Salib. Ibadat ini cukup menyentuh karena ditunjang oleh gambar-gambar, renungan serta lagu-lagu yang indah, sehingga semua ikut terhanyut di dalamnya. 




Ibadat Jalan Salib kemudian dilanjutkan dengan Misa yang dipimpin oleh Romo Benny Juliawan, SJ. Dalam kotbahnya, Romo Benny membahas tentang Petrus dan Yudas Iskariot. Menurut beliau, kedua murid Yesus ini sama-sama memiliki dosa besar: Petrus menyangkal Yesus sampai 3 kali, sedangkan Yudas menyerahkan Yesus kepada para pembunuhnya. Apa perbedaan keduanya? Petrus, setelah melakukan dosa, kemudian bertobat dan memperbaiki diri hingga akhirnya menjadi rasul besar. Sedangkan Yudas, ia juga bertobat, karena ia juga merasa bersalah atas perbuatannya, namun ia tidak bisa menerima bahwa Yesus, sosok yang dijahatinya itu, akan mengampuni dosa-dosanya. Yang satu menyerahkan diri pada kasih Allah, yang satu merasa tidak pantas menerima kasih Allah. Dan kita tahu akhir cerita dari keduanya. 






Romo Benny melanjutkan, drama kisah sengsara ini juga terjadi dalam hidup kita masing-masing. Cinta, kesetiaan, pengkhianatan, pertobatan, dan pengampunan. Semua orang pernah melakukan kesalahan, tapi kita mau menjadi Petrus atau Yudas? Kebangkitan Paskah juga adalah ketika kita membuka diri pada Allah Yang Maha Rahim, sehingga kita membuka hidup yang baru. Jika diumpamakan kita adalah sebuah buku, kita membuka halaman yang baru dan bab yang baru. Halaman yang lama tetap ada di sana, namun tidak kita baca lagi karena Allah sudah melupakan. Allah mudah lupa pada dosa-dosa kita. Kita saja yang masih mengingat-ingatnya. Maka di masa yang kudus ini kita diundang untuk menjadi seperti Petrus. Semua orang punya masa lalu, bahkan para Santo Santa juga punya masa lalu, dan kita para pendosa ini mempunyai masa depan. Maka kita membiarkan diri kita untuk ditebus oleh Tuhan, dan memulai hidup yang baru. 

Para TKI, setelah mengalami deportasi ini, juga diharapkan untuk memiliki harapan dan rencana-rencana baru dalam hidupnya. Yang sudah berlalu tidak usah diingat-ingat lagi. Namun, misalkan ada yang ingin kembali mencari rejeki ke Malaysia, Romo Benny juga tidak bisa menghalangi, karena itu merupakan hak masing-masing pekerja, Namun, para TKI perlu belajar dari pengalaman agar kejadian ditangkap petugas karena tidak memiliki dokumen, tidak terulang lagi. Caranya, dengan berusaha mentaati peraturan. Yang paling benar adalah berangkat dengan dokumen resmi. Jika sudah berangkat dengan dokumen lengkap, namun majikan ingin menyimpannya, maka para pekerja harus berani mengatakan bahwa dokumen itu adalah hak milik pekerja. Jika ada pekerja lain, yang ingin membangun hidupnya kembali ke kampung halaman, maka kampung halaman yang akan didatangi itu, walaupun lokasinya tidak berubah, namun itu adalah tempat yang baru, tempat untuk merajut masa depan. Kita membuka diri kita seperti Petrus, yang berdosa namun menerima untuk ditebus oleh Allah. 

Pada pertemuan kali ini, terlihat cukup banyak balita yang hadir. Keadaan mereka pada umumnya tidak terlalu baik. Hampir semuanya mengalami sakit batuk, pilek, dan panas. Hal ini wajar karena selain stamina mereka terkuras selama perjalanan, mereka yang sejak kecil tinggal di Malaysia harus menyesuaikan diri dengan cuaca Jakarta, yang kebetulan akhir-akhir ini sedang tidak bersahabat. Hebatnya, walaupun mereka dalam kondisi tidak terlalu sehat, namun adik-adik cilik ini mengikuti misa dengan tenang sampai selesai. Yang bayi tertidur pulas tanpa rewel, yang agak besar duduk dengan manis di samping bapak atau ibunya. Kehidupan keras yang dijalani oleh orang tuanya ternyata tidak membuat mereka menjadi anak-anak yang 'nakal'. Bahkan ada dua anak kembar yang sangat sopan dan ramah, selalu tersenyum, dan mencium tangan setiap orang yang menemuinya.







Setelah misa, Romo Benny memberkati rosario yang telah dipersiapkan oleh para suster, dan membagikannya kepada para TKI. Para suster kemudian membagikan juga daun palma dan beberapa baju layak pakai, yang dapat mereka pergunakan sebagai baju ganti selama perjalanan di kapal laut yang memakan waktu kurang lebih 5 hari. Tak lupa juga semua saling berbincang-bincang sehingga semua kisah terlontar. Ada seorang ibu yang baru pertama kali berangkat ke Malaysia dan langsung tertangkap oleh petugas saat baru turun dari kapal. Ada seorang bapak yang sudah 12 tahun bekerja di perusahaan bahan bangunan dan baru saat ini tertangkap oleh petugas. Ada seorang ibu yang ingin kembali lagi ke Malaysia karena suaminya masih di sana. Santapan makanan ringan yang dipersiapkan oleh para suster melengkapi acara ramah tamah siang itu.





Masalah TKI tak berdokumen di Malaysia ini memang seperti tidak berujung pangkal. Sahabat Insan pernah menulis tentang hal tersebut di artikel ini Dilema Pekerja Migran Tak Berdokumen di Malaysia. Perlu kerja sama dan upaya serius dari semua pihak, baik pekerja maupun pemerintah, agar masalah pekerja tak berdokumen ini tidak terus berulang.   


Tuesday, March 29, 2016

Siaran Pers Migrant CARE: Launching Report Kebijakan Migrasi di Indonesia dari Perspektif Hak Asasi Manusia

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, Migrant Care mengadakan siaran Pers yang dibarengi dengan Launching Report Kebijakan Migrasi di Indonesia dari Perspektif Hak Asasi Manusia pada tanggal 7 Maret 2016. Acara tersebut dipaparkan oleh narasumber dari pemerintah, migrant care, dan perwakilan daerah di Indonesia.



Dari Kemlu diwakilkan oleh Bp. Lalu Muh Iqbal, Bp. Wahyu Susilo dan Ibu Anis Hidayah dari Migrant Care, Bp. Ragil Saputra dari kades Kandregan Kebumen, dan Bp. Saverrapall Corvando dari YKS Lembata.

Acara dibuka oleh Ibu Anis Hidayah yang mengatakan bahwa masih banyak kasus ketidaksetaraan gender yang terjadi pada PRT di luar negeri. Laporan yang dilaunching tersebut ingin memperlihatkan bahwa ada kesenjangan yang tajam antara subtansi yang terkandung dalam konvensi buruh migran dengan kebijakan migrasi tenaga kerja di Indonesia.

Menurut Iqbal, kajian ini dapat berfungsi sebagai gap analis untuk menemukan findings yang dipercaya dapat mengisi gap yang ada. Terdahulu diketahui bahwa UU no. 39 tahun 2004 merupakan Permen. Beliau mempertanyakan bagaimana mungkin Permen bisa berubah menjadi UU yang dahulunya hanya focus pada bisnis ekonomi penjualan TKI ke luar negeri. Langkah yang diambil pemerintah saat ini adalah status quo tidak memperpanjang MoU kepada negara tertuju. Dengan tujuan untuk mematangkan UU dan isi perjanjian bilateral yang memang memajukan kesejahteraan pekerja migran serta keluarga mereka.



Temuan dari kajian tersebut terkait perlindungan buruh migran dan anggota keluarganya. Migrant Care juga menyebutkan kelemahan dan mengajukan rekomendasi kepada Pemerintah supaya revisi yang ada memperjuangkan HAM dari buruh Migran.

Tuesday, March 1, 2016

A Temporary Respite


As usual it began with a phone call.  In the first week of February, a call came through from the staff at the halfway house run by the Ministry of Social Welfare in East Jakarta. A group of people needed some spiritual counsel. The people were Indonesian migrant workers who had been deported from Malaysia. The next day, a group of volunteers who call themselves Care for Migrants Network of the Jakarta Archdiocese visited the shelter and organised a common counseling session and a mass because most of the deportees were Catholic.
The situation of these migrant workers is not uncommon. According to official statistics, Indonesia sends about 450,000 migrant workers abroad every year, but this does not cover those who leave the country to work using channels unrecognised by the state. Some estimates put the total number at up to 700,000 people. The most popular destination is neighbouring Malaysia which houses 1.3 to 1.6 million Indonesian migrant workers at any given time. About half of them are without documents and some of them end up in halfway houses like the one in Jakarta after being deported by Malaysian authorities.
On that day 44 deportees, including four women and a month-old baby, were housed in the shelter. They were waiting for the ship that would bring them, in a four-day voyage, to their homes in several regions in Nusa Tenggara Timur province. They had arrived two days earlier from Tanjung Pinang in the Sumatran province which borders with the Malay Peninsula. Some of them had spent up to three months in the Pasir Gudang detention centre in Malaysia before being deported. While in detention, a handful of them had been punished by caning. The baby was born in the detention centre after the mother was arrested by the authorities. Its father remained in Malaysia because he had proper documents.
What the volunteers did was simple. They tried to create a welcoming environment by providing a space for the deportees to talk, sing, pray and sometimes make confessions. Many of them had undergone traumatic experiences and had had no opportunity to deal with them. A simple gesture of friendship was all that was needed to unlock the fear and worry that had crippled them and to restore their humanity.
These volunteers have been doing this for the past four years in collaboration with the staff at the shelter. In the beginning the staff invited them only when there were Christian deportees. After a while, they allowed the group to help organise cooking or hairdressing classes for everyone in the shelter, regardless of religion.
Sahabat Insan, a Jesuit initiative that helps returning migrants, joined this network of volunteers three years ago. Most of the volunteers are nuns who run similar services for migrants and victims of trafficking in Jakarta. The group has witnessed a lot of tragic stories of violence, desperation and hopelessness and often feel completely helpless themselves. In one particular case in April 2014, the group had to deal with 21 young girls from Nusa Tenggara Timur who had been trafficked and enslaved in a bird’s nest factory in Medan, North Sumatra, for two years. Two of their friends died in captivity, which triggered the alarm that led to their release. The girls had to spend two months in the halfway house because police were investigating the case and needing them as witnesses. The friendship and warmth offered by the volunteers helped bring smiles back to their faces at the end of the stay in Jakarta. Afterwards, two nuns accompanied them on their way to Kupang, the capital of their home province and met with their families.
This simple service is supported by the Jakarta Archdiocese and the Counter Women Trafficking Commission of the Indonesian Association of Female Religious Congregations. The network has developed other activities such as organising seminars and training sessions on anti-trafficking as well as lobbying policy makers to advocate for better protection for migrant workers. The group is best defined, however, by their hospitality in offering a temporary respite for the laboured and broken.

Please visit http://sjapc.net/content/temporary-respite



Monday, February 22, 2016

Run for MaGis Jakarta


Beberapa waktu yang lalu,  Komunitas MaGis Jakarta mengajukan permohonan bantuan dana kepada Sahabat Insan untuk kegiatan live-in nya. Direktur Sahabat Insan kemudian menyetujui dengan syarat mereka harus mengadakan Run for Charity yang diikuti oleh minimal 50 orang yang berlari minimal 5 Km dan dilakukan latihan sebelum acara tersebut dilaksanakan. Komunitas MaGis menyetujui syarat tersebut, dan mulai merancang kegiatan "Run for MaGis Jakarta". Corry Korita Neryceka, koordinator acara tersebut, kemudian melaporkannya sebagai berikut:

Persiapan Run for MaGis Jakarta.

Persiapan dimulai dengan survei rute untuk latihan pertama Run for MaGis Jakarta pada tanggal 8 November 2016 di Monas. Rute yang dilewati belum terlalu fix dan penggunaan aplikasi belum berjalan lancar. Latihan dilakukan pada tanggal 15 November 2016 di Monas melalui rute yang telah disurvei. Terdapat perubahan rencana untuk mencari area yang cukup teduh karena waktu lari dimulai sekitar pk 07.30. Peserta latihan sebanyak 14 orang, beberapa di antaranya sudah menginstall aplikasi run tracker “MapMyRun” dan mencobanya. Ternyata, aplikasi kurang akurat, sedangkan yang menggunakan aplikasi “Nike+ running”, aplikasi cukup akurat namun sempat terhenti sementara karena pengaturan “auto pause” belum dinonaktifkan. Dari kondisi ini, diputuskan ke depannya menggunakan aplikasi “Nike+ running” untuk menghindari kurang akuratnya aplikasi run tracker. Setelah lari, beberapa peserta mengadakan misa bersama di Kanisius bersama Rm. Ignatius Ismartono, SJ.




Survei kedua dilakukan pada tanggal 17 Januari 2016 dengan berjalan dan berlari. Cuaca sangat cerah sehingga pertimbangan rute untuk menghindari panas. Survei hanya dilakukan satu kali putaran karena kelelahan untuk berjalan dan berlari lagi. Dokumentasi lari dan rute menggunakan aplikasi “nike+ running” dengan pencatatan cukup akurat.

Pada tanggal 20 Januari 2016 dilakukan permohonan izin kepada Pengelola Kawasan Monumen Nasional untuk acara Run for MaGis Jakarta, tetapi tidak diperoleh izin. Hal ini menyebabkan diperlukannya perubahan rencana dan rute serta pengaturan lainnya.

Survei ketiga dilakukan pada tanggal 23 Januari 2016 dengan besepeda bertiga. Pinjaman sepeda diperoleh dari Fr. Danang, SJ di Kramat VI. Survei dilakukan sekitar pk 07.00 dalam kondisi gerimis. Pada survei ketiga dilakukan dua kali putaran untuk masing-masing rute clockwise dan unclockwise. Masing-masing rute tersebut tertrack dengan aplikasi run tracker yang telah diinstall dan posisi jarak dan tanda rute cukup akurat.


Briefing panitia dilakukan pada tanggal 23 Januari 2016 sore dan malam di sela latihan Koor dan persiapan EKM di Kolese Hermanum. Koordinasi dilakukan via whatsapp dan telepon. Beberapa kendala dan solusi yang terjadi, sbb:

  1. Survei penentuan rute tanpa sepeda memerlukan tenaga ekstra untuk mengulang kepastian rute. Maka, dilakukan survei ketiga dengan menggunakan sepeda. 
  2. Cuaca cerah dan hujan di Monas sehingga memerlukan pengaturan waktu dan rencana untuk penyelenggaraan. 
  3. Aplikasi run tracker kurang akurat dan terhenti sesaat, maka dilakukan penggantian aplikasi run tracker yang lebih akurat dan mengnonaktifkan pengaturan auto pause. 
  4. Tidak memperoleh izin dari Pengelola Kawasan Monumen Nasional karena dianggap pengumpulan massa. Hal ini diatasi dengan dilakukan survey ketiga untuk mendukung perubahan rencana pengaturan lari. 
  5. Briefing dilakukan dengan langsung dan tidak langsung (via whatsapp) karena mempertimbangkan kepadatan personal yang membantu beberapa kegiatan secara langsung. Hal ini juga menyebabkan persiapan hanya dilakukan oleh beberapa orang yang memungkinkan untuk membantu secara langsung dan keterlibatan panitia lain difokuskan saat hari H. 

Pelaksanaan Run for MaGis Jakarta 

Run for MaGis Jakarta dilaksanakan pada tanggal 24 Januari 2016 pk. 08.30 – 10.00 di Kolese Kanisius – Sarinah – jalur CFD – Kolese Kanisius. Adapun rencana awal Run for MaGis Jakarta dilaksanakan di area Monas pk 07.00 dengan pengaturan, sbb.:

  1. Peserta berkumpul di 2 tempat, yaitu: Monas (PIC : Corry) pk. 06.30 dan area Parkir Motor Kolese Kanisius (PIC: Diana, Thomas, dan Imelda) pk. 06.00. Peserta akan mulai jalan dari Kolese Kanisius menuju Area Start di Jl. Silang Merdeka Barat Daya pada pk. 06.30. Tim Sweeper akan dilakukan oleh Thomas pada pk. 07.00. Penitipan barang dilakukan di Kantor Sahabat Insan (PIC: Imelda) dan Ruang Tamu 2 (PIC: Gone bersama dengan konsumsi). 
  2. Peserta akan dibagi menjadi 6 kelompok (3 kloter) dengan melewati 2 rute yang berbeda (Clockwise dan Unclockwise) melalui Jl. Silang Merdeka Barat Daya, Jl. Lingkaran Tengah Monas, Merdeka Square, Jl. Silang Merdeka Barat Laut, Taman Jogging. 
  3. Peserta akan finish dan di bagikan konsumsi di area Merdeka Square. 

Akan tetapi, rencana tersebut dibatalkan karena kondisi hujan sejak pk 06.00 – 08.00 di Jakarta Pusat. Acara Run for MaGis Jakarta tetap dilaksanakan pada pk 08.30 dengan melalui rute CFD dari dan kembali ke Kolese Kanisius. Rute dipimpin oleh Thomas dan beberapa melakukan rute sendiri dengan ditrack oleh aplikasi run tracker. Selain itu, untuk para peserta yang belum lari pada saat yang bersamaan (di Jakarta maupun di luar kota / luar negeri) dapat mengumpulkan dokumentasi lari dengan aplikasi run tracker (nike+ running atau lainnya) paling lambat 31 Januari 2016.





Terhitung sejak tanggal 23 Januari 2016 hingga 31 Januari 2016, telah terkumpul dokumentasi Run for MaGis Jakarta sebanyak 62 pelari dengan total jarak 406.99 KM, dengan rincian sebagai berikut:: 48 pelari dengan jarak 5 – 9.99 KM, 3 pelari dengan jarak > 10 KM, dan 11 pelari dengan jarak ukur miles (konversi sekitar 5 – 9.86 KM).



Beberapa kendala dan solusi yang terjadi adalah:

  1. Tidak memperoleh izin oleh Pengelola Kawasan Monumen Nasional yang dianggap pengumpulan massa, maka dilakukan pengaturan dengan pembagian 6 kelompok dengan 3 kloter sehingga tidak terlalu menarik perhatian. Saran untuk ke depan, apabila ingin tidak terlalu menarik perhatian dan mempercepat mobilisasi saat terjadi hujan, maka konsumsi diberikan di lapangan parkir dengan menitipkan konsumsi di mobil peserta atau panitia yang berkenan membantu. 
  2. Kondisi hujan deras beberapa kali reda dan hujan lagi sehingga semua panitia di Monas kembali ke Kolekse Kanisius dan melihat situasi kondisi yang memungkinkan untuk tetap dilaksanakan dengan rute yang berbeda (ke area CFD). Selain itu, peserta yang belum ikut lari diizinkan untuk lari hingga tanggal 31 Januari 2016. 
  3. Peminjaman area parkir motor Kolese Kanisius hanya hingga pk 07.30. Dikarenakan hujan, maka diperpanjang dengan meminta izin kepada Kepala OSIS yang sedang mengadakan CC CUP 2016. 
  4. Pencarian lokasi penempatan konsumsi karena perubahan rencana hujan. Akhirnya, dibantu oleh Rm. Ismartono, SJ untuk menggunakan Ruang Tamu 2. 
  5. Adanya beberapa peserta yang tidak dapat menginstall aplikasi run tracker atau pun aplikasi tidak berjalan dengan baik sehingga dilakukan dengan dokumentasi dengan siapa peserta tersebut berlari dengan asumsi jalur lari sama dengan pelari yang menginstall dan aplikasi dapat berjalan baik. 
  6. Pengumpulan data dilakukan melalui whatsapp pribadi maupun group. Tidak sesuai rencana yaitu via email. Tetapi, cukup terkendali. Hanya beberapa orang yang tidak mengumpulkan dan data kuota min. 50 orang sudah terpenuhi. Namun, untuk ke depannya tugas koordinator kelompok dapat lebih ditegaskan kembali.


Berikut daftar lengkap para pelari yang berpartisipasi dalam Run for MaGis ini:


Jarak: 5.00 – 9.99 Km.
Jumlah pelari: 48 orang.
Total jarak tempuh: 288,54 Km.
No
Nama
Tanggal Lari
Jarak
1
Albertus
24 Januari 2016
5.10 Km
2
Anton Bilandor
24 Januari 2016
6.95 Km
3
Christin
23 Januari 2016
5.71 Km
4
Cindy Hanna Syauta
24 Januari 2016
5.18 Km
5
Fr. Danang
24 Januari 2016
5.27 Km
6
Yulius Denny (bersama KMK Kalbis
24 Januari 2016
7.25 Km
7
Vanessa (KMK Kalbis)
24 Januari 2016
7.25 Km
8
Budi (KMK Kalbis)
24 Januari 2016
7.25 Km
9
Vetrice (KMK Kalbis)
24 Januari 2016
7.25 Km
10
Shierly (KMK Kalbis)
24 Januari 2016
7.25 Km
11
Joseph (KMK Kalbis)
24 Januari 2016
7.25 Km
12
Anton (KMK Kalbis)
24 Januari 2016
7.25 Km
13
Hendra (KMK Kalbis)   
24 Januari 2016
7.25 Km
14
Vinsen Jeo (KMK Kalbis)
24 Januari 2016
7.25 Km
15
Randy Senapati (KMK Kalbis)
24 Januari 2016
7.25 Km
16
Djati
24 Januari 2016
5.81 Km
17
Dony Prasetyo
24 Januari 2016
6.45 Km
18
Felicia
30 Januari 2016
5.24 Km
19
Frans Iko
30 Januari 2016
5.04 Km
20
Heidy
24 Januari 2016
5.16 Km
21
Bernadetta Indah
31 Januari 2016
5.87 Km
22
James
27 Januari 2016
5.39 Km
23
Kris
24 Januari 2016
6.52 Km
24
Lusiana
28 Januari 2016
5.66 Km
25
Rosa Ajeng Marieta Hendargo
24 Januari 2016
7.40 Km
26
Marsiana
24 Januari 2016
6.10 Km
27
Martha Rani
24 Januari 2016
5.16 Km
28
Anggi Andaru Octavian
24 Januari 2016
5.45 Km
29
Carina Christianty
24 Januari 2016
5.00 Km
30
Otan
17 Januari 2016
5.21 Km
31
Bernadetha Rosmarini
24 Januari 2016
7.37 Km
32
Tanty
24 Januari 2016
5.75 Km
33
Thomas Irwan
25 Januari 2016
5.06 Km
34
Tita
24 Januari 2016
7.75 Km
35
Tota Asi Sihombing
25 Januari 2016
5.01 Km
36
Tri Krismantoro
24 Januari 2016
5.62 Km
37
Aldo
24 januari 2016
5.04 Km
38
Arman
31 Januari 2016
5.02 Km
39
Mila
29 Januari 2016
6.08 Km
40
Monica Juniarti
31 Januari 2016
5.62 Km
41
Diana
24 Januari 2016
6.19 Km
42
Fridia
24 Januari 2016
6.07 Km
43
Thomas Pascal
24 Januari 2016
5.34 Km
44
Irene Nindia L
26 Januari 2016
5.00 Km
45
Monica Wibowo
26 Januari 2016
5.65 Km
46
Fr. Adit, SJ (lari bersama Fr. Danang, SJ)
24 Januari 2016
5.27 Km
47
Fr. Thang Ha, SJ (lari bersama Fr. Danang, SJ)
24 Januari 2016
5.27 Km
48
Yuni Andarini
24 Januari 2016
5.26 Km

Jarak: 10.00 – 15.00 Km
Jumlah pelari: 3 orang
Total jarak tempuh: 31.79 Km.
1
Arifin Aji Pamungkas
30 Januari 2016
11.41 Km
2
Rizaldy Maulana
31 Januari 2016
10.10 Km
3
Dewo (di Leiden, Netherland)
24 Januari 2016
10.28 Km

Satuan Miles (1 Miles = 1.609 Km) 
Jumlah pelari: 11 orang
Total jarak tempuh: 86.66 Km.
1
FX Sigit
29 Jan 2016
5.04 Miles = 8.11 Km
2
Ursula Puri
24 Jan 2016
3.24 Miles = 5.21 Km
3
Agnes Scholastika Kurniadayani
24 Jan 2016
5.19 Miles = 8.35 Km
4
Louisa Pratiwi
24 Jan 2016
4.01 Miles = 6.45 Km
5
Bella (bersama 2 ponakan Faustine dan Aileen)
24 Jan 2016
6.13 Miles = 9.86 Km
6
Faustine
24 Jan 2016
6.13 Miles = 9.86 Km
7
Aileen
24 Jan 2016
6.13 Miles = 9.86 Km
8
Imelda
25 Jan 2016
4.78 Miles = 7.69 Km
9
Valentino Dhiyu
24 Jan 2016
3.26 Miles = 5.25 Km
10
Agung
24 Jan 2016
4.77 Miles = 7.67 Km
11
Yudha Satya Graha
24 Jan 2016
5.19 Miles = 8.35 Km