Wednesday, February 28, 2018

Undangan Peluncuran dan Bedah Buku "SETTLING DOWN"


Dengan hormat, 

Sahabat Insan mengundang Anda untuk menghadiri acara:

PELUNCURAN DAN BEDAH BUKU 
"SETTLING DOWN"
THE STRUGGLES OF MIGRANT WORKERS TO ADAPT

Narasumber:
Dr. BENNY HARI JULIAWAN, SJ
(Editor, Dosen Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Yogyakarta,
Secretary for Social Ministries - Jesuit Conference of Asia Pacific)
Profil Narasumber

HARI SENIN, 26 MARET 2018
PUKUL 17.30 - 21.00 WIB

Bertempat di:
SANGGAR PRATHIVI BUILDING
Jalan Pasar Baru Selatan no. 23 Jakarta Pusat

Peminat dapat mendaftarkan diri melalui WA/SMS ke nomor 0857-1052-6464
atau email: sahabatinsan@gmail.com


SEKILAS NARASI

Istilah "PEKERJA MIGRAN" identik dengan mobilitas, yang sering menyamarkan fakta bahwa banyak dari mereka benar-benar menghabiskan sebagian besar waktunya di satu tempat, baik di negara tujuan atau di kampung halamannya sendiri saat mereka kembali. Di negara tujuan, sejumlah besar pekerja migran terus menerus memperpanjang masa kerja mereka baik secara regular maupun tidak. Status mereka sebagai pekerja mungkin tidak jelas, tapi kehadiran mereka yang terus-menerus di negara tersebut membuat mereka praktis menjadi anggota populasi, walaupun mungkin hanya sementara, dengan segala konsekuensinya. Sebagian besar pekerja migran, bagaimanapun, pada akhirnya akan kembali ke kampung halamannya. Setelah pergi merantau sekian lama, pulang kembali ke kampung halaman tidaklah sesederhana pekerja yang pulang ke rumah dari kantor.  Hal ini sering memerlukan proses reintegrasi ekonomi, sosial dan budaya yang sulit. Buku ini menyatukan cerita dan analisis pekerja migran, yang berjuang untuk menetap, dari enam negara yang berbeda di Asia Pasifik. Ini adalah buku kedua hasil kerjasama Jesuit Conference of Asia Pacific - Migration Network.


Saturday, February 24, 2018

Peluncuran dan Bedah Buku "Settling Down"





Sahabat Insan mengundang Anda dalam acara:

Peluncuran dan Bedah Buku: 
SETTLING DOWN
THE STRUGGLES OF MIGRANT WORKERS TO ADAPT

Kisah perjuangan para buruh migran dari enam negara Asia PAsifik (Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Filipina, Indonesia dan Vietnam) untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, baik saat mulai bekerja di negeri orang maupun saat kembali ke kampung halamannya.

Narasumber:
Dr. BENNY HARI JULIAWAN, SJ
(editor, dosen Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, 
Secretary for Social Ministries - Jesuit Conference of Asia Pasific)

Hari Senin, 26 Maret 2018 |  Pukul 17.30 - 21.00 WIB

Bertempat di:
SANGGAR PRATHIVI BUILDING
Jalan Pasar Baru Selatan no. 23 Jakarta Pusat

Peminat dapat mendaftarkan diri melalui 
WA/SMS ke nomor 0857-1052-6464 atau email: sahabatinsan@gmail.com



Monday, January 29, 2018

Pelayanan Sr.Laurentina, SDP Selama di Kupang

Selama masa belajarnya, Sr Laurentina, SDP bekerja sebagai relawan Sahabat Insan. Setelah masa belajar selesai, pimpinannya mengirim suster ke Kupang, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Provinsi NTT merupakan provinsi pengirim tenaga kerja yang paling banyak di Indonesia dan bermasalah. Masalah yang mereka alami antara lain penganiayaan yang dilakukan oleh majikan, kecelakaan kerja, gaji yang tidak dibayar, kerja yang tidak sesuai dengan perjanjian/kontrak kerja, pemalsuan dokumen dan ketrampilan yang sangat minim. Dari semua permasalahan tersebut, permasalahan yang terbanyak adalah soal pemalsuan dokumen. Penyebab mereka bermigrasi terutama adalah masalah kemiskinan, kurangnya lapangan pekerjaan, ketidakadaan ketrampilan, kurangnya pendidikan dan pengetahuan serta terbatasnya sumber daya alam.

Di jaman sekarang, migrasi semakin dimudahkan oleh kemajuan sarana transportasi dan komunikasi sehingga jarak geografis berkesan semakin pendek dan mudah ditempuh. Alasan melakukan migrasi pun telah berkembang tidak lagi sekedar mencari penghidupan lebih baik melainkan juga demi mencari pengalaman dan sebagai petualangan.

Selain berkarya sebagai relawan yang bekerja sama dalam bidang kerasulan human trafficking ini, Sr. Laurentina juga melaksanakan tugas perutusannya dari Konggregasi. Tugas pelayanan di provinsi NTT antara lain adalah sosialisasi di paroki, sekolah dan desa. Diharapkan dengan kehadiran Sr. Laurentina di Kupang, para korban perdagangan manusia dan mantan-mantan buruh migran akan mendapatkan pelayanan yang lebih baik.

Di Kupang sendiri, pelayanan Sr. Laurentina dilakukan dengan sistem menjemput bola di tempat kantong-kantong pengiriman tenaga buruh migran. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar meminimalisir dan mencegah meningkatnya jumlah korban. Suster juga mendampingi dan menata kehidupan para buruh migran yang sudah pulang. Dengan demikian suster melaksanakan tindakan mencegah dan menyembuhkan (preventif dan kuratif). Persoalannya tidak sesederhana itu, karena para buruh migran yang sakit dan meninggal banyak terjadi di sini. Dengan program-program yang telah dipersiapkan ini semoga mereka dapat keluar dari keterpurukan karena masalah berat yang dihadapinya. Dalam melaksanakan program ini pun Sr. Laurentina bekerja sama dengan jaringan yang ada di Kupang dan sekitarnya. Program-program tersebut adalah:

1. Sosialisasi, baik di sekolah maupun masyarakat (gereja dan pemerintah), antara lain:

*Mengembangkan Pastoral Buruh Migran yang Terintegrasi ( Lintas Komisi : KKP -PMP, PSE, KARINA, Gender dan pemberdayaan Perempuan, ) Se-Nusra.




* Sosialisasi Human Trafficking JPIC Keuskupan Agung Kupang - kerja sama JPIC - Konggregasi Suster PI di  Kuasi Maria Imaculata Batuna Amarasi Barat Kupang.



* Sosialisasi untuk teman teman Penggiat Trafficking di Daratan Timor oleh Migrant Care bekerja sama dengan JPIC Keuskupan Agung Kupang, JPIC Konggregasi Suster PI dan SINODE GMIT.  





* Sosialisasi Human Traffiking di Paroki Oe Ekam. Kondisi ini cukup menyedihkan karena beberapa umat mengadu anggota keluarga merantau tanpa ada kabar berita bertahun- tahun.




* Lokakarya Melawan Perdagangan Orang bersama umat Paroki Maria Bunda Karmel Tumu - Ayotupas dan jemaat GMIT Amanatun Utara.




* Sosialisasi di Paroki Langga Bajawa.




* Pendampingan dan sosialisasi di Desa Ranggatalo, Kecamatan Lio Timur Ende yang merupakan. Desa Desmigratif, dampingan Koalisi NTT Peduli Trafficking.






2. Pelatihan Satuan Tugas Anti Trafficking;

* Training Pencegahan Perbudakan Modern, Kerja Paksa dan Perdagangan Orang di Naka Hotel, Kupang tgl 11-13 Des 2017 yang diadakan oleh Universitas Paramadina melalui Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) bekerja sama dengan Global Freedom Network, yang diikuti oleh aktivis, aparatur sipil negara, pemerhati masalah sosial NTT, perwakilan beberapa daerah NTT serta tokoh agama.



3. Kunjungan keluarga korban, kisahnya dapat dibaca di Pendampingan Untuk Pekerja Migran

4. Pemulangan korban hidup;

*Perjuangan menemukan domba yang hilang dan menyatukan ditengah keluarga dengan penuh air mata kebahagiaan, atas kerja sama dengan tim kemanusiaan Batam - Kupang.



5. Pemulangan jenazah; kisahnya dapat dibaca di Kisah Suster Penjemput Jenazah


6. Kunjungan ke shelter untuk menemani dan menguatkan mereka untuk berani memulai hidup baru.

Monday, October 16, 2017

Tujuh Bulan Berkarya di Perkumpulan Sahabat Insan

Catatan Marsiana Inggita D.A - relawan Sahabat Insan
Perasaan galau dan resah ketika mengetahui bahwa kantor tempat aku bekerja akan gulung tikar. Atasanku berkata bahwa beliau tidak dapat lagi meng-handle perusahaan jasa konsultan arsitek dan beliau tidak tahu lagi mau dibawa ke arah mana perusahaan tersebut. Dengan sangat terpaksa, aku pun harus mengajukan pengunduran diri lantaran perusahaan sudah tidak akan beroperasi lagi per 2 – 4 bulan lagi. Bingung dan sempat memikirkan nasibku kedepannya. Bahkan aku sempat berpikir bagaimana aku bisa menabung untuk masa depanku? Tapi aku berusaha untuk lepas bebas dan percaya bahwa akan ada yang lebih baik datang kepadaku tanpa harus khawatir. Percaya bahwa Tuhan pasti memelihara aku selama aku mencari pekerjaan lain dengan diimbangi perasaan bersyukur.
IMG20170929171533

Piagam penghargaan dari Sahabat Insan
Setelah mengajukan resign, aku bertemu salah satu temanku, yang sedang mencari pekerjaan juga. Dia menceritakan bahwa dirinya direkrut oleh salah seorang Romo kenalan kami berdua untuk menjadi relawati di Perkumpulan Sahabat Insan. Nama Romo kami adalah Romo Ignatius Ismartono, SJ. Romo Is begitu panggilannya, mengajak kami berdua untuk membantu beliau menjadi para relawati beliau di yayasan tempat beliau berkarya. Beliau mengetahui bahwa kami berdua adalah orang-orang yang berjuang mencari pekerjaan tetap lalu mengajak kami untuk aktif terlebih dahulu sebagai relawati di Sahabat Insan sehingga kami benar-benar mempunyai suatu kegiatan produktif sembari mencari pekerjaan. Istilahnya seperti “gak nganggur bangetlah” hehehee… . Romo juga mengatakan bahwa selama kami menjadi relawati, kami akan tetap mendapatkan uang kehadiran.

IMG20170929111208
Ruangan Sahabat Insan

Sejak saat itulah aku mengenal Perkumpulan Sahabat Insan. Aku sendiri bingung sebetulnya Sahabat Insan ini sendiri bergerak di bidang apa. Tetapi ketika Romo Is menjelaskan, ya aku menjadi sedikit tahu. Penanggung jawab dari Perkumpulan Sahabat Insan ini adalah Romo Is sendiri. Sahabat Insan merupakan sebuah komunitas para relawan dimana selanjutnya dikelola oleh Pelayanan Krisis dan Rekonsiliasi KWI untuk melanjutkan semangat memberi perhatian kepada mereka yang memerlukan pertolongan dalam mempertahankan hidupnya. Setelah PKR KWI ditutup oleh Presidium KWI pada tanggal 12 Agustus 2010 berdasarkan Surat Keputusan No 161/Pres/K/VIII/2010, Sahabat Insan tetap melanjutkan pekerjaannya secara mandiri sebagai komunitas relawan.
Banyak hal yang aku alami sebagai relawati di Sahabat Insan. Dari yang mulai membantu Romo dalam hal copywriter artikel, magang di Migrant Care hingga membantu Romo dalam hal pelaksanaan diskusi atau seminar. Oya, aku dan temanku pernah diutus Romo untuk magang di Migrant Care loh! Disana kami diajak berpartisipasi dalam hal penanganan masalah-masalah yang terjadi pada Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Seperti misalnya ada kasus mengenai perjanjian kerja antara agen A dengan negara Malaysia, nah kami diajak untuk mengikuti rapat di Kementrian Ketenagakerjaan agar kami tahu bagaimana cara kerja Migrant Care sendiri dalam menangani bentuk permasalah yang terjadi pada Tenaga Kerja Indonesia. Setelah itu kami diharuskan membuat jurnal perjalanan kerja kami di Migrant Care dan di posting ke web Sahabat Insan.

IMG20170929111226
Meja, tempatku berkarya selama di Sahabat Insan

Kami magang di Migrant Care hanya berjalan 3 bulan, selanjutnya kami mengabadikan diri untuk tetap membantu Romo di Sahabat Insan yang kantornya terletak di Sanggar Prathivi Building Lt. 2 Jl. Pasar Baru Selatan No. 23 Jakarta Pusat 10710. Kurang lebih sekitar 2 bulanan, temanku meninggalkanku karena beliau sudah diterima kerja di sebuah perusahaan. Mendadak aku galau lagi karena lama sekali aku belum juga dipanggil oleh perusahaan – perusahaan tempat aku melamar. Tapi dari kegalauan itu aku mempunyai keyakinan bahwa suatu saat aku akan mendapatkan kerja yang jauh lebih baik, penghasilan tetap dan percaya jika aku bersabar, Tuhan akan memberikan segala sesuatunya baik sesuai kehendakNya dan Tuhan masih memelihara aku walaupun penghasilanku tidak banyak.
Selain pernah magang di Migrant Care, aku pun pernah membantu Romo dalam menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan diskusi / bedah buku maupun seminar yang Romo dan rekan-rekan relawan sering adakan. Biasanya diadakan setiap sebulan sekali. Senang sekali bisa ikut berpartisipasi dalam menyiapkan acara tersebut apalagi aku bisa mengenal banyak orang yang sebelumnya aku tidak tahu.

IMG20170929170016
Bersama Romo Ignatius Ismartono SJ, Penanggung Jawab Perkumpulan Sahabat Insan

Pada akhirnya, pekerjaan baru pun kunjung datang. Aku diterima di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Property Management sebagai Administrative Assistant. Kurang  lebih tujuh bulan selama di Sahabat  Insan bagiku cukup berarti. Karena sebelum aku merasakan rutinitas, aku bisa merasakan pengalaman-pengalaman yang sungguh luar biasa yang pernah aku alami. Aku bersyukur Tuhan memelihara hidupku lewat pengalaman di Sahabat Insan dan rasa syukurku juga untuk dapat berkenalan dengan orang-orang hebat yang aku temui selama menjadi relawan di Sahabat Insan.
Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Romo Ignatius Ismartono SJ, Mbak Vincentia Hertanti Kistiorini, Pak Felix Aryunianto dan semua kerabat yang tak bisa kusebutkan satu persatu yang sudah banyak memberikan pelajaran dan pengalaman berharga selama aku berkarya di Sahabat Insan. Semoga kalian semua senantiasa diberikan kesehatan semangat dalam berkarya dan juga semoga Sahabat Insan dapat sukses kedepannya dan menjadi komunitas yang dapat menginspirasi banyak orang, khususnya kaum muda untuk lebih berani dalam melayani sesama sebagai relawan sejati.
Sampai bertemu di kesempatan selanjutnya ~ ðŸ˜€





Wednesday, October 11, 2017

Towards No End And Yet Still Beginning

The morning started differently. A tram and bus ride into town found me looking at newspapers lining a park bench, someone's bed for a drizzly night. An old person tried to speak Mandarin to me. Persons getting on the bus and saying, “I've no money,”or using whatever change they have, and being allowed onboard. A very tired, worn, homeless person looking for shelter, asking for a prayer. Another person looking longingly at a basketball game they would probably love to be playing. And it isn't even winter yet.

Going to a brief workshop organised by A Faith That Does Justice(http://www.faith-justice.org/)on the Spiritual Exercises of St Ignatius of Loyola,seemingly includeda God-sized welcoming party. Surprises surfaced, including getting lost, yetgetting to know other people of goodwill, of old souls and big love. Of speaking truth to power, and of speaking to be less lonely and build community - two unnecessarily different activities that morning.

If we look closely, we can see many people of goodwill. Yet we are not always good at being good to ourselves –how can we be good for others? By being as good as we can, and not as we cannot. Like the person who gave up salt, pepper and butter twenty years ago, and is working on giving up hard drinking (but loves milk a lot). Like the poor who may be bent by circumstances, but not their smiles. Unlike the rich who make money unjustly, burden the downtrodden unnecessarily, and refute with legal arguments that there was no crime. What unfolded then and later, with or without reflection or intervention, was still up to them.

It is human to think of survival. Being people of goodwillbecomes apparent when we reach out, and does not stop until we have stopped for good ourselves.Better still, remember that this journey is a journey of countless steps, but any start requires just one step, over and over again.

Take some time. Rest and reflect. A little reflection helps, because our intentions do not limit our horizons, an easy and frequent misunderstanding.  Try, for we can and should ask that of ourselves, and be generous with our failures and ourselves as others had been, and even then, always be ready to begin again.



Michael Phung, SJ