Showing posts with label eksposure belarasa. Show all posts
Showing posts with label eksposure belarasa. Show all posts

Wednesday, July 6, 2022

Aksi Damai 1000 Lilin Untuk Korban Kemanusiaan

Tanggal 2 Juli 2022 pukul 18.00 diselenggarakan  kegiatan Aksi Damai 1000 Lilin Bagi Korban Kemanusiaan yang dilaksanakan di depan Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur. Aksi ini digelar untuk menentang putusan bebas majikan Adelina Sau/Adelina Lisao sekaligus memperingati Hari Anti Penyiksaan Dunia. Adelina Sau/Adelina Lisao adalah seorang PMI asal Desa Abi, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan dan bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga di Malaysia. Ia disiksa dan diperlakukan seperti binatang oleh majikannya, Ambika MA Shan di Malaysia hingga kemudian meninggal dunia secara mengenaskan pada 11 Februari 2018. Proses persidangan terhadap majikan Adelina berlangsung tarik ulur di Malaysia hingga pada 23 Juni 2022 Mahkamah Tinggi Malaysia menjatuhkan putusan bebas pada majikannya. Berbeda dengan proses peradilan di Indonesia sindikatnya malah telah terpenjara. Dalam kegiatan hari ini Jeni Laamo, relawan Sahabat Insan, dipercayakan sebagai pemandu acara. Sebelum acara dimulai, dinyanyikan lagu-lagu perjuangan untuk menambah semangat ratusan peserta aksi yang hadir di sana.  

Sunday, January 30, 2022

WEBINAR STOP HUMAN TRAFFICKING

Tanggal 29 Januari 2022, Talithakum Indonesia mengadakan Webinar Stop Human Trafficking yang bertujuan untuk mengedukasi orang-orang muda tentang Perdagangan Manusia yang marak terjadi di Indonesia. Narasumber utama dari webinar ini adalah Mba Rumiyati dari KITA INSTITUTE Wonosobo. Beliau adalah salah satu narasumber dalam pelatihan jurnalistik Youth Task Force Anti TPPO yang diadakan di Jogjakarta pada Desember 2021 yang lalu.


Saturday, January 15, 2022

Dua Jenazah Di Bulan Pertama Tahun 2022

Tahun baru saja berganti. Hiruk pikuk pergantian tahun belum sirna, namun kegiatan di Bandara El-Tari Kupang, NTT tidak pernah berganti, khususnya di Terminal Kargo Bandara El-Tari Kupang.

Hari Selasa tanggal 11 Januari 2022, Jeni Laamo dan Suster Sari, SDP menjemput dua jenazah PMI non-prosedural yang dipulangkan dari Malaysia. Mereka berdua mendampingi keluarga-keluarga jenazah dan menguatkan mereka yang akan menerima kedatangan saudaranya dalam keadaan tak bernyawa.  

Monday, December 20, 2021

KUNJUNGAN MITRA KE JRS (JESUIT REFUGEE SERVICE) YOGYAKARTA

 Laporan relawati Sahabat Insan, Jeni Laamo, dari Yogyakarta

Sebagai seorang relawati dari Sahabat Insan aku diharuskan untuk mengenal mitra kerja dari Sahabat Insan itu sendiri. Itulah mengapa aku akan tinggal cukup lama di Jawa. Selain untuk mengenal mitra kerja, aku juga diajak melihat Yogyakarta dan Jakarta. Pagi hari ini aku berkunjung ke Jesuit Refugee Service atau biasa disebut dengan JRS. Aku datang bersama dengan Kakak Saras dan bertemu dengan Romo Peter Devantara, SJ atau yang akrab disapa Romo Devan. Dari Romo Devan kami mendapatkan banyak informasi penting tentang JRS, mulai dari sejarah, visi misi hingga pelayanan yang dilakukan hingga sekarang.

Friday, December 17, 2021

Berkenalan Dengan ECPAT Indonesia

Hari Jumat, 10 Desember 2021, relawan Sahabat Insan yang diwakili oleh Jeni Laamo dan Saras berkunjung ke Kantor ECPAT Indonesia yang terletak di daerah Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Di sana, para relawan bertemu dengan Ketua ECPAT Indonesia yaitu Mas Andy. Kantor ECPAT tidak tampak seperti kantor pada umumnya, namun lebih mirip seperti sebuah rumah tinggal yang dimodifikasi menjadi kantor. Di dalam ruangan kerja tampak ada beberapa peralatan yang dipergunakan untuk siaran podcast. Mas Andy adalah narasumber yang menjelaskan secara detail tentang ECPAT Indonesia.

Wednesday, December 15, 2021

PELATIHAN JURNALISTIK YOUTH TASK FORCE ANTI HUMAN TRAFFICKING

“Siapkah kalian mengubah dunia melalui media sosial?” Ingin mengontrol atau dikontrol?

Pertanyaan ini dilontarkan oleh salah satu narasumber kepada anak-anak muda yang hadir dalam pelatihan jurnalistik yang diadakan pada hari Kamis dan Jumat, 2-3 Desember 2021. Jeni, salah satu relawan Jaringan Anti-TPPO Kupang yang merupakan mitra Sahabat Insan, mengikuti Pelatihan Jurnalistik Youth Task Force Anti Human Trafficking di Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Kita Institut. Kegiatan untuk mengenalkan kejahatan perdagangan manusia kepada generasi muda ini diselenggarakan di Hotel PORTA, Yogyakarta. 


Youth Taskforce Anti-TPPO atau dalam Bahasa Indonesia Satgas Pemuda Anti Perdagangan Manusia adalah sekelompok Anak Muda Indonesia yang dibentuk dan dibina oleh Lembaga KITA dan Zero Trafficking Network (ZTN) untuk ikut serta dalam upaya pecegahan tindak pidana perdagangan orang. 

Wednesday, November 17, 2021

SOSIALISASI BAHAYA TPPO DI DESA PUKDALE, KUPANG TIMUR, NTT

Pada Hari Jumat, 12 November 2021, Suster Laurentina, SDP memberikan sosialisasi di Desa Pukdale tentang Migrasi dan Perdagangan Manusia. Menurut wikipedia, Pukdale adalah desa di kecamatan Kupang Timur, NTT. Desa ini terbagi menjadi 4 dusun yaitu Pukdale, Pukdale BAwah, Tatebudale dan Felakdale. Daerah ini merupakan desa pertanian sebagai salah satu penghasil beras dan beberapa komoditas pertanian lainnya.

Sosialisasi kali ini selain diikuti oleh masyarakat Desa Pukdale, juga mahasiswa Universitas Cendana Kupang yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata di sini. Kegiatan ini dilangsungkan di Kantor Desa Pukdale. Persiapan sosialisasi hari ini dilakukan dengan matang sejak dua hari sebelumnya karena selain memberikan sosialisasi itu sendiri, juga akan direkam oleh Tim Kompas TV untuk kebutuhan pemberitaan yang rencananya tayang pada tanggal 23 November 2021.

Sunday, November 14, 2021

Mengenang Para Pejuang Kemanusiaan Di Hari Pahlawan 2021

Untuk memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November, Tim Relawan Kemanusiaan menyelenggarakan misa untuk memperingati para pahlawan kemanusiaan yaitu Suster Eustochia, SSpS, Pendeta Steven Suleeman, dan secara khusus bagi Adelina Sau dan semua korban perdagangan manusia.

Secara khusus, ada kesaksian dari Suster Idelponsa, SSpS tentang pelayanan kemanusiaan yang dijalankan oleh Suster Eustochia, SSpS. Penuh keharuan, Suster Idelponsa SSpS tidak bisa menahan airmatanya saat menceritakan perjuangan Suster Eustochia, SSpS dalam membantu korban kemanusiaan dan dengan hati tulus mengulurkan tangan tanpa pandang bulu.

Friday, May 7, 2021

KASIH UNTUK MASYARAKAT TERDAMPAK BADAI SEROJA

Pada 4 April 2021 lalu, tepatnya saat umat Kristiani merayakan Paskah, Nusa Tenggara Timur di guncang oleh Badai Siklon Tropis Seroja. Hampir seluruh daratan Nusa Tenggara Timur di hantam angin kencang dan hujan deras yang menyebabkan banjir bandang dan longsor. Ratusan rumah warga hancur karena bencana alam ini, sumber mata pencaharian mereka seperti kebun, sawah dan ternak pun rusak. Semua masyarakat Nusa Tenggara Timur merasakan dampaknya. Oleh karena itu, para suster Penyelenggara Ilahi menyalurkan kasih dari para donatur yang dengan hati tulus ikhlas memberikan sumbangan kepada masyarakat yang menderita.

Kondisi di Naibonat

 

Bantuan berupa sembako dan pakaian layak pakai diturunkan pertama kali di Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. Aroma bangkai langsung tercium saat memasuki daerah tersebut, hal ini karena banyak ternak warga yang mati terbawa bandang dan mati. Ada yang terbawa sampai ke laut ada pula yang tersangkut di pepohonan dan sawah masyarakat. Tahun ini masyarakat Naibonat gagal panen padi. Tanaman padi rusak terendam banjir dan batu. Rumah-rumah hilang, yang tersisa hanya fondasi bahkan ada yang tinggal lantainya saja. Tiang listrik tumbang, kabel-kabel listrik melilit di pohon-pohon yang tumbang, sungguh menyakitkan melihat keadaan Naibonat yang rusak berat akibat bencana alam. Om Darius yang sudah lebih dulu mengecek lokasi bencana, beliau juga yang menyarankan untuk memberikan bantuan terlebih dulu kepada masyarakat Naibonat karena belum ada yang membawa sumbangan.

Penduduk yang rumahnya roboh di Naibonat

Bantuan untuk masyarakat Naibonat

Monday, April 12, 2021

KISAH TUJUH PURNA PEKERJA MIGRAN INDONESIA

Kamis sore, tanggal 25 Maret 2021, Suster Laurentina, SDP mengikuti pertemuan di Mindari (Rumah Produksi Ibu Yustin Sadji) yang ada di Naibonat. Pertemuan ini menghadirkan ibu-ibu purna pekerja migran yang dulunya pernah merantau dan bekerja di luar negeri. Tujuan dari mengumpulkan purna  PMI ini adalah untuk menjadikan mereka dampingan Komunitas Sepe Kita-Pohon Kita (sebuah komunitas pemberdayaan masyarakat yang dibentuk oleh CMF sebagai perpanjangan tangan untuk tanggap situasi). Saat Suster Laurentina, SDP tiba di sana, pertemuan sudah dimulai. Ibu Yustin mempersilakan kami untuk memperkenalkan diri dan dilanjutkan dengan perkenalan dari peserta yang hadir dalam pertemuan.

Ibu Yustin meminta agar ibu-ibu yang hadir ini menceritakan pengalaman-pengalaman yang mereka alami dan rasakan selama menjadi PMI di luar negeri. Cerita-cerita ini ada yang baik dan ada pula yang buruk. Ada yang diperlakukan dengan baik oleh majikannya namun ada pula yang mendapatkan siksaan. Berikut adalah kisah-kisah yang dibagikan. 

Friday, April 9, 2021

Penjemputan Jenazah PMI Sepanjang Bulan Maret 2021

Sepanjang bulan Maret 2021 ini, tercatat ada empat belas jenazah Pekerja Migran Indonesia yang dipulangkan lewat Terminal Kargo Bandara El-Tari Kupang. Berbagai kisah pun mengiringi perjalanan mereka untuk pulang kembali ke Ibu Pertiwi dalam keadaan tanpa nyawa. 

Jenazah pertama, Selasa 2 Maret 2021: jatuh dari pohon kelapa.

Di awal Maret, tepatnya tanggal 2 Maret 2021, tim Kargo telah menerima jenazah seorang pria berusia 51 tahun, seorang PMI non-prosedural yang bekerja di Brunei Darussalam. 

Jenazah dipulangkan pada tanggal 26 Februari 2021 dari Brunei Darussalam menuju Malaysia, kemudian pada tanggal 28 Februari 2021 dari Malaysia ke Jakarta, dan tanggal 2 Maret ini dari Jakarta ke Kupang. Selanjutnya, jenazah akan dibawa menggunakan kapal laut dan dilanjutkan dengan mobil jenazah menuju rumah duka di Kabupaten Lembata.  

 
Pekerja migran ini sudah tujuh tahun bekerja di Brunei sebagai tukang kebun. Istri dan anak-anaknya juga tinggal bersama dengannya di sana, namun mereka tidak bisa menghantar jenazah ke Indonesia karena bermasalah dengan dokumen.  Pria ini meninggal dunia pada 23 Februari 2021, pukul 05.30 waktu setempat dengan sebab kematian terjatuh dari pohon kelapa dan mengalami cedera serius di kepalanya. Hasil penyelidikan dari pihak kepolisian tidak ditemukan adanya luka atau penyebab lain yang mengarah pada tindak pembunuhan, penganiayaan, kekerasan maupun rekayasa yang menyebabkan kematian.  Setelah terjatuh, ia sempat dirawat selama sepuluh hari di rumah sakit namun pada akhirnya meninggal dunia. Untuk biaya pemulangan jenazah ini sepenuhnya ditanggung oleh asuransi.

Pada tanggal 4 Maret 2021, tim kargo Bandara El-Tari Kupang Tiga jenazah PMI yang disambut di kargo bandara El Tari Kupang adalah sebagai berikut. Yang pertama atas nama Yoris Satianus Minggu, Hermanus Nus, Lasarus Lasa. Ketiga jenazah tersebut bekerja secara nonprocedural di Malaysia, dan dikirim pulang ke Indonesia dari Kuala Lumpur pada 04 Maret 2021, pada hari ini dikirim dari Jakarta ke Kupang.

Thursday, April 8, 2021

Bantuan Untuk Korban Bencana Banjir NTT

Kepada Bapak/Ibu/Saudara/i donatur Sahabat Insan, 

Jika ingin membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana di Nusa Tenggara Timur, silakan memberikan donasinya melalui saluran berikut:  



POS NASIONAL 

JARINGAN CARITAS

BANJIR BANDANG - NTT


Donasi melalui 

REKENING MANDIRI nomor rekening 103-000-7798-917

Atas nama YAYASAN KARINA


REKENING BCA nomor rekening 2883-080-599

Atas nama YAYASAN KARINA


Konfirmasi donasi dapat dilakukan melalui WA atau telepon: 0811-999-6782 atau 0813-1177-8344



Tuesday, March 30, 2021

WEBINAR HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL: PERKEMBANGAN RUU PENGHAPUSAN KEKERASAN SEKSUAL

Daya juang perempuan seanteru Negara mendesak segera disahkannya RUU PKS patut diapresiasi dan menjadi modal sosial untuk menghentikan berbagai kasus kekerasan Seksual yg sudah sangat tinggi dari tahun ke tahun. Tidak terkecuali desakan dari Provinsi NTT. Dalam rangka merayakan Hari Perempuan International, PIAR, Rumah Perempuan, Akademisi dan jaringan perempuan lainnya menyelenggarakan webinar yang membahas sampai dimana perkembangan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dari kacamata akademisi, aktivis perempuan dan  legislatif. Narasumber yang menjadi pembicara adalah Ibu Libby Sinlaloe (Lembaga Layanan NTT), Deddy CH Manafe (Dosen Universitas Cendana), Emanuel Melkiades Laka Lena (Anggota DPR RI Fraksi Golkar), Valentina Sagala (Founder Institut Perempuan).

Berikut hasil pertemuan online yang diadakan pada pagi hari ini. 

Tuesday, February 23, 2021

DOA DAN REFLEKSI BERSAMA - PERINGATAN SANTA BAKHITA DI KUPANG

Peringatan Santa Bakhita, pelindung korban perdagangan manusia di tahun 2021 ini dilakukan di Taman Ziarah Oebelo dengan melaksanakan acara Doa dan Refleksi Bersama dengan tema: Apakah Migrasi Budaya NTT? Acara ini dilakukan dengan sangat sederhana dan hanya mengundang jaringan-jaringan terdekat. Ada Mama Pendeta Pao Ina Bara Pa yang hadir bersama suami, Relawan JPIT, Mama Maria Hingi dari SBMI, Relawan Rumah Harapan, Frater dan Diakon CMF, serta perwakilan dari JRUK.


Acara diawali dengan doa pembukaan oleh Suster Anna SDP, dilanjutkan dengan pengantar oleh moderator, yaitu Pak Herman Seran. Ini adalah suatu momen refleksi untuk melihat kembali aktivitas sebagai aktivis sehingga roh-nya tidak hilang. Refleksi adalah hal yang baik bagi kita semua untuk melihat kembali apa yang dilakukan ini didasari oleh spiritualitas kita. Kita juga perlu memperkaya diri, oleh karena itu Tim Pelayanan Kargo menyelenggarakan doa dan refleksi bersama ini sekaligus untuk memperingati Santa Bakhita. Selanjutnya Pak Herman mempersilakan Pater Gregorius Neonbasu sebagai pembicara untuk membagikan materi dan pengalamannya tentang makna migrasi adalah budaya NTT.

Friday, January 15, 2021

PENJEMPUTAN JENAZAH PERTAMA DI TAHUN 2021

Laporan Jeny Laamo dari Kupang


Kemeriahan tahun baru masih terasa. Kembang api masih terdengar, aromanya belum hilang. Meskipun demikian kami harus menerima kenyataan bahwa di tahun baru ini, jenazah PMI asal NTT disambut di Kargo Bandara El Tari Kupang. Kabar duka ini hadir selalu mampu memporak-porandakan sukacita.

Jenazah PMI yang tiba pada sore hari ini adalah seorang pria berusia 32 tahun yang meninggal dunia pada 24 Desember 2020, pukul 14.26 waktu Malaysia dengan sebab kematian Septic Shock Secondary To Community Acquired Pneumonia To Rule Out Pulmonary Tuberculosis With Severe Respiratory Acidosis (Syok Septik Sekunder Pneumonia dengan TBC).

Aku datang ke kargo bersama Suster Laurentina, SDP, Kakak Decky Faah dari Rumah Harapan juga hadir, petugas BP2MI Kupang serta keluarga turut menyambut kedatangan jenazah.

Tuesday, December 22, 2020

Rekoleksi Akhir Tahun Tim Pelayanan Kargo Bandara El-Tari Kupang

Laporan Jeny Laamo dari Kupang


Hari Sabtu, 19 Desember 2020, Tim Pelayanan Kargo mengadakan rekoleksi akhir tahun bertempat di Aula Frateran Bunda Hati Kudus, Oesapa.  Gagasan ini muncul dari Suster Laurentina, SDP sebagai suatu bentuk ungkapan hati selama beberapa tahun bekerja di bidang kemanusiaan namun belum memiliki waktu yang tepat untuk berkumpul bersama Tim Relawan Pelayanan Kargo. Ide ini pun muncul secara tiba-tiba, lalu melakukan pembicaraan dengan jaringan yang melayani di Kargo Bandara El Tari Kupang dan disambut dengan baik.

Untuk kegiatan rekoleksi ini banyak hal yang dipersiapkan seperti tempat rekoleksi diselenggarakan, lalu acara yang akan dibuat, peserta kegiatan rekoleksi sampai persiapan kado Natal untuk peserta rekoleksi. Pada akhirnya, setelah melewati semua proses itu akhirnya rekoleksi relawan Tim Pelayanan Kargo bisa terjadi dan hari ini adalah hari pertama. Rekoleksi ini akan berlangsung selama dua hari satu malam di Fratreran Bunda Hati Kudus. Peserta rekoleksi ini terdiri dari perwakilan JRUK (Pak Herman Seran dan Ibu Natalia Bisik), Rumah Harapan (Kakak Decky, Mama Pendeta Ina, Mama Pendeta Emmy, Michelle dan Yenny), IRGSC (Kakak Ardy), lalu dari JPIC (suster Laurentina SDP, suster Anna SDP, suster Matilda SDP, suster Elisa SDP), dan dari JPIT (Juandini, Lya Kailo, Sri Dakamoli). 

Friday, December 18, 2020

PERTEMUAN IRGSC: Model dan SOP Untuk Pemulangan dan Reintegrasi Sosial Korban TPPO

 Laporan Jeny Laamo dari Kupang


Hari Kamis, 10 DESEMBER 2020, aku mengikuti pertemuan di IRGSC (Institute of Resource Governane and Social Change). Pertemuan ini sudah diselenggarakan selama tiga hari. Suster Laurentina SDP mengikuti pada hari pertama dan kedua sedangkan aku mengikuti hari ketiga dan bertugas sebagai operator, membantu suster saat melakukan presentasi. Dalam rapat ini hadir berbagai pihak, baik LSM maupun instasi pemerintah seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, PIAR NTT, dan pihak gereja. Pertemuan yang dilakukan selama tiga hari ini memperbincangkan tentang Model dan Prosedur Standar Operasional untuk Pemulangan dan dan Reintegrasi Sosial Pemulangan Korban TPPO. Untuk hari ini, yang membawakan materi adalah Mama Pendeta Pao Ina Bara Pa-Ngefak dari JPIT, Suster Laurentina SDP, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

Mama Pendeta Ina membawakan materi tentang JPIT dalam penangangan masalah perdagangan manusia. Sejak 2014, JPIT bersama dengan jaringan mulai fokus pada isu perdagangan orang. Dimulai dari kasus penyekapan 26 perempuan asal NTT di Sarang Burung Walet Kota Medan yang menyebabkan meninggalnya dua orang dan luka fisik bagi beberapa korban lain, sejak itu isu perdagangan manusia mulai diperhatikan oleh berbagai pihak di NTT. Dalam beberapa penelitian bersama dengan jaringan, JPIT menemukan bahwa modus paling utama dalam kasus perdagangan manusia adalah migrasi kerja. Migrasi kerja sendiri tidak selamanya berarti perdagangan manusia, tetapi proses pengiriman tenaga kerja keluar daerah dan keluar negeri sangat rentan terhadap perdagangan manusia. Itulah mengapa korban terbesar perdagangan orang di NTT adalah para tenaga kerja migran. Faktor pendorong orang pergi bekerja adalah budaya mencari kerja dan budaya merantau orang NTT yang entah sudah dimulai dari kapan, kemiskinan (orang miskin menjadi rentan dan tidak berdaya) dan pemiskinan (korupsi yang dilakukan menyebabkan masyarakat menderita karena tidak ada akses terhadap jalan, air bersih, yang akhirnya mendorong orang untuk keluar dan bekerja), pendidikan yang rendah sehingga muda ditipu dan dimanfaatkan oleh pelaku, lapangan kerja terbatas, ada diskriminasi/persoalan gender, kebutuhan akan uang tunai, KDRT (anak dari keluarga broken home), budaya patriarki (tanggungjawab seorang kepala keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan juga keberadaan perempuan yang tidak memiliki akses atas tanah dan sebagainya dalam lingkaran keluarga). Sedangkan faktor penariknya yaitu gaya hidup/orientasi sosial (banyak cerita sukses yang jadi daya tarik, mereka yang pulang dengan memakai emas menjadikan itu sebagai bukti bahwa mereka sudah sukses di tanah rantau), penipuan yang dilakukan oleh calo dengan berbagai cara seperti oko mama (masuk melalui budaya oko mama terhadap orangtua), doa (pendekatan melalui oknum tim doa), pacaran (bujuk rayu melalui media sosial), janji palsu (calon PMI diming-imingi oleh pelaku bahwa disana mereka hanya mengerjakan pekerjaan rumah dengan upah yang tinggi), penculikan anak.

Friday, November 27, 2020

MOBIL JENAZAH JPIC DIVINA PROVIDENTIA

Semua berawal dari rasa kemanusiaan, berawal dari pengalaman-pengalaman menyakitkan, berawal dari penolakan yang diterima dan berawal dari setiap kisah pilu keluarga yang hadir menyambut kedatangan jenazah PMI di Kargo Bandara El Tari Kupang. Seperti yang diketahui bersama bahwa Nusa Tenggara Timur terkenal dengan sebutan Provinsi Peti Mati. Hampir setiap minggu NTT menerima jenazah PMI, baik prosedural maupun non-prosedural yang dikirim pulang dari negara penempatan, seperti Malaysia, Singapura, dan Afrika.

Jenazah Putra dan Putri NTT itu diterima di kargo dan dibawa ke kampung halamannya atau disemayamkan di RSUD W.Z. Johanes Kupang dengan menggunakan mobil ambulans. Namun, tidak setiap saat mobil jenazah tersedia. Jika jenazah yang dipulangkan lebih dari satu, maka harus menyewa mobil jenazah. Itu masih baik karena pemerintah membiayainya namun itu hanya berlaku bagi jenazah PMI, tapi tidak setiap saat pemerintah memiliki dana karena dana akan menipis di penghujung tahun. Selain itu pula banyak keluarga dari jenazah AKAD yang harus menanggung biaya yang tidak sedikit untuk bisa membawa jenazah ke rumah duka dari kargo.

Sebuah harapan muncul, seandainya kami memiliki satu mobil jenazah maka kami bisa meringankan beban keluarga itu. Suster Laurentina, SDP yang tergugah hatinya dan menyadari akan hal ini memulai untuk mencari dana dan dengan bantuan kitabisa.com semuanya boleh terjadi. 

Monday, November 9, 2020

Sosialisasi Di Gereja St. Columba Putain, Timor Tengan Selatan

Laporan Jeny Laamo dari Kupang


Pagi hari ini, Minggu 1 November 2020 di Paroki Putain, aku dan Suster Laurentina, SDP bersama Kakak Decky dan Romo Patris, Pr menikmati sarapan sambil berbincang-bincang. Kami lalu bersiap-siap untuk mengikuti misa pagi di gereja St. Columba. Umat Allah yang ada di Paroki Putain sudah memenuhi gereja dan siap untuk merayakan ekaristi. Perayaan ekaristi berjalan dengan khusyuk, dan di akhir misa, Romo Patris, Pr mengijinkan kami untuk memperkenalkan diri kepada umat Allah dan menyampaikan maksud tujuan kedatangan kami. Syukur kepada Allah karena umat Allah menerima kami dan menyambut kami dengan hangat. Usai misa, kami bersiap untuk memberikan sosialisasi. Kakak Decky bersama beberapa OMK menyiapkan layar dan sound system sementara itu aku bersama Suster Laurentina SDP bermain bersama anak-anak SEKAMI. Kami bernyanyi dan bermain dengan riang, aku mengajarkan kepada mereka beberapa buah lagu dengan gerakannya. Mereka sangat aktif dan senang dengan lagu serta gerakan yang baru mereka pelajari.


Monday, October 5, 2020

Rentetan Cerita Duka Di Bulan September 2020

Pada pertengahan sampai akhir bulan September 2020, kabar duka seolah tak pernah berhenti menyapa tanah NTT. Jenazah demi jenazah tetap berdatangan di Terminal Kargo Bandara El-Tari. Tercatat sebanyak delapan jenazah diterima dengan cerita yang berbeda-beda. Dua dari delapan jenazah tersebut  merupakan jenazah pekerja yang mencari nafkah di dalam negeri, yang lebih dikenal dengan AKAD (antar kota antar daerah).

Berbagai kisah mengiringi kepergian para pekerja migran ini. Seperti seorang pria yang tiba pada tanggal 14 September 2020 ini. Ia bekerja secara non-prosedural di kapal penangkapan ikan di pelabuhan kecil Sibu, Sarawak Malaysia. Mirisnya, pria berusia 30 tahun ini diduga meninggal karena dibunuh. Penyebab kematian reminya tertulis Ligature Strangulation (suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban akibat suatu jeratan dan menjadi erat karena kekuatan lain bukan karena berat badan korban). Jenazahnya ditemukan oleh pekerja kapal beberapa hari setelah kematiannya dalam kondisi rusak dan wajahnya sulit dikenali karena sudah berhari-hari dalam air. Hal ini menyebabkan pemulangannya memakan waktu cukup lama, kurang lebih setahun, karena adanya pengecekan DNA dan juga adanya pandemi. Jenazah kemudian dimasukkan ke dalam mobil jenazah JPIC. Ini menjadi pertama kalinya mobil jenazah JPIC mengangkut jenazah migran. Hari ini dia menunaikan tugas pertamanya untuk mengantarkan korban menuju Kabupaten Timor Tengah Selatan.