Friday, June 17, 2011

Orang Terbuang yang Ditampung di Rumah Singgah Sampai bulan Juni 2011

Berikut data orang terbuang yang dirawat dan ditampung di Rumah Singgah sampai bulan Juni 2011:

1. Siti asal Sambas Kalimantan Barat
Kondisi kedua kaki lumpuh. Siti bekerja di Malaysia dan dipulangkan dengan kapal laut. Ia sempat menjalani perawatan di RSP Persahabatan selama dua minggu, kemudian berada di rumah singgah selama dua bulan karena belum siap untuk dipulangkan kedaerah dalam kondisi lumpuh. Saat ini Siti dititipkan di Panti Sosial Ceger milik Dinas Sosial  untuk ikut kursus menjahit khusus untuk anak- anak cacat.

2 Nurlela asal Perumahan Mojoagung Mojokerto Jawa Timur
Nurlela merupakan korban perdagangan orang. Ia di jual ke Libya dan dalam kondisi stress berat. Karena perang ia dipulangkan dan sempat dirawat di RSJ Grogol selama dua bulan. Nurlela tinggal dirumah singgah selama dua bulan

3. Hamdan asal Lombok  Tengah  
Hamdan adalah korban penganiayaan dari Malaysia. Ia sempat mendapatkan perlakuan tidak manusiawi ketika dalam penjara kerap di sodomi oleh petugas penjara. Dalam kondisi stress berat ia dipulangkan lewat pelabuhan tanjung priok dan sempat dirawat di RSJ Grogol selama dua minggu. Tinggal di rumah singgah selama satu bulan

4 Emiliana Contesa asal Sikak Flores, NTT   
Korban perdagangan orang, ia dijual ke Malaysia dan dijadikan pekerja seks komersial dan dideportasi dalam kondisi stress berat sempat dirawat di RSJ Grogol selama satu bulan. Setelah itu, ia tinggal di rumah singgah selama satu bulan.

5 Etet Supriatna asal Subang Jawa Barat   
Merupakan korban deportasi Malaysia yang mengalami penyiksaan ketika bekerja di ladang sawit dan menjalani perawatan di RS Koja selama dua minggu karena kedua kakinya mengecil. Etet tinggal di rumah singgah selama dua minggu

6 Masinah asal Sampang Madura   
Korban deportasi dari Jeddah yang sempat dirawat di RSP Persahabatan selama dua minggu karena menderita gagal ginjal dan paru-paru basah. Ia bekerja di Jeddah selama dua tahun dan tidak pernah mendapat gaji, bahkan dibuang majikannya di kolong jembatan Kandahar. Setelah keluar dari RS, ia tinggal di rumah singgah selama dua minggu

7. Sultana asal Lombok Barat   
Bekerja di Malaysia selama 18 bulan dan tidak digaji. Ia dideportasi dalam kondisi sakit parah kepala bagian belakang bekas pukulan benda tumpul, tangan kanan patah dan lupa ingatan (amnesia). Ia dirawat di RSJ Grogol selama empat bulan, dan tinggal di rumah singgah selama satu bulan.

8 Sukaisih asal Karawang
Deportasi dari jeddah kedua matanya buta, karena syaraf matanya putus akibat sering dipukul majikan, tidak mendapatkan gaji selama bekerja 12 bulan, bahkan oeh majikan dibuang dikolong jembatan, sempat menjalani perawatan di RSUD Koja selama dua minggu dan tinggal dirumah singgah selama dua minggu.

9 Mursidi asal Lombok Timur
Korban tabrak lari di Malaysia yang menyebabkan ada syaraf kejepit di punggung. Kemudian ia menjalani operasi di RS Polri Kramat Jati, sempat dirawat selama dua bulan di rumah sakit, dan tinggal di rumah singgah selama dua minggu

10 Eni asal Pontianak
Korban penganiayaan dari Malaysia, sempat menjalani perawatan di RSP Persahabatan. Selain itu ia juga korban perdagangan manusia karena dijual untuk dijadikan PSK di Malaysia, tinggal dirumah singgah selama dua minggu

11 Mita asal Bima NTB  
Korban perdagangan manusia, ia dijual ke Singapura untuk dijadika PSK, dan ia lari lalu ditangkap polisis dan dideportasi sempat dirawat di RSJ Grogol selama dua minggu karena depresi, tinggal dirumah singgah selama tiga minggu.


Wednesday, May 11, 2011

Kegiatan di Rumah Singgah bulan April 2011

Di bawah ini beberapa photo kegiatan di rumah singgah Peduli Buruh Migran bulan April 2011. Sebagian besar adalah para TKI yang baru pulang dari perawatan di rumah sakit dan menjalani masa pemulihan, sebelum akhirnya dipulangkan di daerah masing-masing.






Tuesday, May 10, 2011

Bakti Sosial bersama Dewan Kesehatan Rakyat

Pada Minggu, 10 April 2011 lalu, Sahabat Insan telah mendukung terlaksananya Bakti Sosial bagi warga di sekitar Taman Budaya, Utan Panjang, Kemayoran yang dikoordinir oleh Dewan Kesehatan Rakyat. Acara ini juga diliput oleh Tempo yang dapat dilihat di http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/04/10/brk,20110410-326424,id.html








Thursday, May 5, 2011

Pemutaran Perdana film "Si Anak Kampoeng"

Pada hari Selasa, 19 April 2011, Sahabat Insan menghadiri pemutaran perdana film “si Anak Kampoeng” yang memaparkan bibiografi Syafi’i Maarif kecil. Pemutaran perdana film ini disaksikan di studio 1 dan 2 XXI Epicentrum, Kuningan. Kerabat Syafi’I Maarif dan LSM diundang dalam pemutaran perdana ini seperti Johan Effendy, Musdah Mulia,  Romo Ignatius Ismartono, SJ serta para undangan lainnya. Selain itu, tampak beberapa diantaranya ikut memberi sambutan sebelum pemutaran film berlangsung, yaitu Bapak Hajriyanto Thohari dan Taufik Abdullah. Harapannya film ini dapat menginspirasi kita dan anak-anak Indonesia dalam menggapai impian dan hidup dalam kemajemukan budaya.

Mengisahkan tentang kehidupan seorang anak yang bermimpi pergi merantau dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Pi’i itulah panggilan kecil dari Syafi’i Maarif yang lahir di Sampur Kudus, Sumatera Barat dari seorang Kepala Nagari (setingkat desa). Ibunda dari Pi’i telah meninggal saat ia masih sangat kecil. Dengan tetap teguh, sang ayah mengharapkan agar Pi’i kelak dapat menjadi seperti dirinya dan membangun Sampur Kudus. Ia dididik oleh seorang guru untuk bela diri kemudian bersekolah di Sekolah Rakyat Sampur Kudus. Di sekolah ini, Pi’i menikmati masa belajarnya yang cemerlang dan bergaul dengan teman-temannya. Kenakalan kecil dapat dipetiknya menjadi suatu pelajaran sikap yang baik. Baginya perbedaan dalam suku dan keyakinan di Indonesia merupakan suatu hal yang positif. Dalam perkembangan zaman mendekati perjuangan Kemerdekaan Indonesia dan usia yang masih muda, ia dapat berpidato dan menginspirasi teman dan orang-orang Sampur Kudus mengenai Ke-Bhinneka Tunggal Ika-an dan hidup saling menghormati. Inilah salah satu yang menjadi nilai plus dari Pi’i.

Keinginannya untuk menimba ilmu semakin besar, sedangkan sang ayah menginginkan agar ia tetap berada di Sampur Kudus. Ia pun berjuang dan akhirnya memperoleh dukungan ayahnya untuk pergi merantau menimba ilmu. Kegagalan dalam ujian masuk sekolah pun ia alami, namun dengan gigih ia berjuang kembali pada kesempatan kedua untuk mencapai impiannya, sampai akhirnya dia berhasil masuk SMA di desanya, bahkan pada akhirnya nanti, ia mampu melanjutkan studi di Amerika. 

Monday, May 2, 2011

Ucapan Syukur atas Beatifkasi Paus Yohanes Paulus II di KWI

Sebagai ucapan syukur atas beatifikasi Paus Yohanes Paulus II di Vatikan, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengadakan Misa Syukur serta Seminar yang diadakan pada hari Minggu, tanggal 1 Mei 2011 bertempat di lantai 4 kantor KWI, Jl Cut Mutiah Jakarta.

Sahabat Insan yang diundang dalam acara tersebut, diwakili oleh dua orang relawannya: Tanti dan Nino. Acara tersebut dihadiri juga oleh para Romo, Suster, karyawan KWI serta undangan lainnya.

Acara dimulai dengan Misa Konselebrasi dengan Selebran utama Rm Eddy Purwanto didampingi oleh Rm Eddy Kristiyanto, OFM, Rm Adi Susanto, SJ, Rm Agus Surianto, Rm Dani Sanusi , Rm Agust Alfons Duka, Rm Romanus Hardjito dan Rm Guido Suprapto, serta koor dari Suster-suster JMJ dan Frater CICM. Dalam kotbahnya, Rm Eddy Purwanto menegaskan bahwa Paus Yohanes Paulus II adalah sosok yang selalu mengusahakan perdamaian dunia tanpa henti. Tokoh seperti ini yang sekarang dibutuhkan oleh Indonesia, yang mampu melintasi batas agama, suku, bangsa dan bahasa. Bagi Paus, semua manusia sejatinya hanya satu, yaitu ciptaan Allah.

Setelah diselingi dengan makanan ringan, acara dilanjutkan dengan seminar dengan moderator Ibu Murni, seorang psikolog dari Atma Jaya. Pembicara pertama, Prof. Dr. A. Eddy Kristiyanto, OFM mengangkat tema 'Non Abbiate Paura!' - semboyan yang selalu didengung-dengungkan oleh Paus Yohanes Paulus II semasa hidupnya. "Jangan takut, bukalah pintu hatimu bagi Kristus selebar-lebarnya", membuat Paus ini begitu unik, bukan hanya humanis, namun juga berpegang erat pada ajaran Kristus. Selain itu, Paus Yohanes Paulus II juga merupakan paus yang dikenal paling Marianis karena kecintaan dan kedekatannya pada Bunda Maria.

Pembicara kedua adalah Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif, MA yang membawakan tema: Enam Tahun Ditinggal Seorang Paus Humanis. Dalam materinya, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini  mengulas kesannya yang mendalam selama mengenal Paus semasa hidupnya. Humanis, pemaaf, teguh pada doktrin gereja, the Great Lover, bukan hanya pemimpin agama, tetapi juga pemikir dan penulis prolifik, adalah sebagian kesan yang pantas diberikan kepada Paus Yohanes II. Dalam konteks dengan kondisi Indonesia saat ini, pemimpin seperti inilah yang diperlukan. Sifatnya yang hangat dan membumi perlu dicontoh oleh siapa saja yang menginginkan Indonesia yang lebih baik.

Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah dan makan siang bersama.