Sunday, June 30, 2019

Ditimpa Alat Berat, Jenazah PMI Kembali ke Tanah Air

#Kisah-Kisah dari Program Eksposure Belarasa 2018 (25)
 
Hari ini, Kamis (30/8/2018) aku segera berangkat ke Kargo Bandara El Tari Kupang untuk menyambut kedatangan dua jenazah atas nama RMK (39) asal Kampung Woromboa RT 004 RW 002 Sanggarhorho, Nangapanda, Kab Ende dan DN (49) asal Larantuka. 

Keluarga jenazah DN segera datang memenuhi kargo bandara. Mereka datang sekitar 20 orang karena mengaku masih memiliki hubungan darah denganya. Sementara tak satupun yang menyambut jenazah RMK. 

Jenazah DN dan RMK tiba di Kargo Bandara El Tari Kupang, NTT
Suster Paulina dari kongregasi Salib Merah segera memimpin doa sebelum kedua jenazah dihantar menginap satu malam di RSUD W.Z. Yohanes Kupang. Semua anggota keluarga tertunduk menahan sedih di tengah terik matahari yang menyengat. Suhu udara Kupang di musim kemarau memang sangat kering hingga ke tenggorokan. Apalagi dalam suasana duka yang dialami keluarga terasa ke tenggorokan, menjalar ke rongga dada, memanas di dalam hati. Doa selesai dipanjatkan, pintu ambulans tertutup rapat dan mobil melaju menuju tempat persemayaman sementara. 

Pada pukul 18.00 WITA, aku segera berangkat ke RSUD W.Z. Yohanes Kupang untuk mendoakan jenazah seorang diri. Sesampainya disana, pukul 18.35 WITA belum ada teman-teman jaringan yang kutemui. Lampu garasi kamar jenazah yang tidak dinyalakan menambah kengerian di sekelilingku. Belum lagi ada tangisan duka yang kudengar dari kamar jenazah yang bersebelahan dengan ruang garasi tempat jenazah PMI transit menunggu pemberangkatan selanjutnya. 

Pukul 19.10 WITA hatiku cukup lega saat melihat mama pendeta Ina datang bersama sang suami. Tak lama setelah itu, pihak keluarga jenazah DN segera datang memenuhi garasi jenazah. Doa dipimpin langsung oleh mama pendeta Ina berdasarkan tata acara agama Kristen Protestan. 

Ruang Garasi Jenazah PMI sebagai tempat persemayaman sementara sebelum diberangkatan ke daerah asal

Usai berdoa, aku tak segera pulang melainkan menunggu suster Paulina yang telah memberikan kabar bahwa sedang dalam perjalanan dari Naibonat menuju ke RSUD W.Z. Yohanes Kupang. 

Sembari menunggu kedatangan suster, aku ngobrol dengan keluarga berduka diterangi oleh pencahayaan lilin duka. Ternyata pihak keluarga RMK, FE baru tiba dari Malaysia sore tadi di Kupang untuk menghantar jenazah secara langsung hingga ke kampung halaman.

Jenazah RMK dikabarkan meninggal karena kecelakaan kerja. FE mengaku bahwa RMK di timpa alat berat saat kerja sebagai kuli bangunan yang jatuh dari lantai 5. Akibat kecelakaan itu, kakinya patah,  badannya penuh dengan lebam dan ia harus kehilangan nyawanya untuk selamanya. Menurut FE, RMK sudah bekerja di Malaysia selama 20 tahun dan sudah kawin (tanpa menikah)  dengan seorang janda (Cina Jakarta) di Malaysia selama kurang lebih 11 tahun. Namun meskipun sudah hidup bersama, mereka belum dikaruniai anak. 

"Isterinya sangat terpukul dengan kejadian ini. Ia sangat sayang pada RMK, " ujarnya. 

Sementara itu, jenazah atas nama DN meninggal karena Hypertension related desease pada Selasa (28/8) pukul 04.30 pagi. Menurut GK (pihak keluarga), jenazah sudah lama mengalami sakit darah tinggi dan kencing manis. 

"DN ini sudah lama sakit. Mungkin karena letih bekerja di ladang sawit dan makan kurang teratur, maka kesehatannya semakin terganggu dan penyakitnya semakin menjadi," tutur GK.

Menurut keterangan GK, semasa hidupnya DN sudah bekerja selama kurang lebih 17 tahun di Malaysia dan meninggalkan anak serta isterinya di kampung halaman. Meskipun demikian,  pria yang memiliki 3 anak ini beberapa kali menyempatkan untuk pulang ke kampung halaman di Solor untuk bertemu dengan keluarga. 

"Ia sesekali pulang ke kampung. Kemaren ia pulang beberapa bulan untuk bangun rumah di kampung. Selesai bangun rumah, ia kembali ke Malaysia, "ujarnya lagi. 

Setidaknya kisah DN menunjukkan ia adalah satu dari seribu kisah duka PMI yang berhasil membangun rumah di kampung halaman, namun pulang dalam bentuk jenazah. 

Ketika Suster Paulina tiba di RSUD Yohanes pukul 19.55 WITA, aku segera pamit meminta izin untuk kembali ke biara. Ia mengizinkan dan menginformasikan bahwa Romo Adnan Pr yang baru ditahbiskan 3 bulan lalu akan datang memberikan misa pada keluarga malam ini. 

Sesampai di biara, aku berharap semoga semua yang telah kami lakukan dalam mengurus PMI hidup dan meninggal berkenan dihati-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta arwah jenazah DN dan RMK di terima oleh sang Khalik.

Pada Jumat (31/8/2018) aku kembali mengantar dua jenazah RMK dan DN di kargo. Namun setibanya disana, tak ada satupun kaum religius dan jaringan koalisi anti human trafficking NTT yang ada di kargo. Hanya ada keluarga dari kedua belah pihak yang duduk menunggu kereta jenazah di ruang jenazah. 

Aku melangkah sendirian, tanpa Suster Laurentina PI, menuju ruang jenazah. Niatku untuk mendoakan mereka (jenazah PMI) semakin bulat saat kusadari bahwa hanya aku yang datang mewakili teman-teman jaringan yang lainnya.

Jenazah DN dan RMK di berangkatkan ke daerah asal melalui Keberangkatan Kargo
Biasanya selalu ada pastor, suster, pendeta atau teman-teman jaringan koalisi yang selalu siap melepas keberangkatan jenazah. Mungkin kali ini memang harus aku sendirian. Meskipun demikian, aku bersyukur Tuhan memampukanku berkata-kata dengan kuasa roh kudus mendoakan mereka (para jenazah) di depan keluarga yang berduka mewakili kaum religius kargo dan juga para jaringan koalisi peduli migran NTT. Suaraku sedikit menggelegar saat kuserukan kedua nama PMI.

“Mari kita serahkan kedua saudara kita ini melalui doa yang diajarkan Yesus Kristus kepada kita yakni 1 kali Bapa Kami dan 3 kali Salam Maria,” ujarku.

“Terimakasih karena sudah memampukanku Tuhan,” gumamku saat kuakhiri doa dengan tanda salib.

Saat peti jenazah akan diangkat menuju ke mesin X-Ray,  ada sedikit permasalah di kargo terkait peti jenazah atas nama RMK yang menurut maskapai terlalu besar dan berat. Menurut perwakilan BP3TKI, Pak Stef, pihak maskapai tidak mau rugi ketika meloloskan kondisi peti jenazah yang banyak memakan tempat.

Cukup lama kami menunggu kepastian lolos dari pihak maskapai untuk mengangkut jenazah meskipun pada akhirnya jenazah bisa diangkut dan masuk ke dalam mesin X-Ray. Sepertinya sudah ada pembicaraan khusus antara pak Stef dengan pihak kargo yang tak kuketahui. 

Syukurlah semua bisa berjalan dengan baik. Hal yang terpenting adalah jenazah bisa dimuat di kargo dan kembali ke kampung halaman untuk di kuburkan oleh keluarga secara layak. 

Ketika peti jenazah sudah lolos masuk ke dalam kargo melalui mesin X-Ray, aku segera berpamitan dengan keluarga. Mereka menyalamiku dan berterimakasih padaku. Aku membalas dengan senyuman dan mengucapkan turut berbelasungkawa kepada mereka sembari berbisik dalam hati "Tuhan semoga tak ada lagi duka di tanah ini, Tanah Cendana."


 ***

Saturday, June 29, 2019

Agen Jenazah di Kupang


#Kisah-Kisah dari Program Eksposure Belarasa 2018 (24)

Hari ini, Minggu (26/8/2018) aku dan Suster Laurentina PI mengantar jenazah atas nama LN (54) asal Cibal Manggarai yang meninggal di Malaysia secara tiba-tiba karena sakit yang mendadak. Jenazah LN sudah tiba pada Jumat (24/8/2019) lalu di Kargo Bandara El Tari Kupang dan menginap di RSUD W.Z. Yohanes Kupang selama2 malam dan diberangkatkan pada hari ini melalui keberangkatan kargo. 

Namun saat sampai di kargo, ternyata yang kami temui bukan hanya peti dari LN, melainkan ada dua peti lagi yang berjejer disampingnya. Total semua jenazah ada 3 dalam kurun waktu yang sama termasuk jenazah LN.

Aku terkejut melihat ketiga deret peti tersebut. Ternyata dari 3 peti jenazah, ada satu yang bukan PMI dan meninggal karena sakit keras. Rencananya jenazah juga akan dikirim ke Maumere. Sementara satu jenazah lainnya merupakan PMI atas nama TN (43) yang meninggal karena infeksi pernapasan di Malaysia. Sehingga total jenazah yang telah kutangani terhitung April hingga Agustus 2018, sudah ada 31 jenazah PMI yang dipulangkan. 

Berdasarkan pengakuan sepupunya, Risna, jenazah atas nama TN sudah bekerja di Malaysia selama kurang lebih 17 tahun di sebuah kilang di Kuala Lumpur. Ia diketahui meninggal saat pagi hari di dalam kamarnya tanpa memiliki riwayat penyakit apapun. Dari pengakuan sepupunya, terdapat bekas biru dan memar di leher kirinya. Namun ketika polisi memeriksa keadaan jenazah, polisi mengaku tak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan yang dialami PMI. 

Dalam penjemputan jenazah kali ini, pihak keluarga tidak melaporkan pemulangan jenazah kepada BP3TKI, melainkan menyerahkan sepenuhnya kepada agen mayat yang ada di Malaysia dan juga Kupang. 

Jenazah TN dan LN di Kargo Bandara El Tari Kupang
Menurut Risna, pihak PT sudah menyetor uang sebanyak Rp.30.000.000 untuk biaya pemulangan jenazah dari Malaysia menuju Kupang. Sementara untuk pemulangan jenazah dari Kupang ke daerah asal, Maumere, wajib ditanggung oleh keluarga sejumlah Rp.11.000.000. Uang itu akhirnya terkumpul juga meskipun merupakan hasil pinjaman dari beberapa anggota keluarga yang ada di kampung halaman, di Desa Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, NTT. 

Uang dengan nominal tersebut segera diberikan kepada agen mayat yang ada di Kupang melalui transfer bank atas nama Willem. Ternyata realita di lapangan tak seindah yang dibayangkan. Bukan malah mengurus jenazah dengan baik, pada saat jenazah tiba di Kupang, pada Jumat (24/8) siang, si calo yang berprofesi sebagai Dosen Hukum Universitas Cendana Kupang malah menghindar dengan berbagai alasan. 

Risna memperjuangkan pengurusan pemulangan jenazah melalui nomor handphone si calo yang diberikan dari agen mayat di Malaysia. 

Dengan berusaha tegar tanpa tangisan air mata, ia menelpon berapa kali si calo atas nama Wellem untuk segera datang ke kargo siang itu juga. Semua keluarga tampak bingung dan stres. Mereka sama sekali tak menyangka disaat detik-detik keberangkatan jenazah, justru jenazah belum terdaftar di kargo dan juga airlines apapun. Apalagi jenazah juga belum diperiksa oleh pihak karantina yang ada di bandara. 

Tak hanya itu, kemarahan keluarga semakin meningkat ketika mengingat kejadian yang sama yang dialami saudara sepupunya pada bulan Juli 2018 lalu. Jenazah atas nama AM yang masih ada hubungan saudara dengan TN juga dipulangkan dalam bentuk jenazah dan bermasalah di tangan calo yang sama, Willem. Pada saat itu, keluarga melaporkan kepada pihak polisi sehingga Willem mau tidak mau wajib mengurus pemulangan korban dan hal itu kembali terulang.  

Keluarga mengaku menyesal tak melapor pada BP3TKI. Tak beberapa lama kemudian, Willem datang dan membela diri dengan santai tanpa rasa bersalah sedikitpun. 

Ia segera menghadap pihak kargo dan hendak mengurus kepulangan jenazah. Tentu sangat sulit untuk mengirim jenazah dalam keadaan mendadak di hari yang sama, apalagi persyaratan pemulangan jenazah sama sekali belum di urus. 

Willem akhirnya memberikan pilihan lain yakni memulangkan jenazah menggunakan kapal laut. Tentu saja pihak keluarga tidak setuju karena mereka sudah membayar Rp.11.000.000 untuk tiket pesawat, bukan untuk tiket kapal.

Aku miris melihat realita yang ada. Kupandangi wajah si calo yang terlihat santai dengan kesepuluh jarinya mengenakan cincin batu akik dan penampilan rambut gondrongnya yang dikucir layaknya seorang Joko Tingkir (pahlawan dalam legenda). Tubuh kurus keringnya menambah kesan sangar sebagai seorang calo. 

Keluarga kembali berkomentar dan beradu mulut dengannya. Keluarga juga berani meminta kembali uang Rp.11.000.000 yang sudah diberikan. Tak mau melepas mangsa begitu saja, akhirnya komentar keluarga didengarkan. Willem mengusahakan untuk mengirim jenazah dengan pesawat ke Maumere tepat pukul 11.15 WITA. Sementara Rina yang mengawal kepulangan jenazah mulai dari Malaysia hingga ke kampung halaman akan berangkat pada pukul 13.00 WITA (itupun jika ada penumpang yang batal berangkat). 

"Tak apa, yang penting jenazah sudah aman dulu. Kalau saya menyusulpun tak masalah," ujarnya saat jenazah sudah berhasil masuk ke dalam X-Ray Kargo. 

Ya Tuhan, semakin nyata dan terbuka ternyata permainan calo saat ini. Mereka (sindikat) bahkan tak memiliki urat malu lagi saat semua orang tahu tentang profesinya sebagai calo jenazah PMI. Selama ini yang kutahu permainan calo terselubung dan tak berani muncul kepermukaan, namun kali ini aku dapat dengan jelas melihat pelakunya di depan mataku sendiri. 

Si calo (baju hitam) dengan rambut terkuncir dan cincin akik di keseluruhan jarinya saat berdebat dengan keluarga TN
Beberapa kali mata si calo Willem beradu pandang denganku ketika aku mengamati dari kejauhan. Sedikit was-was memang, tapi aku yakin Tuhan akan selalu menyertaiku kemanapun aku melangkah.

Semoga arwah TN dan LN yang sudah kami tangani dapat beristirahat dengan tenang dalam cahaya abadi bersama Bapa disurga dan keluarga tabah serta segera bangkit dari kedukaan. Amin
***

Sosialisasi Bahaya Trafficking di Oenopu, Timur Tengah Utara, NTT

Tak henti-hentinya usaha untuk memberantas perdagangan manusia terus dilakukan. Salah satu usaha pencegahan yang dilakukan adalah melakukan sosialisasi bahaya perdagangan manusia ke berbagai tempat, terutama di pelosok-pelosok desa yang cenderung tidak banyak mendapatkan informasi. Seperti kali ini, hari Minggu tanggal 2 Juni 2019, Sr Laurentina dan tim melakukan sosialisasi di Oenopu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. 

Karena hari Minggu, maka sosialisasi diawali dengan Misa Minggu yang dipimpin oleh  Pater Sil, CMF. Pada saat pengumuman, bapak Sekretaris Paroki menginformasikan di atas mimbar bahwa setelah Misa akan ada sosialisasi, sehingga umat diharapkan tidak langsung pulang. Namun cukup disayangkan bahwa banyak anak muda yang tetap pulang terlebih dahulu, hanya beberapa saja yang bertahan. Untunglah umat lainnya setia tetap tinggal di tempat duduk untuk mengikuti acara ini. 




Suster Laurentina mengawali acara dengan memperkenalkan diri secara singkat, baik mengenai beliau secara pribadi maupun tentang kerasulan anti human trafficking yang menjadi karya suster. Suster juga menjelaskan tentang visi tarekat yang berkaitan dengan pemberantasan perdagangan manusia. Tidak ketinggalan, suster juga menceritakan perjalanan hidupnya selama di Tanah Timor ini. Usai perkenalan, suster mengutarakan harapannya semoga di daerah tersebut tidak ada yang menjadi PMI illegal. Namun ternyata ada salah satu umat yang menyahut bahwa di tempat itu ada. Sebelum Suster masuk kepada materi ia bertanya apakah sebelumnya sudah ada yang memberikan sosialisasi tentang perdagangan orang, mungkin dari dinas sosial atau pun dinas terkait lainnya. Dan menurut mereka ini adalah kali pertama mereka mendapatkan sosialisasi semacam ini.



Slide demi slide yang tertera di layar putih disampaikan oleh suster Laurentina PI, hingga sampai ke slide yang memperlihatkan gambar situasi di penampungan. Peserta yang hadir memberikan respon, berucap dengan bahasa daerah yang artinya entah apa, mereka kaget dan decakan keluar dari bibir mereka. Slide yang mendapat respon lagi dari mereka adalah saat gambar yang menampakkan pekerja di ladang sawit, seolah baru mengetahui apa yang dikerjakan di ladang sawit.



Selain berbagi kisahnya bertemu dengan korban-korban perdagangan orang, Suster juga bercerita tentang jenazah-jenazah yang diterima di kargo bandara El Tari Kupang. Hal yang tidak pernah dilupakan oleh suster adalah menanyakan kepada peserta yang hadir, apakah ada keluarga dari mereka yang bekerja di Malaysia. Bapak Sekretaris Paroki menyampaikan kepada suster bahwa warga di situ paling banyak bekerja di Kalimantan, sedangkan yang di Malaysia hanya beberapa orang saja. Salah satu dari beberapa orang tersebut adalah ibu kandung dari seorang anak bernama M. Ibunya pergi ke Malaysia saat ia masih kelas enam SD dan beberapa tahun yang lalu pernah pulang ke Indonesia untuk melihat keadaan keluarganya. M memiliki seorang ayah yang bekerja sebagai seorang petani. Suster kemudian meminta M untuk menanyakan kepada ibunya alamat lengkap tempat ia bekerja, sehingga suster bisa menghubungi jaringannya yang berada di Malaysia untuk mengecek keadaan dan kondisi kerja ibunya.



Bapak Sekretaris Paroki juga memberikan pertanyaan kepada suster Laurentina tentang apa yang menjadi faktor penyebab seseorang bisa pergi ke Malaysia. Menjawab pertanyaan yang diberikan, suster Laurentina PI mengatakan bahwa penyebab seseorang bisa pergi mengadu nasib di negeri orang adalah karena tuntutan ekonomi, faktor mental, pendidikan yang rendah, juga tidak ada kecintaan terhadap daerah di sini. Suster Laurentina melanjutkan bahwa sebenarnya mereka bisa berusaha untuk melakukan sesuatu di daerah sendiri tanpa harus pergi ke negeri orang. Selesai tanya jawab, suster mempersilakan kepada yang hadir di situ jika ada yang ingin bertanya atau bercerita, bisa langsung datang ke Pastoran karena suster akan ada sampai besok pagi. Mengakhiri sesi sosialisasi ini, bapak Sekretaris Paroki mengajak agar umat tidak pergi ke Malaysia dan bangun usaha sendiri di kampung halaman.



Seperti biasa, setelah seluruh rangkaian acara selesai dilaksanakan, diadakan foto bersama dengan umat yang setia sampai sosialisasi selesai. Secara perlahan, umat pun bubar. Namun ada sepasang suami istri yang menceritakan bahwa ia memiliki saudara sepupu yang sudah di Malaysia sekitar tujuh belas tahun. Pasangan suami istri itu hanya mengetahui bahwa saudaranya berada di Malaysia Timur, dan dulu pernah mengirimkan uang Rp.900.000,-  untuk ibunya yang di kampung dan setelahnya tidak ada di kabar. “Apakah ada fotonya?” suster Laurentina PI bertanya kepada pasangan itu. Mereka hanya menjawab dengan mungkin ada, mereka perlu mengecek lagi di rumah orangtua sepupunya itu. Pembicaraan itu akhirnya ditutup dengan foto bersama di depan gereja.  




Sesudahnya, Sr Laurentina dan tim ke pastoran setelah berpamitan dengan pasangan suami istri itu, juga berpamitan dengan Sekretaris Paroki.  Mereka yang niatnya ingin menginap satu malam lagi membatalkan keinginan tersebut, berhubung karena sudah tidak ada kegiatan lagi di situ dan  memutuskan untuk pulang Kupang hari itu juga.  





Thursday, June 27, 2019

Jenazah ke-30

#Kisah-Kisah dari Program Eksposure Belarasa 2018 (23) 
 
Hari ini, Jumat (24/8/2018) aku dan Suster Laurentina PI menjemput jenazah PMI atas nama LN (54) yang merupakan jenazah ke-30 yang kujemput selama aku mengemban tugas perutusan di Kota Karang ini. Angin dingin yang berhembus tak menghentikan langkah kami untuk setia menjemput dan mendoakan jenazah yang diinformasikan tiba pada pukul 22.00 WITA.

Sesampainya di Kargo pada pukul 21.30 WITA, belum ada anggota dari BP3TKI yang muncul. Hanya saja Oma Pendeta Emmy dan seorang fotografer jurnalis dari Jakarta sudah duduk manis menunggu di ruang jenazah kargo. Kargo sangat sepi. Tak lama kemudian, ada segerombolan pemuda yang mengaku dari Ikatan Mahasiswa Cibal Manggarai yang berdomisili di Kupang. Mereka datang khusus untuk mendoakan jenazah. Tak lama kemudian datang juga anggota ikatan Masyarakat Cibal yang terdiri dari orangtua yang berdomisili di Kupang.

“Meskipun kami tidak terlalu mengenal jenazah, namun kami tetap datang sebagai saudara seiman dan sama-sama dari daerah asal,” ujarnya salah seorang pemuda.

Menurut salah seorang bapak yang juga anggota dari Ikatan Masyarakat Cibal ini, jenazah sudah meninggalkan kampung halaman dan bekerja di Malaysia selama kurang lebih 17 tahun.

“Setahu saya, ia meninggalkan 3 orang anak yang ketiganya sudah besar dan ada yang sudah mau menikah lagi. Kasihan sekali bapak itu tidak bisa hadir dihari bahagia anaknya, padahal sudah lama sekali ia tidak pernah pulang,” ujar seorang bapak yang sedari tadi mendengar pembicaraan kami.

Ikatan Mahasiswa Cibal Manggarai memindahkan peti jenazah LN dari kereta kargo ke ambulans
Menurutnya, semenjak almarhum LN meninggalkan isterinya, RA (48) di kampung halaman, tak ada kabar mengenai keberadaannya. Merasa ditinggalkan untuk selamanya tanpa komunikasi dan kejelasan, sang isteri memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Desa Ranggi Kec Wae Ri’i Kab Manggarai. Sementara ketiga anaknya masih setia berada di kampung di Teru, Pagal, Cibal Manggarai, RT 1 RW 01. Tak banyak yang diketahui mereka tentang jenazah yang akan mereka jemput ini.

Ketika BP3TKI menunjukkan dokumen jenazah, kami secara sepintas melihat dan mengetahui informasi lebih dalam mengenai penyebab dan kronologi kematian korban PMI. 

Berdasarkan surat kuasa diketahui bahwa pihak yang mengurus pemulangan jenazah dari Malaysia menuju ke kampung halaman isterinya di Wae Ri’i ialah sepupu kandung dari jenazah, YR.  

Pada lembar lain, terdapat keterangan dari Polis Diraja Malaysia yang berisikan pernyataan majikannya, Brendan Low Chin Yong, yang beralamat di Masranti Plantation SDN BHD Harn Len Pelita Bagunan  SDN BHD Kuching Office Wisma Harn Len, tentang kronologi kematian jenazah. Menurut pengakuannya, sebelum meninggal almarhum mengeluh sakit pada Minggu (19/8/2018) pukul 11.00 p.m. menanggapi keluhan dari pekerjanya, majikannya segera membawanya ke Klinik Kesehatan Balai Ringin. Namun ketika sampai di klinik, almarahum dinyatakan sudah meninggal dunia tanpa diketahui penyebabnya dan segera dibawa ke Rumah Sakit Senan.

Pada keterangan lain, terdapat pernyataan dari pihak keluarga (isteri dan juga sepupunya) yang berisi tidak menyetujui untuk dilakukan otopsi pada jenazah yang ditandatangani pada Senin (20/8). Lembar surat dari KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) kemudian mengeluarkan izin pengurusan pemulangan jenazah oleh majikannya ke kampung halaman di Flores.

Dari dokumen diketahui kronologi pemulangan jenazah yang dibawa pulang ke Indonesia pada Jumat (24/8). Jenazah dikemas dengan ketentuan penerbangan internasional dan dibawa dengan menggunakan jalan darat dari Serian keperbatasan Tebedu-Entikong. Dari Entikong menggunakan mobil ambulans KB 1392 HV ke Pontianak, dari Pontianak ke Surabaya dengan Lion Airlines JT839 pukul 14.15 WITA dan dari Surabaya ke Kupang dengan JT 696.

Rencananya, jenazah akan menginap satu dua malam di garasi ambulans RSUD W.Z. Yohanes Kupang sebelum diterbangkan ke Maumere pada Minggu (26/8). Romo Adnan Pr, Suster Laurentina PI, Oma Pendeta Emmy dan semua orang yang menaruh perhatian kepada jenazah menyambutnya dalam doa secara katolik di depan gerbang kargo. Setelah itu, jenazah segera di bawa oleh rombongan pada pukul 24.00 WITA ke RSUD Yohanes Kupang.   

Jenazah LN di doakan oleh kaum religius di garasi RSUD W.Z. Yohanes Kupang NTT
Kami sepakat untuk mendoakan jenazah secara bersama pada Sabtu (25/8) sore di ruang jenazah  RSUD Yohanes Kupang. Semoga jenazah dapat beristirahat dengan tenang dalam cahaya abadi bersama Bapa di surga dan keluarga diberikan ketabahan. 

***