Monday, November 18, 2013

Menggali Masukan Dari Pegiat Migran Di Daerah untuk Revisi UU TKI

Selama 3 hari, sejak tanggal 11 s/d 13 Juli 2013, Sahabat Insan diundang untuk mengikuti Workshop Pembahasan dan Rekomendasi Atas Revisi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri (PPTKILN). Acara ini diselenggarakan oleh Peduli Buruh Migran (PBM) bekerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans). Kegiatan yang diadakan di Hotel Morina, Malang – Jawa Timur ini juga diikuti oleh beberapa perwakilan Solidaritas Buruh Migran Indonesia (SBMI) dari Sumenep, Trenggalek, Kediri, Malang, Ponorogo, Tulungangung, serta IWORK, Women Crisis Center (WCC) Dian Mutiara, Infest, JKPS “Cahaya”, perwakilan Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, dan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang.


Wacana untuk merevisi Undang-Undang ini sudah muncul sejak tahun 2009 yang lalu. Penyebabnya karena UU tersebut dipandang kurang mengakomodasi kepentingan tenaga kerja Indonesia di luar negeri, membuka peluang untuk melakukan komersialisasi karena banyaknya proses yang harus dilalui (54 tahap) untuk menjadi TKI dan juga minimnya perlindungan hukum terhadap pekerja yang bermasalah. Selama tiga tahun,  Komisi IX DPR membahas revisi terhadap UU Nomor 39/2004 ini sejak tahun 2010-2012, dan kemudian disetujui dalam sidang paripurna DPR tanggal 5 Juli 2012.

Namun ternyata hasil revisi tersebut jauh dari harapan masyarakat, terutama buruh migran dan keluarganya sebagai aktor utama dari UU ini. Menurut para pemerhati buruh migran, dalam revisi ini DPR hanya mengubah istilah tanpa mengubah substansi. Seperti TKI diubah menjadi Pekerja Indonesia Luar Negeri, Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS), dan sebagainya.

Untuk menengahi hal ini, pada tanggal 2 Agustus 2012, Presiden SBY telah menandatangani Ampres No. R/57/Pres/08/2012 perihal penunjukan wakil pemerintah untuk pembahasan RUU revisi tentang TKI di DPR RI. Dalam Ampres tersebut, Presiden menugaskan enam kementrian untuk mewakili Pemerintah, yakni Kemenlu, Kemenakertrans, Kementrian PP&PA, Kemendagri, Kemenhukham dan Kemenpan. Dengan ditandatanganinya ampres tersebut maka DPR RI memulai lagi pembahasan tentang RUU ini pada masa sidang 15 Agustus 2012.

Proses pembahasan tentang draft RUU No 39/2004 yang dilakukan oleh Pemerintah dan DPR RI ini juga dikawal oleh sejumlah   elemen seperti serikat buruh, serikat buruh migran, akademisi dan LSM yang telah merapatkan barisan dalam sebuah jaringan kerja advokasi guna mengawasi proses legislasi itu. Jaringan yang terbentuk sejak bulan Februari 2010 ini, kemudian disepakati bernama Jaringan Advokasi Revisi Undang-Undang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri (JARI-PPTKILN).

Sampai saat ini, pembahasan RUU ini masih tetap berlangsung dengan segala pasang surutnya. Lily Pujiati, Direktur Peduli Buruh Migran (PBM) menyampaikan bahwa proses pengawalan dan pembahasan RUU PPILN penting untuk diketahui dan diikuti pegiat BMI di daerah. Selama ini PBM melihat kecenderungan bahwa informasi seputar RUU PPILN hanya beredar di pusat dan tidak sampai ke daerah. Oleh karena itulah PBM berinisiatif untuk mengadakan workshop ini, agar pegiat BMI di daerah mengetahui draft RUU versi Pemerintah dan DPR RI, kemudian mereka diajak untuk mendiskusikan draft tersebut, sehingga akhirnya bisa turut berperan dengan memberi masukan atas RUU ini.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi oleh Bapak Sushendratno (Kasubdit Pelindungan TKI Kemenakertrans) dan Ibu Dita Indah Sari (Staf Khusus Kemenakertrans). Dalam kesempatan tersebut dipaparkan delapan hal krusial yang selama ini masih menjadi perdebatan antara Pemerintah dan DPR RI, yaitu: 1) Judul RUU, 2) Kelembagaan, 3) Perwakilan Badan Nasional Penempatan Pekerja Indonesia di Luar Negeri (PPILN) di negara-negara tujuan pengiriman TKI, 4) Tugas dan Wewenang Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, 5) Perlindungan Keluarga TKI, 6) Pelaksanaan Penempatan, 7) Pelatihan, dan 8) Sanksi.


Kemudian Ibu Nufus Mufida dari JARI – PPTKILN dan Bapak Yohanes Wibawa, direktur IWORK (Institute of Migrant Workers) turut menyampaikan pendapatnya tentang proses pembahasan RUU antara DPR dan Pemerintah yang tidak kunjung selesai, sementara masa jabatan DPR RI tahun 2014 akan segera habis. Dikhawatirkan jika masa tersebut telah terlewati, maka proses yang sudah berlangsung lama ini harus dimulai dari awal lagi karena Pemerintahan dan DPR yang baru. Lebih khusus, dalam pembahasan RUU ini JARI – PPTKILN menyoroti beberapa hal, yaitu tentang a) Perekrutan dan Penempatan, b) Pendidikan dan Pelatihan, c) Sistem Pembiayaan Penempatan Pekerja Migran, d) Sistem Penanganan Kasus dan Bantuah Hukum, e) Kelembagaan Pelayanan Migrasi, f) Sistem Pendataan dan Pengawasan, g) Peran Serta Masyarakat, h) Sistem & Pelayanan Pemulangan, i) Peran PJTKI dalam Penempatan dan j) Peran & Koordinasi 6 Kementrian. Sementara IWORK lebih dalam membahas tentang peran masing-masing lembaga dalam setiap proses migrasi, yaitu pra penempatan (perekrutan dan seleksi, pendaftaran dan pendataan, pendidikan dan pelatihan, pemeriksaan kesehatan dan psikologi, penyelesaian dokumen, persiapan akhir pemberangkatan dan persiapan pemberangkatan), penempatan (pemberangkatan, verifikasi akhir terhadap kontrak kerja, tempat kerja dan pengguna sampai diterima oleh pengguna), dan pasca penempatan (proses pemulangan dari negara penerima sampai tiba di rumah daerah asal di Indonesia).

Workshop kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok, untuk menampung masukan-masukan terhadap RUU ini dari para pegiat BMI di daerah. Diskusi dipandu oleh Bpk Yohanes Wibawa dari IWORK. Karena waktu yang sangat singkat sementara materi yang akan dibahas cukup banyak, akhirnya diputuskan untuk memusatkan bahasan diskusi pada persoalan kelembagaan. Peserta workshop kemudian dibagi menjadi menjadi empat kelompok, yang masing-masing mendiskusikan tentang kewenangan masing-masing lembaga di masa pra penempatan, penempatan dan pasca penempatan, serta sistem pengawasannya. 





Diskusi tersebut menghasilkan beberapa masukan yang merefleksikan persoalan-persoalan yang sering dihadapi oleh BMI di daerah antara lain:
a. Pada proses pra penempatan: 
Perlu ada lembaga yang dapat memberikan informasi yang benar tentang proses perekrutan pekerja migran, perlunya standarisasi pelatihan agar materi yang disampaikan benar-benar dapat dijadikan bekal untuk bekerja di luar negeri, lembaga yang menjamin keefektifan proses pemeriksaan kesehatan, dan perlunya lembaga uji kompetensi yang resmi agar pekerja yang dikirim benar-benar berkualitas. Dalam kesempatan ini disinggung juga tentang jaminan kesehatan untuk pekerja di luar negeri, serta perlunya dijalin kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan negara tujuan agar para pekerja mendapatkan perlindungan hukum saat menemui masalah di luar negeri
b. Pada proses penempatan
Perlunya pembenahan fungsi-fungsi lembaga-lembaga yang terlibat dalam proses ini, yaitu KBRI, agensi, pengguna jasa, polisi, rumah sakit, perusahaan asuransi, bandara, bank, lembaga penukaran uang, NGO, Disnaker, Pemerintah dan BNP2TKI.  
c. Pada proses pasca penempatan
Perlu adanya proses yang baku tentang pemulangan dari negara penerima sampai tiba di rumah daerah asal di Indonesia
d. Sistem pengawasan
Perlu adanya lembaga pengawas independen yang mengawal setiap proses, masukan-masukan dari lembaga-lembaga sosial pegiat BMI.

Workshop kemudian dilanjutkan dengan refleksi bersama tentang perkembangan gerakan buruh migran di Indonesia, yang masih dipandu oleh Yohanes Wibawa. Direktur IWORK ini membuka obrolan dengan bercerita tentang sejarah pergerakan buruh migran dari tahun 2000 melalui inisiasi Federasi Organisasi Buruh Migran Indonesia (Fobmi) hingga berkembang menjadi Konfederasi Organisasi Buruh Migran Indonesia (Kobumi), hingga dinamika gerakan di tahun 2013. Lebih lanjut, Yohanes Wibawa mengatakan bahwa gerakan buruh migran memiliki potensi untuk menjadi kuat, karena setiap organisasi memiliki kekuatan dan fokus di bidangnya masing-masing. Ada kuat di soal pengorganisasian basis, pemberdayaan, pengembangan ekonomi mikro, kesehatan, penanganan kasus, media dan informasi, dan lain-lain. Ibarat puzzle, gerakan buruh migran tinggal dirangkai dan bisa saling terhubung antara kerja satu organisasi dengan organisasi lainnya. Namun, persoalan ketidakpercayaan antar pegiat buruh menjadi pekerjaan rumah untuk segera diselesaikan dengan cara saling terbuka dan lebih mengedepankan kolaborasi kerja antar organisasi.  

Selanjutnya, jejaring organisasi buruh migran dari berbagai daerah saling berbagi kisah dan pengalaman dalam gerakan buruh migran di daerah masing-masing. Setiap wakil dari daerah mengemukakan hal-hal yang telah dilakukan dan masalah yang dihadapi. Sesi ini menutup keseluruhan acara Workshop Pembahasan dan Rekomendasi atas Revisi UU No. 39/2004 ini. 




Tuesday, November 5, 2013

Kegelisahan Ibu dari Nur (eks-TKI)

(to see the English version, please click 'read more' below this article)


Roses have Thorns 1
http://www.deviantart.com/art/Roses-Have-Thorns-1-19123887
Selalu setiap melihat kami, Ibu dari Nur akan melampiaskan cerita-cerita dan kesedihannya sampai menangis. Juga ketika kami menjenguk Nur, eks-TKI, Jumat 1 November 2013 lalu di sebuah rumah sakit di Jakarta. Keadaanya memprihatinkan karena dia mengalami luka bakar akibat kompor meledak di Quait.

Ibu itu berkeluh-kesah perihal ayahnya yang meninggal beberapa hari yang lalu. Ibu dan Nur tidak dapat hadir di pemakaman. Mereka tidak bisa berjumpa untuk mengucap selamat jalan kepada kakek Nur, karena ibunya harus menjaga membantu Nur di rumah sakit. Sebab tangan Nur kanan dan kiri mengalami luka bakar yang cukup serius, sampai ia sulit makan-minum, mandi, atau berganti pakaian.

Sembari menangis, Nur pun jadi ikut menangis. Beberapa kali dia mengungkapkan keinginannya untuk pulang. Betapa kerapuhan ibunya sungguh berdampak hebat mengguncang Nur, mempengaruhi emosinya. Dari percakapan dengan Nur, dia sungguh mengatakan ingin segera pulang. Nur juga bercerita tentang temannya yang mengalami luka bakar, dirawat di rumah sakit yang sama, tapi sudah terlebih dahulu boleh pulang.

Sementara itu, ibunya terus bicara pada kami, dengan tersendat-sendat, suara yang parau, diselingi dengan tangis-tangis kecil. Nur anak satu-satunya yang menghasilkan uang. Di keluarga mereka sekarang tidak ada lagi yang mencari nafkah. Dua anaknya yang lain tidak bekerja dan satu di antaranya stres. Ketika ibunya bicara demikian, wajah Nur sudah begitu terlihat muram.

Bekerja sejak kecil di usia 18 tahun, Nur telah menjadi tulang punggung keluarganya. Siapa sangka nasibnya kemudian menjadi seperti itu. Dalam keadaan sekarang pun ibunya masih terus-menerus mengkhawatirkan kehidupan mereka mendatang karena Nur sakit. Artinya Nur tidak lagi dapat bekerja untuk mencari nafkah demi keluarganya.

Kekhawatiran Ibu Nur terasa seperti mawar berduri dan Nur memegang duri itu. Dalam kondisi keluarga dengan kemiskinan seperti demikian, begitu banyak muncul pertanyaan di benak, ”Mengapakah ibunya sampai hati membiarkan Nur bekerja sejak kecil?”, ”Bukankah lebih baik ibunya menahan tangis, menguatkan Nur, agar Nur lebih bersemangat dan bertekad untuk sembuh?”

Memandang jauh pada masa depan memang perlu dilakukan sebagai sebuah pijakan melangkah di kemudian hari. Namun, hidup di masa sekarang juga tak kalah penting. Ikatan emosi antara ibu dan anak, Nur seperti demikian tampak ketika kami berkunjung di ruang jiwa yang menampung eks-TKI yang mengalami depresi.

Di sana, pasien-pasien sudah lebih sedikit karena sudah banyak yang pulang. Kami selalu ikut merasa gembira tiap mengetahui hal itu. Suster Shanti dan Suster Murph hari itu membawakan pasien-pasien tersebut beberapa majalah. Sekadar untuk mengisi waktu luang, agar mereka membaca dan melihat warna-warni. Karena seringkali mereka mengeluh bosan, tidak ada kegiatan di sana, selain tidur, makan, mencuci, atau nonton televisi. Mereka menyambut pemberian kami dengan sukacita.

Saat kami sedang mengobrol, seorang pasien umum bernama Sri, yang mengalami gangguan jiwa dibawa oleh petugas dari ruang isolasi untuk mandi, kemudian membereskan pakaiannya. Selesai membersihkan diri, dia terlihat dengan rambut masih basah, pakaian baru, dan kantong plastik besar hitam, yang menampung barang-barangnya. Kemudian, dia duduk dan menyapa kami. Masih dengan celoteh yang sulit kami mengerti. Masih pula dengan bahasa yang setengah bahasa Indonesia, setengah bahasa Inggris. Serta masih menyanyi lagu-lagu lama di sela-selanya.

Tiba-tiba seorang ibu datang dari balik pintu masuk yang digembok. Mungkin ia adalah ibu Sri yang hendak menjemput pasien umum itu. Padahal, siapa pun yang melihatnya, pasti tahu kalau Sri belum benar-benar sembuh. Maka, pertanyaannya, mengapa dia harus dijemput pulang?

Pertanyaan tersebut kami lontarkan kepada penjaga. Ternyata tepat dugaan kami, penyebabnya bisa jadi karena biaya. Karena dia pasien umum maka, biaya pengobatan ditanggung penuh keluarga. Maka, kapan pun keluarga ingin membawanya pulang, dia akan pulang. Ya, ternyata butuh biaya besar untuk berobat kejiwaan di sana.

Kondisi keuangan keluarga Sri, sesungguhnya tak berbeda jauh dengan yang dialami oleh Nur. Bedanya, Nur masih dapat berobat, namun ibunya begitu khawatir dengan kelangsungan hidupnya mendatang. Sementara Sri, berhenti berobat demi mencukupi kebutuhan keluarga yang lain.


Thursday, October 31, 2013

2013 Jakarta Marathon: Fun, Fund, and a Funeral

oleh Benny Hari Juliawan, SJ


In the wake of the funeral of Fr. Ignatius Sumarya, SJ, and as tribute to his memory, I wish to share about my participation in the 2013 Jakarta Marathon last Sunday. Let this also be my way of extending gratitude to my generous benefactors and loyal supporters.

Running actually came rather late to me and had a simple beginning, around the time I was studying the UK back in 2005-2010. Before that, swimming had been my favourite sport, but to get to the distant university pool seemed to be a lot of effort. I shivered as I imagined my tropical self cycling to the pool in the winter months from Campion Hall, the Jesuit residence in Oxford where I lived. Instead I laid my eyes on the park next door. It is the Christ Church Meadow, and belongs to the largest college in the University of Oxford. Harry Potter movie buffs would instantly recognise this establishment. The great hall of the college was the set of the majestic Hogwart’s Hall. The meadow though is a feast of colours and wildlife. It is bounded by the banks of the River Thames where students on their rowing boats jostle for space with ducks and geese. The river path amicably hosts walkers and joggers alike. Away from the river, the path leads to a dirt boulevard lined by proudly tall oak trees, whose leaves turn yellow and red in autumn, framing the beautiful surroundings in these fiery autumn colours. On the other side is the old Oxford city wall which now serves as tall border fences for several colleges. A rugby pitch and some open grassland inhabited with the occasional cows make up the rest of the landscape. The 1.2 mile perimeter of the meadow encloses a fine example of natural beauty. I simply fell in love with the park and decided to take up running to appreciate its beauty.

It was not long before I found running therapeutic both for my mental and physical health in the midst of hectic classes and preparing my dissertation. The toil and sweat suffered from the first run around the meadow slowly evolved into the now-familiar runners’ high, and so I went progressively longer distances and covered various grounds in the city. It is fair to say that almost every park and bridle path in the city was no stranger to my new-found running craze. And this was when I discovered that there was more to running than meets the eye. In April 2010 my running buddies encouraged me to take part in the annual “Oxford Town and Gown” 10K. The race was organised by the Muscular Dystrophy Campaign Foundation. Apart from supporting this cause the organiser invited participants to support charities of their choice. The idea was simple. I would do a demanding physical activity in exchange for donation to my charity. I chose the Jesuit Mission and started fundraising on its behalf. It was a lot of fun really. I got to know new people and introduced the work of the Jesuits to them.

So when a friend invited me to participate in the 2013 Jakarta Marathon for the half-marathon category, I immediately thought of doing the same. The plight of migrant workers sprang to mind as my main mission is with the social ministry of the Jesuits in Asia Pacific, currently focusing on migrant workers. I talked to Fr. Ignatius Ismartono, SJ, the director of Sahabat Insan (an initiative involved with the cause of returning Indonesian migrant workers at the moment), about this idea and he seconded it right away. My friends in Sahabat Insan prepared flyers and distributed emails while I also did my share of campaigning. People here were intrigued with this new model of fundraising and their curiosity subsequently led to their involvement and donation.

At the same time a group of runners called “CaniRunners” were gearing up for the same event. They were alumnae of Canisius College, Jakarta, and were raising funds for Jesuit schools in need, primarily St. Peter Canisius Seminary in Mertoyudan, Magelang. The kitchen of the seminary is in dire need of repair; this same kitchen fed my teenage appetite for four years when I was a student there back in the early 1990s. This bid got the backing of no less than the Jesuit Provincial himself who would also run alongside them in the half-marathon category. The rector of the seminary, Fr. Ignatius Sumarya, SJ, was willing to take part in the run as well, albeit for the 5K distance. He was a healthy 60 year old man with no history of any serious illnesses. Smoking was his vice, granted, but apart from that he regularly jogged and was generally in good shape. Rectors and headmasters of four Jesuit schools in total committed themselves to running the same distance.

So on October 27th, 2013 very early in the morning we all departed for the starting line in the National Monument Park, not far from where I live. Fr. Ignatius Sumarya arrived a day before on a flight from Yogyakarta, and was his usual cheerful and optimistic self. In fact, on the eve of the race we chatted casually outside my room about the kind of repair that he envisioned for the seminary’s kitchen. Back in the park that morning, I wished him good luck before we parted because half-marathon runners had to start earlier.

And the rest is history…. I was still drunk from the adrenalin high and drowning in ecstasy for having done 21K while breaking my personal best record, when the tragic news broke. We were all stunned, silenced, and devastated. My guess is that he must have run at a much higher tempo than he was used to. The competitive side in him must have kicked in when surrounded by other runners who ran faster. Experienced runners know this very well. In a race one should run at his or her own pace and ignore the urge to respond to other runners’ blistering strides. This, however, is only a theory. I may never know the truth. What really matters now is to continue to support the cause that he ran for, that is the formation of priestly vocations in St. Peter Canisius Seminary, Mertoyudan, Magelang. Good bye Fr. Sumarya, and enjoy the run!

“I have fought the good fight, I have finished the race, I have kept the faith. Henceforth there is laid up for me the crown of righteousness, which the Lord, the righteous judge, will award to me on that Day, and not only to me but also to all who have loved his appearing” (2 Tim 4:7-8)

NB. As of October 31th, 2013, we have raised Rp80.498.150,00, US$ 600, and £ 200. The fundraising for the cause of migrant workers through the social ministry of the Jesuits of Asia Pacific is to close on October 31st, 2013. The fundraising for repairs of St. Peter Canisius Seminary, Mertoyudan, Magelang, is still ongoing, so you can still continue to donate.

For more information, please sent email: sahabatinsan.gmail.com

Thank you.
Regards.

Benny Juliawan (orwellsj@googlemail.com) is a researcher with Sahabat Insan, an NGO working with migrant workers in Jakarta. Benny is an enthusiastic runner