Wednesday, January 9, 2019

I Have a Voice - Trafficked women in their own words

Pemaparan Dr. Angela Reed (Mercy International Association / Mercy Global Action) dalam Workshop Regional Kamboja, 27-29 November 2018

sumber foto: globalsistersreport.org
Dr Angela Reed, seorang suster Mercy dari Australia, mewakili Mercy International Association / Mercy Global Action di PBB. Sebagai koordinator Mercy Global Action, ia memiliki fokus pelayanan pada perdagangan perempuan dan anak-anak. Reed memperoleh gelar doktornya di RMIT University Melbourne, Australia, dimana risetnya berfokus pada perdagangan manusia dan pengalamannya menangani korban perdagangan manusia untuk eksploitasi seksual. Dr Angela Reed telah menjadi pembicara di berbagai seminar internasional sehubungan dengan isu ini. 

WACANA DOMINAN


Dalam bagian ini, Dr. Angela Reed memaparkan hasil penelitiannya berkaitan dengan perdagangan manusia yang berjudul: A Life Course/Human Rights Approach to Preventing Human Trafficking. Penelitian dilakukan di Cebu, Filiphina dan mencoba melihat pendekatan ideologis bagaimana perdagangan manusia telah dibingkai atau dikemas di seluruh dunia.

Bagaimana perdagangan manusia dibingkai?  Wacana dominan yang sering muncul saat ini adalah tentang globalisasi, ekonomi, migrasi, gender, kejahatan yang terorganisasi, paradigma lokal dan hak asasi manusia. Untuk beberapa orang mereka melihat perdagangan manusia adalah melalui globalisasi, dimana perbatasan antar negara dianggap tidak ada. Pergerakan lintas batas dilihat sebagai hubungan sebab akibat. Literatur menunjukkan bahwa globalisasi telah menguntungkan negara-negara kaya. Wacana lainnya adalah tentang ekonomi. Misalnya meningkatnya permintaan akan PSK murah. Industri ini menghasilkan uang karena membeli ‘bahan baku’ murah dan mengemasnya dengan baik, dan mengubah kerentanan menjadi menghasilkan keuntungan. Hubungan yang melekat antara seks dan uang membuat wanita didorong untuk bekerja di luar negeri dan mengirim uang ke rumah. Untuk itu, perlu dilihat lebih dalam lagi pola migrasi dan akar penyebabnya, dan perlu berhati-hati dalam menggunakan paradigma ini. Wacana lain mengatakan ini adalah fenomena gender, yang mengenali aspek dominan wanita terkait dengan diskriminasi dan kekerasan. Paradigma PBB mengenai perdagangan orang adalah paradigma kejahatan terorganisir dan ini merupakan masalah peradilan pidana. Selanjutnya ada paradigma/budaya lokal yang membuat adanya alasan yang berbeda di tempat yang berbeda akan terjadinya perdagangan orang karena latar belakang budaya. Misalnya di Filipina, berkaitan dengan trafiking, kita dapat melakukan analisa tentang kolonialisme, tentang Katolisitas, dan bagaimana pandangan tentang perempuan dikemas. Di PBB, salah satu tugas yang harus dilakukan oleh Dr. Angela Reed adalah memastikan bahwa kebijakan yang disajikan di sana memiliki wajah hak asasi manusia, dan memiliki pendekatan personal untuk kasus per kasus. Cebu, tempat penelitian dilakukan , adalah kota terbesar kedua di Filipina. Kota yang indah tapi sekaligus salah satu hotspot trafiking. Pendekatan hak asasi manusia untuk trafiking akan hambar dan tanpa arti jika tidak melibatkan inti pokok masalah dan mendengarkan suara-suara perempuan korban perdagangan manusia. Suara mereka bukan hanya tentang hak dan kesempatan untuk berbicara, namun juga merupakan partisipasi dari orang yang lemah / korban untuk bersama-sama turut bekerja memerangi ketidakberdayaannya. Bukan hanya untuk ketersediaan informasi, namun juga untuk diperhitungkan oleh negara agar memperhatikan nasib mereka.

I HAVE A VOICE – trafficked women – in their own words merupakan buku karya Dr Angela Reed RSM dan Marietta Latonio RSWSelama tujuh tahun, mereka bekerja dengan 40 wanita Filipina yang diperdagangkan untuk eksploitasi seksual di provinsi Cebu, Filipina.

Kisah-kisah perempuan, yang diceritakan dengan kata-kata mereka sendiri, mengungkapkan penindasan yang menyeramkan dan terstruktur dari para perempuan muda yang menjadi tempat berkembangnya perdagangan seks, memutarbalikkan visi perdagangan manusia yang yang selama ini populer dan sensasional sebagai penculikan dan penindasan.

Alih-alih menjadi sasaran tindakan kejahatan secara acak, para wanita di I Have a Voice mengungkapkan proses kejahatan dimulai secara lambat sejak masa kanak-kanak, pengalaman yang membuat mereka mudah menjadi mangsa para pedagang manusia.

Selama menulis buku ini, Dr Angela Reed menyadari sebuah kenyataan bahwa perdagangan adalah hasil dari tindakan kumulatif yang terjadi di sepanjang kehidupan. Bagi gadis-gadis muda yang diperdagangkan tersebut, ini bukan pertama kalinya mereka dianiaya. Tingkat kerentanan akan berbeda sesuai dengan yang mereka alami sejak masa kecilnya. Gadis-gadis muda ini memberi kita wawasan kunci tentang kerentanan terhadap perdagangan manusia dan mendobrak pandangan umum bahwa perdagangan manusia adalah tindakan kejahatan yang terjadi secara acak. Penulis telah bertemu dengan korban perdagangan manusia, tetapi tidak ada satu pun yang berubah. Jika kita hanya membingkai perdagangan manusia dari sisi itu, maka akan banyak celah bagi korban untuk jatuh ke tempat yang sama. Sebagian besar gadis muda ini adalah mereka yang telah mengalami pelecehan seksual dan fisik sejak awal,  perampasan masa kecil. Banyak ibu harus pergi ke luar negeri. Mereka meninggalkan rumah dan meninggalkan anak-anak dengan orang lain, sehingga anak-anak menjadi sangat rentan.

Karena edisi cetak buku ini telah habis, maka isi dari buku ini dapat diunduh di link https://www.ourcommunity.com.au/ihaveavoice

KONDISI KEHIDUPAN YANG OPTIMAL

Kondisi hidup yang optimal ditentukan oleh tiga cluster/pengelompokan:

1  MASA KECIL
  •         Standar hidup yang layak, sehingga tidak memaksa anak-anak untuk meninggalkan sekolah dan mencari uang,
  •         Rasa kemanusiaan dan saling memiliki dalam keluarga, dengan memberikan memori baik di masa kanak-kanak mereka,
  •         Kualitas pendidikan, dengan memberikan pendidikan setinggi-tingginya,
  •         Kenyamanan, keamanan, dan kesehatan emosional,
  •         Hubungan sosial dan komunitas yang baik di masa kecil,
  •         Persamaan gender, tidak membedakan perlakuan kepada anak lelaki dan perempuan.
2. MASA REMAJA
      Kesehatan psiko-sosial dan pengembangan diri,
      Ketrampilan dan kapabilitas,
      Keterlibatan sosial,
      Pemberdayaan ekonomi.

3. MASA DEWASA
  •          Pekerjaan yang layak dan pemberdayaan ekonomi,
  •          Kebersamaan dalam komunitas dan juga kepercayaan diri,
  •          Penentuan jati diri,
  •          Rasa peduli dan kasih sayang kepada sesama.

PANDUAN PENCEGAHAN: MARTABAT YANG MELEKAT

Upaya-upaya untuk memerangi perdagangan manusia telah dimulai dari pandangan sempit tentang perdagangan manusia sebagai masalah peradilan pidana, dengan fokus pelaku perdagangan dan pada tingkat yang lebih rendah: melindungi para korban. Jarang yang memperhatikan faktor-faktor sosial ekonomi sebagai akar masalah.


Upaya intervensi harus bergerak ke hulu sehingga pencegahan bahaya terjadi di tempat pertama. Undang-undang dan advokasi anti-perdagangan manusia saat ini terus memberi terlalu sedikit perhatian pada akar penyebab dari eksploitasi ini. Kurangnya penekanan pada pencegahan mencerminkan gagasan populer bahwa 'penyelamatan' adalah apa yang dibutuhkan.Mengingat besarnya kekurangan sosial ekonomi di berbagai bagian dunia, mudah untuk mengabaikan panggilan untuk strategi pencegahan substantif yang terlalu tinggi atau tidak praktis. Tetapi kenyataan bahwa jutaan nyawa tetap berisiko untuk perdagangan manusia menuntut kami menerima tantangan ini. ”(Chuang p.155)

Sebagai penutup dikutip pernyataan dari Paus Fransiskus:
“Harus diakui bahwa sangat sedikit yang telah dilakukan untuk mengatasi "mengapa" banyak anak muda ditipu atau dijual untuk perdagangan dan perbudakan ... Permintaan dan pasokan, pada gilirannya, berakar dalam pada tiga masalah besar konflik dan perang, ekonomi privasi dan bencana alam, atau apa yang dialami para korban sebagai kemiskinan ekstrem, keterbelakangan, pengucilan, pengangguran dan kurangnya akses ke pendidikan”