Pada hari Selasa, 19 April 2011, Sahabat Insan menghadiri pemutaran perdana film “si Anak Kampoeng” yang memaparkan bibiografi Syafi’i Maarif kecil. Pemutaran perdana film ini disaksikan di studio 1 dan 2 XXI Epicentrum, Kuningan. Kerabat Syafi’I Maarif dan LSM diundang dalam pemutaran perdana ini seperti Johan Effendy, Musdah Mulia, Romo Ignatius Ismartono, SJ serta para undangan lainnya. Selain itu, tampak beberapa diantaranya ikut memberi sambutan sebelum pemutaran film berlangsung, yaitu Bapak Hajriyanto Thohari dan Taufik Abdullah. Harapannya film ini dapat menginspirasi kita dan anak-anak Indonesia dalam menggapai impian dan hidup dalam kemajemukan budaya.
Mengisahkan tentang kehidupan seorang anak yang bermimpi pergi merantau dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Pi’i itulah panggilan kecil dari Syafi’i Maarif yang lahir di Sampur Kudus, Sumatera Barat dari seorang Kepala Nagari (setingkat desa). Ibunda dari Pi’i telah meninggal saat ia masih sangat kecil. Dengan tetap teguh, sang ayah mengharapkan agar Pi’i kelak dapat menjadi seperti dirinya dan membangun Sampur Kudus. Ia dididik oleh seorang guru untuk bela diri kemudian bersekolah di Sekolah Rakyat Sampur Kudus. Di sekolah ini, Pi’i menikmati masa belajarnya yang cemerlang dan bergaul dengan teman-temannya. Kenakalan kecil dapat dipetiknya menjadi suatu pelajaran sikap yang baik. Baginya perbedaan dalam suku dan keyakinan di Indonesia merupakan suatu hal yang positif. Dalam perkembangan zaman mendekati perjuangan Kemerdekaan Indonesia dan usia yang masih muda, ia dapat berpidato dan menginspirasi teman dan orang-orang Sampur Kudus mengenai Ke-Bhinneka Tunggal Ika-an dan hidup saling menghormati. Inilah salah satu yang menjadi nilai plus dari Pi’i.
Keinginannya untuk menimba ilmu semakin besar, sedangkan sang ayah menginginkan agar ia tetap berada di Sampur Kudus. Ia pun berjuang dan akhirnya memperoleh dukungan ayahnya untuk pergi merantau menimba ilmu. Kegagalan dalam ujian masuk sekolah pun ia alami, namun dengan gigih ia berjuang kembali pada kesempatan kedua untuk mencapai impiannya, sampai akhirnya dia berhasil masuk SMA di desanya, bahkan pada akhirnya nanti, ia mampu melanjutkan studi di Amerika.
Thursday, May 5, 2011
Monday, May 2, 2011
Ucapan Syukur atas Beatifkasi Paus Yohanes Paulus II di KWI
Sebagai ucapan syukur atas beatifikasi Paus Yohanes Paulus II di Vatikan, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengadakan Misa Syukur serta Seminar yang diadakan pada hari Minggu, tanggal 1 Mei 2011 bertempat di lantai 4 kantor KWI, Jl Cut Mutiah Jakarta.Sahabat Insan yang diundang dalam acara tersebut, diwakili oleh dua orang relawannya: Tanti dan Nino. Acara tersebut dihadiri juga oleh para Romo, Suster, karyawan KWI serta undangan lainnya.
Acara dimulai dengan Misa Konselebrasi dengan Selebran utama Rm Eddy Purwanto didampingi oleh Rm Eddy Kristiyanto, OFM, Rm Adi Susanto, SJ, Rm Agus Surianto, Rm Dani Sanusi , Rm Agust Alfons Duka, Rm Romanus Hardjito dan Rm Guido Suprapto, serta koor dari Suster-suster JMJ dan Frater CICM. Dalam kotbahnya, Rm Eddy Purwanto menegaskan bahwa Paus Yohanes Paulus II adalah sosok yang selalu mengusahakan perdamaian dunia tanpa henti. Tokoh seperti ini yang sekarang dibutuhkan oleh Indonesia, yang mampu melintasi batas agama, suku, bangsa dan bahasa. Bagi Paus, semua manusia sejatinya hanya satu, yaitu ciptaan Allah.
Setelah diselingi dengan makanan ringan, acara dilanjutkan dengan seminar dengan moderator Ibu Murni, seorang psikolog dari Atma Jaya. Pembicara pertama, Prof. Dr. A. Eddy Kristiyanto, OFM mengangkat tema 'Non Abbiate Paura!' - semboyan yang selalu didengung-dengungkan oleh Paus Yohanes Paulus II semasa hidupnya. "Jangan takut, bukalah pintu hatimu bagi Kristus selebar-lebarnya", membuat Paus ini begitu unik, bukan hanya humanis, namun juga berpegang erat pada ajaran Kristus. Selain itu, Paus Yohanes Paulus II juga merupakan paus yang dikenal paling Marianis karena kecintaan dan kedekatannya pada Bunda Maria.
Pembicara kedua adalah Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif, MA yang membawakan tema: Enam Tahun Ditinggal Seorang Paus Humanis. Dalam materinya, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini mengulas kesannya yang mendalam selama mengenal Paus semasa hidupnya. Humanis, pemaaf, teguh pada doktrin gereja, the Great Lover, bukan hanya pemimpin agama, tetapi juga pemikir dan penulis prolifik, adalah sebagian kesan yang pantas diberikan kepada Paus Yohanes II. Dalam konteks dengan kondisi Indonesia saat ini, pemimpin seperti inilah yang diperlukan. Sifatnya yang hangat dan membumi perlu dicontoh oleh siapa saja yang menginginkan Indonesia yang lebih baik.
Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah dan makan siang bersama.
Tuesday, April 26, 2011
Bakti Sosial Bersama Dewan Kesehatan Rakyat - Jakarta Pusat
Pada hari Minggu, 10 April 2011, Sahabat Insan turut mendukung pelaksanaan Bakti Sosial Dewan Kesehatan Rakyat yang diadakan di Taman Budaya RW 07 Utan Panjang, Kemayoran – Jakarta Pusat. Bakti Sosial kali ini mengambil tema: Rakyat Sehat, Negara Kuat. Tema ini diambil karena saat ini jaminan atas kebutuhan kesehatan merupakan kebutuhan utama bagi seluruh masyarakat, terutama yang menyadari akan pentingnya kesehatan dan menjaga diri serta lingkungannya dari berbagai macam penyakit. Sementara, walaupun Pemerintah telah menganggarkan dana yang cukup besar untuk pelayanan jaminan kesehatan rakyat, tetapi dalam praktiknya masyarakat masih kesulitan mengakses jaminan tersebut. Oleh sebab itu, Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) mengorganisir untuk melakukan bakti sosial yang meliputi pelayanan : pengobatan dan periksa kesehatan gratis, akupuntur, cukur rambut gratis, penjualan sandang murah, dan dialog publik mengenai jaminan kesehatan bagi masyarakat.
Selain Sahabat Insan, LSM lain yang mendukung kegiatan sosial ini adalah Yayasan Bina Mandiri Sunter serta pemuda-pemuda dari Karang Taruna RW 007 Utan Panjang. Sahabat Insan berpartisipsi dalam pengadaan tenda, spanduk dan keamanan. Sedangkan Bina Mandiri menyediakan layanan masyarakatnya yang meliputi pengobatan, akupuntur dan cukur rambut. Bakti sosial kali ini berhasil melayani 150 warga untuk pengobatan dan periksa kesehatan gratis, 30 warga untuk pelayanan akupuntur dan 50 warga yang memperoleh pelayanan gunting rambut.
Selain itu, puluhan warga lainnya mengikuti dialog publik “Rakyat Sehat Negara Kuat” dengan pembicara Walikota Jakarta Pusat, Bpk. Drs. H. Saefullah, M. Pd yang mewakili Gubernur DKI Jakarta, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Siti Fadillah Supari, Anggota DPD DKI Jakarta, AM. Fatwa, Anggota DPRD DKI Jakarta, Iman Satria, Perwakilan dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Wakil Ketua MPR RI, Hajriyanto Y. Thohari. Dalam dialog ini dikemukakan tentang upaya dalam menanggapi keluhan pelayanan jaminan sosial di DKI Jakarta, khususnya Jakarta Pusat. Undang-undang telah disusun dengan bagus, namun kenyataan di lapangan, sering kali masyarakat tidak dapat merasakannya secara leluasa dan merata di berbagai rumah sakit.
Dalam mengikuti bakti sosial ini, terlihat bahwa masih banyak masyarakat, terutama di daerah Jakarta Pusat, yang masih memerlukan jaminan kesehatan. Antusiasme penduduk yang datang untuk berobat dan terlibat dalam diskusi mengisyaratkan bahwa mereka sangat merindukan terpenuhinya hak mereka dalam memperoleh akses kesehatan. Harapan masyarakat akan perbaikan sistem pelayanan yang lebih singkat kiranya dapat segera terwujud. Peningkatan kepercayaan rumah sakit terhadap pemerintah juga harus segera diupayakan sehingga mempermudah penerimaan pelayanan kesehatan masyarakat. Usaha swadaya masyarakat juga perlu ditingkatkan dengan mengaktifkan RW siaga terutama yang berada di kawasan RW kumuh.
Tuesday, April 19, 2011
Seminar Nasional Pemikiran Cak Nur Untuk Isu-Isu Aktual Bangsa
Tuesday, April 5, 2011
Membantu pemulangan TKI ke Ngawi - Jawa Timur
Subscribe to:
Posts (Atom)