Tuesday, February 18, 2020

Peringatan Hari Doa Sedunia Melawan Perdagangan Manusia di Kupang, NTT

Laporan Jeni Laamo dari Kupang

Sabtu (08/02/2020) sore, di aula Paroki Santa Maria Assumpta, adalah hari H, kegiatan doa dan refleksi bersama yang diselenggarakan oleh Jaringan Solidaritas Kemanusiaan untuk Korban Perdagangan Manusia dengan mengundang tokoh-tokoh agama di Kota Kupang, untuk memperingati Hari Doa Sedunia dan Kesadaran Melawan Perdagangan Manusia (The International Day of Prayer and Awareness Against Human Trafficking). Doa yang diselenggarakan ini sekaligus untuk memperingati Santa Josephine Bakhita, Pelindung Korban Perdagangan Manusia dan Perbudakan. Bukan tanpa alasan, doa yang dilakukan pada hari ini adalah suatu respon positif terhadap ajakan Paus Fransiskus pada Doa Angelus, 08 Februari 2015 yang berharap agar para pemimpin pemerintahan dapat bekerja dengan tegas dan berkomitmen untuk menjadi suara bagi saudara dan saudari kita, yang telah dihina dalam martabat mereka.


Jalan panjang di tempuh oleh Tim Jaringan Anti Perdagangan Orang di Kupang, agar hari doa bersama dapat terlaksana dengan baik. Dimulai dari pertemuan-pertemuan antara tim yang dilakukan sebanyak empat kali pertemuan, penyebaran undangan kepada paroki-paroki dan gereja-gereja Protestan, persiapan untuk dekorasi, sampai pada dekorasi yang dikerjakan pagi tadi. Tim Jaringan Anti Perdagangan Orang bekerja sama agar pembuatan dekorasi untuk doa dan refleksi bersama yang terjadi sore hari ini berjalan dengan baik.

Proses pengerjaan dekorasi berjalan dengan baik, sesuai dengan arahan Suster Laurentina, PI bahwa dimulai pukul sepuluh pagi, dari biara, aku dan suster Laurentina, PI dijemput Pak Herman Seran menuju lokasi. Mungkin karena hujan yang enggan berhenti sejak pagi, sehingga belum ada satu pun yang menampakkan diri di aula Paroki Gereja Santa Maria Assumpta. Bisa dimengerti karena memang cuaca tidak mendukung. Suster Elisa, PI dan suster Matilda, PI menyusul kami, mereka tiba dengan memakai motor dan berbalut mantel hujan. Aku dan Suster Laurentina, PI sudah memulainya terlebih dahulu, mengatur kursi-kursi plastik sebanyak 150 kursi. Berharap agar yang hadir bisa lebih dari 150 orang. Suster Elisa, PI langsung mengerjakan bagiannya, untuk penataan satin dan bebungaan memang dipercayakan kepada suster Elisa, PI. Ini karena suster Elisa, PI memiliki jiwa seni, sedangkan kami lebih memilih untuk melakukan pekerjaan yang lain. Tidak lama kemudian kami mendapatkan bala bantuan, Pak Eljid dari IRGSC datang membawa mahasiswa/i yang magang di kantornya. Lalu Pak Herman yang sempat pulang sebentar akhirnya kembali, Kakak Yanto yang juga datang membawa bantuan. Dekorasi dibuat hampir sama dengan saat doa refleksi bersama yang digelar di Biara Susteran PI Nasipanaf, dengan memajang foto Santa Josephine Bakhita di tengah dengan lilin-lilin yang diatur membentuk pola hati di depannya. Bunga-bunga plastik disusun disamping foto yang sudah dihiasi kain satin beraneka warna, lalu ada tanaman hidup yang dipajang untuk mempercantik dekorasi. Hasilnya sangat memuaskan dan layak sesuai dengan keringat yang dikeluarkan.



Matahari muncul malu-malu dari balik awan gelap yang menggulung, angin mengusir gulungan itu hingga biru bersinar. Hujan tidak akan menampakkan dirinya lagi. Usai makan siang, kami semua pulang. Awalnya aku dan suster Laurentina, PI memutuskan untuk tetap tinggal berjaga di aula, tapi bersyukur sekali karena Kakak Yube dan Kakak Aris dari GMIT datang dan menawarkan diri untuk berjaga sehingga kami bisa pulang untuk membersihkan diri.

Pukul 15.00 WITA, kami tiba di aula. Masuk ke dalam, kami mendapati anak-anak JPIT yang tengah berlatih. Mereka memang akan menampilkan musikalisasi puisi. Sebuah puisi yang diciptakan oleh salah satu teman mereka. Di atas meja sudah tersedia beberapa snack, ada pisang rebus, jagung rebus dan gorengan, di bawah meja ada beberapa dus akua. Makanan yang tersedia itu merupakan sumbangan dari beberapa tim jaringan, ada pula dari para suster kongregasi yang diundang. Semua turut berpartisipasi, membuka tangan dan membantu kami. Kami tidak bekerja sendiri, namun bersama-sama bergandengan tangan agar doa hari ini berjalan dengan baik dan juga menyatukan hati untuk mengatakan TIDAK pada Perdagangan Orang.

Matahari meredup, sinarnya menjingga. Hampir tiba waktunya untuk memulai kegiatan. Kursi-kursi sudah diduduki oleh peserta, meskipun masih banyak yang kosong namun kegiatan tetap harus dilaksanakan. Sebelumnya, sambil menunggu acara dimulai kami memutarkan video Kabar Dari Medan untuk ditonton bersama-sama agar peserta yang ada bisa menelaah kembali hati dan batin mereka untuk merasakan penderitaan para korban dilanjutkan dengan musikalisasi puisi oleh teman-teman dari JPIT. Beginilah puisi dengan judul Perempuan-Perempuan Pinggiran yang dibagikan bagi kami semua.



Mengayun langkah menenun mimpi
Mengasah tekad membangun harapan
Berjuang untuk hidup yang lebih baik
Perempuan-perempuan pinggiran

Ayunan langkah menjadi berat
Mimpi yang dirajut menjadi kelam
Tekad dan harapan menjadi sirna
Perempuan-perempuan pinggiran

Tertipu si tukang doa
Terjebak permainan pemilik modal
Tak berdaya dalam genggaman sang majikan

Mimpi, tekad, dan harapan belum berakhir
Mereka adalah kita
Mari berjuang dengan mereka
Keadilan milik perempuan-perempuan pinggiran

Pak Herman Seran berdiri di hadapan kami semua. Dengan kertas di tangannya, ia sudah siap untuk membuka kegiatan ini. Beliau mengucapkan selamat datang kepada semua yang ada di aula, kepada para toko agama, para biarawan/i, aktivis-aktivis, juga umat-umat Allah yang menyempatkan untuk hadir dan berdoa bersama kami. Lalu melanjutkan dengan membagikan profil Santa Josephine Bakhita secara singkat, lalu mengakhirinya dengan mengajak kita semua agar memiliki spirit yang sama dengan Santa Josephine Bakhita, mensyukuri keberuntungannya dengan membaktikan diri untuk membantu sesamanya, dan dari situlah Tuhan dipermuliakan. Pak Herman lalu mengajak untuk bergandengan tangan dan mengatakan TIDAK kepada Perdagangan Orang dan menyerahkan waktu sepenuhnya kepada Mama Pendeta Pao Ina-Ngefak memimpin doa sebagai pembuka kegiatan Hari Doa Internasional dan Kesadaran Menentang Perdagangan Manusia di Kupang, NTT.

Kenyataan memang tidak selalu sesuai dengan rencana. Awalnya kami memang tidak memikirkan untuk ada seseorang yang menjadi MC, namun sore ini kami mengutus Kakak Aris untuk mengatur agar acara berjalan dengan baik. Usai doa, Kakak Aris mempersilakan Kakak Abner untuk berpuisi di hadapan kami. Puisi dengan judul Bacerita NTT ini sungguh menyita perhatian semua orang, puisi dengan logat khas NTT ini menceritakan tentang seorang kakak yang meminta adiknya yang bernama Welmince agar menikah dengan Bernadus, pemuda di kampung daripada merantau di negeri orang mencari uang.

“Welmince, kalo nanti ada yang kirim beta pulang, kepada bapa tolong bilang sonde usah buka peti, kepada mama tolong bilang beta masih utuh, sonde ada yang ilang. Biar semua tenang.”

Itulah bait terakhir dari puisi yang dibacakan. Bait terakhir yang membuat kami berpikir, lalu menyingkronkan dengan kenyataan yang hidup ada di lapangan. Kepada jenazah-jenazah yang pulang tanpa organ-organ dalam tubuhnya. Hilang diambil oleh mafia-mafia untuk dijual, mafia-mafia tanpa nurani yang mementingkan diri.

Acara dilanjutkan, suster-suster Cannosian membagikan kepada kami kisah hidup Santa Josephine Bakhita, dari awal ia lahir, diculik hingga pemberian nama oleh para penculik kepada Bakhita kecil. Bakhita yang artinya beruntung. Lalu tahun-tahun ia berpindah majikan, sampai ia bertemu dengan para suster Cannosian dan memantapkan hatinya untuk menjadi seorang suster. Ia dengan sepenuh hati, sepenuh jiwanya melayani anak-anak di panti asuhan, menjaga agar sup tetap panas untuk dinikmati para suster juga anak-anak. Karena kebaikan hatinya, ia dipanggil Suster Morreta. Ia tetap siap sedia dalam segala keadaan apapun, entah resiko apa yang dihadapi, hingga akhirnya ia menutup mata pada 08 Februari 1947. Hidup seorang Bakhita tanpa penyesalan, ia selalu mengampuni dan mendoakan orang-orang yang pernah menganiayanya. 


Di dalam Yesus saya telah menemukan arti kasih Allah yang tanpa batas 
(Santa Josephine Bakhita).



Dari para suster Cannosian yang sudah membagikan kisah hidup Santa Josephine Bakhita, kegiatan berlanjut. Para tokoh agama yang hadir diberikan kesempatan untuk menyampaikan tanggapan reflektif mereka masing-masing, di mulai dari Abba Makarim, tokoh agama Islam yang hadir dalam doa sore hari ini. Beliau berharap agar akan ada kerjasama yang baik dari semua pihak tanpa memandang latar belakang apapun untuk memerangi isu global ini, dilanjutkan dengan tanggapan reflektif dari seorang masyarakat sipil. Ada jeda sebentar karena waktu yang menunjukkan pukul 18.00 WITA, dipimpin oleh suster Pauline, Camellian semua menunduk dan berdoa Angelus. Usai doa, dilanjutkan dengan para frater CMF yang menyanyikan lagu dengan judul Mama Cepat Pulang. Lagu ini menceritakan seorang ibu yang sudah terlalu lama merantau dan dirindukan oleh anak-anaknya, meskipun kebutuhan materi mereka terpenuhi namun kasih sayang seorang ibulah yang lebih didamba oleh anak-anak yang ditinggalkan. Ada beberapa lirik yang diubah, melihat budaya orang NTT khususnya di tanah Timor ini seperti goyang Tebe (tarian khas orang Belu). Dilanjutkan dengan tanggapan reflektif dari seorang pater, ia mengatakan bahwa akan siap sedia membantu dalam bentuk apapun jika suatu waktu tim jaringan memiliki kendala, semoga itu tidak hanya menjadi ucapan belaka. Pak Timotius dari BP3TKI pun turut serta memberikan tanggapan reflektifnya sebagai pihak pemerintah yang hadir dalam doa bersama ini. Beliau mengungkapkan kenyataan yang ada di lapangan dalam setiap penjemputan jenazah, kendala-kendala yang dihadapi, namun tetap setia sampai jenazah PMI yang dikirimkan sampai di tangan keluarga dan dikuburkan secara layak di bumi NTT ini.



Acara berlanjut, usai tanggapan reflektif itu, Monologia Bahasa Tubuh ditampilkan oleh Kakak Anggi, seorang anak didikan dari Sastrawan NTT, Abdi Keraf. Monolog Bahasa Tubuh ini ditampilkan dengan apik dan sangat luar biasa bagus, mengundang setiap insan yang hadir memperhatikan dengan seksama gerakan-gerakan tubuh dan lirik-lirik yang diucapkan.



‘Tidak cukupkah kau menyiksaku?
Dengan semua omong kosongmu selama bertahun-tahun itu
Belum puaskan kau merayuku dengan janji-janji palsu
Hingga aku muak dengan segala kepalsuanmu’

Itulah sepenggal bait pembuka yang diucapkan oleh Kakak Andi. Puisi karya Abdi Keraf ini dibacakan dengan gerakan tubuh yang indah dan memukau oleh Kakak Anggi. Usai monologia Bahasa Tubuh ini, acara hampir berada di puncaknya. Mama Pendeta Emmy dan Suster Laurentina, PI berdiri di hadapan kami semua. Mereka menyampaikan perasaan mereka masing-masing tentang kegiatan ini juga isu Perdagangan Manusia yang tidak ada akhirnya ini.




“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Untuk itulah kami meminta bantuan dari semua pihak, semua yang hadir agar bisa memerangi Perdagangan Orang di NTT yang tidak ada ujungnya ini.” Satu ungkapan dari Suster Laurentina, PI dilanjutkan dengan Mama Pendeta Emmy yang berharap agar dengan doa yang terjadi hari ini menumbuhkan spirit baru, yang sama dengan spirit yang dibagikan oleh Santa Josephine Bakhita kepada semua yang hadir untuk melayani bersama, membantu para korban dan mengatakan tidak pada Perdagangan Orang. Satu per satu tokoh agama dipersilahkan untuk menyalakan lilin yang tersedia, di mulai dari pater dan berlanjut kepada semua yang hadir. Ada yang tak mampu menahan air mata, setulus hati berdoa, mengharapkan keadaan yang lebih baik untuk bumi NTT ini. Kegiatan dan dan refleksi bersama untuk memperingati Hari Doa Internasional Dan Kesadaran Menentang Perdagangan Manusia ditutup dengan semua berdiri, bergandengan tangan dengan menyanyikan lagu Flobamora, meresapi setiap lirik dan mengingat saudara/i yang terlebih dahulu berpulang dinegeri orang, menanamkan semangat baru untuk melayani sesama tanpa memandang bulu.


Flobamora tanah airku yang tercinta
Tempat beta dibesarkan ibunda
Meski beta lama jauh di rantau orang
Beta inga mama janji pulang e

Biar pun tanjung teluknya jauh tapele nusa ku
tapi slalu terkenang di kalbuku

Anak timor main sasando dan manyanyi bolelebo
Rasa girang dan badendang pulang e
Hampir siang beta bangun sambil managis
mengenangkan flobamora lelebo

Rasa dingin beta ingat di pangku mama 
Air mata basa pipi
Sayang e …

Semoga semangat untuk memerangi Perdagangan Orang di NTT tetap terus menyala di hati kami. Meskipun lilin yang dibakar sudah habis sumbunya, dan meleleh lalu mengering, namun api itu tetap abadi dalam hati. Dengan semangat melayani seperti yang diajarkan oleh Santa Bakhita kepada kami semua melalui kisah hidupnya yang pilu dan derita, namun karena kasih Allah lah ia bisa tetap melayani. Kata-kata Santa Bakhita yang mengatakan bahwa ia adalah seorang hamba, juga mengajarkan kepada kita untuk melayani terlebih dahulu daripada dilayani. Amin.