Tuesday, October 29, 2013

Dari Ide Berlari Sampai Menuju Garis Akhir

Sekadar Pengantar

Melihat peliknya persoalan yang mewarnai buruh migran, Gereja Katolik terpanggil untuk semakin membuka mata terhadap tragedi kemanusiaan ini. Sebagai salah satu bagian dari Gereja Katolik, Serikat Jesus Provinsi Indonesia melalui perkumpulan relawan Sahabat Insan <www.perkumpulansahabatinsan.blogspot.com> memberikan pertolongan kepada mereka, orang-orang terbuang, yang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan.

Mengingat karya ini merupakan karya sosial yang sangat tergantung dari kemurahan hati orang-orang, maka Romo Benny Juliawan SJ yang memikul tugas bagi buruh migran se-Asia Pasifik melakukan "charity run" (lari demi kasih), untuk membantu pembiayaan usaha ini. Kini, dia tinggal di Jakarta dan berperan sebagai staf ahli Sahabat Insan.

Untuk itu, ajakan untuk menyatakan kemurahan hati diedarkan. Sampai tanggal 29 Oktober 2013, jumlah donasi yang telah terkumpul sebesar Rp88.818.200,00 yang terdiri atas Rp78.988.000,00, USD 600, dan GBP 200. Bagi para penderma yang mau memeriksa apakah sumbangannya telah diterima, silahkan mengirim email ke . Atau bagi mereka yang ingin tahu lebih jauh penggunaan uang ini mendatang, dapat juga mengirimkan surat ke alamat surat elektronik tersebut.

Atas kemurahan hati para donatur, bersama para korban buruh migran dan trafiking, kami sampaikan terima kasih.

Berikut ini merupakan surat yang ditulis oleh Romo Benny Juliawan SJ.
 _______________________________________________________________________

Dari Ide Berlari Sampai Menuju Garis Akhir

Di hari pemakaman Rm Ignatius Sumarya, SJ, saya hendak membagikan pengalaman mengikuti ajang Jakarta Marathon 2013 lalu sebagai bentuk hormat saya pada beliau dan pertanggungjawaban saya kepada para donatur dan pendukung. Saya menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya ide ini. 

Olah raga lari sebenarnya merupakan hobi baru ketika saya menempuh studi di Inggris pada masa 2005—2010 yang lalu. Awalnya sederhana. Saat itu, olah raga kegemaran saya adalah berenang, tetapi letak kolam renang kampus terlalu jauh dari Campion Hall, rumah Jesuit tempatku tinggal di kota Oxford. Bayang-bayang bila harus bersepeda ke sana di saat musim dingin sekadar untuk berenang langsung membuat persendian pegal-pegal. Sebaliknya, di dekat rumah ada taman besar yaitu ChristChurch Meadow, yang sebenarnya adalah halaman mahaluas milik ChristChurch, college terbesar di lingkungan Universitas Oxford. Para pecinta film “Harry Potter” akan mengenal college ini karena ruang makan di sini dipakai sebagai seting Hogwart’s Hall. ChristChurch Meadow terletak di bibir sungai Thames dengan jalan setapak mengitari lapangan tempat sapi-sapi merumput, menyisir tembok lama kota Oxford, sepanjang lapangan rugby dan di beberapa tempat jalan ini diapit oleh dereten pohon oak perkasa yang daun-daunnya memerah bagaikan pigura lanskap itu di musim gugur. Satu putaran sepanjang kira-kira 1,2 mil atau 2 kilometer. Dari rumah, tempat tinggalku, ibaratnya tinggal ngesot saja, sudah sampai di taman itu. Segera saya jatuh cinta padanya.

Sejak saat itu, olah raga lari menjadi kegiatan rutinku di tengah-tengah kesibukan kuliah dan menulis disertasi. Lari sudah seperti terapi lahir batin buatku. Yang semula hanya kuat satu putaran, perlahan-lahan menjadi tiga putaran. Yang semula hanya di ChristChurch Meadow sekarang merambah ke berbagai tempat. Boleh dikatakan tak ada taman kota, lapangan dan jalur setapak pinggir sungai Thames di Oxford yang belum pernah kuinjak-injak dengan sepatu lariku. Beberapa temanku sesama penggemar lari kemudian memperkenalkan sisi-sisi lain dari olah raga ini.

Pada bulan April 2010 saya diajak untuk mengikuti lomba lari 10 kilometer tahunan yang diselenggarakan di kota Oxford, namanya “Oxford Town and Gown”. Lomba ini diorganisir oleh sebuah yayasan amal bagi penyakit muscular dystrophy atau sejenis penyakit degeneratif pelemahan otot. Selain berlari, panitia mengajak para peserta untuk berlomba-lomba mengumpulkan dana bagi yayasan amal ini dan bagi kegiatan-kegiatan sosial lain yang dipilih sendiri oleh peserta. Saya memilih untuk mengumpulkan dana bagi karya Serikat Jesus di daerah misi melalui perkumpulan Jesuit Mission yang berpusat di London. Inilah perkenalanku dengan kegiatan amal melalui olah raga.

Idenya begini. Saya akan berlari demi suatu tujuan, bukan menang atau mendapat hadiah, melainkan demi tujuan beramal dan berkampanye mengenai suatu tema yang menjadi keprihatinanku. Aktivitas fisik yang cukup berat seperti berlari 10 kilometer atau lebih menjadi tantangan yang akan menarik perhatian orang untuk mendukung usaha ini. Dalam hal donasi, ini tidak jauh berbeda dengan seorang uskup atau tokoh masyarakat yang bernyanyi dan lagunya “dijual” kepada orang yang hadir dalam suatu jamuan makan malam untuk penggalangan dana. Bedanya, yang dijual di sini bukan suara emas penyanyi amatiran itu melainkan aktivitas fisik dan keringat pelari amatiran. Lomba larinya boleh diadakan oleh siapa pun, yang penting sebagai penggalang dana saya ikut lari sebagai peserta. Panitia lomba tidak punya urusan apa pun dengan misi pribadi saya.


Proses penggalangan dana semacam ini berlangsung berbulan-bulan sebelum hari-H itu sendiri. Tim kampanye dan promosi sibuk membuat brosur, poster, mengirim email ke berbagai kenalan, dan pergi ke sana-sini menerangkan tujuan dan isu-isu yang diperjuangkan dalam karya ini. Si atlet amatiran, ikut berkampanye dalam berbagai forum sambil tetap berlatih.

Maka, ketika seorang teman mengajakku untuk ambil bagian dalam half-marathon di ajang Jakarta Marathon 2013, saya langsung berpikir untuk sekalian menggalang dana. Saya lantas berbicara kepada Rm. I. Ismartono, direktur Sahabat Insan, yang langsung antusias mendukung ide ini. Karena saat ini saya bekerja bagi karya gereja untuk buruh migran, tema inilah yang hendak saya jadikan kampanye. Bersama teman-teman Sahabat Insan, kampanye kami gelindingkan melalui brosur, email dan perjumpaan-perjumpaan dengan berbagai kelompok. Semula saya agak ragu-ragu mengenai prospeknya karena cara ini tidak lumrah, namun ternyata sambutannya meriah. Banyak orang tergelitik dan penasaran dengan cara menggalang dana semacam ini. Ketertarikan inilah yang kemudian kami pakai untuk mengenalkan mereka pada persoalan-persoalan yang dihadapi para buruh migran Indonesia. Dana dengan sendirinya terkumpul karena orang tertarik.

Bersamaan dengan itu, sekelompok pelari yang tergabung dalam klub “CaniRunners” hendak melakukan penggalangan dana bagi sekolah-sekolah yang dikelola oleh Serikat Jesus melalui ajang olah raga yang sama. Mereka adalah para alumni Kolese Kanisius Jakarta dan didukung oleh Provinsial atau pemimpin Serikat Jesus di Indonesia. Sebagian besar dana yang terkumpul nantinya akan disumbangkan bagi perbaikan dapur di asrama Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang. Ini dapur yang sama yang pernah memberiku makan selama empat tahun tinggal di sana antara 1990-1994. Di sinilah Rm Ignatius Sumarya, rektor seminari ini, mulai terlibat. Romo Marya, demikian ia dikenal, berusia 60 tahun dan amat jarang sakit. Jogging dengan langkah kecil-kecil adalah olah raganya yang setia ditekuninya. Tanyalah pada warga seminari yang kerap menyaksikannya melakukan aktivitas ini di seputar lapangan bola. Beliau hendak ikut berlari juga dalam kategori 5 kilometer, jarak paling pendek dalam ajang Jakarta Marathon. Beberapa rektor dan direktur sekolah-sekolah Jesuit yang lain juga menyatakan kesediaannya untuk bergabung. 


Pada tanggal 27 Oktober 2013 dini hari, baik peserta, maupun bukan menuju tempat perhelatan di lapangan Monas, Jakarta Pusat. Rm Ignatius Sumarya sudah hadir di Jakarta sehari sebelumnya, menggunakan pesawat terbang dari Yogyakarta. Beliau dalam keadaan sehat dan gembira seperti biasa. Bahkan malam sebelumnya menjelang pukul 10 saya sempat ngobrol berdua dengannya di depan kamar di Kanisius. Dengan antusias Romo Rektor Seminari ini bercerita mengenai rencananya merenovasi dapur seminari yang sudah layak jadi barang museum itu. Pagi harinya, saya masih sempat mengucapkan selamat berlari kepadanya ketika berpisah di lapangan Monas. Saya start lebih awal karena jarak yang saya tempuh lebih panjang.

“And the rest is history…,” begitu kata orang. Saya masih tenggelam dalam euforia dan mabuk adrenalin karena berhasil menyelesaikan jarak 21 kilometer ketika berita duka itu datang. Tentu saja saya dan teman-teman semua terkejut. Benar-benar di luar dugaan. Setelah mencermati berbagai informasi, dugaan saya Romo Marya berlari melebihi kemampuan karena merasa dipicu oleh suasana kompetitif di sekitarnya. Bagi yang pernah mengikuti ajang lari semacam ini, salah satu musuh bagi pelari adalah ritme yang didiktekan oleh orang lain, sesama pelari di sekitar kita. Bila kita tidak mampu menjaga ritme yang sudah kita tetapkan sendiri, strategi lari kita akan berantakan dan bisa berakhir fatal. Namun, ini hanya dugaan. Selebihnya saya tidak tahu persis dan mungkin tidak akan pernah tahu. Yang lebih penting saat ini adalah meneruskan cita-citanya bagi pendidikan kaum muda di seminari. Romo Marya, selamat jalan!

"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya." (2Tim 4:7-8)

Terima kasih.
Salam,
Benny