Wednesday, March 13, 2019

Sosialisasi “Bahaya Human Trafficking” untuk Komunitas Persink

Hari Sabtu (8/3/2018) Arta, Saraswati dan Ibu Ibnurini memberikan sosialisasi “Bahaya Human Trafficking” untuk Komunitas Persink (Persaudaraan Siswa-Siswi Negeri Katolik) di Jl Kramat VII No. 25. Acara yang dihadiri 15 orang siswa siswi Katolik yang bersekolah di SMA Negeri Jakarta ini dimulai tepat pada pukul 10.00 WIB.

Frater Bary dan Frater Arnold yang merupakan frater SJ dan sekaligus pendamping Komunitas Persink, menyambut kedatangan para pembicara dan peserta dengan hangat. Setiap orang yang memasuki ruangan akan memberikan salam hangat kepada semua orang yang sudah berada di dalam ruangan.

Sebelum memberikan materi mengenai Bahaya Human Trafficking yang sedang marak terjadi, Ibu Ibnurini terlebih dahulu memperkenalkan Komunitas Sahabat Insan kepada semua peserta. “Komunitas Sahabat Insan itu merupakan perkumpulan orang-orang yang bersahabat satu dengan yang lain karena iman kekatolikannya. Sama seperti kalian sekarang, meskipun berasal dari sekolah yang berbeda-beda, kalian akhirnya bertemu di tempat ini dan saling mengenal satu dengan yang lainnya,” ujarnya membuka acara. Ia menjelaskan bahwa hubungan persahabatan yang terawat dengan baik melalui komunikasi yang intens, mampu menciptakan sebuah hubungan harmonis dan awet hingga kapan pun. “Oleh karena itu kalian harus bisa merawat hubungan persahabatan kalian dalam komunitas kalian ini, komunitas Persink agar semuanya merasa saling memiliki dalam persaudaraan. Jadi meskipun kalian tidak punya saudara kandung, kalian akan punya saudara yang banyak jika kalian bisa merawat persahabatan ini, sama seperti kami dulu ketika menjadi mahasiswa romo,” ujarnya lagi.

Melalui kesempatan ini, Ibu Ibnurini juga menjelaskan kegiatan bersama yang sudah dilakukan Sahabat Insan dalam menangani dan ambil bagian memecahkan permasalahan bangsa ini, salah satunya dengan memberikan bantuan ketika Peristiwa Tsunami di Aceh Tahun 2004 silam. “Jadi saat tsunami Aceh tahun 2004 yang lalu memporak-porandakan Aceh, Romo Ignatius Ismartono SJ segera menghubungi kami, mantan mahasiswanya yang dulu bergabung dalam sebuah komunitas Kramat VII untuk berbuat sesuatu. Akhirnya kami mengumpulkan berbagai jenis bantuan makanan, pakaian dan barang-barang lainnya yang dibutuhkan. Tak hanya itu, ketika bantuan tak lagi datang dari pihak manapun, kami tetap memberikan bantuan yang sangat berguna bagi masa depan anak-anak Aceh yakni bantuan pendidikan dengan memberikan beasiswa S1 kepada 100 orang anak Aceh hingga mereka bisa bangkit lagi menata masa depannya,” tuturnya.

Ia kemudian menjelaskan karya lain yang dijalankan oleh Sahabat Insan  seiring berjalannya waktu yakni penanganan migran yang merupakan korban eksploitasi dari kegiatan human trafficking“Jadi saat ini kami fokus untuk menangani permasalahan PMI yang menjadi korban human trafficking oleh orang-orang di sekitarnya dan oknum-oknum yang terlibat. Oleh karena itu, kami mengirimkan seorang relawan yakni orang muda dan yang rela agar membantu langsung proses penanganan korban human trafficking dari akar rumputnya di NTT selama 9 bulan,” ujarnya sambil memperkenalkan Arta dan Saraswati.

Sebagai seorang relawan, Arta yang bergabung dalam karya pelayanan Kerasulan Anti Human Trafficking oleh susteran PI (Penyelenggaraan Ilahi) mempresentasikan tentang Bahaya Human Trafficking dan seputar pengalamannya di lapangan. “Ada banyak kasus PMI yang menjadi korban human trafficking yang kami dampingi di NTT, mulai dari korban hidup maupun yang sudah meninggal,” ujar Arta membuka presentasinya. Ia kemudian menjelaskan definisi perdagangan orang berdasarkan Undang-Undang No 21 pasal 1 tahun 2007. Melalui pemaparannya, ia juga menjelaskan tentang proses awal perekrutan hingga akhirnya menjadi korban eksploitasi dan berujung pada kematian di negara penempatan. “Selama saya membantu penanganan korban human trafficking sudah ada 50 jenazah yang dipulangkan terhitung dari April 2018 hingga Januari 2019,” ujarnya. Ia juga menjelaskan berbagai permasalahan yang dialami oleh PMI yang berhasil dipulangkan ke Tanah Air dalam keadaan hidup. “Ada beberapa yang berhasil kami pulangkan dalam keadaan hidup namun membawa permasalahan tersendiri. Beberapa dari antara mereka tertekan batin, stres dan bahkan pulang dalam keadaan tidak waras,” ujarnya sambil menayangkan beberapa video penjemput jenazah yang dialami di Kargo Bandara El Tari Kupang.

Pada sesi selanjutnya, Saraswati menjelaskan tentang Bahaya Human Trafficking yang bisa saja terjadi disekitar para peserta. “Tidak tertutup kemungkinan kalau permasalahan human trafficking yang memperdaya penduduk NTT tersebut bisa melanda penduduk kota seperti Jakarta melalui kecanggihan teknologi yang ada sekarang, yakni melalui internet,” ujarnya. Ia memaparkan beberapa bahaya yang ditimbulkan dari berbagai situs online yang digunakan oleh para trafficker untuk memperdaya korbannya. “Nah, bagi kamu yang suka bermain media sosial tolong berhati-hati karena kamu bisa secara tidak sadar diperdaya oleh trafficker dan kamu sudah menjadi korbannya. Jangan sampai kamu kehilangan segalanya karena masuk dalam perangkap si pelaku yang kasat mata,” ujarnya. Ia kemudian menjelaskan bagaimana usaha trafficker dalam memperdaya korbannya melalui berbagai aplikasi yang harus diwaspadai. Selain itu, ia juga memberikan beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mewaspadai berbagai taktik jitu trafficker“Apalagi bagi kalian yang nantinya akan melamar kerja, tolong memeriksa dengan cermat alamat website perusahaan yang kalian lamar karena ada banyak perusahaan yang ingin mendapatkan data kalian dan kemudian memanfaatkannya untuk meraup keuntungan dengan data diri kalian,’ ujarnya lagi. Ia juga memperkenalkan beberapa situs resmi yang bisa digunakan oleh para pencari kerja agar tidak terpedaya oleh trafficker dan untuk melindungi dari dari pelaku kejahatan lainnya.

Di akhir acara, peserta mengadakan diskusi mengenai kasus Human Trafficking yang telah dipaparkan oleh kedua relawan. Sebagian besar dari mereka mengaku tidak mengetahui berbagai praktik human trafficking yang sedang terjadi, baik di NTT maupun di sekitar mereka.


Acara ditutup dengan permainan ringan asah otak yang mempertajam konsentrasi dan berfoto bersama. Mereka sangat berterimakasih atas kegiatan yang sudah diberikan secara gratis dan bermanfaat. “Kami sangat bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada teman-teman dari Sahabat Insan karena sudah memberikan waktu, tenaga dan pencerahannya kepada kami semua yang hadir sehingga kami mengetahui berbagai permasalahan human trafficking yang ternyata ada di sekitar kita,” ujar frater Barry. Ia berharap melalui kegiatan ini, pengetahuan para peserta mengenai human trafficking bisa digunakan sebagai senjata untuk memerangi dan menangkal kejahatan yang terorganisir“Semoga teman-teman bisa menjadi perpanjangan lidah untuk mewartakan kabar yang bermanfaat ini untuk mencegah praktik human trafficking di tengah masyarakat kita,” tutupnya.