Thursday, March 28, 2024

Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam

Catatan perjalanan Sr. Laurentina, SDP bertemu dengan para ABK di Taiwan, Maret 2024

*********************

Keprihatinan

Berkisah tentang nasib pekerja migran di Indonesia kiranya tidak akan ada selesainya. Mereka tersebar di beberapa negara di seluruh dunia. Namun saat ini yang akan saya ceritakan adalah di sekitar Asia Pasifik terutama negara-negara berkembang seperti Malaysia, Philipina, Taiwan, Hongkong, Korea dan Jepang. Para pekerja migran sektor domestik maupun perikanan punya perjuangan dan tantangannya sendiri. Tidak banyak NGO yang menjadi teman, untuk mendengarkan keluh kesah mereka saat mereka mengalami kesulitan. Belum lagi melihat persoalan para pekerja non-prosedural yang sangat rumit permasalahannya. Konon informasi yang saya dapatkan bahwa para pekerja migran ABK kebanyakan berangkat melalui PT yang bekerja sama dengan agen di negara penempatan dengan biaya yang lumayan. Dari sharing yang saya dengar bahwa biaya melalui PT beberapa tahun lalu sekitar 20 juta. Ini sudah termasuk biaya untuk mengurus paspor dan dokumen lain yang diperlukan untuk pemberangkatan.

Suka duka

Hal yang sangat ditunggu selain terima gaji adalah ketika kapal sandar karena mereka dapat istirahat, bisa kumpul dengan teman temannya untuk sharing dan berdiskusi, jalan-jalan, dapat kontak dengan keluarganya dan yang paling penting mereka dapat melakukan ibadat/sholat dengan layak. Namun sebelumnya kami gunakan untuk memperbaiki jaring ketika ada yang rusak dan membersihkan kapal.Karena ketika berlajar di lautan lepas yang dilihat hanya lautan saja, dan sangat tidak menyenangkan kalau saat bekerja mendadak sakit.

Kasus perbudakan ABK asal Indonesia ini bukanlah hal yang baru saya dengar. Hampir setiap tahun ada kasus-kasus kapal tenggelam bersama ABK, perlakuan tidak manusiawi terhadap ABK, bekerja lebih dari 20 jam sehari, dan menggunakan buku pelaut palsu. Bahkan beberapa waktu lalu banyak kisah tentang ABK yang meninggal di kapal dan langsung dibuang ke laut. Jika ada kematian di atas kapal, kasusnya menjadi begitu rumit, 

terutama untuk pemeliharaan jenazahnya. Jenazah jadi sangat mudah membusuk dan akibatnya dibuang ke laut secara tidak manusiawi.

Kunjungan ke Pelabuhan Patoco

Pada hari ketiga pertemuan JCAP jaringan migran dan pengungsi di Taipei bulan Maret lalu, diadakan kunjungan ke lapangan. Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Pelabuhan Patoco. Para peserta ke sana dengan didampingi oleh seorang staf Rerum Novarum, lembaga pemerhati migran di bawah naungan para Romo Jesuit Taiwan. Dalam perjalanan ke pelabuhan tersebut, Pak Jason Lee sebagai pendamping ABK di Pelabuhan tersebut menjelaskan

bahwa ABK yang ia dampingi 90% berasal dari negara Indonesia. Selebihnya orang Philipina, Vietnam dan Malaysia. Menurut pak Jason Lee, orang Taiwan sangat senang dengan ABK dari Indonesia karena mereka penurut dan jarang protes. 

Sesampai di pelabuhan, Pak Jason bertemu pimpinan pelabuhan dan kami dipersilahkan untuk masuk area pelabuhan tersebut. Saat kunjungan, kebetulan cuaca sedang kurang bersahabat. Angin bertiup kencang sehingga banyak kapal yang berlabuh. Dan aktifitas para nelayan yang kami lihat saat itu adalah sedang memperbaiki jaring. Saya langsung menyapa mereka dengan bahasa Indonesia. Kelihatan wajah mereka merasa senang bahwa ada yang menyapa memakai bahasanya. Memang sangat memprihatinkan bahwa hampir semua para ABK  tidak  bisa bahasa Taiwan. Menurut pengakuan mereka, sehari-hari mereka berkomunikas dengan bahasa isyarat, kecuali yang sudah lebih dari 5 tahun mereka bisa komunikasi dengan bahasa Taiwan. Dari beberapa yang berkomunikasi dengan saya, mereka kebanyakan dari kota-kota pinggir pantai seperti Brebes, Pemalang, Tegal, Cirebon, Tuban dan Gersik dan sudah terbiasa bekerja sebagai nelayan di daerahnya.

Perjuangan ABK

Bersama rombongan JCAP saya ngobrol singkat dengan beberapa nelayan tersebut. Mereka ada yang baru 4 bulan beekrja di sana, 1 tahun bahkan ada yang sudah sampai 10 tahun lebih. Saat ngobrol saya sempat tanya tentang gaji  mereka dan  hampir semua menjawab yang sama yaitu 25 NT ( uang Taiwan = 12 juta/bulan). Saya juga sempat bertanya bisakah kontak dengan keluarga dan dapat mengirimkan gajinya ke keluarga. Syukur pada Allah mereka dapat mengirimkan hasil jerih payahnya untuk kebutuhan keluarga di kampungnya. Namun saat saya tanya ketika sakit bagaimana, dapat berobat ke rumah sakit atau tempat pengobatan di sekitar pelabuhan, saat itu mereka bilang, kalau sakit mereka bilang sama agen/bosnya dan akan diberi obat. Namun seringkali mereka langsung pergi ke rumah sakit secara mandiri, dengan alasan sungkan untuk minta majikannya terus jika sakit. Padahal mereka mempunyai hak, jika mereka sakit itu sudah memang tanggung jawab majikannya. Ini yang seringkali tidak diketahui para ABK, mereka tidak mengetahui hak mereka sebagai pekerja. Seharusnya ketika mereka tanda-tangan kontrak kerja, mereka mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Namun para ABK  kita seringkali tidak mau ribut dengan majikan, yang penting gaji lancar dan majikan tidak marah-marah itu sudah cukup bagi mereka.

Namun dalam realita, terkadang juga banyak ABK yang diperlakukan secara tidak adil, seperti putus kontrak secara sepihak, pemotongan gaji, penahanan dokumen, dan yang sering terjadi jam kerja melebihi batas waktu hingga kekerasan fisik. Maka perjuangan para pemerhati pekerja migran Anak Buah Kapal adalah perbaikan tata kelola perekrutan, penempatan dan perlindungan ABK, sehingga perusahaan/agen dapat terawasi dengan baik.

Pelabuhan Fujikang

Setelah pertemuan saya dijemput oleh Romo Ari Ukat dari Konggregasi Scalabrinian yang bertugas di Gereja Cristoforus Taipei. Beliau adalah seorang Romo yang sangat lincah dan gesit terutama dalam persoalan pendampingan para ABK di perairan Taiwan. Jika ada para nelayan yang bermasalah ia siap sedia untuk menolongnya.

Fokus pastoral Konggregasi Scalabrinian khusus memperhatikan pastoral migran dimanapun, dan Romo Ari saat ini bertugas untuk memperhatikan para pekerja migran ABK Taiwan ini. Dan Gereja Santo Cristoforus ini adalah salah satu Gereja Katholik yang diperuntukkan untuk para migran khususnya yang bekerja di pelabuhan. Saya bersyukur sore itu berkesempatan mengunjungi para pekerja migran ABK di Pelabuhan Fujikang bersama Romo Ari. Perjalanan dari kota Taipei menuju ke Pelabuhan Fuji sekitar 1,5 jam naik mobil. Sesampai di Pelabuhan yang sangat bersih dan rapi kami langsung berjumpa dengan para ABK yang sedang istirahat (tidak melaut) karena situasi saat itu angin cukup kencang. Dan saat itu ada beberapa kapal yang bersandar di Pelabuhan Fuji yang terlihat sangat rapi. Ternyata saya juga melihat tulisan disudut tembok dari beberapa bahasa termasuk bahasa Indonesia “ Pelabuhan perikanan sudah selayaknya seperti rumah saya jadi mohon partisipasi teman-teman merawat Pelabuhan kita ini “. Nach memang pelabuhan kapal itu itu sangat bersih, tidak ada sampah berserakan dan tidak jauh dari tempat itu juga ada pasar ikan yang besar dan rapi. Dan saya juga sangat kagum tidak ada bau amis sedikit pun. Para nelayan rupanya memang dituntut untuk selalu menjaga kebersihan. Jika setelah pulang menangkap dan menyetor  ikan pasar, kapal harus segera dibersihkan, kalau tidak majikan akan marah.

 


Dalam suasana kekeluargaan kami berkumpul di depan musola darurat dari terpal, yang biasanya digunakan untuk sholat maupun berdiskusi. Menurut Romo Ari majikan telah menyediakan tempat permanen di salah satu kompleks untuk musola sehingga terlindungi dari angin namun saat itu belum selesai maka mereka masih memakai musola dari terpal.Di tempat itu Romo Ari seminggu sekali menggunjungi mereka, mendengarkan keluh kesah mereka. Romo juga sering menjadi jembatan antara pemerintah, majikan serta ABK yang di dampinginya. Dan saat ini

Romo dan teman -teman pemerhati migran ABK sedang berjuang dengan membuat petisi dengan tujuan agar pelaut diakui  sebagai pekerja migran dengan tujuan agar ABK dapat perlindungan. 

Dalam pengalaman kegelapan para murid Kristus selalu berpengharapan pada Sang Bintang Samudra. Maka para pelaut sampai saat ini selalu berdoa pada bunda Maria Sang Bintang Samudra- Stela Maris .