Tuesday, May 31, 2016

Sekelumit Kisah Dari Sebuah Rumah Singgah

Dua minggu lalu, tepatnya tanggal 16 Mei 2016, Sr. Eugenia, PBHK, salah satu relawan Sahabat Insan yang saat ini bertugas di Purworejo, berkunjung ke Jakarta untuk beberapa kepentingan. Kesempatan ini tidak beliau lewatkan untuk mengunjungi beberapa tempat yang pernah didampingi. Salah satunya adalah rumah singgah di daerah Pisangan, Jakarta Timur.


Rumah singgah ini berada tepat di depan rumah singgah Sahabat Insan sebelumnya. Dengan luas bangunan sekitar 300 m2, sore itu rumah tersebut tampak penuh dengan korban. Sekitar 30 pria berada di ruang itu. Termasuk di antaranya Jiwo (bukan nama sebenarnya), salah satu mantan TKI yang baru saja dioperasi di sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat karena bekas jahitan saat dibedah di Madinah mengalami infeksi.


Jiwo, pemuda berusia sekitar 23 tahun tersebut, tampaknya juga sedikit tidak stabil. Kepada Sahabat Insan yang menjenguknya sore itu, ia bercerita tak tentu arah dan melantur kemana-mana. Ia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kakak lelakinya sudah terlebih dahulu mengais rejeki sebagai pekerja migran di Malaysia. Ia sebenarnya tidak ingin mengikuti jejak kakaknya. Namun, pada saat adik perempuannya lulus SMA, tiba-tiba adiknya terserang suatu penyakit dan kemudian meninggal dunia. Ia sangat sedih dengan kepergian adiknya itu, yang tampaknya adalah adik kesayangan. Maka ia memutuskan untuk pergi bekerja di Arab Saudi. Pikirnya, jika di sana, ia bisa mendoakan adiknya dengan lebih khusuk karena dekat dengan Masjidil Haram, tempat tersuci bagi umat muslim.


Singkat cerita, sekitar setahun yang lalu, ia pergi ke Arab Saudi dan bekerja di Madinah sebagai tukang bangunan. Di sana ia mengontrak sebuah rumah bersama kedelapan temannya. Uang kontrakan sebesar 800 real mereka tanggung bersama. Di pekerjaan tersebut, ia bekerja selama 6 hari dalam seminggu dan libur setiap hari Jumat. Selama bekerja, ia rajin mengirimkan uang kepada keluarganya di kampung. "Tapi nggak banyak, paling-paling 500 real", ujarnya sambil tertawa kecil. Pada suatu hari, setelah makan siang, ia merasa perutnya melilit begitu hebat seperti keracunan. Semakin hari, perutnya terasa semakin sakit sehingga pada suatu hari ia pingsan. Oleh teman-temannya ia kemudian diantarkan ke sebuah rumah sakit di sana dan pada saat sadar, perutnya sudah dibedah. Setelah pulih, ia pun pulang ke kontrakannya.

Gelombang PHK besar-besaran yang dilakukan oleh sebuah Grup Perusahaan Raksasa di Arab Saudi kemudian membawanya pulang ke Indonesia bersama ratusan teman-temannya yang juga mengalami pemutusan hubungan kerja. Beberapa dari mereka kemudian transit ke rumah singgah tersebut untuk mengurus asuransi PHK. Saat tinggal di situ, Jiwo terus menerus mengeluhkan perutnya yang terasa sakit dan bicaranya semakin melantur. Akhirnya pendampingnya menemukan penyebabnya, yaitu bekas jahitan di Saudi mengalami infeksi.


Saat itu juga pendampingnya memeriksakan ke dokter serta mengurus asuransi kesehatannya. Beruntung karena jaminan kesehatan tersebut dapat dicairkan dan operasi dapat dilakukan. Saat operasi, dokter kembali membuka bekas jahitan tersebut dan menemukan ada benang pancing tertinggal di perutnya. Setelah mengeluarkan benang dan cairan, dokter kemudian menutup perutnya dengan benang yang nantinya akan menyatu dengan daging, dan berpesan untuk kembali kontrol seminggu kemudian. Saat Sahabat Insan menjenguknya, ia sudah terlihat lebih sehat walaupun sekali-kali meringis karena bekas operasi yang masih terasa nyeri. Teman-teman lainnya yang selama di rumah singgah ditugaskan untuk menjaganya juga bercerita, bahwa setelah operasi, bicaranya juga lebih teratur dan terarah, padahal biasanya kacau balau. Tetapi mereka masih mengawasi Jiwo secara ketat, karena dia sering mencuri kesempatan untuk merokok dan minum kopi, padahal sudah dilarang oleh dokter selama masa penyembuhan.



Menurunnya kondisi perekonomian dan beberapa musibah yang terjadi akhir-akhir ini di Saudi Arabia memang membawa dampak besar untuk para pekerja Indonesia yang mencari nafkah di sana, terutama para pria yang bekerja di bangunan. Sebenarnya, sejak bulan Januari 2016, mereka sudah tidak menerima gaji. Namun mereka masih berprasangka baik bahwa gaji hanya terlambat beberapa minggu saja. Tetapi sampai bulan Maret, gaji yang mereka harap-harapkan tak kunjung diterima, sementara persediaan uang mereka untuk hidup sehari-hari sudah habis, belum lagi keluarga di kampung sering menanyakan kiriman uang bulanan. Akhirnya mereka berunjuk rasa dan menghasilkan keputusan PHK tersebut. Menurut berita yang dimuat oleh detik.com, sebanyak 800 orang  dari 15.000 pekerja yang mengalami PHK massal adalah pekerja Indonesia. Mereka dipulangkan secara bertahap oleh Pemerintah Indonesia, bekerja sama dengan agen-agen yang dulu memberangkatkan mereka ke Arab Saudi. BNP2TKI sendiri berjanji akan secara maksimal menfasilitasi para pekerja untuk mendapatkan semua hak yang belum mereka terima.

Sementara itu, para pekerja yang tinggal sementara di rumah singgah tersebut rata-rata sudah bekerja selama setahun dari rencana kontrak dua tahun. Selama ini, mereka selalu menerima pembayaran gaji dengan tepat waktu. Kisaran balas jasa yang mereka terima adalah 1100 - 2000 real tergantung jenis pekerjaan dan banyaknya pekerjaan lembur yang harus diselesaikan. Saat tiba di Indonesia, mereka menunda kepulangannya ke kampung halaman dan tinggal di rumah singgah dengan berbagai kepentingan. Selain Jiwo yang memang sedang sakit, ada yang sedang menunggu cairnya asuransi, menunggu jadwal pemulangan, dan ada juga yang menunggu kepastian pembayaran gaji mereka. Setelah mengalami PHK ini, sebagian besar menyatakan untuk sementara ini tidak ingin kembali dulu ke sana dan mencoba mencari nafkah di negeri sendiri. Namun, tidak menutup kemungkinan jika ada tawaran yang baik, mereka akan kembali ke sana, karena selama ini cenderung tidak mengalami masalah yang berat.

Menurut pendamping, biaya operasional untuk menampung orang sebanyak ini tentu saja sangat besar. Selain mengandalkan bantuan dari para penderma, ia juga membuka warung nasi kuning yang buka setiap jam 17.00 untuk menambah pemasukan sehingga mampu merawat mereka yang menjadi korban. Setiap pagi, para pendamping akan membelanjakan sayur mayur di pasar dan mereka yang tinggal di shelter akan memasak sendiri untuk makan hari itu. Pengalaman hidup di negeri orang ternyata cukup membuat mereka terlatih dan terampil untuk minimal mengurus diri sendiri.

Pada akhirnya, adalah hak masing-masing individu untuk memilih jalan hidupnya. Yang dapat kita lakukan adalah, memberitahukan informasi sebanyak-banyaknya kepada calon pekerja, sehingga mereka mengetahui semua resiko yang mungkin akan dihadapi di negeri orang dan sekaligus bagaimana cara mengantisipasinya. Semoga kesadaran akan hal tersebut semakin meningkat, sehingga pekerja-pekerja migran di Indonesia tidak hanya memperoleh kesejahteraan, namun juga keamanan dan kenyamaan dalam bekerja.