Thursday, December 19, 2013

Pulang Tepat Pada Waktu-Nya.

Selalu ada yang baru di ruang Eboni. Jumat, 13 Desember lalu ketika Sahabat Insan berkunjung ke ruang jiwa di sebuah rumah sakit di Jakarta, kami mendapati ruang itu penuh dengan pasien-pasien, sekalipun beberapa dari mereka telah sembuh.

Mereka yang sembuh masih belum dapat pulang karena menunggu administrasi dan lain sebagainya yang belum tuntas. Mereka terus dijanjikan akan segera pulang, padahal tak juga pulang. Ini seperti janji PJTKI untuk memberangkatkan calon TKI, tapi kemudian mereka tak jadi diberangkatkan.

Lama-kelamaan tempat tersebut terasa tak ubahnya tempat penampungan yang menyekap calon-calon TKI begitu lama. Mereka tak diperbolehkan keluar sekadar merasakan sinar mentari. Makan seadanya buatan rumah sakit yang begitu memprihatinkan dan tak cukup mengenyangkan. Dan mereka tak berdaya sama sekali selama berada di sana.

http://www.deviantart.com/art/Home-83503555
Kunjungan Sahabat Insan ke sana adalah memberikan perhatian dan semangat agar mereka dapat terus berpengharapan untuk tetap berjuang demi kehidupan mereka. Sekalipun rasa bosan dan penat melanda mereka begitu derasnya.

Siang itu, kami disambut oleh Ibu Mur asal Sumba dengan wajah yang ceria. Saya sendiri terkejut melihat dirinya karena telah lama tidak berjumpa dengannya. Dia menyapa saya dan kami pun berpelukan. Seolah dia telah lama mengenal saya. Dia pun memulai percakapan dengan menanyakan kepada saya kenapa sudah lama tidak datang. Dia juga mengatakan saya kurusan, dan bertanya apakah saya sakit. Dia juga menanyakan keberadaan Suster Shanti yang hari itu tidak ikut serta berkunjung ke sana.

Tanpa lelah dia berjalan-jalan menghibur kami dengan lagu dan joged-joged kecil. Semua yang berkumpul bersama kami ikut terhibur melihatnya. Sempat dia meminjam tas saya untuk dipakai dan berlenggak-lenggok seperti seorang model yang berjalan di atas catwalk. Saya pun memintanya untuk mengajak serta teman-temannya yang sedari tadi diam saja untuk ikut bernyanyi menari dan tertawa bersama. Masih dengan tingkahnya yang lucu dia pun mengajak mereka bernyanyi.

Di sana kami juga menjumpai seorang ibu yang tengah hamil tujuh bulan. Saya tidak benar-benar tahu dan mengerti mengapakah ibu tersebut dapat sampai ke ruang eboni. Karena dari pengamatan kami, ibu itu tampak sehat dan tidak mengalami gejala-gejala gangguan jiwa, depresi, atau trauma. Kami prihatin dengan kondisi bayi yang dikandungnya di tempat yang serba terbatas seperti itu.

Tiba-tiba kemudian, seorang pasien umum, bukan TKI, datang menghampiri saya dan mengajak bicara. Dia berkali-kali memohon bantuan saya untuk mengeluarkan dirinya dari tempat itu. Dengan rasa iba, saya katakan tidak bisa karena kami memang tidak punya wewenang untuk melakukan itu.

Tiba-tiba Ibu Mur bicara, “Kita akan pulang pada waktu yang tepat. Jadi sekarang kita harus berusaha gembira di sini.” Kata-katanya membuat kami terkejut. Begitu bijak dan tabah.

Berada berbulan-bulan tanpa kepastian kapan pulang tentu bukan hal mudah untuk dihadapi setiap harinya. Mereka perlu hiburan dan harapan yang dapat menguatkan dan menabahkan mereka selalu. Maka, Sahabat Insan pun berinisiatif mengunjungi mereka kembali minggu depan dengan membawakan makanan-makanan kecil sekadar untuk mengisi kekosongan hari-hari mereka. Sama seperti yang sebelumnya, kami hanya bisa berharap agar mereka segera pulang, sehingga ketika kami berkunjung kembali kami tidak mendapati wajah-wajah yang sama.

Monday, December 16, 2013

Pulang

"Kapan pulang?"

Ini adalah pertanyaan yang paling sering dilontarkan oleh para pasien pekerja migran saat Sahabat Insan melakukan kunjungan rutin ke rumah sakit untuk menjenguk mereka. Walaupun kondisi mereka terkadang masih parah dan belum layak untuk pulang, hampir semua merasa tidak betah tinggal dan menjalani perawatan di rumah sakit tersebut. Bahkan, pasien-pasien di ruang rawat jiwa pun menayakan hal yang sama. Ya, ini memang hal manusiawi yang pasti juga dirasakan oleh semua orang. Lebih nyaman sakit tapi di rumah sendiri, daripada menginap di suatu tempat yang asing dan kadang-kadang bertemu dengan suster-suster galak.

http://www.deviantart.com/art/Bottle-Tree-87712330
Minggu lalu, sedikit kabar bahagia berhembus dari rumah sakit tersebut. Dua pasien pekerja migran yang menderita sakit yang cukup parah sudah di-izinkan pulang oleh dokter yang merawatnya. Kabar cukup menggembirakan ini tentu saja disambut dengan perasaan lega oleh keluarganya, mengingat kedua pasien ini sudah berminggu-minggu dirawat di rumah sakit tersebut. Namun tetap saja, kepulangan mereka menyisakan cerita. 

Yang pertama adalah pasien pencangkokan batok kepala, sebut saja namanya Wati. Setelah menjalani dua kali operasi masing-masing selama empat dan delapan jam, ia akhirnya di-izinkan pulang oleh dokter pada hari Senin tanggal 2 Desember 2013. Kepulangan Wati ini menimbulkan kecemasan karena kondisinya secara kasat mata belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh dan dirawat di rumah sendiri. Ia masih memakai alat-alat penunjang kesehatan dan syarafnya belum sepenuhnya berfungsi dengan baik.

Setelah hampir seminggu bersitegang dengan rumah sakit, Peduli Buruh Migran (PBM) yang selama ini mendampingi pasien tersebut mengajak seorang dokter relawan medis yang biasa menolong pekerja migran untuk memeriksa keadaan Wati. Saat melihat kondisinya, dokter itu menyatakan bahwa Wati memang lebih baik dibawa pulang karena daya tahan tubuhnya yang masih lemah. Jika tetap tinggal di rumah sakit, dikhawatirkan ia akan sangat rentan tertular penyakit dari pasien-pasien lain dan bisa menimbulkan penyakit baru.

Mendengarkan pendapat dokter, PBM akhirnya bersedia memulangkan Wati dengan catatan rumah sakit harus membuat surat pernyataan. Setelah urusan administrasi diselesaikan, maka Wati dipulangkan ke daerah asalnya dengan menggunakan ambulan terbaik yang memiliki fasilitas lengkap dan didampingi oleh dua orang perawat dari rumah sakit tersebut. Wati kemudian dirujuk ke rumah sakit daerah setempat untuk melakukan terapi di rumah dengan menggunakan fasilitas Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Seminggu sekali, perawat akan datang dan melatih syaraf-syaraf Wati agar mampu berfungsi kembali.

Saat berita ini diturunkan, telapak tangan Wati sudah bisa melakukan gerakan ringan (meremas, mengepal, membuka). Ia juga sudah bisa ber-rekasi saat dipanggil namanya, sudah bisa membuka mulutnya dan sudah bisa bernafas melalui hidung dengan bantuan alat pernafasan. Sang suami sudah kembali bekerja di Malaysia untuk mencari nafkah bagi keluarga, terutama untuk biaya hidup ketiga anak mereka. Sedangkan Wati dirawat oleh ibundanya yang dari awal memang sudah menemani Wati menjalani proses demi proses penyembuhan. Hal yang cukup memberatkan keluarga adalah sampai saat ini makanan yang boleh diberikan kepadanya hanya susu yang harganya cukup mahal. 

Lain lagi cerita Warti yang menderita luka bakar. Warti akhirnya dipulangkan pada hari Kamis tanggal 5 Desember 2013. Warti adalah satu-satunya anggota keluarga yang bekerja untuk menghidupi bapak, ibu, kakak-kakak dan adik-adiknya. Setiap bulan seluruh gaji hasil kerja kerasnya di negeri orang dikirim kepada keluarga.

Sejak Warti mengalami kecelakaan kerja, menderita luka bakar dan dirawat di rumah sakit, sang ibu yang menganggap Warti adalah tambang emas bagi keluarga sangat keberatan dan selalu berkeluh kesah tentang keuangan keluarga yang jadi berantakan. Ibu tersebut selalu memaksa rumah sakit untuk segera memulangkan Wanti, agar ia bisa segera bekerja lagi. Awalnya dokter belum mengijinkan karena bekas luka bakarnya masih perlu perawatan intensif. Namun setelah melihat perkembangan kondisi Warti yang semakin membaik, dokter pun memperbolehkannya pulang.

Masalah kemudian muncul. Rencana awal setelah keluar dari rumah sakit, Warti akan tinggal untuk sementara waktu di Rumah Singgah Sahabat Insan karena ia masih harus melakukan terapi rutin seminggu sekali. Tinggal di rumah singgah dirasa lebih efektif karena selain jarak rumah singgah dan rumah sakit lumayan dekat, jika dibandingkan dengan rumahnya. Di sana ia akan dilatih ketrampilan yang sesuai dengan keadaannya agar dapat kembali mencari nafkah saat sembuh nanti. Namun, ibunya ternyata melarang Warti untuk transit terlebih dahulu dan bersikeras agar Warti langsung dibawa pulang. Ibunya bahkan mengancam jika Warti tetap dibawa ke rumah singgah maka PBM harus memberikan uang jaminan kepadanya. Akhirnya PBM mengalah dan mengantarkan Warti pulang ke rumahnya.

Perjalanan dari rumah sakit ke tempat tinggal mereka ditempuh dalam waktu 4 jam karena cuaca buruk dan sempat salah arah karena tidak ada yang hafal jalan pulang. Sesampainya di rumah, Warti terlihat murung dan tak banyak bicara, tidak seperti kesehariannya di rumah sakit yang cerewet dan suka bercerita tentang segala hal. Saat ditanya kenapa ia menjadi diam, Warti mengatakan bahwa ia takut dengan ibunya yang pasti akan memaksa dia untuk bekerja lagi dan ia merasa tertekan karena ibunya selalu menyalahkannya atas musibah tersebut.   

Tentu masih banyak cerita-cerita kepulangan para pekerja migran lainnya yang menyayat hati. Kedua cerita di atas bisa mewakili fakta bahwa masalah ternyata belum selesai saat bantuan pengobatan telah diberikan. Masih banyak yang harus diperjuangkan oleh keluarga saat pekerja migran ini selesai dirawat di rumah sakit. Masalah pemulihan kondisi, masalah psikologis, masalah masa depan, masalah makan sehari-hari masih tetap mengiringi keluarga sang korban. Perlu perjuangan untuk mengembalikan keadaan seperti sedia kala, atau bahkan tidak akan pernah kembali seperti semula sehingga anggota keluarga lain pun harus rela menyesuaikan diri menghadapi perubahan kondisi yang tidak diinginkan ini. 

Thursday, December 12, 2013

Bantuan bagi 24 Calon TKI Korban Trafiking

Informasi yang telah kami edarkan melalui facebook Sahabat Insan (https://www.facebook.com/sahabat.insan.7?fref=ts) telah menggerakkan beberapa orang untuk menyatakan bela rasanya. Salah satunya, hari ini, 12 Desember 2013, bantuan datang dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPD Keuskupan Bogor.


Dua orang perempuan bernama Ibu Yanti dan Ibu Siska siang tadi sekitar pukul 11.00 WIB datang ke kantor Sahabat Insan. Kedatangan mereka disambut oleh Romo Ismartono. Ibu Yanti pun memulai pembicaraan mengenai keprihatinan dirinya dan kawan-kawan atas kasus perdagangan manusia yang sekarang ini marak terjadi. Perbincangan mengenai persoalan kemanusiaan ini disambut antusias oleh Romo Is. Sampai Ibu Yanti menanyakan soal ke-24 calon TKI yang menjadi korban perdangan manusia tersebut. Kami pun memberi tahu berita tersebut yang sebelumnya kami telah edarkan di facebook sebagai berikut:


Halo para Sahabat,

Menurut relasi kami (Peduli Buruh Migran), ke-24 perempuan asal NTT ini adalah korban perdagangan manusia. Beberapa diantaranya masih dibawah umur. Mereka telah disekap di sebuah penampungan dalam rentang waktu yang beragam (3 minggu sampai 9 bulan). Rencananya mereka akan diberangkatkan ke Malaysia sebagai pekerja migran. Namun polisi berhasil menggerebek tempat tersebut, dan menampung calon-calon TKI ini di sebuah rumah singgah milik Pemerintah.

Saat ini, telah seminggu mereka berada di rumah singgah tersebut dengan bekal baju yang menempel di badan, karena semua milik mereka masih tertinggal di penampungan, termasuk dokumen-dokumen pengenal diri. Di sana, mereka ditempatkan dalam satu kamar. Tidak ada yang berani keluar dari kamar tersebut karena menurut penuturan mereka banyak pihak yang mengincar dan bahkan ada yang menawarkan pekerjaan dengan iming-iming gaji yang besar. Maka, gerak mereka pun menjadi sangat terbatas, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang sederhana seperti membeli pembalut, minyak angin, obat-obatan atau kebutuhan lainnya mereka tak mampu.

Oleh sebab itu, agar mereka dapat hidup dengan wajar selama di rumah singgah, maka kami mengharapkan uluran tangan para sahabat untuk dapat menyumbangkan pembalut, obat-obatan (minyak kayu putih, balsam, tolak angin, panadol, dll), kebutuhan untuk mandi (shampo, sabun) dan makanan/minuman (kopi, teh, biskuit) atau kebutuhan lainnya yang belum disebutkan di sini.

Bantuan tersebut dapat disampaikan kepada Sahabat Insan dengan memberi informasi melalui fb atau email

Dalam suasana kegembiraan menyambut Natal, marilah kita ajak saudari2 kita ini yang kebetulan semuanya beragama Kristen (Prostestan dan Katolik) untuk ikut merasakan kebahagiaan tersebut. Walaupun dalam suasana yang berbeda, namun biarlah mereka mengetahui bahwa mereka tidak menanggung penderitaan itu seorang diri, bahwa banyak saudara di luar sana yang masih peduli dan berkenan memberikan luapan kasih sayang yang menghidupkan kembali harapan mereka untuk berbahagia.


Kami mengucapkan terima kasih kepada WKRI DPD Keuskupan Bogor melalui Ibu Yanti dan Ibu Siska yang telah mengumpulkan dana solidaritas ini dari kawan-kawan yang peduli untuk ke-24 calon TKI tersebut. Bahkan ketika tadi kami sedang mengobrol, seorang kawan Ibu Yanti mengirim pesan ingin membantu memberikan dana kembali, sehingga dana yang tadinya Rp2.700.000,00 bertambah lagi sebesar Rp200.000,00. Total dana yang terkumpul untuk mereka Rp2.900.000,00.

Semoga bantuan ini berguna bagi ke-24 calon TKI korban trafiking. Dan yang terpenting, mereka dapat kembali ke keluarga mereka masing-masing untuk merayakan Natal di kampung halaman. Marilah kita mendoakan mereka bersama.

Tuhan Memberkati.


Friday, November 29, 2013

Bertemu Muka, Berkaca Asa

http://www.deviantart.com/art/Dark-November-Days-416446892
Minggu ketiga bulan November yang kering, hari kelima dalam pekan. Ruangan bernama Dahlia itu masih sama: tanpa pesona Dahlia sedikit pun. Tetap sekeras dan sekerontang kayu Eboni, nama lamanya. Tetapi wajah-wajah di dalamnya mencerminkan hal yang berbeda hari itu. Ada keceriaan mengudara dan senyum-senyum tersimpul ketika kawan-kawan Sahabat Insan datang. Seketika juga, senyum yang sama tersimpul di bibir kami.

Sembari mengunyah makan siang mereka, kami menyapa dan mulai mengobrol dengan beberapa TKI yang ada di sana. Ada beberapa orang yang sedang melahap mie instan selain memakan jatah makan siang yang biasa diberikan. Yah, tidak heran. Cuaca yang panas dan menu makanan yang tidak variatif serta kombinasi dengan lamanya mereka "tinggal" di sana bisa jadi membuat para kawan-kawan TKI membutuhkan selingan makanan lain. Setelah selesai dengan makan siang mereka, mulai bergulirlah cerita-cerita ringan yang memenuhi ruangan sempit itu.

Mulai dari perkenalan kembali hingga cerita pengalaman yang biasa, tentang kehidupan sehari-hari di negeri tempat mereka bekerja dulu hingga detail kegiatan mereka setiap hari di ruangan itu (yang diselingi kantuk dan mereka kadang menguap karena terbiasa tidur siang setelah makan). Ada beberapa wajah baru semenjak kunjungan terakhir kami minggu sebelumnya. Kebanyakan dari mereka masih mengalami trauma dan terlihat tidak sehat. 

Seorang kawan TKI yang baru masuk ke sana masih dalam pemulihan pasca-operasi pengangkatan tumor di payudara. Keadaannya masih terguncang dan menolak makan. Salah satu suster dari Sahabat Insan mencoba menyuapi makanan sedikit demi sedikit setelah mencoba berbincang beberapa lama, dan akhirnya ia mau makan meskipun sangat sedikit. Ada juga yang mengalami masalah di penglihatannya hingga sukar melihat dan ada juga yang belum bisa diajak berkomunikasi dengan lancar dan lebih memilih untuk tidur. Kami terus membangun komunikasi dengan mereka yang masih terlihat sakit ini, mencoba membangun jembatan kehangatan yang mungkin jarang mereka dapatkan.

Sebagian besar dari kawan-kawan TKI di sana sudah tampak lebih sehat. Beberapa orang yang sebelumnya mengeluh sering sakit kepala dan memiliki tekanan darah yang sangat tinggi sudah mulai pulih dari pusing dan tekanan darahnya sedikit demi sedikit mendekati normal. Kawan TKI yang mengalami masalah dengan kulit di tangannya juga berangsur membaik. Obrolan kami bersama mereka diselingi dengan suguhan snack yang kami bawa dan dengan antusias mereka ambil. Senang rasanya melihat mereka makan dan menggembung pipinya karena mengunyah dengan lahap. Mereka terlihat lapar meskipun jam makan belum lama berlalu.

Kami mengobrol dengan topik yang hampir sama dari minggu ke minggu tiap kunjungan kami ke sana, namun selalu ada binar berbeda yang menyeruak. Kadang suasana sunyi yang dominan, tapi di lain kesempatan seiring kondisi beberapa dari mereka telah membaik, suasana bisa menjadi lebih hangat dan hidup, membungkus kegetiran yang kadang tetap terasa di panca indera kami.

Dari obrolan-obrolan kami yang biasa, tetap terucapkan asa dari mereka untuk pulang ke kampung halaman. Mereka menunggu detik-detik ketika mereka dapat bertemu muka dengan sanak keluarga mereka. Mereka menunggu kesempatan untuk dapat keluar dari sana dan dapat menyongsong masa depan serta pekerjaan yang lebih baik. Harapan itu selalu ada dan terlihat di bola mata mereka, dalam setiap perjumpaan kami hingga saat lambaian menguntai kepergian kami tiap minggunya dari sana.

November ini kering, namun asa tetap ada, setidaknya dalam lubuk hati mereka.



Friday, November 22, 2013

Menjenguk Pasien Pencangkokan Batok Kepala

Pada hari Jumat, 15 November 2013, Sahabat Insan (SI) diberi kesempatan untuk menjenguk salah satu orang terbuang yang mengalami kecelakaan di tempat kerja dan dipulangkan ke Indonesia dalam keadaan koma dengan tempurung kepala yang berlubang. Sebut saja namanya Sri (34 tahun). Sri adalah seorang pekerja migran yang bekerja di sebuah kilang di Malaysia. Tiga tahun yang lalu, bersama suaminya ia berangkat ke negeri jiran dari daerah asalnya, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Sesampai di sana, mereka berpisah karena bekerja di wilayah yang berbeda. Ketiga anak mereka ditinggal di kampung halaman dan diasuh oleh neneknya.

Kira-kira sebulan yang lalu, relawan SI sudah pernah menjenguk wanita malang ini. Saat itu ia masih dalam perawatan di ruang ICU.  Tubuhnya terbujur lemah tanpa bisa bergerak. Hanya matanya yang memandang ke sekelilingnya tanpa ada yang mengetahui apa yang ingin ia sampaikan.  Ia juga tidak mampu memberikan respon saat dipanggil atau diajak bicara. Berbagai macam selang masuk melalui tubuhnya. Ada selang infus, selang makan dan kateter untuk saluran pembuangan. Ia pun bernafas melalui lubang di tenggorokannya. Tak ada seorang pun yang tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Sri sampai kondisinya menjadi demikian parah. Keluarga pun hanya tahu dari teman-temannya bahwa ia jatuh di kamar mandi tempat kerja dan tidak sadarkan diri. Saat itu teman-temannya membawa Sri ke rumah sakit setempat. Selanjutnya tidak ada yang mengetahui bagaimana prosesnya hingga tempurung kepalanya harus dilubangi dan belum ditutup kembali, sampai akhirnya dikembalikan ke tanah air didampingi oleh suaminya, dan dirujuk ke sebuah rumah sakit di Jakarta. Keluarga juga tidak memiliki rekam medis yang bisa menjelaskan tindakan-tindakan yang telah dilakukan oleh tenaga medis di sana.

Setelah hampir 3 minggu dirawat di ruang ICU karena menunggu uluran tangan dari para penderma terlebih dahulu, akhirnya operasi pencangkokan tempurung kepala Sri berhasil dilakukan. Ada sedikit kendala dalam melaksanakan operasi. Saat masuk ke ruang bedah, tekanan darah Sri tiba-tiba meninggi mencapai 250/220, sehingga Sri dikeluarkan lagi dari ruang tersebut dan kembali ke ruang ICU. Keluarga yang mendampingi berusaha menenangkan hati Sri yang masih koma dengan membisikkan kalimat-kalimat penyemangat. Setelah tekanan darah cukup stabil, operasi pemasangan titanium untuk menutup tempurung kepala pun dilaksanakan dan memakan waktu cukup singkat, kurang lebih satu jam. Karena kondisi pasca operasi cukup baik, Sri pun kemudian dipindahkan dari ruang ICU ke ruang rawat umum.

Saat Sahabat Insan datang siang itu, ibunda Sri yang selama ini menjaga putrinya di rumah sakit sedang duduk di kursi sambil tertidur di samping ranjang. Suami Sri juga sedang tergeletak pulas di lantai ruangan yang berisi tujuh tempat tidur tersebut . Mereka bergegas bangun saat mengetahui ada yang datang menjenguk. Sementara kaki Sri terus menendang-nendang tidak berhenti bergerak, mengisyaratkan kejenuhannya karena sudah terlalu lama berbaring tanpa bisa berbuat apa-apa. Perban masih membalut kepalanya, pelipis dan mata kanannya masih bengkak, selang masih menempel di hidung dan kakinya, ia juga masih bernafas melalui saluran pernafasan di tenggorokannya.

Dalam kondisi yang masih memprihatinkan tersebut, ibunya tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang mengejutkan: “Apakah hari Senin Sri sudah bisa pulang?”. Sejenak semua terpana, bagaimana mungkin meminta pulang sementara kondisi anaknya masih sangat lemah, apalagi melakukan perjalanan jauh ke Jawa Timur yang memakan waktu 15 jam. Namun, kemudian kami sadar bahwa ungkapan tersebut mencerminkan kelelahan mereka yang sudah memuncak, lelah lahir dan batin. Suaminya pun mengungkapkan keinginannya untuk kembali bekerja di Malaysia. “Uang saya sudah habis. Di sini semua mahal. Belum lagi memikirkan beli susu untuk Sri”, ujarnya. Memang selama ini asupan makanan Sri hanya dari susu yang dimasukkan lewat selang di hidungnya. Harga sekaleng susu tersebut mencapai Rp120.000 – Rp150.000. Selain itu, biaya hidup mereka berdua selama menjaga Sri di rumah sakit juga cukup besar, karena setiap saat harus membeli makanan di warung dan tidak bisa memasak sendiri.

Ibunya bercerita bahwa kondisi Sri setelah keluar dari ruang ICU cenderung stabil, walaupun suhu badannya masih naik turun. Hanya saja, Sri tetap belum bisa diajak berkomunikasi. Jika diajak berbicara, dia tidak bereaksi. Namun, saat ketiga anaknya menelpon dan suaranya diperdengarkan lewat speaker HP, air matanya bisa mengalir deras.  Hal inilah yang membangkitkan harapan bahwa kemungkinan untuk sembuh total masih ada.

Pada akhirnya SI yang juga mendampingi proses penyembuhan Sri hanya bisa memberikan pengertian kepada keluarganya bahwa pengobatan sudah berlangsung setengah jalan namun, belum tuntas. Jika dihentikan, maka semua tindakan medis yang sudah dilakukan selama ini tidak akan membuahkan hasil maksimal, bahkan bisa saja kondisi Sri kembali seperti sedia kala. Untuk itu diperlukan kesabaran dari ibu dan suaminya untuk melewati tahap demi tahap penyembuhan Sri yang mungkin masih membutuhkan waktu yang lama. Sambil terus berdoa dan berharap ada pihak yang bersedia memberikan perhatian untuk meringankan beban yang mereka rasakan.