Tuesday, April 15, 2014

Pintu yang Ditutup

http://www.deviantart.com/art/The-Door-22955027
Hampir satu bulan Sahabat Insan tidak berkunjung ke Eboni. Eboni merupakan nama salah satu ruangan rumah sakit di Jakarta yang merawat mantan-mantan TKI yang mengalami depresi. Maka, ketika suatu hari seorang perawat menghubungi Sahabat Insan menanyakan kabar dan mengatakan bahwa persediaan sabun, shampo di sana telah habis, kami pun kembali berkunjung ke Eboni pada Jumat 11 April yang lalu.

Sahabat Insan membawakan sabun, shampo, odol, dan deterjen untuk mereka. Perawat yang sebelumnya menanyakan kabar, tersenyum membukakan pintu yang digembok. Kami memberikan belanjaan kami itu kepadanya, kemudian dia berterima kasih atas sumbangan yang diberikan. Melihat kami datang di depan pintu, beberapa dari mereka yang mengenal kami menyambut dengan sukacita. Kami sempat menanyakan keadaan pasien-pasien tersebut kepada suster. Jumlah pasien di sana 21 orang. Banyak pasien-pasien baru, namun beberapa dari mereka yang masih belum bisa pulang telah berbulan-bulan di Eboni.

Kami berbaur dengan mereka setelah menyapa mereka satu per satu. Mereka bercerita tentang pengalaman mereka bekerja di luar negeri. Bahkan ada seorang mantan TKI yang sempat bekerja di Malaysia menangis tersedu menceritakan keluarga di kampung halaman kepada Suster Rosina. Berulang kali dia mengatakan bahwa luka di hatinya masih menganga dan sulit disembuhkan. Dengan penuh kasih, Suster Rosina mendengarkan dan memberikan penguatan.

Seorang perempuan muda berinisial J mengungkapkan keinginannya untuk segera pulang. Dia merasa tak betah di Eboni karena tidak ada kegiatan berarti. Dia ingin bekerja. Tak banyak orang yang menurutnya bisa diajak bicara. Dia merasa sungguh sehat, tidak depresi, atau bahkan gila. J berasal dari Kupang. Dia adalah anak ke-4 dari 10 bersaudara. J bekerja di Malaysia menjadi penjaga sebuah toko selama 5 bulan. Namun, karena dokumen yang dimilikinya palsu, maka ia ditangkap dan dideportasi. Sesampainya di bandara dia dibawa ke Eboni oleh petugas.

Sahabat Insan berusaha menghiburnya. Kami meminta J untuk bersabar dan berusaha berbaur dengan teman-temannya. Kami katakan, dia dapat melakukan kegiatan seperti menonton televisi, mengepel atau menyapu ruangan, atau kalau ada majalah dia juga bisa membaca. Dengan wajah tak terlalu bersemangat J menanggapi saran-saran dari kami.

Tak lama kemudian, seorang Ibu yang tampak sungguh-sungguh depresi menghampiri kami. Kata-katanya tak jelas, maka kami tak terlalu memahami apa yang dia sampaikan. Dia kadang bernyanyi dan banyak bertanya pada Suster Murph. Dia terlihat gembira berkenalan dengan Suster Murph. Dia juga berusaha menggunakan bahasa Inggris untuk berbicara dengan SusterMuprh. Suster Murph menanggapinya dengan begitu sabar dan tentu saja, penuh tawa.

Tak berapa lama seorang perawat, yang asing bagi kami, keluar dari ruangannya. Dengan wajah tak ramah, perawat itu meminta Ibu yang sedang asyik bercakap dengan Suster Murph untuk makan. Ibu itu menurut, satu dua suap dia makan, kemudian dia letakkan lagi makanannya. Kelakuannya ternyata dilihat oleh perawat tadi yang telah masuk. Perawat itu membuka pintu dan memarahinya dari depan pintu, dengan lantang dia menyuruh ibu tadi untuk memakan makanannya. Ibu itu pun menjawab bahwa makanannya tidak enak dan dia tidak mau memakannya. Bahkan Ibu itu sempat bergurau, dia juga katakan bahwa kami mengatakan tidak apa-apa kalau dia tidak makan. Kami menyanggah kata-katanya dan tertawa karena tingkahnya. Lucu karena si perawat begitu marah, sementara si ibu dengan santai dan cengengesan bagai seorang anak-anak menjawabnya. Yang mengejutkan kemudian sang perawat membanting pintu ruangannya dan kami mendengar suara pintu dikunci dari dalam.

Perlakuan tidak menyenangkan perawat tersebut juga diakui oleh J. J mengatakan kepada kami bahwa perawat-perawat di sana sulit diajak bicara. Sulit yang dimaksud J adalah mereka tidak mau bergaul, berbicara dengan pasien-pasien. Dalam kondisi pemulihan di Eboni serta waktu tak menentu kapan mereka bisa pulang, tentu saja mereka butuh perhatian lebih dan suasana menggembirakan. Ditambah lagi mereka tak boleh keluar dari Eboni seperti berada dalam penjara. Melihat dan mendengar pintu ditutup begitu keras oleh perawat tersebut, bisa jadi berada di Eboni tak lantas membuat mereka pulih.

Ketidakjelasan nasib-nasib mereka tak hanya ketika mereka bekerja, tapi juga sampai di tanah air. Bahkan seorang mantan TKI yang telah berbulan-bulan berada di sana, Wati yang sudah diperbolehkan pulang, belum juga bisa pulang karena dia tidak ingat alamat tempat tinggalnya. Sementara itu, BNP2TKI yang bertanggung jawab terhadapnya ber-rencana untuk membawanya ke panti sosial. Perawat yang menyambut kami dengan baik tadi, mengeluhkannya kepada kami karena khawatir pada nasib Wati.

Pasien lain bernama Tuti berbeda dari yang lainnya. Tuti baru 2 atau 3 hari berada di Eboni. Dia memang tampak mengalami depresi yang parah. Tubuhnya kurus, kulitnya kecokelatan, dan dia kadang tertawa dan berbicara sendiri. Suster katakan bahwa serangkaian pemeriksaan menunjukkan dia dalam keadaan sehat, namun tubuhnya terlihat tak wajar, dokter sampai bingung dibuatnya. Ketika datang malam hari dan suster memeriksa koper yang dibawanya, perawat mendapatkan beberapa minuman bersoda dan beralkohol. Maka, dokter khawatir kalau Tuti menderita suatu sakit yang menular sehingga, akan membahayakan pasien-pasien lain di sana.

Kami gembira ketika hendak pulang ada seseorang laki-laki yang menjemput salah seorang pasien, sebut saja Ida. Ternyata lelaki itu adalah suaminya dan hari itu memang Ida telah diizinkan pulang oleh rumah sakit. Dengan wajah gembira keduanya membereskan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pulang. Namun, ternyata, masih ada kendala. Segala dokumen milik Ida masih ada di BNP2TKI. Mereka harus mengambilnya sendiri ke sana. Berbekal alamat di secarik kertas, dia tanyakan kepada kami kendaraan apa supaya mereka bisa sampai ke BNP2TKI. Kami menjelaskan setahu kami, sembari menyarankan kepadanya, untuk mengambil dokumen di hari Senin saja. Mengingat hari itu adalah hari Jumat dan waktu telah menunjukkan pukul 13.00. Kami khawatir sesampainya mereka di kantor, kantor itu telah tutup. Dengan wajah bingung suami Ida pun bertanya kepada para perawat apa yang sebaiknya dilakukan. Kami tak tahu keputusan Ida dan suami selanjutnya dan apakah mereka punya sanak saudara di Jakarta. Sebab, mereka butuh waktu lumayan lama untuk pulang ke rumah mereka di Karawang.

Selalu banyak kisah dari mereka ketika kami berkunjung, seperti tak pernah ada habisnya. Dan setiap kami ke sana selalu terselip doa bagi mereka yang menderita. Meskipun satu pintu ditutup, selalu ada banyak pintu dari kami yang terbuka untuk mereka.