Aku dan Suster Laurentina PI kembali
menyambut kedatangan mayat di Negeri Cendana, pada Selasa (18/9/2018). Setelah
beberapa waktu vakum dari aktivitas penjemputan jenazah, kami kembali
disibukkan dengan penjemputan jenazah atas nama AMP asal Dusun Mageuta RT RW
03/02 Desa Lelal Kec Lela Kab Sikka NTT. Kabar duka penjemputan jenazah diinformasikan
secara mendadak ketika kami sedang mengurus beberapa kasus PMI lainnya yang sedang
bermasalah.
Jenazah AMP diinformasikan meninggal di
Malaysia karena coronary arteries disease
dan akan tiba pada pukul 12.00 WITA. Pihak keluarga melalui Jaringan Koalisi Peduli
Migran NTT meminta pertolongan kepada BP3TKI untuk mengurus kepulangan jenazah
secara sangat mendadak. Suster Laurentina PI segera menghubungkan pihak keluarga dengan
BP3TKI.
Tanpa mengulur waktu, kami segera
berangkat menuju ke Kargo Bandara El Tari Kupang. Sesampainya di sana, kami
bertemu dengan pihak BP3TKI dan menanti kedatangan jenazah AMP beserta
keluarga.
Berdasarkan informasi yang kami peroleh,
jenazah kelahiran 1969 ini dikatakan tidak bekerja, sehingga menurut BP3TKI dengan
status tidak bekerja tersebut sangat sulit untuk mengurus kepulangannya. Namun
ketika pihak keluarga tiba di kargo, mereka menjelaskan bahwa semasa hidupnya AMP
sudah bekerja selama 15 tahun sebagai buruh bangunan di Malaysia. Wajar saja
jika jenazah dikatakan tidak bekerja karena pekerjaan sebagai buruh bangunan
tidak memiliki PT yang tetap dan mereka bekerja berpindah dari satu tempat ke
tempat yang lainnya berdasarkan proyek yang ada.
Berdasarkan pengakuan keluarga, mereka
sudah berusaha mengumpul dana pemulangan jenazah dari Malaysia ke Kupang sebesar
Rp.17.000.000 dan berharap agar BP3TKI bersedia membantu pemulangan jenazah dari
Kupang menuju ke kampung halamannya. Permohonan tersebut akhirnya bisa dikabulkan
oleh BP3TKI untuk membantu mendanai proses pemulangan jenazah dari Kupang
menuju ke Maumere pada Rabu (19/9/2018).
Saat menunggu jenazah, salah satu keluarga
berkisah bahwa jenazah AMP memiliki 4 orang anak (1 perempuan dan 3 laki-laki).
Anaknya yang pertama sedang studi di Undana, anak kedua baru lulus SMA tahun
ini, anak ketiga dan keempat masih duduk dibangku SMP.
Selama bekerja di Malaysia, AMP tidak
pernah pulang ke kampung halamannya. Meskipun demikian, ia secara rutin selalu
mengirim uang belanja untuk menghidupi anak dan isterinya.
Tidak berapa lama kemudian, jenazah yang
terbungkus dalam peti putih tersebut akhirnya diturunkan dari kereta kargo pada
pukul 13.25 WITA. Keponakannya, seorang wanita tak mampu menahan isak tangis
ketika peti omnya dipindahkan dari kereta kedalam ambulans.
Keluarga menjemput AMP dalam isak tangis dan air mata di Kargo Bandara El Tari Kupang |
Sanak saudara yang juga berasal dari
kampung yang sama dengan jenazah turut membantu mengangkat peti jenazah ke
dalam ambulans. Jenazah kemudian disambut dalam doa oleh keluarga yang dipimpin
oleh Suster Laurentina PI.
Setelah doa selesai, jenazah kemudian
disemayamkan sementara di Rumah duka milik salah satu keluarga dekatnya di
daerah Penfui. Pihak keluarga juga berniat untuk mengadakan misa khusus untuk mendoakan
jenazah.
Keesokan harinya, Rabu (19/8/2018) kami
tiba di Kargo untuk memberangkatkan jenazah PMI pada pukul 09.45 WITA. Namun ketika tiba di Kargo, peti jenazah belum ada dan baru tiba dari rumah duka
pada pukul 10.03 WITA. Selama satu malam, jenazah menginap di rumah keluarganya
yang tidak jauh dari Kargo.
Setibanya di kargo, peti jenazah
dipindahkan dari ambulans ke dalam ruang jenazah sambil menunggu kedatangan kereta
kargo untuk memindahkan jenazah ke mesin X-Ray
sebelum dimuat ke dalam pesawat.
Salah satu nona yang mengaku keponakan AMP
mengaku bekerja di Makasar dan sedang berlibur kekampung halamannya di Maumere.
Namun sehari sebelum kembali untuk bekerja ke Makasar, ia terpaksa harus
menunda kepulangannya karena berita duka dari omnya AMP.
“Saya memutuskan untuk tidak jadi pulang
ke Makasar begitu mendengar berita duka ini. Jadi ya saya yang menjemput ke
Kupang untuk penghormatan terakhir pada om yang tidak pernah pulang selama 15
tahun,” ujarnya.
Ia juga bertekad untuk menemani sang
jenazah kembali ke Maumere menggunakan pesawat NAM Air.
“Nanti saya juga akan pergi ke kampung
bersama om. Saya mau antar om sampai keperistirahatan terakhir. Kalau semua sudah
selesai baru saya akan kembali bekerja,” ujarnya lagi.
Tidak lama kemudian, Suster Laurentina PI
mengajak kami untuk berdoa bersama melepaskan kepergian jenazah AMP.
“Saudara saudari yang ada ditempat ini,
mari kita serahkan keberangkatan jenazah AMP ke dalam tangan kasih Tuhan agar
semuanya bisa lancar,” serunya.
Peti jenazah AMP dimasukkan melalui mesin X-Ray di Keberangkatan Kargo |
Lalu jenazah diangkut ke mobil dan
dipindahkan ke dalam mesin X-Ray.
Ketika seluruh badan peti sudah lewat dengan selamat dari mesin X-Ray, kami berpamitan dengan semua
keluarganya. Sebagian besar mereka menyambut dengan hangat sambil mengucapkan
terimakasih.
Doa yang masih sama, semoga jenazah AMP dan
semua jenazah PMI yang sudah kami sambut bisa beristirahat dengan tenang di sisi
kanan Allah Bapa dan semoga tidak ada duka lagi.
***