Wednesday, July 10, 2019

Jenazah ke-43


#Kisah-Kisah dari Program Eksposure Belarasa 2018 (34)
 
Hari ini, Kamis (18/10/2018) aku mengawali hari dengan misa pagi bersama dengan suster Penyelenggaraan Ilahi di kapel Biara Kupang, NTT. Usai misa, kami memasak makanan pagi di dapur asrama. Kali ini, menu sarapan pagi kami adalah nasi goreng. Usai memasak nasi goreng, kami menyapu halaman dan menyiram tanaman. 


Setelah semua pekerjaan pagi sudah selesai, kami berempat santap pagi bersama di dapur asrama. Menu pagi ini terasa sangat nikmat karena kami menyantapnya penuh dengan sukacita. Mungkin kejadian kemaren siang mengajarkan kami arti bersyukur tanpa banyak memberikan komentar ini dan itu. Ya, dengan bersyukur hidup terasa lebih bahagia tanpa mendengarkan komentar keluhan ini dan itu.

Siangnya, Suster Laurentina PI berangkat ke kargo seorang diri untuk menjemput jenazah atas nama EA, sementara aku mengerjakan kasus lain terkait permasalahan PMI. Karena kekurangan tenaga, maka kami harus melakukan pembagian tugas dengan baik. Sangat banyak PMI yang bermasalah di Malaysia dan sedang di tangani oleh Jaringan Koalisi yang ada di negara penempatan. Untuk mempermudah proses pemulangan mereka ke tanah air, maka kami harus menjalin kordinasi yang baik dengan seluruh jaringan kemanusiaan dengan visi dan misi yang sejalan.  

Jenazah EA dipindahkan dari kereta Kargo ke mobil jenazah
Tak banyak informasi yang diketahui tentang jenazah EA yang meninggal di negara penempatan Malaysia karena mengalami penyakit maag kronis. Menurut Suster Laurentina PI, jenazah EA di jemput oleh keluarga besar Amtiran (salah satu suku yang berpengaruh di Amarasih yang berasal dari Desa Desmigatif Kupang). Pria asal Desa Marbaun Amarasi, Kupang ini meninggal sesudah bekerja di Malaysia selama kurang lebih 2 tahun.

Ketika jenazah tiba di Kargo, seperti biasa, jenazah akan dipindahkan dari kereta Kargo ke ambulans. Suster Laurentina PI dan keluarga yang sudah menanti, menyambutnya dalam doa secara katolik. Isak tangis tentu saja menggiring kepergian jenazah hingga ke rumah duka yang juga berada di wilayah Kupang.

Suara sirene akan melengking di sepanjang jalan hingga menuju ke rumah duka. Rombongan menggiring dengan menaiki pick up yang disulap menjadi kendaraan umum. Rencananya jenazah akan segera dimakamkan di hari yang sama.    

***