Friday, July 5, 2019

Suster Kargo dan Lika-Liku Penjemputan Jenazah

Jakarta-Koordinator Koalisi Peduli Migran Nusa Tenggara Timur (NTT), Suster Laurentina PI mengisi acara diskusi yang diselenggarakan oleh Sahabat Insan (SI) di Ruang Faber Sanggar Prathivi Building lantai 5, Jalan Pasar Baru Selatan 23 Jakarta Pusat, pada Jumat (5/7/2019). Acara yang berlangsung selama 3 jam dengan tema "Bertatap Muka Dengan Suster Kargo" ini bertujuan untuk membuka hati dan pemikiran banyak orang, khususnya di Jakarta tentang maraknya kasus perdagangan orang yang terjadi di Indonesia secara khusus dari akar rumputnya di NTT. 

Adapun peserta dalam kegiatan ini, Suster-suster Ordo Ursulin, aktivis gereja terutama dari Komisi Keadilan Perdamaian (KKP) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan Seksi Keadilan Perdamaian (SKP) dari beberapa paroki seperti Rawamangun, Duren Sawit, Katedral, dan Santo Thomas Rasul, rekan jaringan Migrant Care, Kabar Bumi, Ikatan Sarjana Muda Katolik (ISKA), Majalah Hidup, Komunitas Kramat 7 dan beberapa anak muda lintas agama.

Direktur SI Romo Ignatius Ismartono, S.J. membuka acara dengan memperkenalkan sosok Suster Laurentina PI sebagai salah satu religius yang aktif dalam menangani permasalahan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Kupang, NTT. Sebelumnya, para peserta telah menyaksikan pemutaran video "Sister Cargo" dan "Minah Tetap Dipancung" sebagai pemantik diskusi.

Peserta dalam acara Temu Ramah Bersama Suster Kargo
“Pada siang hari ini, kita sudah disuguhi video mengenai penderitaan yang dialami oleh PMI sebagai acara pembuka. Saat ini di hadapan kita juga hadir Suster Laurentina yang dijuluki Sister Cargo atau Suster Kargo yang menangani berbagai kasus PMI asal NTT. Maka dalam kesempatan ini, kita akan manfaatkan sebaik-baiknya untuk menggali lebih dalam permasalahan korban perdagangan orang dari akar rumputnya yang ditangani secara langsung oleh Suster Laurentina,” ujarnya mempersilakan Suster Laurentina PI.

Suster dari Kongregasi Penyelenggaraan Ilahi (PI) yang dijuluki Sister Cargo ini kemudian menyapa seluruh peserta dengan menampilkan sebuah video yang memuat karya pelayanannya di Kargo Bandara El Tari Kupang, NTT. Setelah itu, ia memperkenalkan diri secara langsung dan membagikan pengalamannya dalam melakukan “Pelayanan Kargo” bersama dengan kaum religius dan Koalisi Peduli Migran NTT. 

"Kita sudah menyaksikan bahwa banyak peti jenazah PMI yang tiba di Kargo Bandara El Tari Kupang, NTT.  Mereka adalah korban perdagangan manusia yang kembali dalam keadaan tak bernyawa," ujarnya mengawali.

Suster Laurentina PI
Pernah bertugas semenjak tahun 2004 di Kupang, membuatnya tertarik akan Tanah Timor dan segala karya yang diabdikan. Pada tahun 2014 hingga 2016, ia mulai mendiskusikan tentang isu human trafficking di Jakarta dan saat ditugaskan kembali ke NTT, dipercayakan melakukan pelayanan di bidang kerasulan Anti Human Trafficking untuk melayani para korban perdagangan orang di wilayah NTT. Dalam kesempatan ini, ia membagikan pengalamannya selama menangani kasus PMI sebagai korban human trafficking

Diskusi dengan metode tanya jawab berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam. Peserta secara aktif terlibat dalam diskusi tentang berbagai hal terkait human trafficking. Penyebab maraknya human trafficking di NTT, menurut Suster Laurentina PI, disebabkan oleh berbagai faktor seperti kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, adat istiadat yang mengikat.

"Mereka bertekad untuk bekerja di luar negeri demi mendapatkan ringgit atau dollar tanpa memikirkan resiko yang terjadi.  Banyak yang pergi lewat jalur illegal dan diajak oleh orang yang tak dikenal dengan hanya membayarkan uang sirih pinang sebagai bayarannya. Modus baru sekarang adalah saat PMI kembali ke kampung halamannya untuk liburan, mereka berubah menjadi agen yang mencari pekerja untuk dibawa ke luar negeri. Meskipun demikian, kepedulian pemerintah dan gereja sangat rendah dalam menyikapi masalah ini," keluhnya.  

Ia juga mengungkapkan kesulitannya saat melakukan pelayanan kerasulan anti human trafficking di lapangan. 

"Sangat sulit juga mengajak orang lokal untuk terlibat membantu memberantas human trafficking. Kadang-kadang saya merasa putus asa dan merasa tidak mendapatkan dukungan. Apalagi jika saya gagal menyelamatkan orang yang sudah terlanjur tertipu dan mengirimkan sejumlah uang kepada agen mayat. Saya tak bisa berbuat apa-apa," ujarnya. 

 Di sela-sela diskusi, ia juga memutarkan video terkait kondisi jalanan NTT yang sangat sulit untuk diakses dengan medan terjal batu karang. Meskipun demikian, ia tetap harus menerobosnya untuk menghantarkan korban human trafficking hingga ke pelukan keluarga baik dalam kondisi hidup maupun tak bernyawa.  

Diskusi semakin berwarna ketika seorang mantan PMI, perwakilan dari Kabar Bumi bersedia membagikan pengalamannya sebagai buruh migran saat bekerja di Hongkong. Ia juga menceritakan pengalamannya ketika menggabungkan diri untuk mengabdi dan memperjuangkan nasib PMI yang lainnya. 

Peserta aktif berdiskusi dengan memberi beberapa pertanyaan
"Saya mau menegaskan bahwa apa yang dialami oleh PMI asal NTT juga dialami oleh PMI secara keseluruhan," ujarnya. 

Di akhir diskusi, Suster Laurentina, PI mengapresiasi kehadiran beberapa anak muda dari berbagai agama sebagai tanda bahwa mereka adalah bagian dari bangsa ini dan memiliki kepedulian yang tinggi akan penderitaan saudara-saudari sebangsanya. Ia juga meminta dukungan doa dari untuk meneguhkan setiap karya kemanusiaan yang sedang dikerjakannya dan  berharap  segala upaya yang dilakukan dapat semakin meningkatkan kesadaran akan bahaya human trafficking sekaligus memberantasnya.

“Mohon doanya dari semua hadirin agar mendoakan karya ini dan mendoakan semua orang yang terlibat dalam karya ini karena selain pekerjaan yang cukup berat, resiko keamanannya juga sangat besar,” ujarnya.


Peserta mengajukan beberapa saran dan kritik
Oleh karena rumit dan besarnya kasus human trafficking, Romo Ignatius Ismartono, S.J. mengajak semua peserta untuk kembali merujuk kepada kata-kata Paus Fransiskus tentang pemberantasan tindakan keji ini mulai dari evaluasi diri.

"Paus Fransiskus mengatakan bahwa  sumber dari praktik human trafficking adalah ketamakan dan kerakusan manusia itu sendiri sehingga timbul dorongan untuk mengeksploitasi, menguasai dan menjadi tuan atas mereka yang lemah dan tak berdaya. Mereka yang kuat menindas yang lemah. Sebagai upaya memerangi dan menghilangkan praktik human trafficking, maka kita berkewajiban untuk memulainya dari diri sendiri dengan mengevaluasi kepribadian kita. Paus Fransiskus mengajak kita untuk mengambil bagian dalam penuntasan kasus human trafficking dari diri sendiri," pungkasnya.