Wednesday, July 3, 2019

Jenazah ke-36

#Kisah-Kisah dari Program Eksposure Belarasa 2018 (28)

Hari ini, Senin (24/9/2018) aku dan Suster Laurentina PI menjemput jenazah atas nama EP di Kargo Bandara El Tari Kupang. PMI asal Waruwora, Desa Patiala Bawa, Kec Lamboya Sumba Barat Daya dipulangkan dalam keadaan tak bernyawa, tanpa sambutan hangat dari keluarga. 

Berdasarkan Surat Keterangan Polis Diraja Malaysia, EP didapati telah meninggal dunia di kamarnya di daerah Genting Tanjung Estate, Sandakan Sabah, Malaysia oleh rekan satu kerjanya, NN pada (13/9/2018) pada pukul 05.15 p.m.

NN yang panik segera memanggil Manteri Kampung, Mastodin Bin Kiwin untuk melakukan pemeriksaan terhadap EP. Mastodin mendapati bahwa denyut jantung EP telah berhenti dan sekujur tubuhnya telah kaku dan keras. Ia segera membuat laporan kepada kepolisan Kinabatangan untuk memeriksa kondisi EP. 

Setelah polisi tiba di lokasi, mereka segera membawa EP ke Rumah Sakit terdekat di Kinabatangan dengan menggunakan mobil Van kebun. Sesampainya di Rumah Sakit Kinabatangan, jenazah EP segera diotopsi oleh pihak rumah sakit dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait penyebab kematiannya. 

Meskipun sudah dilakukan otopsi, namun pihak Rumah Sakit belum dapat memastikan penyebab kematian PMI yang tutup usia 36 tahun ini. Dalam surat keterangan yang diberikan, terdapat tulisan “Undetermine” (Pending Investigation).

Dalam surat keterangan yang lainnya, diketahui bahwa jenazah EP akan diterima oleh ayah kandungnya, YNJ yang bertempat tinggal di Kampung Waruwora, Desa Patiala Bawa, Kec Lamboya Sumba Barat Daya.

Jenazah EP diangkut dari kereta kargo Bandara El Tari Kupang ke ambulans
Aku, Suster Laurentina PI dan juga beberapa teman jaringan koalisi Peduli Migran NTT yang lainnya telah tiba di bandara pada pukul 12.30 WITA. Kami menyambut kedatangan jenazah dengan doa yang dipimpin oleh Oma pendeta Emmy. Tak ada satupun pihak keluarga yang menyambut kepulangan jenazah di Kupang, NTT. 

“Tak ada satupun keluarga yang datang, tapi ya sudahlah, tidak apa-apa, kita adalah keluarganya. Marilah kita menyambut saudara kekasih kita dalam doa,” ujar Oma Pendeta Emmy sambil menepuk peti sebelum berdoa. 

Usai berdoa, pintu ambulans segera ditutup. Sirene dibunyikan menuju ke RSUD W.Z Yohanes Kupang.

Berdasarkan pengakuan Oma Pendeta Emmy, peti jenazah EP sudah sedikit mengeluarkan bau tidak sedap. 

“Tadi ketika saya menepuk peti, saya mencium bau yang tidak sedap. Nanti ketika tiba di Rumah Sakit sebaiknya peti segera di bungkus dengan terpal, ditambahkan bubuk kopi dan di wrapping ulang dengan rapi agar ketika proses pemulangan besok bisa lancar,” ujarnya menyarankan kepada supir ambulans.

Biasanya kondisi peti akan menentukan layak atau tidaknya peti untuk diterbangkan karena maskapai akan memastikan dengan teliti kondisi peti sebelum diberikan label untuk layak terbang. Berdasarkan pengalaman, jika peti sedikit berbau, pihak maskapai tidak akan menangani pemulangan jenazah. 

Malam harinya, aku dan Suster Laurentina PI bersama dengan teman-teman jaringan lainnya segera menjenguk jenazah dan mendoakannya di RSUD Yohanes Kupang pada pukul 19.30 WITA. Kali ini suster Anna PI (Suster Pimpinan Komunitas Susteran PI Kupang) dan Delti Daman (calon suster PI) bersedia meluangkan waktu untuk ikut serta mendoakan jenazah di RSUD Yohanes Kupang sehingga kami menyewa satu pickup putih untuk berangkat ke rumah sakit.  

Sesampainya disana, Oma Pendeta Emy memimpin doa dan memberikan beberapa kutipan firman yang sangat meneguhkan, bahwa pertolongan hanya datang dari Tuhan. 

“Biarlah Tuhan juga yang menolong dan menerima arwah dari jenazah sehingga layak beristirahat kekal disamping Allah Bapa di surga,” ujarnya diakhir kotbahnya. 

Usai mendoakan jenazah, kami kembali ke biara dengan menggunakan pick up yang sama. Tentu saja aku dan Delti memilih tempat duduk di bak belakang pick up

“Sedih juga ya kak, seperti jenazah hari ini yang tidak ada pasangannya,” ujar Delti.

“Itu sudah yang kesekian kalinya Del. Tidak hanya dia jenazah yang datang tanpa disambut keluarga,” ujarku. 

Lagi-lagi mereka pergi dengan alasan keluarga namun pulangtanpa nyawa tanpa disambut keluarga. Berjuang demi keluarga pulang tanpa keluarga. Begitulah realitas yang kebanyakan yang dialami oleh jenazah PMI. Namun tetap saja, mereka sudah berjasa untuk keluarga dan juga bangsa ini. Pahlawan Devisa

***