Sunday, July 7, 2019

Jenazah ke 39 dan 40

#Kisah-Kisah dari Program Eksposure Belarasa 2018 (31)
 
Hari ini, Sabtu (6/10/2018) aku mengawali hari dengan doa pagi bersama para suster di susteran PI. Doa dipimpin oleh Suster Laurentina PI. Usai berdoa, kami santap pagi bersama.

Setelah santap pagi, aku melanjutkan aktivitasku seperti biasanya menyiram tanaman dan menyapu halaman depan biara. Setelah itu, aku mengerjakan beberapa tugas kantor dan bersiap-siap menuju ke Kargo Bandara El Tari Kupang, NTT untuk menjemput dua jenazah sekaligus yakni jenazah HO asal Kolbano Timor Tengah Selatan (TTS) dan jenazah atas nama TGK asal Larantuka.

Jenazah TGK tiba di Kargo Bandara El Tari Kupang, NTT
Namun ketika kami hendak berangkat, kami mendapatkan kabar bahwa jenazah atas nama HO sudah tiba lebih cepat dari jadwal yang ditentukan di Kargo dengan menggunakan penerbangan Batik Air. Tak ada satupun dari anggota Koalisi Peduli Migran NTT yang menyambut jenazah HO. Untung saja keluarga dari jenazah datang menjemput, sehingga mereka berdoa untuk mengurus keberangkatan jenazah tanpa kami.

Ketika kami tiba di kargo, jenazah atas nama HO sudah berangkat bersama dengan keluarga menuju ke daerah Kolbano. Kami terlewat! Informasi penjemputan jenazah juga sangat terbatas. Kami menunggu untuk kedatangan jenazah selanjutnya.

“Maaf suster, jenazah sudah berangkat. Informasinya salah,” ujar perwakilan BP3TKI, Pak Stefanus.

“Yah, mau bagaimana lagi pak. Bukan kesalahan kita juga. Kita tunggu untuk kedatangan jenazah yang satu lagi aja,” jawab Suster Laurentina PI sembari duduk di bawah pohon beringin.

Ya seperti biasanya, kami harus sabar menunggu untuk kedatangan jenazah di Kargo Bandara. Apalagi jika musim kemarau seperti ini, kota Kupang sangat tandus dan kering. Terik matahari sangat menusuk bahkan hingga ke sumsum. Tanaman akan tampak kering dan layu, bahkan sebagian besar pohon meranggas nyaris tanpa daun.   

Pada pukul 13.00 WITA, jenazah TGK akhirnya tiba di Kargo. Kedatangannya disambut oleh beberapa anggota keluarga dan juga Suster Laurentina PI beserta Oma Pendeta Emmy dan pihak BP3TKI. Tak ada yang mengetahui penyebab kematian jenazahTGK. Para penjemput jenazah hanya mengetahui bahwa TGK meninggal, kemudian di kirimkan ke Kupang, untuk selanjutnya dikirim ke Larantuka. Apalagi keluarga yang datang melayat bukan merupakan keluarga dekat. 

Jenazah TGK disambut dalam doa sebelum diberangkatkan ke RSUD W.Z. Yohanes Kupang, NTT

Khusus malam ini, jenazah akan menginap di RSUD Yohanes Kupang dan akan diberangkatkan besok, Minggu (7/10/2018). Malam ini, tidak seperti biasanya, kami tidak datang mendoakan jenazah di RSUD Yohanes Kupang karena membawa Suster Laurentina PI berobat. Pekerjaan menghantar dan menjemput jenazah ternyata tak cukup hanya berbekal psikis yang kuat, melainkan harus diserta fisik yang sehat karena Pelayanan Kargo tak mengenal pengecualian atas waktu dan usia. Jenazah bisa datang kapan saja dan dalam pelayanan ini disambut dalam doa oleh siapapun tanpa mengenal batas usia.  

Kami hanya mendoakan jenazah dari biara berharap semoga malam ini ada orang yang tergerak untuk mendoakan jenazah di RSUD W.Z. Yohanes dan semoga perjalanan besok bisa berjalan lancar tanpa kekuarangan suatu apapun. Masih dengan harapan yang sama, semoga tak ada lagi jenazah PMI pada hari mendatang.

***