Thursday, July 11, 2019

Jenazah ke-44

#Kisah-Kisah dari Program Eksposure Belarasa 2018 (35)
 
Perjalananku dan Suster Laurentina PI tidak mengenal kata henti dalam melakukan sosialisasai bahaya human trafficking kepada masyarakat di sekitar Soe selama 4 hari, mulai Sabtu (20/10) hingga hari ini, Rabu (24/10). Sebelum kembali ke Kupang bersama dengan teman-teman dari AP (Associated Press), kami telah terlebih dahulu mengikuti misa di Soe yang dimulai pada pukul 05.30 WITA di salah satu gereja yang tidak jauh dari tempat kami bermalam.

Usai misa, kami sarapan pagi, kemudian packing dan beranjak dari Soe menuju ke Kupang dengan menggunakan 2 mobil. Kami berjalan beriringan. Rencananya, sebelum teman-teman dari AP berangkat kembali ke daerah asal masing-masing, mereka ingin mengikuti Suster Laurentina PI untuk memberangkatkan jenazah yang tiba pada Selasa (23/10) lalu ke daerah asalnya di Ende pada hari ini. Jenazah atas nama DDE meninggal karena sakit. Ini merupakan jenazah ke-44 yang sudah kujemput selama keberadaanku di Kupang.  

AP mendokumentasikan pemberangkatan jenazah DEE di Kargo Bandara El Tari Kupang, NTT
Kami menunggu hingga mobil kargo datang untuk mengangkut jenazah ke ruang pemberangkatan. Jenazah DDE baru bisa masuk kedalam mesin X-Ray pada pukul 11.00 WITA. Teman-teman AP mendokumentasikan semua kegiatan yang dilakukan oleh Suster Laurentina PI dalam pelayanan kargo mulai dari berbincang-bincang dengan keluarga, mendokan jenazah hingga jenazah dinyatakan lolos verifikasi dari mesin X-Ray kargo.

Setelah jenazah berhasil melewati mesin X-Ray, tamu kami dari AP segera berpamitan untuk pulang ke daerah asal masing-masing. Mereka berterimakasih dengan kesediaan Suster Laurentina PI untuk mendampingi mereka ke rumah para korban perdagangan orang dan juga rumah korban yang anggota keluarganya hilang hingga saat ini.

Mereka juga berhasil mendokumentasikan semua kegiatan yang telah kami lalui dari hari pertama hingga terakhir. Aku salut melihat tim mereka yang bekerjasama dengan baik, mulai dari kameramen, reporter hingga editor yang sama-sama mengisi kekurangan satu dengan yang lainnya. Rencanya, semua hal yang telah mereka dapatkan di lapangan dapat dikelolah dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang dapat membuka mata publik terhadap permasalahan yang terjadi dan mempengaruhi kebijakan pemerintah lokal maupun universal.

Pemberangkatan jenazah DEE melalui mesin X-Ray Kargo Bandara El Tari Kupang, NTT

“Terimakasih banyak ya suster. Nanti kami proses dulu semuanya dan kalau sudah jadi akan kami kirimkan kepada suster ya linknya,” ujar mba Ninik, salah satu teman dari AP sambil menyalam dan memeluk Suster Laurentina PI diikuti oleh Mba Mas Fahri, Pak Tatan dan Kristen (asal Australia).

Mereka mengatakan akan mengulas kisah dibalik peliputan khusus (sejenis investigasi jurnalistik) yang mampu menyadarkan khalayak luas akan permasalahan perdagangan orang yang tengah melanda beberapa bagian di negara Indonesia, secara khusus Indonesia bagian Timur, NTT.

Sorenya, kami mengikuti perayaan misa syukuran kaul kekal ke-6 frater Claretian dan sekaligus merayakan 25 tahun berdirinya Pra Novisiat Claretian. Misa dimulai pada pukul 18.00 WITA dan berakhir pada pukul 21.00 WITA. Acara kaul kekal ini menambah sukacita bagi seluruh keluarga besar Claretian yang ada di Indonesia dan juga Timor Leste.

Selesai misa syukuran, kami santap malam bersama dan menikmati penampilan dari AMC (Anak Muda Claretian) dan beberapa sumbangan persembahan tampilan dari susteran OSF serta hadirin yang ingin tampil. Kemudian aku dan Suster Laurentina PI segera berpamitan kepada para pater dan akhirnya tiba di biara pada pukul 22.30 WITA.

***