Friday, July 5, 2019

Antar Jenazah PMI Hingga ke Liang Lahat

#Kisah-Kisah dari Program Eksposure Belarasa 2018 (30)
 
Hari ini, Jumat (28/9/2018) aku dan Suster Laurentina PI menjemput jenazah PMI dari Malaysia yang ke-38 di Kargo Bandara El Tari Kupang Nusa Tenggara Timur. Jenazah atas nama SB ini merupakan suami dari salah satu relawan koalisi peduli Migran NTT yang menangani kasus migran di Malaka, MD.

Suster Laurentina PI menenangkan MD yang terpukul atas kabar duka suaminya SB di Kargo Bandara El Tari Kupang
Jenazah yang tutup usia 57 tahun ini diketahui sudah bekerja selama 10 tahun di Malaysia. Ia meninggal karena penyakit Acute Coronary Syndrome. Isteri dan keluarga dari pihak jenazah menangis histeris saat jenazah tiba di Kargo Bandara El Tari Kupang dan dipindahkan dari kereta kargo ke ambulans.

Isteri dan rombongan didampingi oleh BP3TKI mengantarkan jenazah sampai ke Malaka. Sebelum jenazah diberangkatkan dari Kargo, Romo Arianto Adnan Berkanis Pr dan keluarga menyambut jenazah dalam doa.

“Mari kita bersatu dalam doa. Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,” ujarnya sambil mengangkat tangan kanannya. 

Rm. Adnan Pr menyambut jenazah dalam doa di Kargo
Saat keluarga berdoa, aku melihat isterinya, MD tidak sanggup untuk berdiri dan memandangi peti dengan tatapan kosong. Tubuhnya yang sangat kurus dipapa oleh saudaranya. Ia masih sangat terpukul dengan kepergian suaminya.

Romo Adnan Pr segera memberkati peti jenazah dengan air suci dan menutup pintu mobil jenazah. Semua peristiwa penjemputan jenazah disaksikan oleh perwakilan dari Tenaganita Malaysia, Mrs Selly dan Mr Jo yang saat itu sedang berkunjung ke Kupang. Mereka melihat secara langsung bagaimana proses penjemputan jenazah PMI yang dilakukan oleh Jaringan Koalisi Peduli Migran NTT di tanah air. Mobil ambulans segera berangkat menuju ke kampung halaman SB di Malaka.  

Pada Sabtu (29/9/2018) aku, Suster Laurentina PI, Mr Jo dan Mrs Selly menyusul jenazah ke Malaka. Sebagai tanda turut berdukacita atas meninggalnya SB, kami ingin menghantar jenazah SB hingga ke peristirahatan terakhir. Semoga dengan kehadiran kami, keluarga mendapatkan penghiburan. Apalagi, isteri SB merupakan anggota relawan yang juga aktif bersama teman-teman koalisi dalam mengurus permasalahan PMI asal Malaka. Perjalanan kami lebih aman karena kami dihantar oleh polisi asal Soe. Tuhan memang Maha Baik. Perjalanan kami dilancarkan.

Ditengah perjalanan, kami singgah di daerah Pasir Putih Kolbano untuk makan siang bersama. Setelah itu, kami singgah ke Batu Fatu Un dan mengabadikan beberapa gambar bersama. Sangat menyenangkan. Ini kali kedua aku datang ke tempat ini. Aku teringat kali pertama menginjakkan kaki di tempat ini, aku sangat bahagia. Tak henti berdecak kagum atas keindahan ciptaan-Nya. Berlaksa batu putih saling bertumpu pada bidang yang teramat luas dipadukan dengan pemandangan air laut 3 warna dan ditudungi langit biru bercampur kapas putih. Ah indahnya. Meskipun kali kedua, tetap saja sama, aku takjub!

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju ke Malaka. Pada pukul 16.00 WITA, kami tiba di rumah duka keluarga SB. Kami disambut oleh isterinya, MD.

“Selamat datang mister, misis, suster dan adik nona,” ucap MD sambil menyalam dengan matanya yang sembab dan mempersilahkan kami masuk ke dalam rumah duka.

Ia sengaja membawa kami masuk ke rumah kakaknya agar dapat beristirahat sejenak. Sementara peti jenazah suaminya dibaringkan di rumahnya yang baru saja di bangun di belakang rumah kakaknya.

Dalam pembicaraan kami sore ini, MD mengaku bahwa ia merupakan mantan migran yang sudah pulang kembali ke Malaka. Ia dan suaminya pernah bekerja bersama-sama di Malaysia. Namun MD memutuskan untuk kembali ke tanah air dan membesarkan anak semata wayang mereka, AN meskipun suaminya tetap bekerja di Malaysia selama kurang lebih 10 tahun.

Mereka memiliki mimpi untuk membangun rumah yang lebih layak dan permanen. Sang suami bekerja keras untuk menghidupi MD dan AN sekaligus untuk mewujudkan rumah baru idaman mereka.

“Beberapa waktu sebelum meninggal, suami saya berjanji untuk kembali secepatnya ke kampung halaman dan tinggal di rumah yang baru saja kami bangun suster. Namun belum sempat ia merasakan tinggal di rumah barunya, ia sudah meninggal di negeri orang dan pulang dalam peti jenazah,” ujarnya datar.

“Tuhan punya rencana yang terindah untuk mama dan AN,” ujar Suster Laurentina PI menenangkan.

Ia hanya mengangguk dan tampaknya masih sulit menerima kedukaan. Kemudian kami segera dihantarkan kepenginapan di Betun untuk mandi dan berkemas mengikuti misa requiem yang akan dimulai pukul 19.30 WITA. 

Romo Pius Pr memimpin misa requiem di kediaman jenazah SB
Misa berlangsung hikmad, meskipun aku tidak terlalu mengerti apa yang disampaikan oleh Romo Pius Pr saat berkotbah dalam bahasa Dawan. Para umat memadati rumah duka dan tenda di halaman untuk memberikan penghormatan terakhir pada SB. Usai misa, kami santap malam bersama dengan seluruh umat. Kemudian kami kembali ke penginapan di Betun untuk beristirahat.

Pada hari Minggu (30/9/2018) kami menuju ke rumah duka. Sesampainya di tempat duka, kami mengikuti misa penguburan yang dipimpin oleh Romo Pius. Sebelum turun dari mobil, kami menggunakan selendang  khas Timor, sama seperti yang digunakan semua orang yang datang melayat.

Pada saat misa pemberkatan peti jenazah, ada beberapa kelompok ibu-ibu yang menangis tersedu-sedu. Saat itu jua air mataku mengalir begitu saja. Tak terasa pipiku terasa panas. Aku terenyuh. Sedih rasanya ketika mendengar tangisan pilu yang membawaku pada peristiwa duka yang kualami 10 tahun silam saat aku kehilangan adikku. Kala itu, aku sangat terpukul. Perasaan itu kembali muncul hari ini. Aku memanjatkan doa untuknya dan untuk arwah SB. Aku benar-benar bisa merasakan bagaimana duka keluarga yang ditinggalkan oleh almarhum saat ini.

Usai misa, keluarga menyediakan santap siang bersama. Semua umat yang hadir wajib santap siang. Rumornya, pihak keluarga yang berduka akan kecewa jika tamu yang hadir tidak mencicipi makanan yang telah disediakan, jadi ini merupakan makan siang yang kedua bagi kami.

Setelah makan siang, pihak keluarga segera melanjutkan acara penguburan. Mereka berbaris dalam prosesi perarakan menuju ke makam yang terletak di belakang rumah. Peti kemudian dimasukkan kedalam bak yang terbuat dari semen. Jenazah tidak dikuburkan di dalam tanah, melainkan diatas tanah. 

Peti SB di rarak menuju ke pemakaman di belakang rumah
Kemudian pihak keluarga akan meletakkan bunga rampai sebagai tanda perpisahan terhadap jenazah. Tak hanya itu, peralatan memasak seperti wajan kecil, sendok masak dan beberapa perlengkapan masak lainnya juga dimasukkan kedalam makam. Setelah itu, makam ditutup dengan campuran semen. MD duduk terpaku di depan makam. Tatapannya kosong.

Tak lama kemudian, kami berpamitan dengan seluruh keluarga yang berduka. Kami berharap kehadiran kami bisa memberikan peneguhan kepada keluarga yang berduka.

“Selamat jalan SB, semoga engkau bisa beristirahat dengan tenang dalam cahaya abadi bersama Allah Bapa di surga dan menjadi pendoa buat keluarga dan sanak saudara yang ditinggalkan,” gumamku sebelum meninggalkan lokasi. Semoga keluarga besar MD juga diberikan ketabahan dan penghiburan untuk dapat bangkit dari kedukaan ini.

***