Thursday, July 4, 2019

Jenazah ke-37


#Kisah-Kisah dari Program Eksposure Belarasa 2018 (29)

Hari ini, Selasa (25/9/2018) aku dan Suster Laurentina PI menjemput jenazah atas nama KB di Kargo Bandara El Tari Kupang, NTT. Jenazah diketahui berasal dari Wairhang RT/RW 002/001 Desa Nangatobong, Kec Waigete, Kab Sikka, NTT.

Kami tiba pukul 12.30 WITA dan bertemu dengan pihak keluarga KB. Namun sangat disayangkan, pihak keluarga yang datang merupakan keluarga jauh yang sama sekali tidak mengenal jenazah.

“Kami mendapat telpon dari kampung untuk menjempuh jenazah yang transit di Kupang. Kami sama sekali tidak mendapatkan gambaran jenazah yang kami jemput seperti apa, tapi karena satu kampung ya kami terpaksa harus datang” ujar salah seorang Bapak.

Aku bisa menangkap raut wajah kesal bapak itu yang sambil menunggu kedatangan jenazah KB di Kargo.

“Coba bayangkan saja mbak, saya harus meninggalkan pekerjaan saya untuk menjemput jenazah yang tidak saya kenal. Katanya keluarga, masih satu nenek moyang, tapi saya sama sekali tidak kenal,” ujarnya lagi.

Aku sedikit terkejut dengan kesaksian bapak itu. Ini kali kedua aku bertemu dengannya di Kargo Bandara. Aku berusaha mengingat kapan terakhir kali bertemu dengan si Bapak dalam penjemputan jenazah. Aku mencoba menyinggung siapa saja korban yang sudah dijemputnya di Kargo Bandara. Kemudian ia melontarkan salah satu nama jenazah PMI DN asal Larantuka yang dipulangkan pada 30Agustus 2018 yang lalu. Aku berusaha memahami kekesalan yang diluapkannya siang itu.

“Aku selalu mendapatkan panggilan setiap kali ada jenazah dari luar negeri yang transit di Kupang. Mereka pergi tanpa pemberitahuan kepada keluarga, pulang begini sudah jadi mayat. Kalau senangnya saja pasti selalu dinikmati mereka sendiri tanpa berbagi, tetapi kalau sudah sedih dan berduka begini baru kontak kita keluarga untuk mengurus kepulangannya. Memangnya kita tidak ada kerjaan lain selain menjemput-jemput jenazah?” ujarnya lagi.

Pihak keluarga lain yang mendengarkan keluhan itu hanya diam tanpa bereaksi sedikitpun.

“Lain kali kalau ada jenazah datang, saya sudah bilang kepada keluarga untuk tidak mengontak saya. Terserah keluarga, tidak suka dengan saya karena ini ya terserah yang penting pekerjaan saya tidak terbengkalai,” ujarnya lagi.

Aku segera mengakhiri pembicaraan dengan yang bersangkutan dan fokus pada kedatangan jenazah saat kereta kargo sudah tiba di gerbang Kedatangan Kargo. Ketika jenazah tiba, pihak keluarga segera membantu menurunkan peti ke ambulans.

Seperti biasanya, kami menyambut jenazah dengan doa yang dipimpin oleh Suster Laurentina PI. Usai berdoa, peti jenazah yang terbungkus dengan rapi segera dibawa oleh mobil ambulans menuju ke RSUD W.Z. Yohanes Kupang. 

Melalui surat keterangan diketahui bahwa jenazah KB merupakan PMI yang meninggal karena menderita sakit kencing manis dan darah tinggi di Rumah Pekerja Bukit Robson, Brickfields Kuala Lumpur. Berdasarkan surat keterangan Polisi Diraja Malaysia, diketahui bahwa yang melaporkan kematian adalah rekan kerjanya, Jemi Banoet. Ia mewakili keluarga menolak permintaan otopsi pada jenazah KB.

Kata-kata dari salah satu anggota keluarga KB yang mengeluh dengan kedatangan jenazah PMI masih terngiang di kepalaku. Tampaknya kedatangan jenazah PMI yang beberapa kali mengharuskannya untuk terlibat dalam penjemputan jenazah di Kargo menjadi beban tersendiri baginya. Raganya memang hadir menyambut jenazah di kargo, namun jiwanya tidak berada disini. Sangat disayangkan, ada hubungan kerabat dengannya, namun ia keberatan dengan keterlibatannya sebagai bagian dari keluarga yang berduka.

Aku berharap, semoga jenazah bisa beristirahat dengan tenang di surga dan meskipun ia disambut dalam keadaan hati yang dongkol oleh keluarga, semoga tak menghilangkan penguatan bahwa sekalipun ia PMI yang sudah meninggalkan negara, namun ia tetap berasal dari keluarga dan menjadi bagian dari keluarga. Jika kematiannya tiba, sudah sewajarnya anggota keluarga merasakan kehilangan dan mengurus pemakamannya, bukan justru tak berempati seditpun dan merasa terbebani.

Keesokan harinya, Rabu (26/9/2018) aku dan Suster Laurentina PI memberangkatkan jenazah KB. Kami tiba di Kargo pada pukul 10.00 WITA dan melihat bahwa peti jenazah KB sudah terbungkus rapi dan diletakkan di Tempat Jenazah Kargo. Kami segera menyalami seluruh keluarga yang berada di ruangan tersebut dan duduk menunggu kedatangan kereta kargo yang akan mengangkut jenazah ke bagian keberangkatan.

Dalam pemberangkatan kali ini, kami menunggu cukup lama karena kereta jenazah baru tiba pada pukul 11.06 WITA. Sambil menunggu, kami kembali mendengarkan pengakuan dari keluarga mengenai ketidaktahuan mereka terkait jenazah. Seorang pria (bukan pria yang kutemui kemaren) mengaku heran saat mendapat kabar mengenai kematian jenazah atas nama KB. Ia sempat mengira bahwa jenazah yang diterimanya merupakan jenazah keponakannya, ternyata jenazah tersebut merupakan saudara ipar jauh dari keponakannnya. 

“Saya baru dapat kabar tadi pagi mengenai jenazah ini. Ternyata waktu saya menanyakan kepada Pak Mulen Sogen kenapa dibelakang nama jenazah tidak tertera nama Sogen, maka ia jawab bahwa jenazah memang bukan fam Sogen,” tuturnya.

Jenazah yang sebelumnya dikira anak dari Pak Mulen Sogen merupakan ipar dari anaknya Pak Mulen Sogen.

“Ternyata jenazah ini benar-benar bukan kita kenal, masih sangat jauh, tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur kita yang urus disini, ya terpaksa” ujarnya lagi.

Aku sedikit sedih mendengar pengakuannya karena keluhan itu sama tak jauh beda dengan pria kemaren yang menggerutu saat menjemput jenazah. Keluarga yang menjemput kali ini tidak seikhlas keluarga-keluarga yang sebelumnya kutemui. Biasanya meskipun keluarga tidak mengenal jenazah, mereka tetap akan mendoakan secara ikhlas tanpa banyak komentar. Namun kali ini sangat berbeda.

Dari 37 jenazah yang kami terima terhitung sejak April hingga September 2018, kebanyakan dipulangkan tanpa dijemput oleh keluarga. Jika demikian, orang-orang di Kupang yang merasa berasal dari kampung yang sama biasanya akan ikhlas menerima dan mendoakan jenazah. Tak hanya itu, mereka rela untuk berjaga semalam-malaman di RSUD Yohanes Kupang untuk menemani jenazah hingga diberangkatkan ke daerah asal. Sangat berbeda dengan nuansa perkumpulan dari keluarga yang menjemput kali ini. 

Menurutku jika memang tidak ikhlas melakukan sesuatu, lebih baik tidak melakukannya sama sekali. Kurang baik jika suatu pekerjaan dilakukan namun tidak ikhlas dan menggerutu dalam pelaksanaanya. Tidak akan menjadi berkat baginya ataupun si penerima bantuan. Pemberian bukan dari banyak dan besarnya nilai suatu pemberian melainkan seberapa besar keihklasan dan ketulusan dibalik pemberian itu.

Hal ini mungkin masih sulit diterapkan pada manusia yang sejatinya masih mengenal untung dan malang, suka dan duka, tetapi toh harus tetap berjuang untuk berlatih mengedepankan sisi kemanusiaan bagi sesama yang menderita dengan penuh keihklasan.

Peti KB dimasukkan ke dalam mesin X-Ray Kargo Bandara El Tari Kupang, NTT
Saat kereta kargo tiba, kami mendoakan jenazah KB yang dipimpin oleh suster Laurentina PI dan melepasnya melalui mesin X-Ray. Semoga ia bisa dikuburkan dengan layak oleh keluarganya di kampung halaman dan beristirahat tenang dalam cahaya abadi bersama Bapa di surga.  

***