Persiapan untuk pemberian bantuan pendidikan berupa tas, sepatu, seragam, buku, dan kaos kaki untuk 3000 murid sekolah korban tsunami di Patek, Aceh Jaya. Bantuan tersebut rencananya akan mulai didistribusikan pada pertengahan Februari 2010. Selain itu, bantuan pendidikan berupa beasiswa juga akan diberikan kepada sekitar 700 murid sekolah di Banda Aceh dan Lhoknga.
Friday, February 12, 2010
Monday, February 8, 2010
Rumah Singgah untuk orang terbuang
Rumah yang disewa dari dari Januari 2010 sampai Desember 2011
Rumah ini mempunyai 3 kamar tidur, dapur, 1 kamar mandi dan ruang tamu.
Rumah ini mempunyai 3 kamar tidur, dapur, 1 kamar mandi dan ruang tamu.
Saat ini sedang dilakukan persiapan untuk pemberian bantuan pendidikan berupa tas, sepatu, seragam, buku, dan kaos kaki untuk 3000 murid sekolah korban tsunami di Patek, Aceh Jaya. Bantuan tersebut rencananya akan mulai didistribusikan pada pertengahan Februari 2010. Selain itu, bantuan pendidikan berupa beasiswa juga akan diberikan kepada sekitar 700 murid sekolah di Banda Aceh dan Lhoknga.
Friday, February 5, 2010
Aktifitas di Rumah Singgah pada bulan Januari 2010
Pada bulan Januari 2010, Sahabat Insan kembali membantu pengadaan rumah singgah untuk orang-orang terbuang. Kali ini, rumah tersebut terletak di Jalan Pori I no I Pisangan Timur, Jakarta Timur, dan disewa selama dua tahun, mulai bulan Januari 2010 - Desember 2011.
Sampai akhir Januari 2010, terdapat dua orang terbuang yang mendapatkan pertolongan di rumah tersebut. Seorang bernama Merry Yudit, yang berasal dari desa Pesaku kecamatan Dolo kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Perempuan berusia 23 tahun tersebut tinggal di rumah singgah pada tanggal 21 Januari s/d 3 Februari 2010, setelah menjalani perawatan selama satu bulan lebih di Rumah Sakit Jiwa Grogol. Sedangkan satu orang lagi bernama Yohanes Arianto. Pria berusia 21 tahun ini berasal dari kelurahan Sesitamean kecamatan Welu kabupaten Bellu Atambua Nusa Tenggara Timur. Sampai saat ini, pemuda tersebut belum bisa dipulangkan karena masih dalam kondisi sakit.
Sampai akhir Januari 2010, terdapat dua orang terbuang yang mendapatkan pertolongan di rumah tersebut. Seorang bernama Merry Yudit, yang berasal dari desa Pesaku kecamatan Dolo kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Perempuan berusia 23 tahun tersebut tinggal di rumah singgah pada tanggal 21 Januari s/d 3 Februari 2010, setelah menjalani perawatan selama satu bulan lebih di Rumah Sakit Jiwa Grogol. Sedangkan satu orang lagi bernama Yohanes Arianto. Pria berusia 21 tahun ini berasal dari kelurahan Sesitamean kecamatan Welu kabupaten Bellu Atambua Nusa Tenggara Timur. Sampai saat ini, pemuda tersebut belum bisa dipulangkan karena masih dalam kondisi sakit.
Workshop Jejaring Relawan Penanggulangan Bencana
Pertemuan pembina relawan yang digagas oleh Badan Penangulangan Bencana (BNPB), bertempat di Hotel Cemara Jumat (29/10) dihadiri sekitar 32 undangan perwakilan elemen organisasi termasuk Sahabat Insan yang diwakili Thomas Aquinus Krisnaldi dan Corry Korita Neryceka. yang bernaung dalam lembaga sosial dan penanggulangan bencana. Pertemuan digagas untuk membahas peningkatan peran relawan melalui pendataan relawan.
Pendataan relawan dimaksudkan agar semua elemen relawan dapat menyatukan persepsi,dan menjalin kerjasama. Dalam hal ini BNPB menargetkan 10.000 relawan terdaftar di DPR. Sistem pendataan yang direncanakan oleh BNPB diawali dari permintaan data relawan tiap elemen, mengirimkan data relawan, seleksi dan verifikasi, persetujuan, pencatatan sebagai relawan, sertifikasi, pembinaan, pelatihan, dan terakhir pengerahan.
Proses pendataan setiap anggota elemen rencananya akhir bulan april akan terkumpul dan akan diadakan jambore nasional relawan guna menyatukan persepsi dan menjalin kerjasama antar elemen. Target yang dicapai merupakan relawan yang menmpunyai kapasistas yang memumpuni di setiap bidangnya, hal tersebut agar relawan mahir dalam penaggulangan bencana.
Andi Hanindito selaku perwakilan dari Departemen Sosial menyampaikan dukungan atas gagasan dari BNPB, namun Pak Andi juga mengusulkan agar pendataan terlebih dahulu dilakukan dengan proses sosialisasi atas berbagai elemen penanggulangan bencana yang ada saat ini. Masih banyak relawan-relawan yang belum terdaftar saat ini, dan hal tersebut akan menimbulkan hal yang justru akan merugikan pihak BNPB sendiri.
Usulan Andi Hanindito tersebut disambut baik oleh BNPB bahwa setiap elemen akan disosialiasi, menanggapi usulan tersebut maka BNPB akan mengadakan pertemuan lajutan dan diharapakan akan terus diadakan pertemuan rutin kedepannya.
Menurut rencana, BPNB juga akan melakukan koordinasi dengan tiap daerah yang tergabung dalam Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mendata relawan yang berada di setiap daerah, khususnya daerah rawan bencana. Namun kendala saat ini baru terdapat 23 BPBD dari keseluruhan tingkat Nasional, menurut Sugeng Triutomo saat ini BNPB akan bekerjasama dengan elemen penanggulangan bencana yang sudah mencapai tingkat daerah seperti TAGANA, PMI, dsb.
Menanggapi target 10.000 relawan yang terdaftar, sebelum pertemuan ini pihak PMI sebelumnya sudah melakukan koordinasi dengan Bp. Jusuf Kalla, bahwa PMI siap mendukung penuh dengan mengerahkan 10.000 relawan yang tergabung. Namun hal yang perlu digaris bawahi saat ini PMI mengusulkan setiap relawan yang tergabung dalam banyak elemen harus menentukan elemen mana yang diikutinya, hal tersebut dilakukan agar pendataan jelas jumlahnya. (Thomas)
Pendataan relawan dimaksudkan agar semua elemen relawan dapat menyatukan persepsi,dan menjalin kerjasama. Dalam hal ini BNPB menargetkan 10.000 relawan terdaftar di DPR. Sistem pendataan yang direncanakan oleh BNPB diawali dari permintaan data relawan tiap elemen, mengirimkan data relawan, seleksi dan verifikasi, persetujuan, pencatatan sebagai relawan, sertifikasi, pembinaan, pelatihan, dan terakhir pengerahan.
Proses pendataan setiap anggota elemen rencananya akhir bulan april akan terkumpul dan akan diadakan jambore nasional relawan guna menyatukan persepsi dan menjalin kerjasama antar elemen. Target yang dicapai merupakan relawan yang menmpunyai kapasistas yang memumpuni di setiap bidangnya, hal tersebut agar relawan mahir dalam penaggulangan bencana.
Andi Hanindito selaku perwakilan dari Departemen Sosial menyampaikan dukungan atas gagasan dari BNPB, namun Pak Andi juga mengusulkan agar pendataan terlebih dahulu dilakukan dengan proses sosialisasi atas berbagai elemen penanggulangan bencana yang ada saat ini. Masih banyak relawan-relawan yang belum terdaftar saat ini, dan hal tersebut akan menimbulkan hal yang justru akan merugikan pihak BNPB sendiri.
Usulan Andi Hanindito tersebut disambut baik oleh BNPB bahwa setiap elemen akan disosialiasi, menanggapi usulan tersebut maka BNPB akan mengadakan pertemuan lajutan dan diharapakan akan terus diadakan pertemuan rutin kedepannya.
Menurut rencana, BPNB juga akan melakukan koordinasi dengan tiap daerah yang tergabung dalam Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mendata relawan yang berada di setiap daerah, khususnya daerah rawan bencana. Namun kendala saat ini baru terdapat 23 BPBD dari keseluruhan tingkat Nasional, menurut Sugeng Triutomo saat ini BNPB akan bekerjasama dengan elemen penanggulangan bencana yang sudah mencapai tingkat daerah seperti TAGANA, PMI, dsb.
Menanggapi target 10.000 relawan yang terdaftar, sebelum pertemuan ini pihak PMI sebelumnya sudah melakukan koordinasi dengan Bp. Jusuf Kalla, bahwa PMI siap mendukung penuh dengan mengerahkan 10.000 relawan yang tergabung. Namun hal yang perlu digaris bawahi saat ini PMI mengusulkan setiap relawan yang tergabung dalam banyak elemen harus menentukan elemen mana yang diikutinya, hal tersebut dilakukan agar pendataan jelas jumlahnya. (Thomas)
Subscribe to:
Posts (Atom)