Laudato Si’ adalah ensiklik Paus Fransiskus tahun 2015 tentang “perawatan rumah bersama” (care for our common home). Dalam dokumen itu, Paus menegaskan bahwa krisis lingkungan tidak bisa dipisahkan dari penderitaan orang miskin, masyarakat adat, dan korban ketidakadilan ekonomi. Maka ketika banner Laudato Si’ muncul di dalam film, itu dapat dibaca sebagai:
- Simbol perlawanan ekologis
Banner itu menandakan bahwa perjuangan masyarakat adat Papua bukan hanya soal tanah, tetapi juga soal menjaga ciptaan. Hutan dipahami bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan ruang hidup yang sakral. - Kritik terhadap “kolonialisme modern”
Judul film sendiri memakai istilah “Kolonialisme di Zaman Kita.” Banner Laudato Si’ memperkuat kritik bahwa eksploitasi besar-besaran atas tanah Papua merupakan bentuk kolonialisme baru: alam dihancurkan demi keuntungan segelintir elite ekonomi-politik. Ini sejalan dengan kritik Paus Fransiskus terhadap “paradigma teknokratis” dan ekonomi yang mengorbankan manusia dan alam. - Solidaritas Gereja dengan masyarakat adat
Dalam tradisi Gereja Katolik modern, terutama sejak Laudato Si’ dan Querida Amazonia, masyarakat adat dipandang memiliki kebijaksanaan ekologis yang penting bagi dunia. Banner itu bisa dibaca sebagai tanda bahwa sebagian komunitas Gereja berdiri bersama rakyat yang mempertahankan tanah leluhur mereka. - Penghubung antara spiritualitas dan aktivisme sosial
Film ini bukan hanya dokumenter politik, tetapi juga memiliki dimensi moral dan spiritual. Banner Laudato Si’ menunjukkan bahwa perjuangan ekologis dipahami sebagai panggilan etis dan iman, bukan sekadar aktivisme lingkungan biasa. - Penanda jejaring gerakan global
Karena Laudato Si’ telah menjadi inspirasi banyak gerakan lingkungan internasional, kemunculan banner tersebut juga menghubungkan perjuangan lokal Papua dengan gerakan ekologis global: hak masyarakat adat, keadilan iklim, dan kritik terhadap kapitalisme ekstraktif.
Secara sinematik, detail seperti banner itu juga berfungsi sebagai “kode ideologis.” Sutradara tidak perlu menjelaskan panjang lebar; cukup dengan menghadirkan simbol Laudato Si’, penonton yang memahami konteks langsung menangkap bahwa film ini memosisikan kerusakan ekologis Papua sebagai persoalan moral, spiritual, dan kemanusiaan universal, bukan sekadar konflik pembangunan biasa. Nomor-nomor Laudato Si’ yang terkait adalah: LS No. 48, LS No. 67, LS No. 82, LS No. 91, LS No. 101, LS No. 106, LS No. 109, LS No. 117, LS No. 146, LS No. 216, LS No. 217.
Film Pesta Babi sendiri memang banyak dibahas sebagai dokumenter investigatif tentang deforestasi, proyek pangan skala besar, dan perjuangan masyarakat adat Papua Selatan menghadapi ekspansi industri.
Di sisi yang lain juga nampak gambar Yesus dengan tulisan “Jezu, ufam Tobie”
Kalimat ini merupakan inti dari devosi Kerahiman Ilahi yang diterima Santa Faustina melalui penglihatannya akan Yesus yang penuh belas kasih. Dalam ikon Kerahiman Ilahi, Yesus digambarkan dengan dua sinar keluar dari hati-Nya: sinar merah melambangkan darah, sinar pucat melambangkan air, yang mengingatkan pada darah dan air yang mengalir dari lambung Kristus di salib (Yohanes 19:34). Pesan utama dari tulisan “Jezu, ufam Tobie” adalah ajakan untuk: mempercayakan diri sepenuhnya kepada belas kasih Tuhan, berharap pada kasih Allah di tengah dosa dan penderitaan, serta hidup dalam iman dan pengampunan.
Ada beberapa persamaan yang dapat dilihat antara situasi dunia ketika Saint Faustina Kowalska hidup dan keadaan yang dialami banyak rakyat di Tanah Papua saat ini. Tentu konteks sejarahnya berbeda, tetapi ada kesamaan dalam pengalaman manusiawi dan sosial.
1. Hidup dalam suasana ketakutan dan ketidakpastian
Santa Faustina hidup pada masa Eropa diliputi kecemasan akibat perang, kemiskinan, konflik ideologi, dan ancaman kekerasan. Banyak orang merasa masa depan tidak jelas.
Di Papua, banyak anggota masyarakat juga hidup dalam suasana ketidakpastian karena konflik berkepanjangan, kekerasan bersenjata, pengungsian, dan ketegangan politik. Sebagian warga mengalami rasa takut, kehilangan rasa aman, dan trauma sosial.
2. Penderitaan rakyat kecil
Faustina berasal dari keluarga miskin petani Polandia. Ia hidup dekat dengan penderitaan rakyat sederhana: kemiskinan, sakit penyakit, dan keterbatasan hidup. Demikian pula, banyak masyarakat Papua masih menghadapi kemiskinan, akses pendidikan dan kesehatan yang terbatas, serta kesenjangan pembangunan.
3. Kerinduan akan belas kasih dan perdamaian
Pesan utama Faustina adalah kerahiman Allah: bahwa di tengah dunia yang keras, manusia tetap dipanggil untuk percaya, mengampuni, dan membawa harapan. Dalam konteks Papua, masyarakat juga sangat membutuhkan pendekatan yang berlandaskan martabat manusia, dialog, rekonsiliasi, dan belas kasih, bukan hanya pendekatan kekuasaan atau kekerasan.
4. Peran iman sebagai sumber kekuatan
Di Polandia masa Faustina, Gereja Katolik menjadi tempat rakyat menemukan penghiburan dan identitas di tengah krisis. Di Papua, Gereja-gereja juga sering menjadi tempat perlindungan moral, pendampingan kemanusiaan, pendidikan, dan suara bagi mereka yang menderita.
5. Jeritan manusia yang ingin didengar
Dunia masa Faustina dipenuhi orang-orang yang merasa terluka dan tidak didengar akibat perang dan perubahan sosial besar. Begitu pula di Papua hari ini, banyak masyarakat ingin agar penderitaan, aspirasi, dan martabat mereka sungguh didengarkan dengan hati terbuka dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Jakarta, 19 Mei 2026
Ignatius Ismartono, SJ


