Monday, February 3, 2014

Terombang-ambing: Menyambut Calon Ibu (2)

Bulan pertama telah berlalu, namun hujan masih terus mengguyur ibu kota dan sekitarnya. Apabila air tumpah ruah di pagi hari, berbagai aktivitas dapat begitu lama tertunda. Berikut ini sekelumit kisah betapa tidak efektif dan tidak efesiennya birokrasi rumah sakit yang berujung pada menelantarkan pasien.


Hari Jumat, hari ke-dua puluh empat di tahun yang baru. Hari yang dinanti-nantikan setiap orang yang bekerja untuk segera pulang dan menikmati akhir pekan. Namun, hari itu berbeda untuk Ibu Warti yang tengah hamil tua. Dia harus kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan diri serta janin dalam kandungannya yang menginjak usia delapan bulan.

Pagi itu hujan turun lebat, syukurlah kemudian berhenti. Sahabat Insan akhirnya pergi sekitar pukul 09.30 menuju Rumah Singgah Sahabat Insan untuk menjemput Ibu Warti. Jalanan agak macet, cuaca mendung. Sebentar gerimis, berhenti, lalu hujan, begitu sukar diprediksi. Sekitar 40 menit kemudian, ketika sampai dan bertemu Ibu Warti, kami langsung tancap gas ke rumah sakit.

Hari semakin siang dan waktu menunjukkan pukul 11.15. Kami sampai ke salah satu rumah sakit terbesar milik Pemerintah. Saya ingat ketika menjemput Ibu Warti dua hari lalu, suster di ruang jiwa hanya memberikan obat yang hanya cukup untuk dua hari saja. Tentu, kini, obat itu sudah habis diminum. Oleh karena itu, mengingat kandungannya makin besar, pihak rumah sakit memutuskan untuk membiarkan Ibu Warti rawat jalan saja.

Ketika awal pertama berjumpa dengannya, kami sempat bertanya-tanya mengapa Ibu Warti yang tengah mengandung dirawat di ruang jiwa bersama dengan mantan TKI lain yang mengalamai gangguan jiwa? Padahal, saat kami berusaha berinteraksi dengannya, kami merasa dia sehat dan tidak menunjukkan tanda-tanda depresi berat. Pertanyaan itu tak terungkapkan, hanya bergema di dalam diri kami.

Berbekal surat dari suster untuk periksa, saya dan Ibu Warti melangkah masuk ke rumah sakit. Ibu Warti yang tengah hamil tua itu sulit berjalan cepat, sehingga jalan kami perlahan dan sangat berhati-hati. Kami tidak tahu di mana tempat pendaftaran. Maka, kami berjalan saja ke arah ruang jiwa tempat dulu Ibu Warti dirawat. Beruntung, sebelum terlalu jauh berjalan kami berjumpa dengan suster yang menjaga Ibu Warti sebelumnya.

Melihat kami, suster langsung memberi tahu bahwa tempat pendaftarannya berada di seberang rumah sakit. Dia juga menyarankan agar ibu Warti tidak ikut sibuk berjalan-jalan. Ketika melihat di sebelah kiri terdapat ruang IGD yang menyediakan banyak tempat duduk, maka kemudian kami menuju ke sana. Ibu Warti duduk dan kemudian saya berpamitan mengurus segala sesuatunya untuk berobat. 

Saya pergi ke gedung seberang rumah sakit untuk mendaftarkan Ibu Warti. Di sana saya lihat masih banyak orang lalu-lalang dan juga masih ada yang mengantre untuk mendaftar. Tepat di sebuah loket pendaftaran pasien berjaminan, saya bertanya pada salah seorang staf di sana mengenai Ibu Warti.

Saya menjelaskan bahwa saya ingin mendaftarkan Ibu Warti, mantan TKI yang menjalani rawat jalan dan hari ini mau kembali periksa. Saya berikan surat kepadanya. Dia membawa surat yang saya tunjukkan, meminta saya menunggu, dan masuk ke dalam ruangan untuk bertanya. Di sana saya menunggu cukup lama, sekitar 10 menit kemudian staf itu baru ke luar. Saya cukup khawatir juga dan punya firasat kurang enak.

Staf itu, yang tidak saya ketahui namanya, mengatakan bahwa dia telah menanyakan Ibu Warti ke bagian administrasi. Mereka biasa menyebut PPAJ. Dan Ibu Lia di PPAJ yang biasa mengurus, mengatakan bahwa harus ada surat jaminan dari BNP2TKI bahwa pasien itu akan dibiayai oleh mereka. Kalau surat itu tidak ada maka, tidak bisa mendaftar. Dia juga mengingatkan bahwa waktu pendaftaran hanya sampai pukul 11.00. Padahal, jelas-jelas saya lihat tadi masih ada yang mendaftar, meskipun waktunya sudah lewat dari batas yang ditentukan

Saya pun kebingungan sembari mengulang lagi beberapa hal yang dia katakan sekadar meyakinkan diri. Staf itu pun menganjurkan saya untuk langsung menemui Bu Lia di PPAJ. Saya bergegas meninggalkan gedung pendaftaran, menuju ruang PPAJ di rumah sakit. Saya langsung menjumpai Bu Lia dan menanyakan perihal Ibu Warti. Ternyata sama seperti yang dikatakan staf itu sebelumnya. Dia bilang saya harus punya surat dari BNP2TKI dulu yang menyatakan kalau mereka akan menanggung biaya Ibu Warti baru setelah itu boleh berobat lagi, kalau tidak ada ya tidak bisa. Saya malah disuruh Ibu Lia itu untuk ke kantor BNP2TKI dan menemui petugas di sana untuk surat tersebut.

Saya mulai lesu dan agak menyesal. Lalu, saya pun keluar ruangan tersebut dan menghubungi Mbak Lili, Peduli Buruh Migran, memberi tahunya perihal kejadian tersebut. Saya menunggu cukup lama dan bingung hendak melakukan apa. Sementara waktu terus bergulir. Saya makin tidak yakin.

Menyadari bahwa saya telah meninggalkan Ibu Warti di ruang IGD begitu lama, saya pun menuju ke tempatnya. Saya katakan bahwa kita telah terlambat untuk mendaftar. Saya tak memberi tahunya bahwa ada sejumlah hal yang perlu diurus lagi. Tiba-tiba sms dari Mbak Lili datang, memberi tahu saya bahwa dia telah menghubungi pihak BNP2TKI dan mereka meminta pihak rumah sakit menghubungi BNP2TKI. Saya pun pamit kepada Ibu Warti dan hendak ke PPAJ lagi.

Kembali ke PPAJ saya melihat Ibu Lia tidak ada di tempatnya. Saya sempat menanyakan pada staff yang berada di luar dan dia dengan mudahnya mengatakan bahwa Ibu Lia sedang makan. Padahal waktu menunjukkan pukul 11.30. Itu artinya, waktu istirahat belum tiba. Dan saya terpaku sesaat. Saya sempat mencoba masuk ke dalam ruangan. Menunggu seorang ibu yang sedang bicara dengan seorang staf yang lain yang bernama Ibu Savitri. Saya tahu dia karena sebelumnya saya mengurus surat-surat Ibu Wari dengannya.

Saya berdiri terpaku di depan pintu. Sementara beberapa staf yang ada di sana hanya bergeming. Tidak satu pun dari mereka menanyakan keperluan saya. Perasaan sedih mulai menjalar. Tapi, entah dari mana datangnya, saya kemudian berpikir untuk berusaha dulu sampai akhir.

Saya langkahkan kaki ke luar menuju gedung pendaftaran. Staf yang saya lihat pertama tidak saya jumpai lagi. Maka, saya jumpai yang lainnya. Saya ceritakan apa yang sedang saya urus. Saya pun bertanya, ”Apa bisa mereka menelpon BNP2TKI? Karena saya tidak tahu pihak rumah sakit mana yang dimaksud.” Namun, staf itu mengatakan bahwa lebih baik ke PPAJ saja untuk urus hal tersebut. Saya katakan lagi kalau staf yang bertugas (Ibu Lia) sedang tidak ada di tempat. Lalu staf itu mengatakan bahwa saya bisa tanya ke petugas yang lain yang berada di ruang PPAJ, selain Ibu Lia. Saya mulai lelah dan merasa banyak tenaga yang telah terkuras. Kemudian, saya bertanya, ”Apa masih mungkin untuk mendaftar sedangkan waktunya sudah habis?” Dengan santai staf itu menjawab, ”Kalau sudah ada konfirmasi dari bagian PPAJ, bisa mbak.” Mendengar kalimat itu saya merasa masih memiliki harapan.

Saya kembali menyeberang menuju ruang PPAJ di rumah sakit. Ibu Lia masih tidak ada di tempatnya. Saya menunggu dengan resah sembari berpikir untuk masuk dan bertanya kepada Ibu Savitri. Belum sampai di depan pintu, saya melihat Ibu Lia berjalan ke arah saya. Saya pun langsung saja mengatakan bahwa Mbak Lili telah menghubungi BNP2TKI, dan mereka meminta rumah sakit langsung menghubungi BNP2TKI.

Karena tidak ada tempat duduk di ruangan Ibu Lia, maka saya menunggu di luar. Dia menelpon BNP2TKI. Di luar saya melihat Ibu Lia bercakap-cakap seolah mereka telah akrab. Akhirnya, Bu Lia mengatakan pada saya bahwa BNP2TKI akan megirimkan via faks surat pernyataan tersebut nanti sore. Dan Ibu Warti dapat diperiksa. Tetapi waktu telah menunjukkan pukul 12.00.

Ibu Lia bertanya pada saya, ”Tapi apa bisa daftar ya, kan waktu pendaftaran telah habis?” Saya katakan padanya, kalau tadi ketika saya tanya hal tersebut di pendaftaran, staf di sana bilang masih bisa asal ada konfirmasi dari Ibu Lia. Kemudian, Ibu Lia menelpon bagian pendaftaran, tapi staf yang dicari tidak ada di tempat. Lalu, Ibu Lia tiba-tiba beranjak dari bangkunya keluar ruangan dan menyampaikan pada saya kalau urusan ini diurus oleh staf yang lain, yang duduk di sebelahnya. Dengan mudah dia dapat mengoper tanggung jawabnya. Temannya itu menelpon kembali bagian pendaftaran. Setelah dapat terhubung, dia memanggil saya dan menyampaikan kalau pendaftaran sudah tutup dan saya disarankan kembali di hari Senin.

Akhirnya kami pulang. Ibu Warti tidak jadi periksa ke dokter. Sebenarnya, apabila sistem yang ada lebih jelas dan sistematis tentu semua pekerjaan dapat lebih efektif dan efesien, sehingga kejadian seperti ini tidak akan dialami oleh pasien. Perasaan terombang-ambing, digantung, tidak jelas, kesal, marah, bercampur aduk saat itu. Namun, saya telah belajar. Selain perihal kesabaran, yang juga penting adalah semangat memperjuangkan apa yang menjadi hak kita sampai akhir. Bertahan dalam proses yang mungkin menyakitkan, walaupun mungkin hasilnya tidak menggembirakan.