Monday, April 12, 2021

KISAH TUJUH PURNA PEKERJA MIGRAN INDONESIA

Kamis sore, tanggal 25 Maret 2021, Suster Laurentina, SDP mengikuti pertemuan di Mindari (Rumah Produksi Ibu Yustin Sadji) yang ada di Naibonat. Pertemuan ini menghadirkan ibu-ibu purna pekerja migran yang dulunya pernah merantau dan bekerja di luar negeri. Tujuan dari mengumpulkan purna  PMI ini adalah untuk menjadikan mereka dampingan Komunitas Sepe Kita-Pohon Kita (sebuah komunitas pemberdayaan masyarakat yang dibentuk oleh CMF sebagai perpanjangan tangan untuk tanggap situasi). Saat Suster Laurentina, SDP tiba di sana, pertemuan sudah dimulai. Ibu Yustin mempersilakan kami untuk memperkenalkan diri dan dilanjutkan dengan perkenalan dari peserta yang hadir dalam pertemuan.

Ibu Yustin meminta agar ibu-ibu yang hadir ini menceritakan pengalaman-pengalaman yang mereka alami dan rasakan selama menjadi PMI di luar negeri. Cerita-cerita ini ada yang baik dan ada pula yang buruk. Ada yang diperlakukan dengan baik oleh majikannya namun ada pula yang mendapatkan siksaan. Berikut adalah kisah-kisah yang dibagikan. 

1.   Ibu yang pertama bercerita, bahwa keadaan ekonomi menjadi alasan merantau. Ia berangkat pada tahun  2014 dan bekerja di ladang kelapa sawit. Pekerjaan tersebut sangat berat dan sangat sulit untuk dilakukan, namun harus tetap dijalani karena sudah terikat kontrak. Selama di sana, ia bertugas untuk menyemprot rumput. Di tempat itu ia bekerja selama kurang lebih 4 tahun dan dari hasil kerja keras tersebut ia mampu membangun rumah. Salah satu permasalahan yang dialami adalah tidak ada teman yang bisa diajak bercerita.

2.  Ibu yang kedua menceritakan bahwa Ia bekerja di Malaysia pada tahun 2001 sebagai cleaning service. Di tempat tersebut ia tidak diberi makan sedangkan ia bekerja dari jam 6 pagi sampai jam 8 malam. Selama 2 tahun bekerja, ia tidak mendapatkan gaji karena sudah dipotong biaya transportasi. Ada seorang temannya yang sampai bunuh diri karena tidak tahan siksaan. Pada tahun 2005, ia pindah ke Singapura, dan di sana ia dieksploitasi tenaganya: dipaksa bekerja sebagai tukang pijit dan hanya mendapatkan istirahat satu jam saja karena terlalu banyak pasien. Ia berusaha untuk kembali ke agensi sampai pada akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Agency membantu biaya pemulangannya ke Indonesia namun gaji tetap tidak ia dapatkan, dan ia menganggap bahwa ini adalah pelajaran. Terkadang ia berpikir mengapa yang lain pulang membawa hasil namun mengapa dirinya yang bekerja siang malam tidak ada apa-apa.

3.   Kisah ketiga diceritakan oleh seorang mama yang berangkat pada 2018 kembali ke Indonesia pada 2020, mendapatkan majikan yang baik dengan pekerjaan yang tidak terlalu berat. Namun ia dilarang untuk keluar dari rumah saat majikan pergi ke luar negeri. Gaji pun dibayar dengan baik. Meskipun masa kontrak sudah selesai, tetapi karena pas masa lockdown, ia tetap tinggal di rumah majikan, tidak dipaksa bekerja karena sudah ada pekerja pengganti, dan makan minum pun terjamin. Sambil menunggu masa lockdown selesai, ia bekerja membersihkan rumah orang dan gajinya dihitung per jam.

4.  Kisah keempat datang dari purna migran yang berangkat pada tahun 2008 ke Malaysia. Proses keberangkatannya diurus oleh sebuah PT. Sebelum berangkat, bersama teman-temannya ia dikumpulkan di sebuah tempat penampungan dan di sana ia mulai merasakan penderitaan karena makan minum susah dan tidak bisa menghubungi keluarga. Di sana mereka diberikan latihan mencuci boneka dan membersihkan tempat tidur. Agen kemudian untuk sementara mengirimkan mereka ke Jakarta untuk bekerja di rumah-rumah sebagai pekerja rumah tangga. Saat makan duduk di lantai pun ia jalani saja karena demi mendapatkan penghasilan. Ketika sudah di Malaysia, ia ditempatkan di sebuah asrama dengan pekerjaan sama seperti yang digeluti di Jakarta. Selama di sana ia hanya diberi biskuit dan teh. Saat mendapatkan majikan untuk menjadi pekerja rumah tangga, ia tetap bertahan walaupun diperlakukan tidak baik, sering mendapatkan ancaman, diperlakukan tidak manusiawi seperti makan di lantai, dan diberikan tugas yang berat-berat. mendapatkan pekerjaan yang sulit, makan pun harus dilantai. Menjadi pembantu rumah tangga.  Di sana ia bekerja selama dua tahun sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. 

5.    Kisah selanjutnya datang dari perempuan purna migran yang berangkat pada tahun 2017 melalui sebuah PT. Ia mendapatkan pelatihan di BLK selama 5 bulan dan dilakukan dengan baik. Proses selanjutnya juga berjalan dengan baik. Sponsor mengatakan bahwa ia akan bekerja sebagai cleaning service namun ternyata mendapatkan pekerjaan menjadi asisten rumah tangga. Di tempat itu ia bekerja selama satu bulan saja karena sebelumnya dikatakan kalau bertugas menjaga anak saja, namun kenyataannya ia juga harus melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Ia kemudian pindah ke majikan kedua dan hanya bertahan selama 6 bulan karena beban pekerjaan berat (jadi ART, penjaga toko, dan mengurus anak). Di majikan ke-tiga dengan tugas menjaga 6 orang anak, mengurus opa dan oma, sekaligus mengurus rumah, ia hanya bertahan selama 5 bulan sampai ada orang Indonesia yang datang membantu kabur dari rumah majikan dan diantar ke keluarga di Perak. Setelah itu ia bekerja di restoran selama satu tahun lalu kembali ke Indonesia.

6.  Kisah ke-enam datang dari seorang Mama yang berangkat ke Malaysia saat usia 17 tahun karena tuntutan ekonomi. Ia diberangkatkan melalui sebuah PT dan mendapatkan pelatihan selama 3 bulan. Beruntung ia mendapatkan agency yang baik. Diantara 430 orang yang ada di tempat penampungan tersebut diseleksi dan akhirnya ia sendiri yang diberangkatkan. Di Malaysia ia langsung mendapatkan majikan yang baik dan dianggap sebagai anak. Di sana dia bersikap cukup tegas. Ia bekerja dengan baik sehingga majikan tidak bisa berbuat apa-apa dan berani melawan majikan saat ia benar. Pekerjaan tersebut dilakoninya selama satu tahun.  Selanjutnya ia bekerja menjaga orang tua pada tahun 2002 dengan gaji 320 ringgit. DI situ ia bekerja selama 5 tahun dan bahkan sempat membantu PMI yang bekerja sebagai perempuan malam, dengan cara mendobrak rumah bordir itu dan melaporkan pada polisi sehingga majikan takut dengannya.

7.     Kisah terakhir berasal dari seorang mama yang menceritakan tentang kakak kandungnya yang pergi merantau di Malaysia sejak tahun 2016. Selama satu tahun pertama tidak ada kabar apapun diterima. Akhirnya 3 bulan kemudian kakaknya mengontak keluarga saat ia sudah mendapatkan majikan dengan tugas merawat orang jompo. Setelah bekerja di situ selama satu tahun lebih, ia tidak bisa bekerja karena sakit  dan ingin pulang ke kampung, namun majikan tidak memberikan ijin untuk kembali. Selama dua bulan, gajinya tetap dikirim walaupun tak mampu bekerja. Tiga bulan kemudian, kakaknya pulang dengan biaya dari Malaysia dan juga mendapatkan bantuan biaya pengobatan. Sayang sampai sekarang penyakitnya tidak kunjung sembuh dan hanya bisa ditempat tidur dan divonis sakit TBC. Kakaknya tersebut berusia 36 tahun, memiliki suami dan tiga orang anak. Saat ini ia dirawat oleh Opa dan Omanya karena suaminya juga dalam keadaan sakit namun tetap bekerja sebagai buruh cuci pakaian.

Pertemuan yang terjadi atas inisiatif ibu Yustin ini menjadi suatu wadah pengenalan yang lebih baik lagi dengan para ibu-ibu purna PMI. Mereka berkumpul bersama di sini sebagai suatu keterbukaan untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Nantinya Akan ada pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada mereka bekerjasama dengan pihak ketiga (dalam hal ini Suster Laurentina dari JPIC Divina Providentia). Keluarga para purna PMI ini juga akan menjadi prioritas jika ada sembako murah yang dijual di oleh Komunitas Sepe Kita. Akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang akan dibuat seefektif mungkin. Rencana selanjutnya disusun oleh Pater Berto CMF dan Ibu Yustin Sadji. Untuk itu, Ibu Yustin meminta untuk memikirkan nama kelompok yang baru saja terbentuk ini, sebelumnya tentu saja meminta kesediaan mereka untuk berkomitmen mengikuti setiap pertemuan. Nama yang dipilih adalah Moris Foun (bahasa Tetun) yang artinya adalah Hidup Baru.

Semoga dengan kelompok baru yang dibentuk ini, pemberdayaan dapat didampingi dengan baik dan menjadi kelompok yang dapat membantu perekonomian keluarga para purna PMI tersebut.