Friday, April 9, 2021

Penjemputan Jenazah PMI Sepanjang Bulan Maret 2021

Sepanjang bulan Maret 2021 ini, tercatat ada empat belas jenazah Pekerja Migran Indonesia yang dipulangkan lewat Terminal Kargo Bandara El-Tari Kupang. Berbagai kisah pun mengiringi perjalanan mereka untuk pulang kembali ke Ibu Pertiwi dalam keadaan tanpa nyawa. 

Jenazah pertama, Selasa 2 Maret 2021: jatuh dari pohon kelapa.

Di awal Maret, tepatnya tanggal 2 Maret 2021, tim Kargo telah menerima jenazah seorang pria berusia 51 tahun, seorang PMI non-prosedural yang bekerja di Brunei Darussalam. 

Jenazah dipulangkan pada tanggal 26 Februari 2021 dari Brunei Darussalam menuju Malaysia, kemudian pada tanggal 28 Februari 2021 dari Malaysia ke Jakarta, dan tanggal 2 Maret ini dari Jakarta ke Kupang. Selanjutnya, jenazah akan dibawa menggunakan kapal laut dan dilanjutkan dengan mobil jenazah menuju rumah duka di Kabupaten Lembata.  

 
Pekerja migran ini sudah tujuh tahun bekerja di Brunei sebagai tukang kebun. Istri dan anak-anaknya juga tinggal bersama dengannya di sana, namun mereka tidak bisa menghantar jenazah ke Indonesia karena bermasalah dengan dokumen.  Pria ini meninggal dunia pada 23 Februari 2021, pukul 05.30 waktu setempat dengan sebab kematian terjatuh dari pohon kelapa dan mengalami cedera serius di kepalanya. Hasil penyelidikan dari pihak kepolisian tidak ditemukan adanya luka atau penyebab lain yang mengarah pada tindak pembunuhan, penganiayaan, kekerasan maupun rekayasa yang menyebabkan kematian.  Setelah terjatuh, ia sempat dirawat selama sepuluh hari di rumah sakit namun pada akhirnya meninggal dunia. Untuk biaya pemulangan jenazah ini sepenuhnya ditanggung oleh asuransi.

Pada tanggal 4 Maret 2021, tim kargo Bandara El-Tari Kupang Tiga jenazah PMI yang disambut di kargo bandara El Tari Kupang adalah sebagai berikut. Yang pertama atas nama Yoris Satianus Minggu, Hermanus Nus, Lasarus Lasa. Ketiga jenazah tersebut bekerja secara nonprocedural di Malaysia, dan dikirim pulang ke Indonesia dari Kuala Lumpur pada 04 Maret 2021, pada hari ini dikirim dari Jakarta ke Kupang.

Jenazah ke-3,4,5, Jumat, 5 Maret 2021: sakit infeksi saluran pernafasan, gagal jantung dan sebab kematian tidak diketahui

Pada hari Jumat, tanggal 5 Maret 2021, Tim Kargo Bandara El-Tari Kupang menjemput sekaligus tiga jenazah PMI. Ketiga jenazah tersebut bekerja secara non-prosedural di Malaysia, dan dikirim pulang ke Indonesia dari Kuala Lumpur ke Jakarta pada 04 Maret 2021, dan dilanjutkan dari Jakarta ke Kupang.


YSM adalah seorang pria berusia 38 tahun, beragama Kristen Protestan dan berasal dari Dusun Peibenga Kabupaten Ende. Ia meninggal dunia pada 17 Februari 2021, pukul 19.15 waktu setempat dengan sebab kematian Infeksi Saluran Pernapasan. Ia bekerja di Malaysia sudah belasan tahun. Namun tidak ada yang mengetahui dimana tepatnya ia bekerja, karena keluarga yang hadir adalah keluarga satu kampung, bukan keluarga kandung.

HN adalah seorang pria berusai 35 tahun yang meninggal dunia pada 26 Februari 2021, pukul 15.00 waktu setempat dengan penyebab kematian Gagal Jantung Kongsetif. Pria ini berasal dari Kabupaten Sikka dan merupakan seorang Katolik. Ia kurang lebih bekerja selama 6 tahun di Malaysia. Keluarga yang datang menyambut jenazah adalah mahasiswa asal Sikka yang dimintai tolong oleh keluarga dari kampung untuk mengurus kedatangan jenazah di Kupang. Mereka tidak mengetahui sama sekali tentang kisah hidup jenazah selama di negeri rantau.

Jenazah terakhir, LL, adalah seorang pria berusia 44 tahun. Enam tahun ia merantau dan bekerja di Malaysia. Ia berasal dari Kabupaten Flores Timur. Ia meninggal dunia pada 25 Februari 2021, pukul 09.00 pagi, waktu Malaysia dengan sebab kematian yang tidak diketahui karena adanya penundaan investigasi laboratorium. Keluarga yang hadir di kargo mengakui tidak mengetahui hal apapun tentang jenazah karena mereka adalah keluarga jauh, sudah lama tinggal di Kupang dan dihubungi oleh keluarga dari kampung untuk mengurus kepulangan jenazah di Kupang.

Ketiga jenazah dikeluarkan bersamaan dari kargo, dijejerkan di depan kargo dan segera dimasukkan ke dalam mobil jenazah RSUD W. Z. Johannes Kupang secara berurutan. Keluar dari Area Kedatangan Kargo, ketiga jenazah lalu didoakan oleh Mama Pendeta Emmy Sehartian. Sirene berbunyi nyaring dan jenazah diantar ke rumah sakit umum dan disemayamkan satu malam, besok jenazah akan dikirim ke kampung halamannya denga KMP Bukit Siguntang.


Dalam penyambutan jenazah siang ini, Tim Pelayanan Kargo yang hadir adalah JPIC Divina Providentia, Mama Pendeta Emmy Sehartian, lalu Kakak Decky Faah dan relawati Rumah Harapan, Kakak Djonk dari KOMPAK. 

Jenazah ke-enam, Sabtu, 6 Maret 2021: sakit abses paru

Satu lagi jenazah PMI yang bekerja secara non-prosedural dipulangkan ke Indonesia dari Malaysia. Jenazah tersebut atan nama AK, seorang pria berusia 28 tahun yang meninggal dunia pada 23 Februari 2021, pukul 09.30 pagi waktu setempat dengan sebab kematian Abses Paru.  

Jenazah dipulangkan dari Malaysia pada 05 Maret 2021 dengan menggunakan jalur udara, dengan tujuan Jakarta. Hari Sabtu, 6 Maret 2021, jenazah diterbangkan dari Jakarta ke Kupang dan selanjutnya petugas BP2MI mengantarkan jenazah ke Kabupaten Malaka. Jenazah disambut oleh keluarga dan Tim Pelayanan Kargo yaitu Kakak Decky Faah dan relawan Rumah Harapan. Jenazah juga didoakan oleh Kakak Decky Faah. Sayang sekali, mereka tidak sempat menanyakan tentang jenazah kepada keluarga. Syukur kepada Allah karena jenazah tiba dengan keadaan baik di Kupang. Keluarga sudah pasti merasakan luka mendalam. Almarhum mungkin saja adalah seorang ayah, atau seorang kakak-tumpuan harapan, seorang adik, seorang anak-pastinya, dan mungkin saja sudah bertahun-tahun bekerja di Malaysia lalu tidak pernah kembali ke Indonesia karena bermasalah dengan dokumen.



Jenazah ke-tujuh, Jumat, 12 Maret 2021: sebab kematian tidak diketahui

YF adalah seorang pria berusia 37 tahun yang meninggal dunia di negara rantauan Malaysia. Ia meninggal dunia pada 04 Maret 2021 dengan sebab kematian yang tidak diketahui karena keluarga tidak menginginkan jenazah untuk diotopsi. YF berasal dari Kabupaten Timor Tengah Utara. Ini adalah jenazah PMI ke-tujuh yang dijemput di Kargo Bandara El Tari Kupang sepanjang bulan Maret ini.

Laki-laki ini sebelumnya bekerja di salah satu perusahaan di Malaysia. Jenazah dibawa pulang ke Indonesia dengan menggunakan jalan darat dari Bintulu ke perbatasan Tebedu-Entikong pada 09 Maret 2021. Perjalanan kemudian dilanjutkan pada 10 Maret 2021 dari Entikong ke Pontianak dengan ambulans. Pada 11 Maret 2021, jenazah diterbangkan dari Pontianak ke Jakarta. Keesokan harinya, jenazah diterbangkan dari Jakarta dan tiba di Kargo Bandara El Tari Kupang pukul 12.45 WITA.

Dalam penyambutan jenazah siang itu, yang hadir antara lain tim JPIC Divina Providentia diwakili oleh Jeny, Tim Pelayanan Kargo yang diwaliki Mama Pendeta Ina Bara Pa-Ngefak yang memimpin mendoakan jenazah, Kakak Decky dan relawati Rumah Harapan, juga keluarga yang datang dari TTU. Ayah kandung jenazah yang telah lanjut usia juga  memaksakan dirinya untuk menjemput jenazah anak kandungnya dari kargo.

Pukul 12.58 WITA peti jenazah akhirnya dikeluarkan. Dengan sigap keluarga segera memindahkan peti jenazah. Tangisan pilu menyambut kedatangan jenazah. Kesedihan terdengar begitu menyakitkan dalam hiruk pikuk kargo. Tangisan-tangisan berlanjut dan kegiatan pun tetap dilanjutkan. Di parkiran mobil, di bawah beringin rindang, jenazah didoakan. 


Dari keluarga diketahui bahwa jenazah sudah delapan tahun pergi merantau. Ia memiliki istri dan anak namun mereka lebih memilih menunggu jenazah di rumah duka. Hanya sebatas itu informasi yang bisa diperoleh karena keluarga sedikit menjaga jarak meskipun sudah dijelaskan bahwa Tim Pelayanan Kargo bersama dengan Petugas BP2MI Kupang memang bertugas mendampingi keluarga. Namun mereka seolah enggan membicarakan tentang mendiang.  


Ayah kandung jenazah dan beberapa keluarga segera naik ke mobil usai doa. Jenazah harus segera diantar ke rumah duka. Mobil jenazah BP2MI mengumandangkan sirinenya mengantar pekerja migran tersebut ke tempat peristirahatan terakhirnya setelah perjalanan panjang yang ia tempuh dari satu kota ke kota lain dan juga lintas negara. 

Jenazah ke-delapan, Sabtu, 13 Maret 2021: kegagalan multiorgan

Jenazah ke-29 yang disambut oleh Tim Pelayanan Kargo pada hari Sabtu, 13 Maret 2021, ini adalah atas nama FJ. Ia adalah seorang pria berusia 31 tahun yang bekerja secara non-prosedural di negara Malaysia dan meninggal dunia pada 28 Februari 2021 pukul 01.07 pagi, waktu setempat. Syok Septik dengan Kegagalan Multiorgan adalah penyebab kematiannya.  Seorang mahasiswa yang berasal dari desa yang sama dengan jenazah dimintai tolong untuk melaporkan perihal kedatangan jenazah PMI ini di Kantor BP2MI Kupang. Ia mengaku tidak mengetahui hal apapun tentang jenazah yang dijemput di kargo bandara El Tari Kupang ini.

Jenazah PMI ini dipulangkan ke Indonesia dari Kuala Lumpur, Malaysia pada tanggal 12 Maret 2021. Keesokan harinya jenazah diterbangkan ke Kupang dan langsung diantar ke Pelabuhan Tenau karena akan langsung dibawa ke kampung halamannya di Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai dengan KMP Sirimau.

Peti jenazah ditarik keluar dari kargo pukul 12.54 WITA, segera dipindahkan ke mobil jenazah BP2MI dan di sudut kargo peti jenazah dibungkus lagi dengan terpal biru. Lalu dimasukkan kembali ke mobil jenazah dan Pak Stef langsung pergi dengan sirine yang nyaring. Hal ini dikarenakan kapal akan segera berangkat. Seharusnya kapal berangkat pukul 12.00 WITA namun atas permintaan dari Pak Stef untuk menyertakan jenazah sekaligus, pihak kapal menunda keberangkatan sampai pukul 14.00 WITA. Oleh karena itu, Pak Stef mengejar waktu.







Hari itu yang hadir di kargo ini, selain keluarga, ada Kakak Decky dan relawati Rumah Harapan, Kakak Lya dan Kakak Juan dari JPIT, Kakak Ardy dari IRGSC, dan Kakak Djonk dari KOMPAK. Terasa ada yang kurang dalam penyambutan jenazah siang hari ini karena tidak ada doa untuk jenazah kali ini. Pak Stef pun tidak menyadarinya karena ia harus bertanggungjawab menghantar jenazah ke Pelabuhan Tenau sebelum pukul 14.00 WITA. Tapi Puji Tuhan semua proses hari ini berjalan dengan lancar dan jenazah berhasil dipulangkan dengan tenang ke kampung halamannya. 



Jenazah ke-sembilan, Kamis, 18 Maret 2021: sakit paru-paru basah

Jenazah PMI yang dipulangkan dari Malaysia dan tiba di Kargo Bandara El Tari Kupang siang hari ini adalah seorang wanita berusia 42 tahun yang meninggal dunia pada 10 Maret 2021 di Rumah Sakit Umum Miri dengan sebab kematian Paru-Paru Basah. Jenazah dipulangkan dengan menggunakan jalur udara dari Malaysia ke Indonesia pada 17 Maret 2021 dan hari ini dikirim ke Kupang dan selanjutnya dengan mobil jenazah BP2MI diantar ke rumah duka di Kecamatan Miomaffo Barat, Timor Tengah Utara. Kepulangannya didampingi oleh anak kandungnya.


PMI tersebut sudah bekerja di Malaysia selama kurang lebih 20-an tahun. Pada tahun 2018 lalu anaknya mengikuti jejaknya merantau di Malaysia. Jenazah pernah dua kali pulang ke kampung halamannya. Anaknya mengungkapkan bahwa ibunya tidak pernah mengeluhkan tentang panyakitnya. Jika ia sakit ia akan pergi ke klinik untuk berobat. Jenazah bersama anaknya bekerja di perusahaan yang sama yaitu di sebuah perkebunan kelapa sawit. Ia memiliki dua orang anak, yaitu anak pertamanya yang mendampingi jenazahnya dari Malaysia, sedangkan anak yang kedua ada di kampung. Ia sudah lama berpisah dengan suaminya, sehingga ia memilih untuk mencari kehidupan di negara tetangga. 

Dalam penyambutan jenazah ini hadir tim JPIC Divina Providentia, tim Pelayanan Kargo (Kakak Decky) dan relawati Rumah Harapan bersama Mama Frederika lalu Kakak Ardy dari IRGSC. Keluarga dari kampung halaman juga hadir di Kargo Bandara El Tari Kupang.

Jenazah dikeluarkan dari kargo, dipindahkan ke mobil jenazah BP2MI Kupang, dan didoakan secara Katolik oleh Kakak Ardy. Usai doa, anak dan seorang keluarga naik ke dalam mobil jenazah. Mereka turut mendampingi jenazah sampai ke rumah duka. Sirine mobil jenazah dibunyikan, pertanda bahwa jenazah akan segera diantar. Suatu tanda bahwa ada yang berduka karena kehilangan orang yang dikasihi.




Jenazah yang adalah seorang ibu sekaligus seorang kepala keluarga, selama hidupnya telah berusaha untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya juga kebutuhannya sendiri. Ia sudah berusaha di sepanjang hidupnya dan perjuangannya telah usai.Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan penghiburan  dan mampu untuk terus melangkah menjalani hidup ini meskipun tanpa sosok ibu.


Jenazah ke-sepuluh, Sabtu, 20 Maret 2021: sakit jantung

 

Jenazah ke-31 yang dijemput oleh Tim Pelayanan Kargo pada hari ini adalah JF, seorang pria berusia 56 tahun yang meninggal dunia di negara rantauan, Malaysia pada 13 Maret 2021 dengan penyebab kematian penyakit jantung. Ia ditemukan terjatuh di dalam kamar mandi oleh teman sekerjanya dan sempat dirawat di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia. Jenazah diterbangkan dari Tawau ke Kuala Lumpur pada 18 Maret 2021, selanjutnya ke Indonesia pada 19 Maret 2021. Sabtu, 20 Maret jenazah diterbangkan dari Jakarta ke Kupang, tiba pukul 12.50 WITA untuk dikebumikan di kampung halamannya di  Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur.

Dalam penyambutan jenazah tersebut, ada Suster Laurentina SDP dan Jeny, teman-teman dari Tim Pelayanan Kargo (Kakak Decky dan relawati Rumah Harapan), dan Kakak Djonk dari KOMPAK. Keluarga jenazah pun hadir di kargo. Selain itu hadir juga perkumpulan mahasiswa dan mahasiswi dari Solor. 

Jenazah akan disemayamkan di Kesektariatan Mahasiswa Solor selama dua malam, Kemudian pada hari Rabu 24 Maret 2021 jenazah diantar ke Flores Timur dengan menggunakan jalur laut. Dari mereka diketahui bahwa nama yang tercantum di surat kematian bukanlah namanya melainkan nama anaknya. Pria ini bekerja di Malaysia sudah cukup lama. Pada tahun 2014 lalu ia pernah pulang ke kampung halamannya untuk mengantar istri dan anak-anaknya. Setelahnya ia kembali pergi merantau di Malaysia. Pekerjaan terakhir yang dilakukan adalah di Peternakan Ayam.


Peti jenazah dikeluarkan dari kargo pukul 13.20 WITA, dan segera dimasukkan ke dalam mobil jenazah BP2MI Kupang dengan bantuan para mahasiswa dan didoakan oleh Suster Laurentina SDP. Selanjutnya jenazah diantar ke Kesektariatan Mahasiswa Solor.





Setiap PMI yang pergi merantau di luar negeri memiliki ceritanya sendiri, kisah-kisah menyedihkan dibalik keputusannya meninggalkan kampung halaman. Memperbaiki ekonomi keluarga adalah alasan yang paling banyak ditemui. Meskipun pekerjaan yang dilakukan sama saja seperti yang dilakukan di kampung halamannya namun mereka tetap memilih pergi keluar karena mereka berpikir bahwa bayaran yang didapatkan lebih banyak daripada di tanah air. Hal miris yang terjadi di Indonesia dan sudah menjadi sesuatu yang biasa. Oleh karena itu pemberdayaan sangat penting untuk dilakukan sehingga ex PMI tidak lagi berkeinganan untuk pergi merantau. Berbicara tentang Perdagangan Manusia berarti berbicara pula tentang solusinya, dan solusi yang paling tepat adalah dengan pemberdayaan masyarakat. Untuk itu, para suster SDP pelan-pelan mulai melakukan pemberdayaan dengan skala kecil di Desa Battuna. Selanjutnya pasti ada pemberdayaan-pemberdayaan yang lain.  

Jenazah ke-sebelas, Rabu, 24 Maret 2021: sakit jantung

Jenazah PMI yang dipulangkan hari ini adalah seorang pria yang bekerja secara non-prosedural di Malaysia. Ia meninggal dunia pada 16 Maret 2021 dengan sebab kematian serangan jantung.  Ini adalah jenazah ke-sebelas dalam bulan Maret 2021 yang disambut di Terminal Kargo Bandara El-Tari Kupang. Dalam kesempatan kali ini, hadir Suster Laurentina SDP, Jeny, Kakak Djonk dari KOMPAK, dan keluarga almarhum yang tinggal di Kupang. Jenazah berasal dari  Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende. Pria ini sudah merantau belasan tahun, namun keluarga yang hadir tidak terlalu mengetahui tentang riwayat pekerjaannya karena ia belum pernah kembali ke Indonesia sejak keberangkatannya. Ia juga tidak memiliki istri dan anak. Kabar terakhir yang didengar adalah kabar kematiannya.

Peti jenazah dikeluarkan dari kargo pukul 12.57 WITA, dan segera dipindahkan kemobil jenazah BP2MI Kupang.  Di Tempat Jenazah Kargo, peti jenazah dibungkus ulang dengan terpal. Saat peti jenazah dibungkus, keluarga mendoakan sesuai dengan agama yang dianutnya. Suster Laurentina SDP membantu Pak Stef dan teman-teman membungkus peti.





Setelah peti sudah rapi terbungkus, jenazah langsung diantar ke Pelabuhan Tenau dan akan dibawa dengan KMP Wilis ke Ende. Kali ini Pak Stef sudah meminta ijin kepada Suster Laurentina untuk membawa stafnya serta ke Pelabuhan Tenau untuk kepentingan dokumentasi. Biasanya Pak Stef selalu bermasalah dengan pendokumentasian saat menaikkan jenazah ke atas kapal, khususnya kapal Wilis, karena kapal ini tidak menyediakan tali untuk men-derek sehingga peti harus diangkut ke anjungan kapal. Dan ini bukanlah pekerjaan yang mudah karena harus melewati jalan yang sempit dan menaiki tangga. Inilah yang harus Pak Stef lalui saat menaikkan jenazah ke atas kapal.  


 


 




Proses penyambutan jenazah di kargo dan mengantarkan jenazah ke pelabuhan berjalan dengan lancar, semua karena tuntunan Allah Bapa Surgawi. Kami pulang dengan hati yang tenang. Syukur kepada Allah! Selamat datang di NTT saudaraku, selamat jalan menuju kampung halamanmu, semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kekuatan dan ketabahan dari Sang Penyelenggara Ilahi, semoga tenang disisi Bapa Yang Maha Kuasa.



Jenazah ke-dua belas, Senin, 29 Maret 2021: meninggal secara tiba-tiba

Jenazah ke-12 yang disambut di Kargo Bandara El Tari Kupang pada siang hari ini adalah seorang pria berusia 43 tahun yang meninggal dunia secara tiba-tiba di Klinik Kesehatan Beleru, Sarawak pada 15 Maret 2021. Ia adalah PMI yang bekerja secara non-prosedural di Malaysia. 

Di sudut kargo, tepatnya di Tempat Jenazah, ada beberapa orang yang duduk-duduk dan salah satunya adalah seorang ibu penjemput jenazah yang tidak bisa dikatakan keluarga, karena mereka tinggal di kampung yang berbeda bahkan tidak mengenal satu sama lain. “Bapatua ini saya tidak terlalu kenal juga. Kami juga kerja tidak di satu ladang, hanya memang perusahaannya sama.” jelas ibu tersebut. Ia tidak terlalu mengenal almarhum, namun mendapatkan tugas dari perusahaan untuk mendampingi jenazah. Keadaan semakin runyam karena ia dan jenazah berangkat melalui penerbangan yang berbeda, dan ia sama sekali tidak tahu kapan jenazah akan mendarat. Ibu ini sudah tiba dari pukul enam pagi, dan kebetulan bertemu dengan seorang tentara yang berasal dari daerah yang sama dengan ibu pengantar tadi sehingga ia ditemani.

Pak Stef kemudian menjelaskan kepada Ibu ini bahwa pihak pemerintah akan membantu pemulangan jenazah sampai ke kampung halamannya. Limpah terimakasih dihaturkan oleh Ibu itu karena ia sudah bingung harus bagaimana. Pak Stef meminta tolong untuk membawa ibu tersebut beristirahat sebentar di biara. Ibu itu mengaku bahwa ia kelelahan karena perjalanan panjang yang ditempuh. Ia mendampingi jenazah dari Miri ke Entikong pada 27 Maret 2021 dan dilanjutkan ke Pontianak pada 28 Maret 2021 dengan menggunakan jalan darat selama kurang lebih 14 jam. Selanjutnya dari Pontianak ke Jakarta mereka diberangkatkan dengan pesawat pada hari yang sama dan tanggal 29 Maret diberangkatkan dari Jakarta menuju Kupang.


Ibu ini kemudian bercerita bahwa jenazah sudah bekerja selama dua belas tahun di Malaysia. Pekerjaan terakhir yang digeluti adalah bekerja di ladang kelapa sawit. Sebelum di antar ke rumah sakit, jenazah sempat muntah di rumahnya. Ia bahkan sempat berucap bahwa waktunya untuk pergi sudah tiba. Ia masih bernapas saat dibawa ke rumah sakit, namun Tuhan berkehendak lain. Ibu ini mengatakan bahwa ia tidak ingin jenazah diotopsi karena ia tidak memiliki hak untuk itu.  Setelah melewati berbagai prosedur, akhirnya mereka berdua bisa diproses untuk pulang ke Indonesia. 

Setelah beberapa saat beristirahat di Biara, Ibu itu akhirnya kembali ke bandara setelah mendapat kabar bahwa jenazah sudah tiba. Peti jenazah di keluarkan dari kargo pukul 12.43 WITA, segera dinaikkan ke dalam mobil jenazah BP2MI Kupang, dan dibungkus ulang dengan terpal sebelum diantar ke Pelabuhan Tenau. Doa untuk jenazah dipimpin oleh Suster Laurentina SDP. 





Kami semua kemudian turut mengantar jenazah sampai ke Pelabuhan Tenau, membantu Pak Stef untuk dokumentasi. Jenazah akan diantar ke kampung halamannya dengan menggunakan Kapal Perintis Sabuk Nusantara 09 dan akan tiba di Ende pada Kamis nanti. Selanjutnya jenazah diantar ke rumah duka. Romo Perno yang akan membantu saat jenazah tiba di Ende nanti.


Langit biru seoalh menyambut kedatangan putra NTT yang meninggal di rantauan. Jenazah sudah dinaikkan ke atas kapal, begitu pula Ibu pengantar. Penyambutan sekaligus pengantaran jenazah berlangsung dengan baik. Syukur kepada Allah yang memampukan kami semua untuk melakukan pekerjaan kemanusiaan ini. Aku teringat akan Tim Pelayanan Kargo yang hari ini turut hadir di kargo, ada Kakak Djonk dari KOMPAK dan Kakak Ardy dari IRGSC. Tim Pelayanan Kargo, entah satu ataupun beberapa orang tetap hadir dan menghidupkan pelayanan ini. Bukti bahwa kemanusiaan akan terus menyala di NTT.



Jenazah ke-13 dan 14, Rabu, 31 Maret 2021: meninggal secara tiba-tiba

Tim Pelayanan Kargo menyambut kedatangan dua jenazah PMI yang bekerja secara non-prosedural di Malaysia. Kedua jenazah berjenis kelamin pria ini diterbangkan dari Kuala Lumpur, Malaysia pada 30 Maret 2021 menuju Jakarta. Pagi tadi, kedua jenazah diterbangkan dari Jakarta ke Kupang, tiba pada siang hari pukul 13.16 WITA.

Jenazah pertama adalah seorang pria berusia 39 tahun asal Nularan, Kabupaten Malaka. Ia meninggal dunia pada 19 Maret 2021 dengan sebab kematian Severe Head Injury (Cedera Kepala Parah). Istrinya yang turut menyambut kedatangan jenazah di kargo mengungkapkan bahwa ia meninggal dunia karena kepalanya terhantam besi. Suatu kenyataan pahit yang harus diterima setelah selama kurang lebih lima tahun tidak pernah bertemu dengan suaminya. Wajahnya terlihat lesu dan kuyu tanpa ada semangat, terlihat sangat sederhana dibandingkan dengan keluarganya yang lain. Keluarga ini memiliki dua orang anak yang masih kecil, masih membutuhkan biaya untuk pendidikan juga kebutuhan sehari-hari. 

Sedangkan jenazah kedua adalah seorang pria berusia 55 tahun yang berasal dari Wekmotis A, Kabupaten Belu. Ia meninggal dunia pada tanggal 23 Maret 2021 dengan sebab kematian Pneumonia dengan syok septik. Jenazah pun disambut oleh keluarga di Kargo Bandara El Tari Kupang. Mereka mengatakan bahwa jenazah sudah bekerja sejak 2014 lalu di Ladang Kelapa Sawit di daerah Johor. Selama itu, ia tidak pernah kembali ke Indonesia untuk mengunjungi istri dan dua orang anaknya yang menunggu kedatangan jenazah di rumah duka.

Hari ini, dalam penyambutan jenazah dua kepala keluarga berlangsung pilu. Air mata tumpah penuh duka, meninggalkan luka bagi keluarga. Dua kepala keluarga yang sama-sama memiliki istri dan dua orang anak yang masih kecil, yang masih membutuhkan sosok ayah dalam hidup mereka.  Tuntutan ekonomi menjadi alasan utama suaminya bekerja di luar negeri, mencari ringgit yang nilainya lebih tinggi dari rupiah dan mampu membuat asap di dapur tetap mengepul. Kesedihan dan kepedihan melihat keadaan yang seperti ini membuat hanya mampu mengucapkan doa dan memohon berkat bagi istri dan anak-anak yang ditinggalkan kepala keluarga ini. 



Meskipun dipenuhi dengan duka, namun penyambutan jenazah tetap berjalan dengan lancar. Jenazah kedua akan diantar ke rumah duka dengan mobil jenazah JPIC Divina Providentia sedangkan jenazah pertama menggunakan mobil jenazah BP2MI ke rumah duka di Malaka. Suster Laurentina SDP memimpin kami semua untuk mendoakan kedua jenazah saudara kami, memohon rahmat dan berkat Allah selama perjalanan ke tempat tujuan masing-masing juga kekuatan dan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalka, serta Tim Pelayanan Kargo untuk tetap setia mendampingi keluarga dalam penyambutan jenazah. Allah Bapa Surgawi selalu mengasihi kita semua.