Pada Minggu, 8 Februari 2026, Kapel Kolese Kanisius, Jakarta, menjadi ruang doa sekaligus kesaksian solidaritas global dalam Perayaan Ekaristi Hari Doa Internasional dan Penyadaran Melawan Perdagangan Manusia. Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan Gereja universal yang digerakkan oleh jaringan Talitha Kum untuk melawan salah satu kejahatan paling serius terhadap kemanusiaan: perdagangan manusia.
Dalam pesannya untuk peringatan ke-12 hari doa ini, Paus Leo XIV menyampaikan bahwa “damai sejati dimulai dengan pengakuan dan perlindungan martabat setiap pribadi manusia.” Paus mengingatkan bahwa perdagangan manusia tidak dapat dilepaskan dari logika dominasi, konflik geopolitik, kemiskinan struktural, dan ketimpangan global. Dalam situasi tersebut, mereka yang paling rentan terutama perempuan, anak-anak, migran, dan pengungsi sering kali menjadi korban eksploitasi yang sistemik dan tersembunyi.
Paus juga menyoroti fenomena baru yang disebutnya sebagai “cyber slavery”, yaitu bentuk perbudakan modern yang memanfaatkan ruang digital: penipuan daring, kejahatan siber, hingga pemaksaan keterlibatan dalam aktivitas kriminal. Dalam praktik ini, korban bahkan dipaksa tampil sebagai pelaku, memperdalam luka psikologis dan spiritual mereka.
Menanggapi tantangan tersebut, Gereja menegaskan kembali dua pilar utama: doa dan kesadaran. Doa dipahami sebagai kekuatan rohani yang menjaga hati manusia dari sikap acuh tak acuh, sementara kesadaran membantu umat mengenali mekanisme eksploitasi yang sering tersembunyi di sekitar kehidupan sehari-hari.
Perayaan Ekaristi di Jakarta menjadi perwujudan konkret dari panggilan tersebut. Hadir dalam perayaan ini dari scholastic: Fr Laurence, Fr Gregory, Fr Dominic, Fr Cisco, Fr Duni dan Fr Franky, mendampingi saudara-saudari pengungsi dampingan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia.
Yang paling menyentuh adalah kehadiran saudara-saudari pengungsi dari berbagai negara: Kongo (individu dan keluarga), Afghanistan (keluarga), Cameroon (ibu tunggal), Iran (individu), Myanmar (keluarga), Sri Lanka (keluarga). Mereka hadir bukan sekadar sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai subjek iman pribadi-pribadi yang membawa kisah penderitaan sekaligus harapan.
Sebagaimana disampaikan oleh Paus Leo XIV, damai tidak pernah lahir dari senjata atau dominasi, melainkan dari pandangan yang melihat setiap manusia sebagai anak Allah yang terkasih. Perayaan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan perdagangan manusia bukan hanya tugas lembaga atau negara, melainkan panggilan iman seluruh umat. Karena pada akhirnya, damai sungguh dimulai dengan martabat.
Penulis: Maria Fransiska Saraswati
Dokumentasi lengkap dapat lihat disini: https://bit.ly/08022026_Dokumentasi




.jpeg)

.jpeg)
