Wednesday, August 5, 2026

Melangkah Bersama: Menegakkan Martabat Kemanusiaan dan Melawan Perdagangan

 

JAKARTA, Di tengah maraknya modus kejahatan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang kian terselubung di ranah digital, Sahabat Insan bersama 42 kelompok pegiat kemanusiaan dan masyarakat luas berpartisipasi aktif dalam kegiatan “Talitha Kum Walk & Talk: Melangkah Bersama dan Bersuara Melawan Perdagangan Orang” pada Minggu, 2 Agustus 2026. Mengusung tema global Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) “Trapped behind the scam”, rangkaian acara yang diawali dengan jalan sehat massal dari kawasan Car Free Day Bundaran HI hingga Amphitheatre ATMAterra Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta ini menjadi ruang konsolidasi sosial untuk membongkar realita kelam penipuan lowongan kerja (job scam) yang kerap menjebak generasi muda.

(Foto: Sahabat Insan, Sinergi Perempuan, Mahasiswa Atma Jaya dan Inaya Wahid)

Aksi jalan sehat sepanjang rute yang tersebar dibeberapa titik mulai dari Bundaran HI hingga Kampus Atma Jaya memancarkan pesan solidaritas yang kuat, di mana para peserta termasuk rombongan Sahabat Insan, mengenakan atribut pita oranye dan rompi/tunik berwaran putih berlogo Sahabat Insan Vox Victimae Vox Dei ("suara korban adalah suara Tuhan") sebagai simbol perlawanan terhadap perbudakan modern. Langkah kaki bersama ini bukan sekadar kegiatan fisik harian, melainkan bentuk edukasi publik secara terbuka untuk menggugah kesadaran masyarakat urban. Bahwa pencegahan kejahatan kemanusiaan tidak cukup hanya dilakukan melalui tatanan regulasi formal, melainkan harus hadir secara langsung di ruang-ruang publik untuk membangun kewaspadaan kolektif masyarakat.

Suasana diskusi semakin tajam dan mendalam saat memasuki sesi talkshow interaktif bersama aktivis kemanusiaan, Inaya Wahid. Putri bungsu Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Sinta Nuriyah Wahid ini menggarisbawahi bahwa bahaya terbesar dari modus perdagangan orang modern terletak pada pendekatan manipulasi emosional, bukan sekadar penawaran rasional. Para pelaku sengaja mengincar celah keputusasaan, impian masa depan, hingga hubungan personal (romance/love scam) untuk melumpuhkan daya kritis korban sebelum akhirnya disekap dan dieksploitasi dalam jaringan kejahatan penipuan siber lintas negara.

(Foto: Inaya Wahid dalam Talk Show)

Kehadiran Inaya Wahid dalam forum ini menegaskan kembali warisan pemikiran luhur keluarga Gus Dur yang menempatkan martabat manusia sebagai harga mati yang tidak dapat ditawar. Bagi Inaya dan keluarga besar Abdurrahman Wahid, setiap korban perdagangan manusia bukanlah sekadar angka statistik, melainkan pribadi yang memiliki nama, keluarga, serta hak mendasar untuk hidup bebas dari perbudakan. Melanjutkan perjuangan sang ibu, Sinta Nuriyah Wahid, dalam membela kelompok rentan dan terpinggirkan, Inaya mengingatkan seluruh audiens bahwa tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang boleh diperlakukan sebagai barang komoditas yang dapat diperjualbelikan.

Melalui momentum kegiatan Talitha Kum Walk & Talk ini mengajak seluruh lapisan masyarakat melawan perdagangan orang yang merupakan tanggung jawab moral bersama dan membutuhkan konsistensi tanpa henti. Kami mengajak menyatukan suara untuk tidak tinggal diam, tetap waspada terhadap iming-iming instan, dan selalu bersuara demi melindungi martabat setiap insan manusia agar terbebas dari jerat perbudakan modern.


Video Lengkap: https://www.instagram.com/reel/DbqNudPPx3O/?igsh=amR3enpoczQwcTY1