Tuesday, June 2, 2026

Mengemban Misi Kemanusiaan: Catatan Perjalanan Delegasi Sahabat Insan dari Jakarta Menuju Batam

 


Batam, 30 Mei 2026 Saya, Maria Fransiska Saraswati, selaku Perwakilan Sahabat Insan Jakarta, secara resmi mengemban tugas dari Pimpinan Sahabat Insan, Romo Ignatius Ismartono, SJ, untuk menghadiri undangan Peresmian dan Lokakarya “Peran Balai Latihan Kerja dan Pusat Informasi Migran dalam Mendukung Migrasi Aman di Indonesia” yang berlangsung di Batam pada 28–29 Mei 2026. Perjalanan dinas dimulai pada 27 Mei dari Jakarta menuju Batam dan berakhir pada 30 Mei dengan kepulangan ke Jakarta. Kehadiran saya merupakan bagian dari dukungan Sahabat Insan terhadap upaya perlindungan pekerja migran dan pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Caritas Indonesia (KARINA KWI) bersama Komisi Keadilan dan Perdamaian Pastoral Migran dan Perantau Keuskupan Pangkalpinang. Acara puncak berupa peresmian Sentrum Caritas, sebuah Balai Latihan Kerja dan Pusat Informasi Migran (BLK-PIM) yang terintegrasi dengan Shelter St. Theresia Batam. Peresmian dilakukan oleh Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, bersama unsur pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan nasional.

Batam dipilih karena memiliki posisi strategis sebagai wilayah transit migrasi internasional sekaligus menjadi salah satu daerah yang rentan terhadap praktik migrasi tidak aman dan perdagangan manusia. Data yang dipaparkan dalam forum menunjukkan masih tingginya jumlah pekerja migran yang berangkat melalui jalur non-prosedural, sehingga memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif melalui pelatihan keterampilan dan penyediaan informasi yang benar.

Selama lokakarya, para peserta dari pemerintah, Gereja, lembaga kemanusiaan, dan jaringan Caritas Internasional berdiskusi mengenai cara memperkuat migrasi aman. Berbagai narasumber menekankan bahwa perlindungan migran tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga harus didukung pendidikan, pengembangan kapasitas, pendampingan psikososial, dan penguatan ekonomi masyarakat.

Melalui kegiatan ini saya melihat secara langsung bagaimana Sentrum Caritas diharapkan menjadi ruang harapan bagi para calon migran, pekerja migran, dan korban TPPO. Kehadirannya bukan hanya sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai pusat pemberdayaan yang membantu masyarakat mengambil keputusan migrasi secara sadar, aman, dan bermartabat.






Penulis dan dokumentasi : Maria Fransiska Saraswati (IG: @ayaz1006)