Batam, 30 Mei 2026 Saya, Maria Fransiska Saraswati, selaku Perwakilan Sahabat Insan Jakarta, secara resmi mengemban tugas dari Pimpinan Sahabat Insan, Romo Ignatius Ismartono, SJ, untuk menghadiri undangan Peresmian dan Lokakarya “Peran Balai Latihan Kerja dan Pusat Informasi Migran dalam Mendukung Migrasi Aman di Indonesia” yang berlangsung di Batam pada 28–29 Mei 2026. Perjalanan dinas dimulai pada 27 Mei dari Jakarta menuju Batam dan berakhir pada 30 Mei dengan kepulangan ke Jakarta. Kehadiran saya merupakan bagian dari dukungan Sahabat Insan terhadap upaya perlindungan pekerja migran dan pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Caritas Indonesia (KARINA KWI) bersama
Komisi Keadilan dan Perdamaian Pastoral Migran dan Perantau Keuskupan
Pangkalpinang. Acara puncak berupa peresmian Sentrum Caritas, sebuah Balai
Latihan Kerja dan Pusat Informasi Migran (BLK-PIM) yang terintegrasi dengan
Shelter St. Theresia Batam. Peresmian dilakukan oleh Ketua Konferensi
Waligereja Indonesia, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, bersama unsur
pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan nasional.
Batam dipilih karena memiliki posisi strategis sebagai wilayah transit
migrasi internasional sekaligus menjadi salah satu daerah yang rentan terhadap
praktik migrasi tidak aman dan perdagangan manusia. Data yang dipaparkan dalam
forum menunjukkan masih tingginya jumlah pekerja migran yang berangkat melalui
jalur non-prosedural, sehingga memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif
melalui pelatihan keterampilan dan penyediaan informasi yang benar.
Selama lokakarya, para peserta dari pemerintah, Gereja, lembaga kemanusiaan,
dan jaringan Caritas Internasional berdiskusi mengenai cara memperkuat migrasi
aman. Berbagai narasumber menekankan bahwa perlindungan migran tidak cukup
hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga harus didukung pendidikan,
pengembangan kapasitas, pendampingan psikososial, dan penguatan ekonomi
masyarakat.
Melalui kegiatan ini saya melihat secara langsung bagaimana Sentrum Caritas
diharapkan menjadi ruang harapan bagi para calon migran, pekerja migran, dan
korban TPPO. Kehadirannya bukan hanya sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai
pusat pemberdayaan yang membantu masyarakat mengambil keputusan migrasi secara
sadar, aman, dan bermartabat.


