Tuesday, June 2, 2026

Soft Skill dan Pemulihan Korban TPPO Menjadi Sorotan Lokakarya Nasional di Batam

 


Batam, 30 Mei 2026 - Salah satu tema utama yang mengemuka dalam lokakarya “Peran Balai Latihan Kerja dan Pusat Informasi Migran dalam Mendukung Migrasi Aman di Indonesia” adalah pentingnya pengembangan soft skill yaitu kemampuan nonteknis yang berkaitan dengan cara seseorang berinteraksi, bekerja, dan mengelola diri sendiri. Soft skill membantu seseorang bekerja lebih efektif dengan orang lain dan menghadapi berbagai situasi dan pendampingan jangka panjang bagi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Pembahasan tersebut diperkaya oleh paparan Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Antonius PS Wibowo. Ia menjelaskan bahwa korban TPPO sering mengalami proses pemulihan yang panjang, mulai dari fase trauma, fase penerimaan bantuan, hingga fase reintegrasi sosial. Tanpa pendampingan yang berkelanjutan, korban berisiko kembali terjebak dalam situasi yang sama.

Menurut para peserta, migrasi aman tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis bekerja, tetapi juga oleh kemampuan seseorang mengambil keputusan, memahami risiko, berkomunikasi, mengelola keuangan, dan membangun kepercayaan diri. Oleh karena itu, BLK-PIM di Sentrum Caritas dirancang tidak sekadar menjadi tempat pelatihan kerja, tetapi juga wadah pembentukan karakter dan ketahanan pribadi.

Diskusi juga menyoroti perlunya sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, Gereja, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas lokal. Pendekatan kolaboratif dipandang sebagai cara paling efektif untuk memutus rantai perdagangan manusia yang selama ini memanfaatkan kerentanan sosial dan ekonomi masyarakat.

Pesan terpenting dari lokakarya ini adalah bahwa manusia tidak boleh hanya dipersiapkan untuk bekerja, tetapi juga dipersiapkan untuk hidup secara bermartabat. Soft skill, pendampingan, dan dukungan sosial yang berkelanjutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya membangun migrasi yang aman dan manusiawi.










Penulis dan dokumentasi : Maria Fransiska Saraswati (IG: @ayaz1006)