Batam, 30 Mei 2026 - Salah satu tema utama yang mengemuka dalam lokakarya “Peran Balai Latihan Kerja dan Pusat Informasi Migran dalam Mendukung Migrasi Aman di Indonesia” adalah pentingnya pengembangan soft skill yaitu kemampuan nonteknis yang berkaitan dengan cara seseorang berinteraksi, bekerja, dan mengelola diri sendiri. Soft skill membantu seseorang bekerja lebih efektif dengan orang lain dan menghadapi berbagai situasi dan pendampingan jangka panjang bagi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Pembahasan tersebut diperkaya oleh paparan Wakil
Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Antonius PS Wibowo. Ia
menjelaskan bahwa korban TPPO sering mengalami proses pemulihan yang panjang,
mulai dari fase trauma, fase penerimaan bantuan, hingga fase reintegrasi
sosial. Tanpa pendampingan yang berkelanjutan, korban berisiko kembali terjebak
dalam situasi yang sama.
Menurut para peserta, migrasi aman tidak hanya
ditentukan oleh kemampuan teknis bekerja, tetapi juga oleh kemampuan seseorang
mengambil keputusan, memahami risiko, berkomunikasi, mengelola keuangan, dan
membangun kepercayaan diri. Oleh karena itu, BLK-PIM di Sentrum Caritas
dirancang tidak sekadar menjadi tempat pelatihan kerja, tetapi juga wadah
pembentukan karakter dan ketahanan pribadi.
Diskusi juga menyoroti perlunya sinergi berbagai
pihak, mulai dari pemerintah, Gereja, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil,
hingga komunitas lokal. Pendekatan kolaboratif dipandang sebagai cara paling
efektif untuk memutus rantai perdagangan manusia yang selama ini memanfaatkan
kerentanan sosial dan ekonomi masyarakat.
Pesan terpenting dari lokakarya ini adalah bahwa
manusia tidak boleh hanya dipersiapkan untuk bekerja, tetapi juga dipersiapkan
untuk hidup secara bermartabat. Soft skill, pendampingan, dan dukungan
sosial yang berkelanjutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya
membangun migrasi yang aman dan manusiawi.
