Showing posts with label JRS. Show all posts
Showing posts with label JRS. Show all posts

Wednesday, May 20, 2015

Hospitality and Solidarity needed in addressing Rohingya


from http://www.jrsap.org/news_detail?TN=NEWS-20150519024001




Rohingya refugees wait with uncertainty after arriving by boat to Langsa, East Aceh, Indonesia on 15 April 2015 (Nasruddin FPRM)
Rohingya refugees wait with uncertainty after arriving by boat to Langsa, East Aceh, Indonesia on 15 April 2015 (Nasruddin FPRM)
(Bangkok) 19 May 2015 — Hospitality and solidarity are two principle human values expressed in human interaction and deeds, especially towards those in dire needs and those marginalised. The people in the Asia Pacific region have a long tradition manifested in social and religious values. Globally these values are cemented in international norms and standards on how to treat people in distress like the Rohingya people experiencing now in their odyssey to safety. It is time for the ASEAN and global community to recall these values and norms when deciding how to respond to the suffering of the Rohingya people approaching the shores of ASEAN nations. The protection of lives as a core human right should be prioritized over any other interests or scenario. I would like to repeat what Pope Francis once said “I beg the Lord to grant us more politicians who are genuinely disturbed by the state of society, the people, and the lives of the poor." - Bambang A. Sipayung SJ 


Jesuit Refugee Service Asia Pacific is deeply concerned on the rapidly deteriorating situation the Rohingya are facing in the region over the last years.The failure of governments in Indonesia, Thailand, Malaysia and Myanmar to adequately respond to their current plight is a human tragedy – and a sign that governments are detached from the values deeply embedded in the cultures, society and religions of ASEAN countries.
Hospitality matters immensely, especially for vulnerable women, children and those who are on their journey to find safety. Countries failing to allow people to disembark from ill-equipped vessels and ensuring access to their right to seek asylum have jeopardized the value of hospitality for those in dire need.
In this very moment we are creating a precedent on how we deal with people in distress, asking for our help in maybe their darkest hours. It is in this moment that ordinary people have shown hospitality and solidarity in preventing death at sea like the fishermen bringing to shore the stalled boats, even when their military are pushing them back out to sea. It is these fishermen and communities extending their support and welcome to Rohingya people after months at sea that is a strong symbol that these values are alive and give reason for hope.
 ASEAN governments and leaders should follow this important example by addressing the Rohingya’s immediate needs for protection and start to develop a long-term vision on how to end their plight after decades of deteriorating suffering. Now is the time to call into action the protection-sensitive regional approach, which was envisaged in the Jakarta Declaration of 2013, and redefine ASEAN as a community. Using resources to save lives is needed, not extending consistent rejection experienced by one of the most persecuted people of our times.
 JRS AP welcomes an initiative to hold a joint meeting at the end of this month to address this crisis and to find a coordinated solution. We urge everyone participating in this meeting to observe the values of hospitality, solidarity, and justice as pillars of a protection-sensitive regional approach. As only by acknowledging and addressing the plight of the Rohingya people will we be able to find a way to address the root causes of their suffering.

Press Contact Information
Nick Jones
adv.com@jrsap.org
+66 2 640 9590

Monday, July 7, 2014

Fun With Refugee



Siang itu, mereka terlihat begitu gembira. Wajah-wajah berseri penuh tawa terlukis. Para muda-mudi dengan penuh semangat berusaha keras membangun rumah dari sedotan berwarna kuning dengan bekal selotip. 

Beberapa perempuan paruh baya yang ditandai dengan kerutan-kerutan di wajah, duduk di teras rumah menonton mereka. Kompleks itu memang telah disewa khusus bagi para pengungsi. Pemiliknya adalah seorang bapak baik hati, penduduk asli di wilayah itu.

Rumah yang mereka bangun dari sedotan plastik dengan penuh perjuangan itu adalah mimpi mereka. Mereka bermimpi untuk menemukan tanah, memiliki tempat tinggal, dan memperoleh hidup yang aman, nyaman, dan layak. Mereka memiliki mimpi tentang kehidupan yang lebih beradab, lebih manusiawi, dan bahagia.

Jumat, 20 Juni 2014, merupakan hari yang istimewa sebab kita memperingati World Refugee Day. Bersama dengan kawan-kawan JRS (Jesuit Refugee Service), Sahabat Insan berjumpa dengan para pencari suaka dan pengungsi untuk merayakan World Refugee Day.

Mari kita coba bayangkan. Bagaimanakah rasanya apabila kita hidup dalam situasi mencekam, penuh ketakutan, kemudian terlunta-lunta karena tidak memiliki tempat tinggal, dan jauh dari rasa aman dan nyaman, serta tidak memiliki status kewarganegaraan? Bagaimanakah rasanya bila kita terpisah dari keluarga, saudara, kerabat yang kita cintai dan berada di tempat asing yang berbeda bahasa dan adat istiadatnya?

Itulah yang dialami saudara-saudari kita para pengungsi. Hari itu, kami disambut ramah oleh seorang Bapak asal Sudan. Berulang kali dia mengucap,”Alhamdulillah”. Kami pun merasakan ucapan syukurnya kepada Sang Pencipta atas kehidupan yang boleh dia kecap kini. Kendati bahasa Inggris-nya terbatas, kami tetap dapat memahaminya.

Bapak asal Sudan itu sebatang kara. Dia meninggalkan tempat asalnya karena di tanah kelahirannya terjadi konflik yang tak kunjung usai antara para pendatang dan penduduk asli. Para pendatang merasa penduduk asli lebih rendah dari mereka. Konflik pun tak terhindarkan, sehingga ia terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencari suaka, tempat tinggal yang lebih aman di negara ketiga. Proses tersebut membutuhkan waktu yang panjang. Sudah 2 tahun ia tinggal di Indonesia.

Selain lomba membangun rumah dari sedotan untuk muda-mudi, JRS juga mengadakan lomba-lomba lain seperti mewarnai untuk anak-anak, futsal, rebut bangku, dan membagikan kenang-kenangan untuk mereka. Semua yang datang terlihat begitu gembira. Kebanyakan pengungsi berasal dari Afganistan. Ada juga yang berasal dari Pakistan, Sri Lanka, dan Sudan. Negara-negara tersebut merupakan tempat yang rawan konflik atau tengah dilanda perang, sehingga banyak orang terpaksa meninggalkannya untuk mencari suaka di negeri lain.

Anak-anak sedang lomba mewarnai


JRS dan Perjalanan Panjang menjadi Refugee

Sebelum sampai ke Indonesia, para pengungsi itu telah pergi dari tanah kelahirannya beribu-ribu mil jauhnya. Setelah menjual segala harta milik, mereka menjumpai agen yang dapat membantu mereka sampai ke negara ketiga. Banyak dari mereka ditipu dengan iming-iming bahwa mereka akan secara mudah mendapatkan status Pengungsi dari UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) di Indonesia.

Karena belum menandatangani Konvensi Jenewa 1951 dan Protokol 1967 tentang status refugee, Indonesia tidak dapat memberikan perlindungan internasional kepada refugee. Sebagai dampaknya, apabila tertangkap karena melanggar aturan imigrasi Indonesia, mereka akan dimasukkan ke dalam Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim). Rudenim berada di bawah Direktorat Jenderal Imigrasi. Tempat itu tak ubahnya seperti penjara yang mengurung para pencari suaka dan pengungsi, termasuk perempuan dan anak-anak. Di sana mereka kehilangan kebebasan dan terancam hak asasinya.

Mereka yang beruntung yang kami jumpai adalah pencari suaka dan pengungsi yang tengah ditemani oleh JRS. Sejak 2012, JRS Indonesia menemani para pencari suaka dan refugee di Yogyakarta, Pasuruan, Medan, dan Jawa Barat. Di Yogyakarta misalnya, JRS mendampingi para pengungsi selama mereka menunggu proses penempatan ke negara ketiga (resettlement) melalui pelatihan bahasa Inggris, komputer, dan berbagai kegiatan rekreasi dan budaya.

JRS berperan membantu para pengungsi selama menjalankan proses Refugee Status Determination (RSD) atau Penentuan Status Pengungsi dari UNHCR. Untuk menjalani proses tersebut, mereka membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan dapat lebih dari 1 tahun. Status itu mereka butuhkan supaya mereka mendapatkan perlindungan internasional dari UNHCR Indonesia dan dapat ditempatkan di negara ketiga yang mau menerima mereka. Apabila sudah mendapatkan status tersebut, mereka bisa mendapatkan bantuan biaya hidup dari UNHCR atau IOM (International Organization for Migration). Selama mereka belum mendapatkan status tersebut, banyak dari mereka yang bertahan hidup dengan bersandar pada bantuan pengungsi lain yang masih punya cukup bekal atau  telantar di jalan-jalan tanpa makan-minum dan rumah.

JRS menggunakan definisi “pengungsi de facto” yang mencakup semua pengungsi lintas batas negara yang terpaksa meninggalkan negaranya karena “ketakutan yang mendasar akan penganiayaan karena alasan ras, kebangsaan, agama, keanggotaan dalam kelompok sosial tertentu, atau pandangan politik tertentu” dan “menjadi korban konflik bersenjata, kebijakan ekonomi yang keliru, atau korban bencana alam.” Termasuk juga dalam definisi ini adalah mereka yang disebut pengungsi internal (Internally Displaced Persons), yakni warganegara yang “terpaksa meninggalkan kampung halamannya karena alasan kekerasan yang sama yang dihadapi oleh pengungsi pada umumnya, tetapi mereka tidak melintasi batas-batas negara”.

Menurut data UNHCR Indonesia, pada akhir Januari 2014, terdapat 10.466 pencari suaka dan refugee yang ada di Indonesiaa. Sekitar 1.878 orang ditahan di 14 rumah detensi imigrasi yang tersebar dari Medan sampai Jayapura. Kurang lebih 4.000 orang di antaranya berada di Jawa Barat dan 1.500 di Jakarta. JRS pada tahun 2013 telah menemani, melayani, dan membela hak 800 pencari suaka dan refugee yang ada di Indonesia.

“Di Indonesia saja masih banyak orang susah, tetapi malah membantu orang di negara lain,” cerita salah satu kawan dari JRS kepada kami perihal anggapan masyarakat terhadap pekerjaan mereka. Kata-kata itu tak akan telontar seandainya banyak orang mau tahu dan belajar berempati. Kendati demikian, masih banyak masyarakat Indonesia yang menunjukkan keramahtamahan kepada para pengungsi dan pencari suaka. Solidaritas yang dibangun telah melampaui batas negara, suku, agama, ras, dan pandangan hidup. Semua berdasarkan rasa kemanusiaan yang ada dalam hati. Tindakan ini tentu memberikan harapan kepada para pengungsi.

Maka, memperingati Hari Pengungsi Sedunia, 20 Juni 2014 yang lalu, Sahabat Insan turut mendukung dan berdoa untuk para pengungsi tersebut. Paus Fransiskus mendorong supaya terjadi perubahan sikap dari setiap pribadi terhadap kaum migran dan pengungsi. Perubahan dari sikap defensif dan takut, dari ketidakpedulian dan marjinalisasi, yang merupakan segala tipikal budaya membuang atau menyingkirkan, menjadi sikap yang didasari oleh budaya perjumpaan, sebagai satu-satunya budaya yang mampu membangun dunia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih bersahabat.

Gambar anak-anak di dinding, banyak dari mereka yang menggambar rumah.


Untuk bacaan lebih lanjut:              

Tuesday, April 8, 2014

Menemani Para Difabel bersama Jesuit Service Cambodia

oleh Benny Juliawan SJ


Apakah Anda pernah mendengar istilah “Khmer Merah”? Kalau pernah, pasti Anda tahu Kamboja, negara seluas hampir satu setengah kali pulau Jawa dan diapit oleh Thailand, Vietnam dan Laos. Khmer Merah (Khmer Rouge) adalah sebutan bagi rezim pemerintahan yang berkuasa di Kamboja pada periode 1975-1979. Di bawah pimpinan Pol Pot, rezim ini terkenal karena kekejamannya membunuh lebih dari 2 juta orang dalam rangka menegakkan masyarakat tanpa kelas versi mereka. Setelah mereka tumbang, Kamboja masih dilanda perang saudara hingga awal 1990-an. Tak heran, ratusan ribu warga Kamboja lari ke Thailand untuk mengungsi.

Di kamp pengungsi inilah para Jesuit dan teman-teman yang bergabung dalam Jesuit Refugee Service (JRS) sejak tahun 1980 berjumpa dan melayani orang-orang Kamboja. Setelah perang usai dan para pengungsi mulai kembali berbondong-bondong ke negerinya pada awal 1990-an, JRS memutuskan untuk menemani dan membantu mereka untuk memulai hidup yang baru di Kamboja. Salah satu kelompok yang paling rentan di antara mereka adalah para penyintas atau orang-orang yang lolos dari maut peperangan tetapi menderita disabilitas fisik.

Perang saudara di Kamboja meninggalkan warisan berupa empat hingga enam juta ranjau darat yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Ketika perang berakhir, amunisi berbahaya itu terus menelan korban warga sipil. Para petani yang mencangkul di kebun, anak-anak yang bermain di bawah pohon, para ibu yang ke sungai hendak mencuci, dan orang yang mencari hasil hutan kerap menginjak ranjau yang lalu meledak dan membunuh atau membuat mereka cacat seumur hidup. Diperkirakan ada sekitar 400.000 warga Kamboja yang cacat akibat ranjau ini.

Menanggapi situasi ini, para Jesuit dan teman-teman yang berkarya di Kamboja sepakat mendirikan Jesuit Service Cambodia (JSC) pada tahun 1991 dan memusatkan perhatian pada pelayanan terhadap kaum difabel. Karya JSC hadir di tujuh tempat di Kamboja yaitu di Phnom Penh, Kompong Thom, Siem Reap, Battambang, Banteay Meanchey, Kompong Speu dan Kompong Chnang. Para koordinator di ketujuh tempat ini adalah orang Kamboja asli, dibantu oleh staf dan relawan yang tak jarang berasal dari luar negeri. JSC menjalankan program pendidikan dan program sosial. Program pendidikan membantu pembangunan gedung sekolah, membuka sekolah informal, beasiswa bagi anak-anak keluarga difabel, perpustakaan keliling, dan sejenisnya. Intinya, orang miskin apalagi mereka yang berasal dari keluarga difabel tidak boleh tidak sekolah setidaknya di tingkat dasar.

Program sosial tersebut bertujuan membantu keluarga difabel agar mandiri secara ekonomi dan hidup secara bermartabat. JSC membantu menyediakan kursi roda, pembangunan rumah bagi keluarga difabel, bank beras, bank sapi, pinjaman lunak pertanian dan usaha mikro dan pelayanan kesehatan keliling. Dalam setiap program, JSC berusaha untuk melibatkan para penerima bantuan agar aktif membantu dirinya sendiri. Martabat dan kepercayaan diri seringkali bangkit dari keberanian untuk menunjukkan kemampuan sendiri.

Selain dua program utama ini, masih ada program khusus berupa sekolah kejuruan berasrama bagi siswa-siswi difabel, bengkel produksi kursi roda bernama Mekong Wheelchair, dan bengkel kerajinan kayu dan kain, serta toko yang menjual produk dari bengkel produksi. Selama 20 tahun, lebih dari 15.000 kursi roda telah dihasilkan oleh Mekong Wheelchair. Menariknya, banyak pekerja di bengkel-bengkel ini adalah para difabel lulusan sekolah kejuruan sendiri. Semua ini ada di pinggiran kota Phnom Penh, tepatnya di distrik Ang Snuol, di kompleks bekas barak militer yang diganti nama menjadi Banteay Prieb atau Rumah Merpati Perdamaian. Tahun 2011 yang lalu, JSC membuka Café Perdamaian di tengah kota Phnom Penh untuk menyebarluaskan semangat perdamaian di negara yang tercabik-cabik perang saudara ini sekaligus memasarkan produk hasil karya para difabel.

Setelah lebih dari 20 tahun, JSC sekarang menghadapi tantangan yang baru. Beberapa tahun terakhir ini jumlah korban ranjau darat menurun drastis sebagai hasil dari kerja keras kampanye anti ranjau darat dan program pembersihan ranjau di seantero Kamboja. Tentu ini berita menggembirakan. Semakin sedikit pula siswa difabel yang masuk ke sekolah kejuruan di Banteay Prieb. Romo Greg Priyadi, Jesuit asal Indonesia yang menjadi direktur JSC, bersama Romo Indon Oh, pemimpin Misi Kamboja asal Korea, berencana untuk mengadakan re-orientasi karya dalam tahun-tahun mendatang. Semangat dasarnya sama yaitu menemani mereka yang paling menderita tanpa membeda-bedakan agama dan asal-usul demi mewujudkan empat keutamaan paling pokok dalam masyarakat Kamboja yaitu metta (kebaikan penuh cinta), karuna (bela rasa), mudita (kegembiraan) dan upekkha (keteguhan).

Kursi roda produksi Mekong Wheelchair

Murid sekolah kejuruan Teknik Elektro


Mendengar cerita anak-anak penerima beasiswa


Benny Juliawan (orwellsj@googlemail.com) is a researcher with Sahabat Insan, an NGO working with migrant workers in Jakarta. Benny is an enthusiastic runner