Showing posts with label brk. Show all posts
Showing posts with label brk. Show all posts

Wednesday, August 19, 2009

Pelatihan-pelatihan yang pernah diikuti BRK













Bela Rasa Kita Ikut Pelatihan Departemen Sosial

Bela Rasa Kita (BRK) mengikuti program pemantapan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) angkatan lima pada tahun 2009 yang diadakan oleh Departemen Sosial. Kegiatan dilakukan selama tiga hari berlangsung sejak selasa (14/07) hingga kamis (16/07) bertempat di Buperta, Cibubur, Jakarta Timur.
Bela Rasa Kita (BRK) sebagai tim tanggap bencana mengirimkan tujuh anggotanya yang diharapkan melalui pelatihan ini dapat menambah kemampuan, pengalaman dan memperluas jaringan antar kelompok yang tergabung dalam pelatihan TAGANA kali ini.
Sebanyak 70 peserta mengikuti program pemantapan taruna siaga bencana, terdiri dari organisasi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Bela Rasa Kita (BRK), dan Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta (PMKAJ).
Melalui pelatihan ini fokus program yang dicanangkan Departemen Sosial RI dalam penanggulangan bencana untuk meningkatkan kapasitas kemampuan masyarakat agar lebih mampu dan lebih siaga dalam menghadapi bencana.
Pelatihan yang dilakukan selama tiga hari dua malam tersebut, peserta dibekali materi tentang kebijakan departemen sosial RI dalam penanggulangan bencana, terdiri dari  manajemen penanggulangan bencana, siklus penanggulangan bencana, Conceptual Skill, Managerial Skill, Technical Skill dan Social Skill TAGANA, serta simulasi penanggulangan bencana.
Anggota BRK yang dikirim mengikuti program pemantapan TAGANA, berusaha memberikan yang terbaik dalam pelatihan ini, meskipun mereka sudah mendapatkan mengenai pelatihan ini sebelumnya.
Hal tersebut diungkapkan oleh Nino salah satu anggota BRK, mengatakan “Sebelumnya dalam BRK hampir semua materi yang diajarkan disini sudah didapatkan, namun tidak ada salahnya kita mengambil ilmu dan menjalin komunikasi untuk memperluas jaringan melalui pelatihan ini.”
Hari pertama pelatihan dibuka oleh Andi  Hanindito selaku direktur BSKBA Departemen Sosial RI, menyampaikan bahwa “setiap anggota TAGANA di harapkan mampu mengelola situasi dan kondisi lapangan yang terjadi di lapangan seandainya terjadi bencana.”
Peserta sangat antusias mengikuti kegiatan, terlihat dari semangat keaktifan dan kekompakannya dalam setiap rangkaian acara. Menurut Endro salah satu peserta PMKAJ mengatakan. “ melalui pelatihan ini kita diperkenalkan cara mengatasi bencana yang terjadi di lapangan sehingga menambah pengetahuan tentang pertolongan pertama yang harus dilakukan.”
Melalui pelatihan ini kapasitas kemampuan masyarakat yang perlu ditingkatkan adalah kapasitas melakukan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan akan gejala dan aktualisasi bencana.
Pelatihan dipusatkan pada hari kedua, pada pelatihan ini terdapat materi yang belum pernah BRK dapatkan yaitu mengelola dapur umum di lapangan dan cara menggunakan alat komunikasi. Anggota BRK sangat antusias mengikuti materi tersebut, karena belum pernah mereka dapatkan pada pelatihan selama ini.
Setelah istirahat pelatihan dilanjutkan dengan materi water rescue,vertical rescue, dan membangun tenda grup. Materi yang diajarkan kali ini, peserta diajarkan bagaimana cara menolong korban di air maupun di ketinggian. Dalam tahap ini Dwy mengutarakan “ water recue, vertical rescue, bangun tenda, sudah dapat di BRK kita refreshing kembali sambil memperoleh ilmu atau cara yang baru dalam menolong korban.”
Setelah semua materi diajarkan, melalui simulasi peserta dihadapkan pada situasi  bencana yang terjadi, kali ini peserta diuji kesigapan dalam menghadapi bencana dengan menolong korban dan membangun tenda.
Tidak hanya pelatihan di lapangan namun peserta juga dibekali dengan materi pelayanan psikososial pada penanggulangan bencana yang dibawakan oleh Dorang Luhpuri staf pengajar Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung. Melalui materi ini peserta diajarkan cara menangani korban yang shock akibat bencana yang dialaminya.
Staff ahli menteri sosial bidang integrasi sosial, Sahawiah Abdullah dalam materi mengenai nasionalisme, menyampaikan bahwa “TAGANA merupakan mitra TNI pada barisan depan menanggulangi bencana.”
Program pelatihan TAGANA kali ini berjalan dengan singkat, proses waktu selama tiga hari dua malam terkesan pendek, sehingga banyak materi yang berjalan tidak maksimal.
Menurut Charles, “Materinya tidak begitu banyak, lebih banyak pada pelatihan BRK dan waktunya terlalu mepet, jadi materi tidak maksimal sangat disayangkan.” Charles menambahkan “materi yang dikelas bagus karena belum pernah didapatkan mengenai psikologi masyarakat dan nasionalisme sebagai tambahan ilmu di BRK.”
<Thomas Aquinus Krisnaldi>

Monday, July 27, 2009

Pelatihan Yang Pernah Diikuti BRK


Para relawan ini berjumlah 18 orang mahasiswa dan sudah pernah mengikuti dua bentuk pelatihan. Berikut pelatihan yang pernah diikuti oleh BRK :

Pelatihan Pertama :


Sebagai langkah awal dari serangkaian kegiatan tersebut, telah dilaksanakan Pelatihan Dasar Penanganan Bencana, yang memperkenalkan konsep manajemen bencana dan pelatihan tim tanggap bencana kepada para mahasiswa.  Pelatihan Dasar Penanganan Bencana tersebut dilaksanakan di Wanawisata Mandalawangi Cibodas, pada hari Jumat – Minggu, tanggal 28 – 30 September 2007, dan dibimbing oleh tim pelatih dari Consina Outdoor Training (Disaster Management Training).  

Pelatihan yang berlangsung 3 hari 2 malam ini memadukan antara teknik dan praktek. Materi yang dipelajari meliputi praktek pendirian tenda darurat, pertolongan pertama pada korban, penyelamatan korban di tempat tinggi, penyelamatan korban di air, cara membaca alat-alat navigasi seperti kompas dan GPS, serta mempelajari beberapa pengetahuan tentang manajemen bencana, pengelolaan resiko (risk management), teknik survei kebutuhan korban, manajemen posko, dan pembentukan tim. Praktek dilapangan dilaksanakan pada pagi sampai siang hari, sedangkan pemberian materi dilaksanakan pada malam hari. Pada saat pelatihan, semua peserta dikondisikan seperti sedang berada pada lokasi bencana, sehingga semua aktivitas seperti makan, tidur, pemberian materi, pengarahan dan presentasi dilakukan di tenda-tenda yang telah mereka dirikan.

Pelatihan Kedua :

Sebagai kelanjutan dari pelatihan untuk tim Bela Rasa Kita ini, akan dilaksanakan pelatihan kedua yakni Pelatihan EFR (Emergency First Response). Pelatihan ini dimaksudkan agar anggota tim lebih mendalami dan menguasai teknik-teknik dasar dalam penyelamatan pertama seperti : scene assessment (melihat tempat kejadian dan kondisi korban), rescue breathing, Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR), penanganan pendarahan dan penanganan tersedak.

Selain pelatihan EFR, sebagai kelanjutannya, akan dilaksanakan pula Training For Trainers (TFT). Pelatihan ini sifatnya bersertifikasi internasional sehingga penting sebagai kredibilitas tim. Pelatihan ini dimaksudkan agar anggota tim dipersiapkan menjadi tim pelatih (trainers). Sehingga diharapkan setiap anggota tim siap untuk melakukan sebuah pelatihan.

Seiring dengan kebutuhan dan tantangan yang ada, kelompok relawan BRK ini memekarkan secara organisasi dengan rekrutmen mencari teman sehingga sekarang berjumlah 32 orang mahasiswa.

Pelatihan TAGANA Depsos

Pada tanggal 14-16 Juli 2009 beberapa perwakilan BRK ikut dalam pelatihan bersama yang disekenggarakan oleh TAGANA-DEPSOS (Taruna Siaga Bencana-Departemen Sosial) di Bumi Perkemahan Cibubur. Pelatihan bersama yang diikuti 70 peserta diikuti dari kelompok organisasi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta (PMKAJ).

Seluruh peserta mendapat meteri tentang Kebijakan Departemen Sosial RI dalam Penanggulangan Bencana, Manajemen Penanggulangan Bencana, Siklus Penanggulangan Bencana, Conceptual Skill, Managerial Skill, Technical Skill dan Social Skill TAGANA serta simulasi penanggulangan bencana. Setiap peserta sangat antusias mengikut kegiatan ini yang terlihat dari semangat keaktifan dan kekompakannya dalam setiap rangkaian kegiatan. Pelatihan ini juga dimaksudkan untuk perluasan jaringan yang dilakukan oleh BRK serta penambahan Kapasistas personal yang dimiliki oleh anggota BRK dalam nantinya menghadapi bencana atau turun ke lapangan.

TIM RELAWAN BELA RASA KITA (BRK) PKR-KWI

Indonesia merupakan sebuah negeri yang rawan bencana. Bencana itu berwujud bencana alam maupun bencana buatan manusia atau gabungan dari keduanya. Bencana alam seperti gempa dan tsunami merupakan bencana yang terjadi semata-mata karena tingkah laku alam yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengontrolnya. Untuk bencana seperti itu, manusia hanya dapat menyiapkan diri atau berusaha sedapat mungkin mengurangi korban yang ditimbulkannya, hal itu dilakukan misalnya dalam kegiatan yang disebut social rescue. Memang ada bencana alam yang terjadi karena kelalaian manusia dalam mengelola alam, misalnya tanah longsor yang diakibatkan oleh penggundulan hutan. Tetapi ada juga bencana yang terjadi semata-mata karena ulah manusia, seperti pertikaian antar golongan atau kelompok sebagai akibat penindasan dari pemegang kekuasaan.

 

Berdasarkan visi utamanya, PKR KWI adalah sebuah bagian dari Konferensi Waligereja Indonesia yang didirikan oleh para uskup pada tanggal 7 Januari, 1999 melalui Surat Keputusan No. 005/II/Pres.K/1999 untuk menanggapi krisis yang dialami oleh bangsa kita. Tujuan PKR-KWI adalah untuk menolong korban dan mereka yang selamat di dalam berbagai bencana dan kekerasan politik di Indonesia berdasarkan cinta kasih, kebenaran dan keadilan. Dalam menjalankan tugasnya, PKR-KWI senantiasa menjaga sifatnya yang independen, lintas agama, non-partisan, terbuka, konstitusional, cinta pada sesamanya secara utuh. Sebagai sebuah lembaga pelayanan kemanusiaan, PKR KWI tidak membedakan dalam menolong korban (tidak memandang suku, ras, agama dan golongan apapun), berpegang teguh pada prinsip-prinsip Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan. PKR KWI secara konsisten akan selalu terlibat aktif dalam mewujudnyatakan proses rekonsiliasi sejati dalam bangsa dan negara kita, sebagai bagian substansial dari agenda jangka panjang kemanusiaan kita: penghormatan hak-hak asasi manusia, demokrasi dan perdamaian di tanah air tercinta ini. Sebagai gerakan masyarakat sipil yang tengah melancarkan ikhtiar-ikhtiar penguatan perjuangan kemanusiaan dan hak-hak asasinya, PKR KWI senantiasa berusaha berpegang-teguh pada prinsip-prinsip self-help/self-advocacy, solidarity networking, otonomi, sustainability dan prinsip “gerakan aktif tanpa kekerasan” (active non-violence movement).

 

Fokus dalam proses penanganan bencana, PKR KWI sebagai crisis center selalu didukung oleh relawan-relawan yang senantiasa siap membantu untuk merencanakan dan melaksanakan program kerja PKR KWI tanpa mengenal lelah, waktu, dan tempat. Selama proses kerja sama dengan para relawan tersebut berjalan, suka dan duka selama hadir di tengah-tengah para korban dan keluarga korban telah mempersatukan dan mempererat persaudaraan sesama relawan. Dalam bekerjasama sebagai saudara ini kami saling belajar mengamati dengan cermat mana lessons learned yang dapat dipergunakan untuk memperbaiki pelayanan. Lalu seiring berjalannya waktu dan kebutuhan PKR-KWI membentuk Tim Relawan yang bernama Bela rasa kita yang disingkat (BRK). BRK dibentuk dari sekelompok para mahasiswa yang memiliki interest dan keprihatinan yang sama terhadap bencana dan kepedulian sosial. Terhadap sesama mereka yang menjadi korban Beberapa para mahasiswa dan relawan ini memiliki pengalaman di daerah bencana seperti Tsunami Aceh 2005, Gempa Jogja 2006 dan Banjir Jakarta 2007.

 

Kegiatan-kegiatan BRK

 

Tentunya bencana tidak terjadi pada setiap hari, dan bukan keinginan kita untuk adanya bencana. Untuk mengisi kekosongan waktu, kelompok relawan ini tetap melakukan kegiatan rutin seperti pertemuan dan pelatihan pada setiap bulannya. Pertemuan untuk memperkuat interaksi diantara anggota dan pelatihan untuk terus mengingat ilmu pengetahuan plus keahlian yang pernah diikuti. Bila terjadi bencana alam dan kemungkinan besar kita bisa menjangkau, sangat dipastikan tim bencana ini ikut berpartisipasi. Secara tentatif BRK juga ikut berpartisipasi dalam masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang ada, selain itu BRK juga ikut dalam beberapa acara yang merupakan undangan dari beberapa lembaga yang membahas tentang disaster respons. Berikut ini beberapa kegiatan yang pernah diikuti oleh BRK:

-          Banjir Jawa-Timur

-          Banjir Jakarta

-          Penggusuran Taman BMW di Sunter

-          Membantu kesehatan korban lapindo yang berada di Jakarta

-          Jebolnya Tanggul Situ Gintung 

-          Mengunjungi salah satu panti asuhan di Kawasan Pasar Minggu, dll

 

Harapannya semoga dengan hadirnya BRK sebagai tim relawan di tengah-tengah masyarakat dapat menjadi arti bagi yang lain terutama bagi mereka yang menjadi korban baik bencana maupun masalah sosial.