Wednesday, May 27, 2020

REKAN-REKAN PENCIPTA BAGI SEBUAH DUNIA YANG LEBIH BAIK



Diposting pada: 21 Mei 2020 | Penulis: Kardinal Michael Czerny SJ

Kategori: Keadilan sosial dan lingkungan, Politik dan urusan saat ini
Tag: Laudato si ', Coronavirus


Foto oleh Fateme Alaie di Unsplash

Dalam sebuah wawancara dengan Avvenire untuk menandai Minggu Laudato Si (16-24 Mei 2020), Kardinal Michael Czerny SJ mendesak kita untuk membiarkan ensiklik tersebut membentuk cara berpikir  kita tentang krisis coronavirus dan menemukan penyelesaian  untuk retak-retak yang nampak ketika  disoroti. ‘Sebelum menjadi" masalah sosial-lingkungan ", penciptaan adalah perkara iman yang mendasar, jadi bagaimana seorang Kristiani  dapat melihat dan mencintai dunia, rumah kita bersama, dapat menginspirasi perubahan?

Pekan  Laudato Si ini, yang merayakan ulang tahun kelima ensiklik ini, berlangsung pada saat yang dramatis, di tengah pandemi Covid-19. Apa makna khusus yang dimiliki ensiklik tersebut dalam situasi ini, "tanda zaman" ini?

Lima tahun yang lalu, Laudato si 'mengungkapkan retak  ketidakadilan manusia dan kemerosotan lingkungan.  Covid-19 memperkuat dan memperbesar garis retak  yang sama dengan cara yang konkret, dramatis dan secara tragis. Jelas.  Ini mengungkap 'percepatan' yang disebut oleh  Paus Fransiskus (Laudato si '§18): tidak hanya cara dan kecepatan penyebaran virus, tetapi juga berlangsungnya digitalisasi yang sangat cepat,  jutaan pekerjaan konvensional hilang, komunikasi online menggantikan pertemuan dan mengubah acara-acara.

Silakan memperhatikan bahwa hal itu sejajar:  krisis coronavirus dimulai dengan rusaknya  kesehatan fisik, tetapi memiliki konsekuensi sosio-ekonomi yang mengerikan, terutama di antara mereka yang paling rentan. Demikian juga krisis ekologis : dimulai dengan kerusakan lingkungan, tetapi memiliki konsekuensi yang menghancurkan bagi pekerjaan, makanan, kesehatan dan masalah sosial lainnya, mengena pada  yang paling miskin, mengena pada yang paling sulit. Kedua krisis tersebut membutuhkan penyelesaian  baru yang berlaku di mana pun juga, dan pada  semua tingkatan, tidak hanya bagi dan pada yang di 'atas'.

Dengan Laudato si 'bukan yang pertama kali Gereja berbicara tentang ekologi, tetapi berkat ensiklik ini, dibangunlah diparadigma baru ekologi yang utuh, yang mengena baik pada bahasa gerejani maupuan  bahasa umum. Proses seperti apa yang dimulai oleh  ensiklik ini?

Segera setelah diterbitkan,  Laudato si 'membantu Konferensi COP21 Paris pada Desember 2015 untuk membumi, menghidupkan dan menentukan orientasi , yang menghasilkan Perjanjian Paris – meskipun memiliki kekurangan  dan lemah, tetapi masih merupakan langkah pertama yang diperlukan. Ini juga telah merangsang munculnya banyak bentuk kegiatan di dalam paroki-paroki,  di dalam komunitas  agama lain, kelompok-kelompok  sekuler dan gerakan-gerakan. Saya percaya bahwa ini tak terduga sebelumnya untuk sebuah ensiklik.

Bagaimana kita bisa membaca ulang Laudato si dalam terang hari ini? Dan bagaimana kita bisa mendapatkan yang terbaik dari pekcan Laudato si ini?

Sah-sah saja  membaca Laudato si dalam terang Covid-19. Penyalahgunaan dan kemerosotan lingkungan  mungkin mengambil peran dalam  muncul dan  penyebaran virus, tetapi pemahaman kita harus lebih dalam sehingga sampai ke anti-nilai yang mendasar yang  yang memicu munculnya peradaban yang gemar  bersaing  dan  dan konsumeris selama ini. Dunia baru setelah Covid-19 harus jauh lebih baik.

Masih ada beberapa orang  Katolik yang mengalami kesulitan dalam mengakui bahwa  masalah lingkungan social merupakan  bagian dasarbagi  iman mereka. Apa yang bisa Anda katakan kepada mereka?

Sebelum menjadi 'masalah sosial-lingkungan', penciptaan adalah  perkara  iman yang mendasar: 'Saya percaya pada Tuhan, Bapa yang Maha Kuasa, Pencipta surga dan bumi'.

Kehidupan manusia bertumpu  pada tiga hubungan dasar dan saling terkait: dengan Tuhan, dengan sesama kita dan dengan bumi itu sendiri, bumi menjadi bagian dari ciptaan Allah yang penuh kasih. Memutar balikkan  salah satu dari hubungan itu merupakan perbuatan  dosa. Pengampunan adalah pencaharian untuk dapat mengambil peran dalam penebusan yang Kristus sampaikan kepada kita, penyembuhan hubungan yang hancur dan pemulihan keselarasan rangkap tiga.

Paus Santo  Yohanes Paulus II mengingatkan semua orang, terutama orang Kristiani,  'bahwa tanggung jawab mereka dalam penciptaan dan kewajiban mereka terhadap alam dan Sang Pencipta adalah bagian penting dari iman mereka'. [I] Jadi, dengan orang katolik yang disebutkan tadi,  marilah  kita berjalan bersama dan bersama-sama menghadapi ketidakpercayaan kita, ketakutan kita.

Querida Amazonia  (Amazonia Tercinta)  dan seluruh proses sinode tersebut adalah anak-anak Laudato si '. Dengan cara apa Querida Amazonia menggunakan Laudato si 'dan bertanya kepada  kita semua, tidak hanya orang-orang Amazon?

Sinode Amazon menunjukkan apa artinya menganggap serius Laudato si ', untuk mengatasi semua dosa sosial dan ekologi di wilayah tertentu secara agresif dan berani. Itulah  pelajaran yang perlu diikuti di mana pun juga  bumi ini.

Selain itu, Querida Amazonia tanpa malu-malu menaruh hormat kepada  orang-orang Amazon - terutama yang asli - sebagai pemegang peran utama dan tak terpisahakan  dalam melestarikan Amazon untuk memainkan peran mereka  yang mencakup planet ini. Ini menantang semua orang yang terus menyembunyikan (meskipun secara tidak sadar) sikap gemar menjajah budaya lain atau merasa berhaak atas semua sumber daya alam.

Bagaimana Laudato si dapat membantu kita  dalam pembangunan kembali pascandemi?

Pertama, mari kita perjelas - tujuan kita seharusnya tidak kembali ke 'bisnis seperti biasa', kembali ke praktik yang merusak diri sendiri, tidak manusiawi, tidak adil dan tidak berkelanjutan yang dulu dianggap  'normal' sampai awal 2020.

Sebaliknya, kata Paus Fransiskus, mari kita membangun kembali  hubungan baru, ekonomi baru, masyarakat baru. Laudato si 'menantang pendorong utama pertumbuhan yang tidak sehat dan destruktif dan  sebagai gantinya mengusulkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan yang pantas disebut' integral '.

Mengenai cara mengatasinya, Laudato si 'memberi perhatian besar pada dialog sebagai dasar  tindakan positif yang sangat diperlukan. Satu-satunya pendekatan untuk regenerasi pasca-pandemi adalah dialog, yang berarti melibatkan semua orang yang terlibat secara jujur. Ini adalah cara sinode.

Kaum muda mungkin adalah orang-orang yang merasa paling terkena dampak krisis lingkungan. Dapatkah ekologi integral berfungsi sebagai jembatan untuk berkomunikasi dengan mereka yang merasa lebih sulit untuk berintegrasi dengan paroki tradisional atau struktur gereja?

Memang, orang-orang muda  merasa sangat marah dengan tanggung jawab yang tidak bertanggung jawab dari semua 'yang bertanggung jawab'. Ini tidak hanya pengambil keputusan dalam perdagangan dan politik, tetapi juga konsumen dan warga negara yang menjalani gaya hidup berdasarkan eksploitasi yang tidak berkelanjutan baik bagi manusia maupun planet ini.

Orang-orang muda sekarang melihat planet ini sebagai tempat penting untuk menghormati  dan memperhatikan  mereka; pada saat  gerakan kristiani dan paroki-paroki menemani  dalam pencarian mereka, kaum muda bergabung dan memang mereka mengambil peran utama. Inilah khal yang kami pelajari dari  Sinode 2018 tentang Kaum Muda.

Dari hari ke hari, krisis lingkungan semakin memburuk; sekarang ini hal itu jelas lebih serius  daripada lima tahun lalu, ketika Laudato si diterbitkan. Selama pekan ini, komitmen apa yang harus dilakukan  oleh orang-orang Kristiani?

Pertama, setiap orang, orang Kristiani dan orang lain, dapat mencoba meningkatkan hubungan kita dengan alam melalui jalan kontemplasi. Kami tidak bisa mencintai apa yang bahkan tidak kami lihat; mengamati secara  kontemplatif dapat merupakan langkah awal  untuk perjalanan tobat secara  ekologis.

Selama pandemi coronavirus, ada banyak orang  menemukan bahwa  mereka dapat hidup secara irit. Jadi kita dapat terus mengonsumsi lebih sedikit, atau memilih produk yang kurang berpolusi, atau menghindari kemasan yang tidak perlu, yang tidak dapat didaur ulang. Sebagai ganti   berbelanja tanpa memikirkan konsekuensi moral,  lingkungan, paroki paroki, sekolah, dan lembaga-lembaga Katolik kita dapat memahami bahwa 'berbelanja  selalu merupakan tindakan moral - dan bukan sekadar ekonomi' (Laudato si §206, mengutip Caritas di Veritate). Mereka dapat menggunakan botol kaca dan piring yang bisa dicuci, seperti yang dilakukan oleh banyak pusat sosial dan gerakan rakyat.

Akhirnya, dalam liturgi ,  marilah  kita berkomitmen untuk merayakan anugerah ciptaan Tuhan dengan cara yang lebih menginspirasi. Liturgi tradisional kita meliputi unsur-unsur alam: air dan minyak dalam baptisan, roti dan anggur dalam Ekaristi, api di Malam Paskah. Kita perlu mengalami alam dalam diri kita secara rohani dan diri kita sendiri dalam ciptaan, secara utuh. Kalau tidak, kita hanya terus mengeksploitasi, mengkonsumsi dan menyalahgunakan alam, daripada menerima tanggung jawab kita sebagai Rekan-Pencipta  dengan Allah dari rumah kita bersama. Segi-segi  hemat, liturgis, dan kontemplatif dari spiritualitas Kristiani akan membantu memotivasi perubahan personal, sosial dan sistemik yang diperlukan - semua  itu merupakan perubahan yang radikal!

Bisakah Anda menyebutkan beberapa inisiatif yang secara khusus terinspirasi oleh Laudato si '?

Gerakan Iklim Katolik Global (GCCM), yang juga merayakan hari jadinya yang kelima, memiliki lebih dari 900 organisasi Katolik sebagai anggota dari jaringan internasional besar dan kongregasi religius ke paroki lokal, pemimpin akar rumput, dan ribuan orang  Katolik, perempuan  dan kaum muda. GCCM membantu mengatur minggu Laudato si yang luar biasa yang kita rayakan sekarang. [Ii]

Contoh lain termasuk pertanian organik lokal di Amerika Latin, bangunan yang dipasang kembali secara ekologis di Eropa dan energi matahari yang dipasang di Afrika. Sejumlah sekolah Katolik telah menjadikan Laudato si 'sebagai tema pengajaran interdisipliner utama mereka untuk memajukan tanggung jawab ekologis dan untuk memobilisasi siswa dan keluarga mereka dalam merawat rumah kita bersama.

 Kardinal Michael Czerny SJ adalah Wakil Sekretaris Bagian Migran dan Pengungsi Lembaga di Vatikan  untuk Mempromosikan Pembangunan Manusia Integral.

Ini adalah terjemahan dari wawancara yang dilakukan oleh Lucia Capuzzi dan Stefania Falasca untuk Avvenire.

-------------

[ii] Pope Francis’s Invitation to Laudato si’ week, in English: https://www.instagram.com/p/CAQBz7HIGzj/?hl=en; in Italian: https://youtu.be/uFQAB2vuaQw

----------------------------------------------------------------------------------------------------------


CO-CREATORS OF A BETTER WORLD

In an interview with Avvenire to mark Laudato si’ week (16-24 May 2020), Cardinal Michael Czerny SJ urges us to let the encyclical shape the way we think about the coronavirus crisis and find solutions to the fault lines it is highlighting. ‘Before being a “socio-environmental issue”, creation is a fundamental article of faith’, so how can a Christian view and love of the world, our common home, inspire change?

This Laudato si’ week, celebrating the encyclical’s fifth anniversary, takes place at a dramatic moment, amid the Covid-19 pandemic. What particular meaning does the encyclical have in light of this situation, this ‘sign of the times’?

Five years ago, Laudato si’ revealed the fault lines of human injustice and environmental degradation. Covid-19 is amplifying and magnifying those same fault lines in a tragically concrete, dramatic and vivid manner. It’s exposing the ‘rapidification’ that Pope Francis identified (Laudato si’ §18): not only the manner and speed of the virus’s spread, but also the highly accelerated digitalisation underway, the millions of conventional jobs being lost, the online communication replacing meetings and changing events.

Note the parallels: the coronavirus crisis starts by damaging physical health, but it has terrible socio-economic consequences, especially among the most vulnerable. The ecological crisis is similar: it starts with environmental damage, but has devastating consequences for work, food, health and other social issues, hitting the poorest, hardest. Both crises require novel solutions that apply everywhere and at all levels, not just for and at ‘the top’.

Laudato si' was not the first time that the Church spoke of ecology, but thanks to the encyclical a new paradigm of integral ecology was established, which also had an effect on both ecclesial and common language. What processes did the encyclical initiate?

Soon after it came out, Laudato si’ helped to ground, animate and orient the Paris COP21 Conference in December 2015, which produced the Paris Agreement – flawed and weak, but still a first necessary step. It has also stimulated many forms of activism in parishes, other religions, secular groups and movements. I believe that this is unprecedented for an encyclical.

How can we re-read Laudato si’ in today’s light? And how can we get the most out of this Laudato si’ week?

It is valid to read Laudato si’ in the light of Covid-19. Environmental abuse and degradation probably contributed to the emergence and spread of the virus, but our understanding must go much deeper to the fundamental anti-values that fuelled the competitive and consumerist civilisation of yesterday. The new world after Covid-19 has to be much better.

There are still some Catholics who have some difficulty in considering the socio-environmental issue as a fundamental part of their faith. What can you say to them?

Before being a ‘socio-environmental issue’, creation is a fundamental article of faith: ‘I believe in God, the Father Almighty, Creator of heaven and earth’.

Human life is grounded in three fundamental and intertwined relationships: with God, with our neighbour and with the earth itself, the earth being part of God’s loving creation. To distort any of those relationships is to sin. Forgiveness is to seek participation in the redemption Christ brings us, the healing of broken relationships and the restoration of the three-fold harmony.

Pope St John Paul II reminds everyone, especially Christians, ‘that their responsibility within creation and their duty towards nature and the Creator are an essential part of their faith’.[i] So, with the Catholics you mention, let’s walk together and together face our disbelief, our fear.

Querida Amazonia and the whole synodal process are children of Laudato si'. In what way does Querida Amazonia draw on Laudato si’ and question us all, not only the Amazon people?

The Amazon Synod showed what it means to take Laudato si’ seriously, to address all the social and ecological sins in a given region aggressively and bravely. That’s a lesson that needs to be followed everywhere on earth.

In addition, Querida Amazonia unabashedly respects and validates the people of the Amazon – especially the indigenous ones – as the first and indispensable protagonists in preserving the Amazon to play its planetary role. This challenges all who continue to harbour (albeit unconsciously) lingering colonialist attitudes towards other cultures or a sense of entitlement over all natural resources.

How might Laudato si’ help us in a post-pandemic rebuilding?

First, let’s be clear – our objective should not be to go back to ‘business as usual’, reverting to the self-destructive, inhumane, unjust and unsustainable practices that used to be ‘normal’ until early 2020.

Instead, Pope Francis says, let us regenerate new relationships, a new economy, a new society. Laudato si’ challenges the core drivers of unhealthy and destructive growth, proposing instead an inclusive, sustainable development that deserves the name ‘integral’.

As for how to go about it, Laudato si’ gave enormous attention to dialogue as the utterly necessary foundation of positive action. The only approach to post-pandemic regeneration is dialogue, which means honestly involving all those who are concerned. This is the synodal way.

Young people are perhaps the ones who feel most affected by the environmental crisis. Can integral ecology work as a bridge to communicate with those who find it more difficult to integrate with traditional parish or church structures?

Young people are right to feel totally outraged by the flagrant irresponsibility of all ‘those responsible’. These are not only decision-makers in commerce and politics, but also consumers and citizens who live a lifestyle based on the unsustainable exploitation of both people and the planet.

Young people now see the planet as their essential locus of reverence and concern; as Christian movements and parishes accompany them in their quest, young people take part and indeed play leading roles. This we learned at the 2018 Synod on Young People.

The environmental crisis is getting worse every day; it is certainly even more serious now than it was five years ago, when Laudato si’ was published. What commitment should a Christian make this week?

First, everyone, Christians and others, can try to improve our relationship with nature via the path of contemplation. We cannot love what we don’t even see; contemplative seeing can launch the journey of ecological conversion.

During the coronavirus pandemic, many are discovering that we can live on less. So we can continue consuming less, or choosing less-polluting products, or avoiding unnecessary, non-recyclable packaging. Instead of shopping without thinking about the moral and environmental consequences, our Catholic parishes, schools and centres can accept that ‘purchasing is always a moral – and not simply economic – act’ (Laudato si’ §206, quoting Caritas in Veritate). They can use glass bottles and washable dishes, as many social centres and popular movements habitually do.

Finally, in our liturgy, let us commit to celebrate God’s gift of creation in a more inspiring way. Our traditional liturgies include elements of nature: water and oil in baptism, bread and wine in the Eucharist, fire at the Easter Vigil. We need to experience nature in us spiritually, and ourselves in creation, in an integral manner. Otherwise we just continue exploiting, consuming and abusing nature, rather than accepting our responsibility as co-creators with God of our common home. The frugal, liturgical and contemplative dimensions of Christian spirituality will help motivate the necessary personal, social and systemic changes – all radical ones!

Can you mention some initiatives particularly inspired by Laudato si’?

The Global Catholic Climate Movement (GCCM), also celebrating its fifth anniversary, has more than 900 Catholic member organisations from large international networks and religious congregations to local parishes, grassroots leaders, and thousands of Catholic men, women and young people. GCCM helped to organise the wonderful Laudato si’ week we are celebrating right now.[ii]

Other examples include local organic farming in Latin America, buildings refitted ecologically in Europe, and solar energy installed in Africa. A number of Catholic schools have taken Laudato si’ as their primary interdisciplinary teaching theme to promote ecological responsibility and to mobilise students and their families in caring for our common home.

Cardinal Michael Czerny SJ is Under-Secretary of the Migrants and Refugees Section of the Dicastery for Promoting Integral Human Development.

This is a translation of an interview conducted by Lucia Capuzzi and Stefania Falasca for Avvenire.

-------------

[ii] Pope Francis’s Invitation to Laudato si’ week, in English: https://www.instagram.com/p/CAQBz7HIGzj/?hl=en; in Italian: https://youtu.be/uFQAB2vuaQw