Friday, December 20, 2013

Belajar di Tengah Kebun Kelapa Sawit

oleh Benny Hari Juliawan SJ


Siang itu terlihat beberapa laki-laki bergotong royong mendirikan tenda, sementara para ibu menyiapkan tungku kayu untuk memasak makan siang. “Besok itu hari penyerahan report untuk budak-budak di sini lalu sesudahnya libur sampai Februari,” demikian kata Pak Klemens, ketua kelompok di situ. Setahun terakhir ini anak-anak, atau budak dalam bahasa Melayu telah belajar membaca, menulis, dan berhitung di rumah kayu di tengah-tengah kebun sawit di Sandakan, negara bagian Sabah, Malaysia.

CLP Batu 16
Inilah sekolah darurat yang didirikan tepatnya di kawasan Jalan Lintas Labuk di Mil 16 (atau Batu 16 dalam bahasa setempat). Murid-muridnya kebanyakan adalah anak-anak buruh migran asal Indonesia yang bekerja untuk perkebunan kelapa sawit. Ada juga anak-anak yang berasal dari keluarga buruh migran asal Filipina. Anak-anak ini tidak bisa pergi ke sekolah umum seperti kebanyakan anak yang lain karena status mereka sebagai anak buruh migran.

Sejak kira-kira sepuluh tahun yang lalu, pemerintah Malaysia melarang anak-anak migran untuk bersekolah di sekolah umum. Alternatifnya sangat terbatas. Mereka yang mampu akan membayar untuk ikut kursus atau les pelajaran di lembaga-lembaga komersial yang menjamur di kota. Mereka yang orangtuanya bekerja di perkebunan besar mungkin beruntung bisa mengikuti sekolah yang dikelola LSM lokal bernama Humana Child Aid Society, atau dikenal dengan Sekolah Humana. Sementara, yang lainnya tak bisa sekolah sama sekali. Mereka menghabiskan waktunya dengan bermain atau membantu orangtuanya memunguti biji kelapa sawit dengan upah sekadarnya. Di Sabah, negeri berpenduduk sekitar 3 juta orang, ada sekitar 500.000 orang buruh migran beserta keluarga dari berbagai negara dan kebanyakan berasal dari Indonesia dan Filipina.

Dalam situasi seperti ini, dua tahun yang lalu, sekelompok biarawati atau suster dari kongregasi Gembala Baik (RGS) berinisiatif untuk mendirikan sekolah darurat. Awalnya, sekolah ini bertempat di kompleks Gereja Stasi St. Mark di Batu 8. Akan tetapi, tempat ini rupanya terlalu jauh, mahal transportasinya, dan terlalu terbuka. Perlu diketahui, sebagian anak-anak ini tidak mempunyai dokumen imigrasi. Orangtua mereka bekerja di Sandakan tanpa memakai dokumen, sehingga setiap kali ada razia mereka harus menghindar. Melihat situasi ini, sekolah kemudian berpindah dan dibagi dua, yaitu masuk di perkebunan di kawasan Batu 9 dan 16. Dalam seminggu, mereka hanya dua hari belajar karena keterbatasan tenaga guru. Hanya ada seorang guru tetap berkebangsaan Malaysia dan dua orang sukarelawati remaja asal Larantuka dan Mindanao. Mereka mengajar sekitar 40 orang anak yang terbagi di dua sekolah yang jaraknya berjauhan. Sekolah-sekolah darurat ini dinamakan Community Learning Programme atau CLP.

“Kebetulan, tauke di sini kasih izin memakai salah satu rumah kayu buruh kebun untuk kegiatan sekolah,” kata Sr. Lidwina yang mendampingi kelompok ini. Beberapa majikan pemilik kebun tidak mengizinkan penyelenggarakan sekolah ini di kebun mereka, karena khawatir dengan reaksi pemerintah. Karena sekolah ini ilegal, tidak diakui oleh pemerintah.

Meskipun serba terbatas, bukan berarti sekolah ini asal-asalan. Kardi, seorang buruh migran asal Bajau, Mindanao, bersyukur karena anaknya bisa belajar di sini. “Saya semula kirim budak saya untuk belajar tuition (les berbayar) tapi, setelah tiga bulan, belum juga bisa membaca. Di sini anak saya cepat boleh membaca.” Apalagi les semacam itu mahal ongkosnya, RM 40 per mata pelajaran plus ongkos transport, sementara di CLP ini tiap anak sebenarnya hanya dipungut RM 10 dan cukup berjalan kaki dari rumah.

Di tengah keterbatasan inilah anak-anak belajar. Mereka berceloteh dalam bahasa Melayu dengan aksen Sabah, tetapi siang itu mereka bernyanyi Indonesia Raya. Bagi mereka Indonesia bukanlah pengalaman sehari-hari dan mungkin hanyalah cerita orangtua yang rindu kampung halaman. Masa depan bagi mereka adalah kemewahan. Kini dan di sini mereka bermain dan belajar sekadarnya menikmati masa kanak-kanak yang seharusnya.

Anak-anak CLP


Benny Juliawan (orwellsj@googlemail.com) is a researcher with Sahabat Insan, an NGO working with migrant workers in Jakarta. Benny is an enthusiastic runner

Berbagi Kasih Natal

“Anak Timor main sasando dan bernyanyi bolelebo, rasa girang dan berdendang pulangeee....”


Sebuah lagu dari Timur Indonesia berjudul “Flobamora” mengalun merdu dinyanyikan 24 calon TKI yang gagal berangkat ke luar negeri di saat-saat terakhir kepergian kami. Pada Sabtu, 14 Desember, yang lalu Sahabat Insan berkunjung ke rumah singgah milik pemerintah yang menampung mereka. Kami datang hendak merayakan Natal bersama mereka, berbagi kasih dengan membawa kegembiraan serta semangat hidup untuk dibagikan kepada mereka.

Ke-24 calon TKI itu semuanya perempuan. Mereka berasal dari Kupang dan yang paling jauh dari Sumba. Selama berbulan-bulan mereka telah disekap oleh PJTKI yang berjanji mengirim mereka untuk berangkat kerja ke luar negeri. Beberapa dari mereka masih berusia anak. Beruntung mereka berhasil ditemukan oleh polisi dan dibawa ke rumah singgah. Kurang lebih seminggu mereka telah berada di rumah singgah dengan keadaan yang serba terbatas.

Ketika kami datang pagi-pagi ke sana, tiga orang tampak menuju ke arah kantor bersama dengan Suster Lia yang telah sampai duluan. Kami membuka kaca jendela mobil untuk menyapa mereka dan menanyakan mereka hendak ke mana. Dengan muka ceria mereka katakan kepada kami kalau mereka mau pergi meminjam mike untuk bernyanyi. Kami sampaikan kepada mereka bahwa kami membawa mike, jadi mereka tidak perlu meminjam ke kantor. Sontak wajah mereka berubah begitu gembira. Mereka pun kembali ke ruang pertemuan.

Setibanya kami di ruang pertemuan, mereka menyambut kami dengan senyuman-senyuman dan semangat. Kami memberi salam kepada mereka seraya menanyakan kabar mereka. Seorang Pendeta telah datang untuk memimpin ibadah pada hari itu. Semua calon TKI tersebut memang beragama beragama Kristen. Ada yang Kristen Protestan dan Katholik. Dengan segera, dibantu oleh mereka kami pun menyiapkan segala peralatan yang digunakan untuk acara. 

Suster Lia memilihkan lagu-lagu untuk ibadah. Setelah semua siap, kami pun mulai melantunkan lagu-lagu pujian. Pak Pendeta membacakan perikop Kitab Suci kemudian dilanjutkan dengan khotbah. Ketika khotbah, Pak Pendeta meminta kesediaan salah satu calon TKI yang mau memberi kesaksian. Seorang perempuan muda berbaju merah jambu yang sedari awal kebaktian memimpin untuk mengangkat lagu pujian-pujian mengajukan diri untuk berbagi cerita. 


Diselingi dengan tangis, dia mulai bercerita. Demi membantu orangtua dia mau pergi bekerja ke luar negeri menjadi TKI. Dia tak pernah menyangka kalau akan disekap selama berbulan-bulan oleh PJTKI tersebut. Ketika di tempat penampungan dia justru mengalami menstruasi yang berkepanjangan. Tak mengerti sakit apa yang sedang melanda tubuhnya. Maka bulan selanjutnya, dia pun berdoa kepada Tuhan, memohon kesembuhan, sambil berjanji akan menghabiskan membaca Kitab Suci. Puji Tuhan ketika hari kelima menstruasi-nya berhenti. Sembari menyeka air mata di pipinya, dia melanjutkan cerita kalau Tuhan begitu baik sampai akhirnya ada polisi datang memeriksa tempat tersebut. Sebelumnya, mereka dipaksa oleh PJTKI untuk bersembunyi di atas plafon. Seorang temannya mengambil kertas dan menjatuhkan ke arah polisi itu. Polisi tersebut kemudian memeriksa plafon dan menemukan mereka. Hari itu juga mereka dibawa ke rumah singgah. Namun, sedihnya, sebelum polisi datang ke sana, dua teman mereka telah meninggal di rumah penampungan itu.

Setelah cerita usai, kebaktian dilanjutkan kembali dengan berdoa bagi dua teman mereka yang telah meninggal dan bagi yang sakit. Lagu-lagu kemudian kembali dinyanyikan, beberapa dari antara mereka menangis. Melihat mereka menangis, perasaan simpati terhadap kondisi mereka pelan-pelan menyeruak dalam diri kami.

Usai kebaktian, kami memutar film pendek karya Denny J.A. berjudul “Minah Tetap Dipancung”. Sebuah film yang bercerita tentang TKI yang diperkosa kemudian membunuh majikannya di Arab Saudi, kemudian dia dihukum mati oleh pemerintah di sana. Mereka menonton dengan seksama. Di bagian akhir beberapa dari mereka memilih untuk tidak melihat Minah yang dipancung dengan keluar membenahi jemuran.  

Romo Ismartono yang ikut bersama kami menyampaikan kepada mereka sebelumnya. Film ini tidak bermaksud untuk mencegah mereka bermigrasi, bekerja mendapatkan penghasilan layak untuk keluarga mereka di kampung halaman. Kami bermaksud menyampaikan kepada mereka bahwa menjadi TKI, bekerja ke luar negeri penuh dengan risiko dan yang paling besar adalah kehilangan nyawa seperti yang disampaikan di film tersebut. Oleh karena itu, mereka perlu mempersiapkan diri berupa dokumen yang legal, bahasa, dan tahu adat istiadat kebudayaan yang berlaku di sana.

Usai menonton film, inilah acara yang ditunggu-tunggu. Sambil mengalun lagu-lagu Natal, bingkisan yang telah dipersiapkan Mbak Lili kami bagikan satu per satu. Semua sukacita menerima bingkisan yang berisi makanan ringan, obat, dan uang saku sebagai bekal mereka kembali ke kampung halaman.

Kami menutup perjumpaan yang berkesan itu dengan foto bersama. Terakhir ketika Romo Edu mengajak mereka bernyanyi lagu “Flobamora” mereka dengan suara emas ikut melantunkan lagu tersebut yang sanggup membuat kami terharu dan bergembira bersama. 

Akhirnya, dalam hati kami terselip doa bagi mereka satu per satu. Ketika berita ini dimuat, kami mendengar kabar bahwa mereka pada tanggal 18 Desember yang lalu telah diantar pulang ke kampung halaman mereka masning-masing. Semoga mereka dapat merayakan Natal bersama keluarga mereka. Semoga harapan selalu tumbuh di hati mereka untuk menyongsong hari baru dengan penuh semangat dan sukacita.



Thursday, December 19, 2013

Pulang Tepat Pada Waktu-Nya.

Selalu ada yang baru di ruang Eboni. Jumat, 13 Desember lalu ketika Sahabat Insan berkunjung ke ruang jiwa di sebuah rumah sakit di Jakarta, kami mendapati ruang itu penuh dengan pasien-pasien, sekalipun beberapa dari mereka telah sembuh.

Mereka yang sembuh masih belum dapat pulang karena menunggu administrasi dan lain sebagainya yang belum tuntas. Mereka terus dijanjikan akan segera pulang, padahal tak juga pulang. Ini seperti janji PJTKI untuk memberangkatkan calon TKI, tapi kemudian mereka tak jadi diberangkatkan.

Lama-kelamaan tempat tersebut terasa tak ubahnya tempat penampungan yang menyekap calon-calon TKI begitu lama. Mereka tak diperbolehkan keluar sekadar merasakan sinar mentari. Makan seadanya buatan rumah sakit yang begitu memprihatinkan dan tak cukup mengenyangkan. Dan mereka tak berdaya sama sekali selama berada di sana.

http://www.deviantart.com/art/Home-83503555
Kunjungan Sahabat Insan ke sana adalah memberikan perhatian dan semangat agar mereka dapat terus berpengharapan untuk tetap berjuang demi kehidupan mereka. Sekalipun rasa bosan dan penat melanda mereka begitu derasnya.

Siang itu, kami disambut oleh Ibu Mur asal Sumba dengan wajah yang ceria. Saya sendiri terkejut melihat dirinya karena telah lama tidak berjumpa dengannya. Dia menyapa saya dan kami pun berpelukan. Seolah dia telah lama mengenal saya. Dia pun memulai percakapan dengan menanyakan kepada saya kenapa sudah lama tidak datang. Dia juga mengatakan saya kurusan, dan bertanya apakah saya sakit. Dia juga menanyakan keberadaan Suster Shanti yang hari itu tidak ikut serta berkunjung ke sana.

Tanpa lelah dia berjalan-jalan menghibur kami dengan lagu dan joged-joged kecil. Semua yang berkumpul bersama kami ikut terhibur melihatnya. Sempat dia meminjam tas saya untuk dipakai dan berlenggak-lenggok seperti seorang model yang berjalan di atas catwalk. Saya pun memintanya untuk mengajak serta teman-temannya yang sedari tadi diam saja untuk ikut bernyanyi menari dan tertawa bersama. Masih dengan tingkahnya yang lucu dia pun mengajak mereka bernyanyi.

Di sana kami juga menjumpai seorang ibu yang tengah hamil tujuh bulan. Saya tidak benar-benar tahu dan mengerti mengapakah ibu tersebut dapat sampai ke ruang eboni. Karena dari pengamatan kami, ibu itu tampak sehat dan tidak mengalami gejala-gejala gangguan jiwa, depresi, atau trauma. Kami prihatin dengan kondisi bayi yang dikandungnya di tempat yang serba terbatas seperti itu.

Tiba-tiba kemudian, seorang pasien umum, bukan TKI, datang menghampiri saya dan mengajak bicara. Dia berkali-kali memohon bantuan saya untuk mengeluarkan dirinya dari tempat itu. Dengan rasa iba, saya katakan tidak bisa karena kami memang tidak punya wewenang untuk melakukan itu.

Tiba-tiba Ibu Mur bicara, “Kita akan pulang pada waktu yang tepat. Jadi sekarang kita harus berusaha gembira di sini.” Kata-katanya membuat kami terkejut. Begitu bijak dan tabah.

Berada berbulan-bulan tanpa kepastian kapan pulang tentu bukan hal mudah untuk dihadapi setiap harinya. Mereka perlu hiburan dan harapan yang dapat menguatkan dan menabahkan mereka selalu. Maka, Sahabat Insan pun berinisiatif mengunjungi mereka kembali minggu depan dengan membawakan makanan-makanan kecil sekadar untuk mengisi kekosongan hari-hari mereka. Sama seperti yang sebelumnya, kami hanya bisa berharap agar mereka segera pulang, sehingga ketika kami berkunjung kembali kami tidak mendapati wajah-wajah yang sama.

Monday, December 16, 2013

Pulang

"Kapan pulang?"

Ini adalah pertanyaan yang paling sering dilontarkan oleh para pasien pekerja migran saat Sahabat Insan melakukan kunjungan rutin ke rumah sakit untuk menjenguk mereka. Walaupun kondisi mereka terkadang masih parah dan belum layak untuk pulang, hampir semua merasa tidak betah tinggal dan menjalani perawatan di rumah sakit tersebut. Bahkan, pasien-pasien di ruang rawat jiwa pun menayakan hal yang sama. Ya, ini memang hal manusiawi yang pasti juga dirasakan oleh semua orang. Lebih nyaman sakit tapi di rumah sendiri, daripada menginap di suatu tempat yang asing dan kadang-kadang bertemu dengan suster-suster galak.

http://www.deviantart.com/art/Bottle-Tree-87712330
Minggu lalu, sedikit kabar bahagia berhembus dari rumah sakit tersebut. Dua pasien pekerja migran yang menderita sakit yang cukup parah sudah di-izinkan pulang oleh dokter yang merawatnya. Kabar cukup menggembirakan ini tentu saja disambut dengan perasaan lega oleh keluarganya, mengingat kedua pasien ini sudah berminggu-minggu dirawat di rumah sakit tersebut. Namun tetap saja, kepulangan mereka menyisakan cerita. 

Yang pertama adalah pasien pencangkokan batok kepala, sebut saja namanya Wati. Setelah menjalani dua kali operasi masing-masing selama empat dan delapan jam, ia akhirnya di-izinkan pulang oleh dokter pada hari Senin tanggal 2 Desember 2013. Kepulangan Wati ini menimbulkan kecemasan karena kondisinya secara kasat mata belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh dan dirawat di rumah sendiri. Ia masih memakai alat-alat penunjang kesehatan dan syarafnya belum sepenuhnya berfungsi dengan baik.

Setelah hampir seminggu bersitegang dengan rumah sakit, Peduli Buruh Migran (PBM) yang selama ini mendampingi pasien tersebut mengajak seorang dokter relawan medis yang biasa menolong pekerja migran untuk memeriksa keadaan Wati. Saat melihat kondisinya, dokter itu menyatakan bahwa Wati memang lebih baik dibawa pulang karena daya tahan tubuhnya yang masih lemah. Jika tetap tinggal di rumah sakit, dikhawatirkan ia akan sangat rentan tertular penyakit dari pasien-pasien lain dan bisa menimbulkan penyakit baru.

Mendengarkan pendapat dokter, PBM akhirnya bersedia memulangkan Wati dengan catatan rumah sakit harus membuat surat pernyataan. Setelah urusan administrasi diselesaikan, maka Wati dipulangkan ke daerah asalnya dengan menggunakan ambulan terbaik yang memiliki fasilitas lengkap dan didampingi oleh dua orang perawat dari rumah sakit tersebut. Wati kemudian dirujuk ke rumah sakit daerah setempat untuk melakukan terapi di rumah dengan menggunakan fasilitas Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Seminggu sekali, perawat akan datang dan melatih syaraf-syaraf Wati agar mampu berfungsi kembali.

Saat berita ini diturunkan, telapak tangan Wati sudah bisa melakukan gerakan ringan (meremas, mengepal, membuka). Ia juga sudah bisa ber-rekasi saat dipanggil namanya, sudah bisa membuka mulutnya dan sudah bisa bernafas melalui hidung dengan bantuan alat pernafasan. Sang suami sudah kembali bekerja di Malaysia untuk mencari nafkah bagi keluarga, terutama untuk biaya hidup ketiga anak mereka. Sedangkan Wati dirawat oleh ibundanya yang dari awal memang sudah menemani Wati menjalani proses demi proses penyembuhan. Hal yang cukup memberatkan keluarga adalah sampai saat ini makanan yang boleh diberikan kepadanya hanya susu yang harganya cukup mahal. 

Lain lagi cerita Warti yang menderita luka bakar. Warti akhirnya dipulangkan pada hari Kamis tanggal 5 Desember 2013. Warti adalah satu-satunya anggota keluarga yang bekerja untuk menghidupi bapak, ibu, kakak-kakak dan adik-adiknya. Setiap bulan seluruh gaji hasil kerja kerasnya di negeri orang dikirim kepada keluarga.

Sejak Warti mengalami kecelakaan kerja, menderita luka bakar dan dirawat di rumah sakit, sang ibu yang menganggap Warti adalah tambang emas bagi keluarga sangat keberatan dan selalu berkeluh kesah tentang keuangan keluarga yang jadi berantakan. Ibu tersebut selalu memaksa rumah sakit untuk segera memulangkan Wanti, agar ia bisa segera bekerja lagi. Awalnya dokter belum mengijinkan karena bekas luka bakarnya masih perlu perawatan intensif. Namun setelah melihat perkembangan kondisi Warti yang semakin membaik, dokter pun memperbolehkannya pulang.

Masalah kemudian muncul. Rencana awal setelah keluar dari rumah sakit, Warti akan tinggal untuk sementara waktu di Rumah Singgah Sahabat Insan karena ia masih harus melakukan terapi rutin seminggu sekali. Tinggal di rumah singgah dirasa lebih efektif karena selain jarak rumah singgah dan rumah sakit lumayan dekat, jika dibandingkan dengan rumahnya. Di sana ia akan dilatih ketrampilan yang sesuai dengan keadaannya agar dapat kembali mencari nafkah saat sembuh nanti. Namun, ibunya ternyata melarang Warti untuk transit terlebih dahulu dan bersikeras agar Warti langsung dibawa pulang. Ibunya bahkan mengancam jika Warti tetap dibawa ke rumah singgah maka PBM harus memberikan uang jaminan kepadanya. Akhirnya PBM mengalah dan mengantarkan Warti pulang ke rumahnya.

Perjalanan dari rumah sakit ke tempat tinggal mereka ditempuh dalam waktu 4 jam karena cuaca buruk dan sempat salah arah karena tidak ada yang hafal jalan pulang. Sesampainya di rumah, Warti terlihat murung dan tak banyak bicara, tidak seperti kesehariannya di rumah sakit yang cerewet dan suka bercerita tentang segala hal. Saat ditanya kenapa ia menjadi diam, Warti mengatakan bahwa ia takut dengan ibunya yang pasti akan memaksa dia untuk bekerja lagi dan ia merasa tertekan karena ibunya selalu menyalahkannya atas musibah tersebut.   

Tentu masih banyak cerita-cerita kepulangan para pekerja migran lainnya yang menyayat hati. Kedua cerita di atas bisa mewakili fakta bahwa masalah ternyata belum selesai saat bantuan pengobatan telah diberikan. Masih banyak yang harus diperjuangkan oleh keluarga saat pekerja migran ini selesai dirawat di rumah sakit. Masalah pemulihan kondisi, masalah psikologis, masalah masa depan, masalah makan sehari-hari masih tetap mengiringi keluarga sang korban. Perlu perjuangan untuk mengembalikan keadaan seperti sedia kala, atau bahkan tidak akan pernah kembali seperti semula sehingga anggota keluarga lain pun harus rela menyesuaikan diri menghadapi perubahan kondisi yang tidak diinginkan ini. 

Thursday, December 12, 2013

Bantuan bagi 24 Calon TKI Korban Trafiking

Informasi yang telah kami edarkan melalui facebook Sahabat Insan (https://www.facebook.com/sahabat.insan.7?fref=ts) telah menggerakkan beberapa orang untuk menyatakan bela rasanya. Salah satunya, hari ini, 12 Desember 2013, bantuan datang dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPD Keuskupan Bogor.


Dua orang perempuan bernama Ibu Yanti dan Ibu Siska siang tadi sekitar pukul 11.00 WIB datang ke kantor Sahabat Insan. Kedatangan mereka disambut oleh Romo Ismartono. Ibu Yanti pun memulai pembicaraan mengenai keprihatinan dirinya dan kawan-kawan atas kasus perdagangan manusia yang sekarang ini marak terjadi. Perbincangan mengenai persoalan kemanusiaan ini disambut antusias oleh Romo Is. Sampai Ibu Yanti menanyakan soal ke-24 calon TKI yang menjadi korban perdangan manusia tersebut. Kami pun memberi tahu berita tersebut yang sebelumnya kami telah edarkan di facebook sebagai berikut:


Halo para Sahabat,

Menurut relasi kami (Peduli Buruh Migran), ke-24 perempuan asal NTT ini adalah korban perdagangan manusia. Beberapa diantaranya masih dibawah umur. Mereka telah disekap di sebuah penampungan dalam rentang waktu yang beragam (3 minggu sampai 9 bulan). Rencananya mereka akan diberangkatkan ke Malaysia sebagai pekerja migran. Namun polisi berhasil menggerebek tempat tersebut, dan menampung calon-calon TKI ini di sebuah rumah singgah milik Pemerintah.

Saat ini, telah seminggu mereka berada di rumah singgah tersebut dengan bekal baju yang menempel di badan, karena semua milik mereka masih tertinggal di penampungan, termasuk dokumen-dokumen pengenal diri. Di sana, mereka ditempatkan dalam satu kamar. Tidak ada yang berani keluar dari kamar tersebut karena menurut penuturan mereka banyak pihak yang mengincar dan bahkan ada yang menawarkan pekerjaan dengan iming-iming gaji yang besar. Maka, gerak mereka pun menjadi sangat terbatas, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang sederhana seperti membeli pembalut, minyak angin, obat-obatan atau kebutuhan lainnya mereka tak mampu.

Oleh sebab itu, agar mereka dapat hidup dengan wajar selama di rumah singgah, maka kami mengharapkan uluran tangan para sahabat untuk dapat menyumbangkan pembalut, obat-obatan (minyak kayu putih, balsam, tolak angin, panadol, dll), kebutuhan untuk mandi (shampo, sabun) dan makanan/minuman (kopi, teh, biskuit) atau kebutuhan lainnya yang belum disebutkan di sini.

Bantuan tersebut dapat disampaikan kepada Sahabat Insan dengan memberi informasi melalui fb atau email

Dalam suasana kegembiraan menyambut Natal, marilah kita ajak saudari2 kita ini yang kebetulan semuanya beragama Kristen (Prostestan dan Katolik) untuk ikut merasakan kebahagiaan tersebut. Walaupun dalam suasana yang berbeda, namun biarlah mereka mengetahui bahwa mereka tidak menanggung penderitaan itu seorang diri, bahwa banyak saudara di luar sana yang masih peduli dan berkenan memberikan luapan kasih sayang yang menghidupkan kembali harapan mereka untuk berbahagia.


Kami mengucapkan terima kasih kepada WKRI DPD Keuskupan Bogor melalui Ibu Yanti dan Ibu Siska yang telah mengumpulkan dana solidaritas ini dari kawan-kawan yang peduli untuk ke-24 calon TKI tersebut. Bahkan ketika tadi kami sedang mengobrol, seorang kawan Ibu Yanti mengirim pesan ingin membantu memberikan dana kembali, sehingga dana yang tadinya Rp2.700.000,00 bertambah lagi sebesar Rp200.000,00. Total dana yang terkumpul untuk mereka Rp2.900.000,00.

Semoga bantuan ini berguna bagi ke-24 calon TKI korban trafiking. Dan yang terpenting, mereka dapat kembali ke keluarga mereka masing-masing untuk merayakan Natal di kampung halaman. Marilah kita mendoakan mereka bersama.

Tuhan Memberkati.