Friday, June 14, 2019

Jenazah ke-17

#Kisah-Kisah dari Program Eksposure Belarasa 2018 (13)  

Hanya beberapa hari absen dari menjemput jenazah, kini Selasa (26/6/2018) aku dan Suster Laurentina kembali mendapat kabar duka dari BP3TKI. Malam ini kami harus menjemput jenazah PMI yang berasal dari Manutapen Alak, NTT. Wanita atas nama MP ini dikabarkan akan mendarat pada pukul 21.20 WITA. Tentu saja sebelum kedatangan jenazah, kami harus sudah tiba di kargo agar bisa berkomunikasi dengan keluarga korban. 
Dalam kurun waktu 1 bulan, terhitung dari tanggal 1 Juni 2018 hingga 26 Juni 2018, sudah ada 10 jenazah yang kami jemput. Sangat mengerikan. Bagaimana mungkin 10 jenazah datang dalam waktu 1 bulan? Seakan tak mengenal kata henti, kami masih setia dalam karya pelayanan kargo. 
Kami tiba di Kargo Bandara El Tari Kupang pada pukul 21.30 WITA. Malam ini kargo sudah di penuhi dengan keluarga yang akan menjemput jenazah. Ternyata ada dua jenazah yang datang di kargo pada malam ini yakni atas nama MP, yang berasal dari Manutapen Alak dan juga BB yang berasal dari Kecamatan Toianas, Desa Bokomanatun TTS. 
Jenazah atas nama MP dikirim dari Singapura karena mengalami sakit Leukimia, sementara atas nama BB yang merupakan pekerja kebun sawit di Kalimantan Timur meninggal dunia karena mengalami kecelakaan kerja. Meskipun BB tidak bekerja di Malaysia, namun ia dikabarkan bekerja di salah satu perusahaan milik asing yang berada di daerah Kalimantan Timur. Pemulangan jenazah atas nama MP ditangani langsung oleh pihak BP3TKI sementara jenazah BB ditangani oleh pihak keluarganya secara tertutup. 
Suami MP hampir saja terjatuh saat melihat peti sang isteri dipindahkan dari kereta kargo ke mobil ambulans. Ia seakan tak sangup berdiri di atas kakinya sendiri ketika menyadari sang isteri telah terbujur kaku dan tiada untuk selama-lamanya. Ia terisak dan menyeka air matanya sambil berjalan mengikuti ambulans yang akan parkir di pagar kargo mencari tempat yang lapang untuk berdoa. Seorang pemuda paruh baya tampak menuntunnya dari belakang. 

Suami MP (topi hitam) menyambut peti jenazah dalam kedukaan 
Sebelumnya, pria itu sudah kehilangan anaknya yang pertama, kini ia kembali kehilangan orang yang disayangi yakni sang isteri yang sudah berjuang mencari kehidupan di negeri seberang untuk menghidupinya dan anaknya. Ia terpaksa harus mengasuh seorang anaknya seorang diri diusianya yang sudah tua.  
“Mari kita bersama menyatukan hati kita untuk mendoakan jenazah Mama kekasih kita MP agar beristirahat dengan tenang dalam pangkuan Allah Bapa di surga,” ujar Mama Penda Ina sambil menepuk peti putih yang berbungkus plastik. 
Jenazah MP disambut dalam doa oleh Mama Pendeta Ina
Mama Pendeta Ina segera memimpin doa jenazah sebelum di bawa ke rumah duka. Sesekali terdengar isak tangis duka keluarga ditengah kesunyian malam. Aku bergidik ketika angin malam berhembus semakin dingin. Semua hening dan menyatu dalam doa seakan menyadari bahwa malaikat mau terbang kian kemari dan bersiap mencabut nyawa yang lainnya. 
Dari bawah pohon beringin, agak jauh dari keramaian, kucoba mengabadikan satu atau dua gambar kisah penjemputan kali ini. Entah kenapa wajah sang bapak yang sangat kurus seketika menjelma menjadi wajah bapakku yang juga kurus. Tentu ia juga akan sama sedihnya dengan si bapak yang kusaksikan ketika berpisah dengan orang yang dicintainya.  
“Oh Tuhan lindungilah kedua orangtuaku. Jauhkan mereka dari maut. Terima jugalah ibu MP ini dalam pangkuanMu dan berilah kekuatan kepada si bapak dan keluarga yang berduka,” doaku dalam hati sambil melangkah mendekati kerumunan. 
Usai berdoa, Mama pendeta Ina bersama keluarga menghantar jenazah ke rumah duka di Manutapen Alak, Kupang. Sementara Oma Pendeta Emmy dan Suster Laurentina PI harus menunggu kedatangan jenazah atas nama BB yang tiba pada pukul 23.04 WITA dengan pesawat Lion Air. Sekalipun pihak keluarga tidak meminta untuk didoakan, namun inilah kemurnian panggilan jiwa seorang religius yang tulus melayani setiap jiwa yang membutuhkan kekuatan doa tanpa membedakan.    

Suara sirene yang tak lagi asing bagiku kembali berteriak melengking malam itu meninggalkan kargo. Seakan ingin mewartakan keseluruh penjuru bahwa ada satu jiwa seorang wanita yang melayang dan tak akan kembali untuk selamanya yang akan dihantarkan keperistirahatannya. Suara sirene kemudian semakin sayup dan menghilang ditelan gelap malam.   
Segera kudekati pihak keluarga dari BB dan kutanyakan beberapa hal terkait jenazah. Tak kusangka kisah dibalik kedukaan keluarga besar BB sangat menyayat hati. Ia terpaksa harus kehilangan nyawa ketika terjatuh saat mengurus kebun dan sempat dirawat di rumah sakit Kalimantan Timur selama dua minggu. Menurut saudara sepupunya, BB meninggalkan 4 orang anak dan seorang isteri di usianya yang masih muda yakni 45 tahun. 
“Dia punya 2 orang cewek dan 2 orang cowok. Sudah ada 2 orang yang tamat SMA sementara 2 lainnya masih duduk di bangku SMP dan SD,” terangnya. 
Ketika sedang berbincang dengan pria itu, seorang wanita yang merupakan isterinya berjalan ke arah kami. Menggunakan jeket biru yang tak dikancing, rambut khas timur yang digulung tak beraturan, ia berkomunikasi menggunakan bahasa daerah dengan pria itu. 
“Selamat malam,” sapanya kemudian sambil menjulurkan tangannya ke arahku. 
“Selamat malam mama. Turut berduka ma,” kuraih jarinya yang sangat kurus hampir tak berdaging. 
Ia berusaha mengisahkan secara singkat perjalanan suaminya hingga sampai ke Kalimantan Timur demi mencukupi kebutuhan keluarga. 
“Bapak baru bekerja selama 9 bulan disana, tiba-tiba langsung sakit dan sempat dirawat 2 minggu di Kalimantan. Pihak PT tempatnya bekerja tidak mau memulangkan jenazah karena lokasi kampung sangat jauh dan biaya pemulangan besar. Pihak PT sempat mau menguburkan disana, tapi kami memohon agar jenazah bisa dipulangkan. Kami akhirnya membayar 10 juta untuk pemulangan jenazah sementara pihak PT hanya bisa menanggung 5 juta,” terangnya dengan mata berkaca-kaca.
Aku berusaha mengelus pundaknya untuk menenangkan.

“Tak apa-apa yang penting bapak bisa pulang dengan selamat dan jenazah bisa kami makamkan di samping rumah,” ujarnya lagi. 
Ketika kereta dorong tiba di kargo, isterinya segera berusaha mendekati kargo dan tak kuasa menahan tangis. Ia meraung meskipun suaranya parau dan setengah hilang. 
“Bapak, ooo bapak,,, e,” teriaknya tak berdaya.
Jenazah BB dipindahkan ke mobil pickup putih di Kargo 
Ketika ingin meraih peti, ia tumbang dan tak sadarkan diri. Suster Laurentina PI dan mama pendeta Emmy segera membopongnya ke dalam mobil pickup putih yang sudah disewa keluarga untuk menjemput jenazah. Pihak keluarga tidak sanggup menyewa mobil jenasah dengan biaya yang jauh lebih besar, olehkarena itu, peti jenazah di jemput dengan menggunakan mobil pick up putih yang sudah dialasi tikar. 
Peti kemudian dimasukkan kebagian tengah di bak belakang, sementara anggota keluarga yang lain berusaha duduk di samping kiri dan kanan jenazah. Tentu sangat berdesakan, sementara keluarga yang lainnya mengendari sepeda motor. 
Sebelum rombongan meninggalkan kargo, kami mendoakan jenazah dan juga berharap semoga perjalanan menuju ke rumah duka bisa berjalan dengan lancar tanpa halangan. Menurut informasi, perjalanan dari kargo menuju ke rumah duka membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam. 
Aku terenyuh melihat seorang anak kecil berumur 8 tahun yang masih anggota keluarga yang berduka, menemani ayahnya menaiki sepeda motor menuju rumah duka. Pinggang anak itu diikat menggunakan selendang khas timor ke pinggang ayahnya untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan selama perjalanan. Tak bisa kubayangkan mereka harus menempuh perjalanan panjang pada pukul 23.13 WITA menembus hembusan angin Australia yang sangat kencang di gelap malam. Belum lagi berbagai tantangan di jalanan terjal. Bisa saja anak itu tertidur dan terjatuh dalam perjalanan. Semoga saja tidak!
Kami segera kembali ke biara menggunakan sepeda motor pada pukul 23.50 WITA. Motor kuparkirkan ke teras belakang dan segera beranjak ke kamar. Sebelum menutup mata, kupanjatkan doa untuk keselamatan setiap arwah yang telah kami jemput di Kargo Bandara El Tari Kupang. Setiap manusia pada akhirnya tentu akan kembali kepangkuan-Nya, tapi sekali lagi "Pelayanan Kargo" untuk para jenazah bertujuan untuk menyadarkan banyak orang bahwa jenazah PMI yang pulang adalah citra Allah yang harus dihargai dan disambut secara manusiawi melalui doa.
***